
Sore harinya, Arya yang masih berada di kantor bergegas pergi menuju parkiran. Ia hendak pergi ke apartemen Danu, menyusul istri dan anaknya.
Sebelum ia pergi, ia kembali mengingatkan Willy. “Will, ingat! Aku mau pergi ke rumah Danu, aku pengen setelah aku pulang jam 19 malam nanti. Kamu sama Mei, udah ada di rumahku!” itulah kata yang di ucapkan Arya pada Willy sebelum ia pergi.
Setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya Arya sampai di depan apartemen Danu.
“Hmm! Itu suara mobil Daddy, aku bakal ajak Daddy pulang aja,” guman Nino yang mendengar suara mobil Arya.
“Nino, mau kemana?” tegur Zivanya yang melihat putranya berjalan menjauh dari tempatnya.
“Ada Daddy di luar, Nino ingin minta antar pulang,” kata Nino. Zivanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya itu.
“Mana Mommy mu?” tanya Arya pada Nino yang sudah berada di depan pintu apartemen. “Kenapa wajah mu kusut seperti itu Boy?”
“Nino ingin pulang, dari tadi siang Mommy dan Valencia berada di sini. Betah sekali mereka berkumpul dengan orang-orang yang tidak baik,” adu Nino pada Arya.
Arya tersenyum, lalu ia menggendong tubuh Nino. Dan membawa Nino masuk ke dalam mobil. “Apakah kita berdua bakal pulang duluan, dad?” tanya Nino saat ia sudah duduk di kursi samping kemudi.
“Enggak, kita gak akan pulang,” kata Arya.
“Terus, kenapa kita masuk ke dalam mobil?”
“Daddy ingin mengatakan sesuatu kepada Nino, dan Nino harus dengarkan Daddy,” kata Arya. Ia ingin menasehati putra sambungnya itu.
“Apakah guru Nino di sekolah mengajarkan Nino untuk membenci orang lain?” tanya Arya dan Nino menggeleng.
“Apakah Mommy dan Daddy pernah mengajarkan Nino untuk membenci orang lain?” tanya Arya lagi, dan lagi-lagi Nino hanya menggeleng.
“Lalu, kenapa Nino begitu membenci dan tidak menyukai Om Danu?” tanya Arya.
“Huwaa! Daddy.” Tampak Nino menangis dan memeluk tubuh Arya. “Nino tidak suka sama orang itu, dia udah bikin Mommy menangis, dia udah jahatin Mommy, dia juga suruh Nino buat menyusul Daddy Valentino.”
“Jangan menangis, Cowok kok nangis, kan malu.” Ledek Arya. “Nino harus tau, gak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pasti pernah berbuat salah dan dosa, begitu juga dengan Om Danu.”
“Jika tuhan saja bisa memaafkan Om Danu, kenapa Nino enggak?” Arya berbicara selembut mungkin, agar Nino tidak salah paham dan tidak menganggap dirinya memarahi anak itu.
“Jadi gimana?” tanya Nino sembari menatap wajah Daddy-nya yang terus tersenyum padanya.
__ADS_1
“Nino harus bisa mengkikis rasa benci Nino, dan memaafkan Om Danu. Jika tidak, maka tuhan yang marah pada Nino,” kata Arya.
“Ya, daad. Nino akan minta maaf sekarang juga pada Om Danu,” kata Nino. Tampak anak itu menghapus sisa air matanya. Dan membuka pintu mobil
Arya tersenyum sembari memandang putranya yang kembali masuk kedalam apartemen Danu. Ia pun ikut turun dari mobil, dan ikut masuk.
“Mom, mana Om Danu?” tanya Nino tiba-tiba, Zivanya terkejut saat melihat wajah putranya yang memerah semerah buah tomat.
“Beng, Nino kenapa? Dia menangis?” tanya Zivanya pada Arya yang sudah berada di sampingnya. Arya menjawab pertanyaan Zivanya dengan mengangkat kedua bahunya.
Nino mendekati Danu yang sedang duduk di sofa tunggal yang ada di pojok ruangan bersama Valencia.
Danu di buat terkejut dengan Nino yang tiba-tiba memeluk pinggangnya. “Nino, kamu kenapa?” Danu membalas pelukan Nino.
