
“Honey, kasian Mbak Vanya. Pastia dia gak bisa tidur nyenyak karena kehadiran Abimanyu,” kata Kinanti pada suaminya yang duduk di sampingnya sembari memegang semangkuk bubur. Terlihat, Danu sedang menyuapi Kinanti makan.
“Mau gimana lagi? Dia sendiri yang keukeh mau bawa Abimanyu, lagi pula. Jujur Kin, aku belum bisa urus bayi yang baru lahir kaya gitu. Hehee,” ucap Danu sembari terkekeh pelan. “Untung ada Zivanya, dia memang luar biasa.”
“Iya, untung juga tadi pagi Mbak Vanya cepat datang. Kalo enggak, mungkin anak kita gak akan bisa di selamatkan.”
“Karena anak kita udah lahir, aku mau ngomong sesuatu, bang,” kata Kinanti sembari menatap suaminya. Sorot mata Kinanti menujukan rasa takut yang begitu besar.
“Mau ngomong apa?” Danu meletakan mangkuk bubur yang ada di tangannya ke atas nakas.
“Menyesalkah kamu menikahi aku?” tanya Kinanti sembari menatap mata suaminya.
Deg! Danu begitu terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir istrinya. Ia bingung harus bagaimana? Jujur pada hatinya, atau terus berbohong?
“Bang, tolong jawab! Apapun jawaban dan keputusan kamu nantinya, aku akan terima. Jika memang perceraian menjadi pilihan yang terbaik untuk kamu, aku ikhlas bang. Karena yang memulai semua badai ini adalah aku, aku sudah lapang dada menerima kenyataan ini. Aku sudah cukup bahagia dengan kehadiran Abimanyu di sisiku,” kata Kinanti dengan begitu tegar. Sepertinya, wanita itu sudah merangkai kata-katanya dan mengumpulkan mental sejak jauh-jauh hari.
“Kalau memang harus bercerai, aku akan kembali ke kampung halaman di tempat nenek. Aku akan membesarkan Abimanyu disana” kata Kinanti.
Tampak, Danu yang ada di hadapan Kinanti menghela napas berat sebelum ia angkat bicara.
“Gak akan ada perceraian. Selama beberapa bulan belakangan ini, aku udah memantapkan hati. Aku sadar, aku salah. Aku juga percaya, kalau kamu adalah jodohku, jodoh yang harus aku jaga,” kata Danu.
“Maafkan semua perkataan kotor dan kasar yang pernah aku ucapkan, maafkan semua kesalahan aku. Aku berjanji, akan terus berusaha menjadi suami dan ayah yang baik. Aku berjanji akan selalu berusaha memperbaiki diri.”
“Aku tau, kamu gak akan mudah percaya sama semua perkataan aku. Tapi, aku udah berusaha menghapus perasaan ini untuk dia dan selalu mencoba menepatkan nama kamu disini!” Danu meraih telapak tangan dingin Kinanti dan meletakan telapak tangan itu di dadanya.
“Aku akan memprioritaskan kamu dan anak kita,” kata Danu. Tampak, ketegaran yang di perlihatkan Kinanti hilang begitu saja. Ia menangis sesegukan. Ia pikir, setelah melahirkan ia akan kehilangan suaminya untuk selamanya. Tapi nyatanya, suami nya itu masih perduli dengan dirinya.
“Maafkan aku Kinanti, maafkan atas semua luka yang udah aku berikan. Bahkan perkataan menyakitkan yang selalu aku lontarkan di saat tau kamu mengandung. Tapi, melupakan masa lalu gak semudah itu. Biarlah aku kubur semua perasaan ini perlahan, DIA akan memiliki tempatnya sendiri di hati ini.” Batin Danu sembari memeluk Kinanti.
__ADS_1
“Aku tau, rasa itu gak akan mudah hilang Danu. Tapi, aku percaya kalau kamu tulus sama aku dan anak kita,” batin Kinanti. Ia merasakan nyaman di dalam dekapan suaminya itu. “Biarlah Mbak Zivanya dan Arya yang akan membantu kita meniti jalan yang lebih baik lagi.”
.
.
.
‘Oekkk oekkk..’ Pukul 2 dini hari, Arya terbangun karena mendengar tangisan Abimanyu.
“Hoam..” Arya menguap, ia turun dari atas ranjang dan menuju box Abimanyu.
“Abi bangun, pipis ya,” ucap Arya. Ia menirukan suara anak kecil. Di angkatnya tubuh kecil Abimanyu dari dalam bok itu.
Ia pun membuka popok Abimanyu, tapi ia menjadi bingung setelah melihat tali pusar bayi itu. “Aduh, bahaya. Gimana ini? Masa aku bugilin anak orang begini,” guman Arya.
Arya pun memilih untuk membangukan istrinya. “Sayang, bangun. Ini gimana ganti pokoknya, aku takut,” kata Arya.
“Dia buang air, tapi aku takut gantiin popok dan bedong nya. Nanti kena pusernya itu,” tunjuk Arya pada tali pusat Abimanyu.
“Ya udah, tunggu bentar. Aku mau cuci muka,” kata Zivanya. Ia pun segera bangkit dan mencuci wajahnya. Setelah itu, ia kembali. Ia mengambil popok beserta tisu basah.
Arya mengamati cara istrinya mengganti pokok bayi. “Oh, jadi gitu,” kata Arya.
“Seminggu nanti, udah bisa kamu gantiin popoknya. Karena umumnya, tali pusat bayi itu, copotnya tujuh hari,” kata Zivanya.
“Berarti, dia bakal lama dong di sini?”
“Sampe Kinanti pulang lah, perempuan yang lahirin caesar itu beda sama lahiran normal, beng. Dia gak boleh capek-capek, nanti jahitan di perutnya ke buka lagi,” kata Zivanya kepada suaminya.
__ADS_1
“Sembuhnya berapa lama, yank?”
“Kalo lahiran normal, 40 hari udah bisa di bilang cukup sehat. Tapi, kalau ceasar 3 bulan belum tentu pulih,” jelas Zivanya.
“Waw!”
“Kok Waw, beng?” tanya Zivanya sembari meletakan kembali Abimanyu kedalam bok. Dan beralih pada dot susu bayi itu.
“Lama dong, Danu puasanya,” celetuk Arya tiba-tiba.
Bukk! Zivanya memukul punggung suaminya itu. “Pikirannya mesum terus!”
“Hahaha! Aku bener, yank,” kata Arya dengan tertawa terbahak.
“Iya bener, tapi bisa gak? Gak usah mesum banget kaya gitu!” Cetus Zivanya. “Nanti, kamu juga bakal ngerasain kayak Danu!” tunjuk Zivanya pada burung Arya.
“Tenang ya, bur-ubur ada kamar mandi!” celetuk Arya, membuat Zivanya geleng-geleng kepala.
.
.
.
BERSAMBUNG!
*
Sembari nunggu up, bisa mampir ke karya kakak online Neng yang ada di bawah ini ya!
__ADS_1