PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 25


__ADS_3

“Yank, buat lima hari kedepan, aku gak bisa nemuin kamu dan anak-anak. Aku ada tugas di luar kota,” kata Arya sambil menyeruput kopi buatan Zivanya. “Saat aku pulang nanti, aku harap kamu udah siap lahir batin buat jadi istri aku.”


“Lima hari, emang gak bisa di percepat urusan tugasnya?” tanya Zivanya.


“Aku bakal usahaain, ya! Demi jandaku,” kata Arya, tangannya kini mengusap rambut Zivanya yang tergerai.


Cukup lama mereka berdua duduk di lantai bawah sofa ruang tengah yang ada depan TV.


Zivanya bersandar di dada bidang Arya. Kini, Zivanya semakin lengket pada Arya. Bahkan, tidak ingin jauh-jauh dan rencananya, mereka berdua akan melangsungkan pernikahan sederhana minggu depan.


“Yank, aku berangkat sekarang ya! Nanti ke malaman di jalan,” kata Arya.


“Beng, bisa gak sih! Suruh orang aja yang ke luar kota. Di wakilin aja,” ucap Zivanya penuh harap sambil mendongakkan wajahnya pada wajah Arya.


“Kamu kenapa sih? Kayaknya takut banget, gak kayak biasanya. Hmmm, kenapa?” Arya menyentuh bibir Zivanya dengan jari telunjuknya.


“Aku gak pengen kamu pergi, aku takut,” ucap Zivanya.


Sebenarnya, Arya juga kasihan. Tapi, saat itu, ia benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


“Aku janji, gak akan lama. Aku bakalan pulang cepat, dan langsung nemuin kamu dan anak-anak di sini!”


“No!” tolak Zivanya.


“Please, gak akan lama!”


Zivanya bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah kamar. Meninggalkan Arya sendirian di ruang tengah itu.


“Yank, jangan kaya gini dong!” Arya ikut bangkit dan mengejar Zivanya.


“Tolong kasih alasan, kenapa aku gak boleh pergi?” tanya Arya, pria itu mengetuk pintu kamar Zivanya yang sudah di tutup dan di kunci oleh Zivanya.


.


.


.


Dua hari kemudian. Arya benar-benar pergi keluar kota, dua hari itu Zivanya tidak seceria biasanya. Ia tidak tahu, kenapa ia bisa bersikap ke kanak-kanakan. Yang pasti, ia merasakan keresahan di dalam hati. Ia selalu berdoa, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Arya yang jauh di kota orang.

__ADS_1


Pada pagi harinya, lampu di rumah Zivanya padam total. Membuat ia harus memanggil pekerja PLN. Di sini lah awal mulanya hal yang tidak pernah di inginkan Zivanya terjadi.


Sore hari, pekerja PLN datang ke kediaman Zivanya. Seorang pria kisaran 35 tahun berpawakan sedang dengan kulit hitam manis.


“Selamat sore, Mbak!” sapa pria pekerja PLN itu.


“Sore,” balas Zivanya dengan ramah.


“Mau cek termis listriknya ya?” tanya Zivanya sekedar basa basi.


“Iya, Mbak.” Pria itu seolah-olah salah tingkah di hadapan Zivanya.


Zivanya segera menyuruh pria itu masuk, saat pria itu masuk kedalam rumah Zivanya. Kebetulan, ada dua orang ibu-ibu yang melihatnya. Lalu, segera menyebar luaskan kepada ibu-ibu dan warga yang lainnya.


Di satu sisi, pria pekerja itu sedang membenarkan termis listrik yang ada di rumah Zivanya. Di sisi lain, Zivanya yang berada di dapur sedang memasak sambil berbicara lewat telpon bersama Arya.


“Anak-anak dan Mei kemana?” tanya Arya.


“Keluar tadi, mungkin pulangnya sorean,” kata Zivanya.


“Hmm, ya udah. Kamu hati-hati di rumah, ingat jangan dekat-dekat sama orang itu. Apalagi, gak ada orang lain,” kata Arya. Sebelum ia mematikan sambungan telpon itu.


“Sepi banget, Mbak. Yang lain kemana?” tanya pria itu sambil melirik kesana kemari.


“Oh, Adik dan anak-anak, saya. Lagi main keluar,” kata Zivanya. Lalu, ia meninggalkan pria itu menyelesaikan masakannya.


Tanpa sepengetahuan Zivanya, pria itu mendekatinya dan memeluknya dengan paksa.


Zivanya tersentak kaget. “Apa mau kamu?” teriak Zivanya.


“Saya mau sama, Mbak,” ucap Pria itu hendak mencium paksa Zivanya.


“Jangan macam-macam! Saya akan teriak!”


“Alah, teriak apaan? Kamu janda, mana ada warga sini yang perduli sama, kamu. Lagi pula, udah lama saya suka sama kamu,” kata Pria itu.


Zivanya berusaha mendorong lengan kekar pria yang memeluknya dengan paksa itu.


“Lepaskan!” teriak Zivanya.

__ADS_1


Pria itu tidak mendengarkan teriakan Zivanya, ia malah memanggul tubuh Zivanya dan membaringkan tubuh itu ke atas meja.


Pria itu menciumi wajah Zivanya dengan paksa, membuat Zivanya menangis dengan terus memberontak.


“Kurang ajar, kamu!” maki Zivanya sambil terus memukul belakang pria itu.


“Kamu cantik, harusnya dari awal aku deketin kamu dan jadikan istriku!” ujar Pria itu.


Di saat Pria itu sedang menciumi wajah Zivanya. Tiba-tiba sekelompok orang masuk kedalam rumah itu, dan menggerebek mereka.


“Itu dia, usir pasangan mesum itu!” teriak seorang ibu-ibu.


“Bawa mereka ke rumah Pak RT. Kita minta nikah kan saja mereka!” ujar ibu-ibu lain.


“Ini gak seperti yang kalian kira, dia hendak memperkosa saya,” kata Zivanya melakukan pembelaan. Air matanya menetes, ia benar-benar ketakutan.


“Saya gak memperkosa dia, dia sendiri yang mau,” ucap pria itu berbohong.


“Janda penggoda kayak kamu, kok bilang di perkosa. Dasar lo*te!” maki seorang ibu-ibu dan di ikuti ibu-ibu lainnya.


“Ayo, kita bawa dan usir perempuan ini!”


“Jangan di usir, ibu-ibu! Saya akan menikahi dia,” kata pria itu.


“Mommy!” teriak Nino dan Valencia yang baru saja pulang.


“Mbak Vanya!” pekik Mei. Ia terkejut, melihat Zivanya yang menangis di hadapan banyak orang.


“Ada apa ini?” tanya Mei pada warga yang ada di dalam rumah itu.


“Ini, janda ini berbuat mesum dan malah bilang di perkosa!” ujar salah satu warga.


“Kalian pasti salah paham, Mbak Vanya tidak seperti itu!” Mei mencoba memberi pembelaan pada Zivanya.


Tapi, warga tidak ada yang mendengarkan pembelaan Mei. Mereka menarik paksa tubuh Zivanya, dan pria pekerja PLN itu. Dan hendak membawanya ke rumah Pak RT.


Belum lagi mereka sampai di luar rumah, seseorang menghentikan langkah warga yang menghakimi janda itu.


"Hentikan!"

__ADS_1


BERSAMBUNG!


__ADS_2