
“Tolong! Izinkan saya bertemu sama Mbak Vanya, saya mohon.” Seseorang mengiba pada Mei yang berada di depan pintu utama kediaman Arya.
“Kamu kesini kepagian, Mbak Vanya sama Bang Arya belum bangun,” kata Mei dengan jujur. “Lagian, kamu siapa sih?” tanya Mei yang memang belum pernah melihat orang itu sebelumnya.
“Izinkan saya menunggunya bangun, saya tidak akan masuk. Saya akan menunggunya di sini,” kata orang itu yang tak lain adalah Kinanti. Ia datang dengan perutnya yang sudah mulai membuncit. Ia berdiri di depan pintu rumah Arya dan Zivanya.
“Ya udah deh, terserah kamu!” Mei menatap malas pada perempuan hamil yang ada di hadapannya itu. “Ya udah, sini masuk aja deh. Nanti kamu sakit, saya juga yang kena!” Mei menyuruh Kinanti masuk kedalam rumah itu. Dan menyuruh Kinanti duduk di sofa ruang tamu itu.
“Duduk! Aku mau keatas sebentar,” kata Mei. Ia pergi meninggalkan Kinanti seorang diri di ruang tamu itu.
Mei menuju ke arah kamar Zivanya dan Arya. Ia tidak tahu, bahwa perempuan yang datang adalah Kinanti, kekasih Danu yang menyakiti Zivanya. Karena selama ini, Mei hanya mengenal nama tapi tidak mengenal rupa. Jadi, ia mengajak Kinanti untuk masuk. Jika ia tahu bahwa perempuan itu Kinanti, sudah dapat di pastikan jika Mei akan mengusir nya sebelum perempuan itu menginjak lantai teras rumah Arya.
Tok.. Tok.. “Mbak, Bang! Kalian udah bangun, kah? Di bawah ada perempuan bunting tuh! Nyariin Mbak Vanya!” teriak Mei sambil mengetuk pintu kamar itu.
Ceklek.. Zivanya yang sudah mandi dan baru saja selesai berganti pakaian membuka pintu kamar itu. Sedangkan Arya, pria itu baru bangun tidur dan bersandar di sandaran ranjang.
“Ada apa, Mei?” tanya Zivanya.
“Itu, di bawah ada perempuan bunting. Nyariin Mbak Vanya katanya,” kata Mei.
Zivanya berbalik dan menatap Arya dengan tatapan tajam. “Siapa perempuan itu, Beng? Lagi hamil pula! Selingkuhan kamu, ya?” tuduh Zivanya pada Arya yang baru bangun itu.
__ADS_1
“Kok aku, yank? Mana aku tau. Aku loh gak pernah pacaran, selain sama kamu,” kata Arya. Sesekali ia menutup mulutnya yang terus menguap.
Dengan rasa penasaran, Zivanya segera keluar dari dalam kamar dan segera menemui perempuan hamil yang di maksud oleh Mei.
Melihat istrinya yang keluar. Arya segera bangkit dari atas ranjang, dan segera mengikuti istrinya menuju lantai bawah. Ia tidak perduli dengan rambutnya yang acak-acakan dengan celana piyama panjang dan juga atasan hanya kaos dalam saja.
Sampai di lantai bawah, Zivanya melihat perempuan hamil yang sedang duduk memunggungi dirinya. Karena, Kinanti duduk menghadap ke pintu utama rumah itu.
“Kamu nyari saya?” tanya Zivanya kepada Kinanti yang duduk di sofa ruang tamu itu.
“Mbak Vanya!” Kinanti membalikkan tubuhnya. Zivanya begitu terkejut melihat penampilan Kinanti yang jauh dari kata sempurna itu. Perutnya memang membuncit tapi tubuhnya tampak kurus, wajah yang pucat tanpa make up dan mengenakan daster rumahan. Tidak seperti Kinanti yang sebelumnya.
“Kinanti!”
“Ngapain kamu kesini?” tanya Arya yang baru saja datang. “Kotor lantai rumahku di pijak sama kamu!” tunjuk Arya pada lantai ruangan itu.
Zivanya mendelik setelah mendengar perkataan nyinyir yang keluar dari mulut suaminya. Haruskah seorang pria bermulut pedas seperti suaminya itu. Semoga saja, masa mengidam suaminya segera berakhir. Begitu batin Zivanya.
Buru-buru Kinanti bangkit dari duduknya, setelah mendengar perkataan Arya. Nyalinya untuk meminta bantuan Zivanya menjadi menciut.
“Wah, Bang Arya bener juga. Kalau tadi Mei tau, yang namanya Kinanti itu dia. Mei gak akan izinkan masuk!” sahut Mei. Gadis itu menambah perkataan Arya.
__ADS_1
“Sayang, suruh dia keluar. Aku mual liatnya,” rengek Arya pada Zivanya.
“Abeng!” Zivanya memelototi suaminya itu.
“Iya, iya aku gak ngomong lagi. Aku diem!” Arya yang berubah menjadi lambe turah itu, segera menutup mulutnya. Begitu juga dengan Mei.
“Mau apa?” pertanyaan Zivanya ia tujukan pada Kinanti yang sudah berdiri di depan sofa itu.
“Sebelumnya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya, sama Mbak Vanya dan juga anak-anak Mbak. Maaf juga, karena pagi-pagi sekali saya datang membuat keributan dan mengusik kenyamanan kalian,” kata Kinanti. Perempuan itu mulai menangis. Ia berjalan mendekati Zivanya yang berjarak hanya tiga meter saja dari tempatnya berdiri.
Melihat Kinanti yang berjalan ke arahnya, Zivanya perlahan mundur. Sedangkan Arya, pria itu sudah siap pasang badan. Jika, seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Tanpa diduga oleh Arya, Zivanya dan Mei. Kinanti bersimpuh di kaki Zivanya. Ia menangis terisak. “Mbak, tolong saya. Tolong maafkan Bang Danu, bebaskan dia dari penjara,” kata Kinanti sembari memeluk kaki kanan Zivanya.
“Penjara? Apa maksud kamu?” tanya Zivanya yang begitu terkejut.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG!
Jangan lupa, tinggalkan jejak, Like, Coment dan Gift🙏