
Danu meninggalkan Kinanti yang sedang hamil itu sendirian. Malam itu juga, dia kembali ke rumah sakit dengan membawa berkas-berkas penting perusahaannya yang ia bangun dari hasil menipu Zivanya selama ini. Ia kembali ke rumah sakit tanpa berganti pakaian.
Kinanti terus menangis, ia tidak ingin suaminya itu pergi.
“Honey, kamu tidak perlu melakukan itu. Kalau kamu di penjara, gimana aku dan bayi kita,” ucap Kinanti yang menangis tersedu-sedu itu.
“Aku harus tanggung jawab, setelah aku kembali nanti. Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik lagi, tanpa bayang-bayang dosa dan penyesalan.” Danu mengusap air mata Kinanti. “Aku pamit, kamu doain aku. Semoga aku bisa jadi orang yang lebih baik!”
Danu keluar dari kamarnya, Kinanti semakin menangis. “Honey, jangan tinggalin aku!” teriak Kinanti.
.
.
.
Kini, Danu sudah tiba di rumah sakit. Ia menggenggam jemari Zivanya. “Sesuai janjiku, aku balik lagi. Aku udah bawa semuanya, aku balikin ke kamu. Aku mohon, kamu mau maafin aku yang kurang ajar dan gak tau diri serta malu ini! Kamu benar, aku terlambat, terlambat menyadari kalau kamu begitu berarti. Aku mencintai kamu tanpa sadar, Zivanya.”
Danu terus berbicara, ia berharap Zivanya mendengar semuanya dan mau memaafkan dirinya.
“Aku pamit, ya. Van! Aku udah putuskan untuk menebus semuanya, aku ingin hidup tanpa bayang-bayang dosa.” Danu bangkit dari duduknya, ia menitipkan berkas-berkas yang ia bawa pada perawat. Setelah itu, ia pamit.
Tapi sebelum itu, ia mengirim pesan singkat pada Arya. “[Istrimu ada di rumah sakit X!]”
Setelah itu, Danu menonaktifkan ponselnya. Ia segera melajukan mobilnya menuju kantor polisi.
.
.
__ADS_1
.
“Kenapa, Bang?” tanya Willy pada Arya yang mengerutkan keningnya saat menatap layar ponselnya.
“[Istrimu ada di rumah sakit X!]”
“Ada nomer baru, mengirim pesan. Katanya istriku di rumah sakit!” ujar Arya. Pikirannya semakin kacau.
“Tambah laju kecepatannya, kita menuju rumah sakit X. Mungkin benar, Zivanya ada di sana,” kata Arya pada Willy.
Willy pun menambah kecepatan laju mobil itu. Waktu sudah menujukan pukul 2 malam, Arya dan Willy baru tiba di Kota A. Sedangkan jarak ke ke rumah sakit X dari tempat mereka sekarang, masih membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih.
“Rasanya lama sekali sampai ke rumah sakit itu!” gerutu Arya. “Bisa kau tambah lagi kecepatannya, Will?”
“Ini sudah cepat, Bang. Jika ku tambah lagi, bisa-bisa nyawa kita yang melayang,” ucap Willy dengan pelan.
Berulang kali Arya mengusap Wajahnya dengan kasar dan menghembuskan napas berat.
Ia segera bertanya pada Resepsionis yang berjaga. “Apa ada pasien yang bernama Zivanya Anatasya?” tanya Arya to the point.
“Sebentar, Pak. Saya cek dulu,” kata Resepsionis itu.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Resepsionis itu menyebutkan nama Zivanya.
“Zivanya Anatasya, berada di ruang rawat no 13,” ucap Resepsionis itu.
Arya segera berlari menuju ruangan yang di sebutkan oleh Resepsionis itu. Ia segera memasuki ruangan rawat itu, di lihatnya istrinya terbaring lemah di ranjang pasien itu, bibirnya biru, wajahnya pucat, matanya terpejam dan kepalanya di balut oleh perban putih.
Arya mendekati istrinya, “Sayang, kenapa begini? Apa yang terjadi?” tangan kiri Arya memegangi tangan istrinya. Sedangkan tangan kanannya meyentuh pipi istrinya itu.
__ADS_1
“Belum sampai sehari aku pergi, kamu udah kayak gini!” mata Arya berair. Ia menangis.
Melihat istrinya tidak merespon sama sekali, ia pun berteriak memanggil dokter.
“Dokter, dokter!” teriak Arya sembari berjalan keluar dari ruangan rawat Zivanya.
“Iya, Pak. Ada apa?”
“Apa yang terjadi pada istri saya?” Arya menarik dokter itu memasuki ruangan rawat Zivanya.
Dokter itu menatap Zivanya yang masih tidak sadarkan diri. “Dia istri, Anda? Lalu siapa pria yang membawanya kemari?” tanya Dokter itu.
“Dia istri saya, dokter. Apa yang terjadi padanya, kenapa dia tidak merespon saya?” tanya Arya. Ia terlihat frustasi. Berulang kali ia mengacak rambutnya.
“Saya sengaja memberinya suntikan, karena dia sedang dalam pengaruh obat perangsang. Jadi, akan baik jika dia tidak sadarkan diri. Besok pagi, ia akan sadar, dan pengaruh obat itu akan hilang!” jelas Dokter.
“Obat perangsang?” guman Arya.
“Kalau tidak ada lagi yang perlu di tanyakan, saya pamit dulu!” ujar Dokter itu. Dokter itu pun pergi meninggalkan Arya. Willy mengusap pelan punggung Arya, mencoba memberi ketenangan untuk pria yang sudah di anggap seperti kakaknya itu.
Keesokan paginya, Zivanya terbangun. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat. “Danu.. Danu..” Zivanya menyebut nama Danu dengan lirih.
BERSAMBUNG!
.
.
.
__ADS_1
Yuk! Bantuin Neng, Like and Coment karya baru Neng yang ada dibawah ini!