“Maafkan Nino, om. Nino sudah benci sama om. Nino janji, gak akan bersikap kasar dan buruk lagi sama Om Danu,” kata Nino.
“Harusnya, Om yang minta maaf sama Nino. Tolong maafkan semua perbuatan dan juga perkataan kasar Om terhadap Nino,” ucap Danu.
Tidak terasa, hari sudah mulai gelap. Arya dan Zivanya pamit pulang pada Kinanti dan Danu.
“Iya, makasih ya, udah mau main kesini.” Danu tersenyum pada Arya dan Zivanya. Begitu pula dengan Kinanti.
“Kakak pulang dulu, ya sayang,” pamit Valencia pada kandungan Kinanti.
“Jangan lupa, besok pagi-pagi sekali datang ke DIRGANTARA GRUP,” Kata Arya.
Zivanya pun memasuki mobil Arya bersama dengan anak-anaknya. Di ikuti oleh Arya yang masuk dan duduk di kursi kemudi.
“Mobil Zivanya,” kata Danu pada Arya yang sudah berada di dalam mobil.
“Sengaja di tinggal, biar besok kamu gak repot,” kata Arya sembari melajukan mobilnya.
“Kuncinya, aku tarok di atas kulkas!” teriak Zivanya. Bukan hanya kunci mobil, Zivanya juga meletakan beberapa lembar uang di atas kulkas itu. Ia sempat mendengar pembicaraan Danu dan Kinanti, bahkan ia juga melihat isi kulkas yang ada di rumah itu kosong.
Jika ia langsung memberikan uang pada Kinanti, ia takut Kinanti malah tersinggung dan mengatakan bahwa ia begitu sombong.
Setelah mobil Arya sudah tidak terlihat, barulah Danu dan Kinanti masuk kedalam apartemen.
__ADS_1
.
.
.
BERSAMBUNG!
Sembari nunggu up, bisa mampir di karya kakak online neng yang ada di bawah ini, ya!
ANISA
(Tyatul)
Anisa Rahman adalah seorang gadis yang hidup tanpa ayahnya. Ia hanya hidup dengan sang ibunya yang bekerja sebagai guru sedari kecil. Walau ia membutuhkan figur seorang ayah, Animasi tak pernah meminta hal itu pada sang ibu.
Hingga usianya yang ke 18 tahun, ibunya harus menyusul ayahnya ke alam sana hingga membuatnya sebagai yatim piatu. Tak mau sedih terus menerus atas kepergian sang ibu, Anisa terus melanjutkan hidupnya dengan kuliah dan bekerja paruh waktu. Hingga mempertemukan Anisa dengan orang dari masa lalunya.
"Aku mencintaimu Anisa, maukah kau menikah denganku?"
Ungkapan itu membuat Anisa senang karena dilamar oleh orang yang juga ia cintai, tapi disisi lain ia juga bimbang karena statusnya yang kini belum jelas dan masih kuliah. Apa nanti ia bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya?
Sebuah keputusan besar yang Anisa ambil akan membuatnya mengalami tahap baru yaitu pernikahan.ANISA
(Tyatul)
Anisa Rahman adalah seorang gadis yang hidup tanpa ayahnya. Ia hanya hidup dengan sang ibunya yang bekerja sebagai guru sedari kecil. Walau ia membutuhkan figur seorang ayah, Animasi tak pernah meminta hal itu pada sang ibu.
Hingga usianya yang ke 18 tahun, ibunya harus menyusul ayahnya ke alam sana hingga membuatnya sebagai yatim piatu. Tak mau sedih terus menerus atas kepergian sang ibu, Anisa terus melanjutkan hidupnya dengan kuliah dan bekerja paruh waktu. Hingga mempertemukan Anisa dengan orang dari masa lalunya.
"Aku mencintaimu Anisa, maukah kau menikah denganku?"
Ungkapan itu membuat Anisa senang karena dilamar oleh orang yang juga ia cintai, tapi disisi lain ia juga bimbang karena statusnya yang kini belum jelas dan masih kuliah. Apa nanti ia bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya?
Sebuah keputusan besar yang Anisa ambil akan membuatnya mengalami tahap baru yaitu pernikahan.
__ADS_1