PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 31


__ADS_3

Kini, Arya dan Zivanya sedang berada di salon kecantikan. Arya membawa Zivanya ke sana, agar Zivanya bisa memanjakan diri sebelum acara ijab qobul mereka yang akan di laksanakan sore hari. Di kediaman Arya.


“Beng, mending kamu pergi cari makan,” kata Zivanya pada Arya yang belum makan sejak pagi. “Biar aku di sini sendirian,”


“Aku gak lapar, aku bakal nungguin kamu di sini,” ucap Arya yang duduk di sofa yang ada di ruangan tempat Zivanya di rawat.


“Aku gak mau kamu sakit,” kata Zivanya.


“Mbak, tolong keluar sebentar, bisa!” pinta Arya pada karyawan salon yang sedang mewarnai kuku Zivanya.


Tanpa berbicara sepatah katapun, karyawan salon itu segera keluar. Meninggalkan Zivanya dan Arya berdua saja di ruangan itu.


“Beng, kamu mau ngapain?” tanya Zivanya pada Arya yang mendekatinya dengan senyum genit.


“Jangan macam-macam, Beng. Ini salon, bukan kamar!”


“Aku cuma mau satu macam, bukan bermacam-macam,” kata Arya. Kini, Arya sudah membelakangi cermin yang ada di hadapan Zivanya. Tubuhnya ia condongkan hingga wajahnya sangat dekat pada wajah Zivanya.


“Beng, nanti di lihat orang,” kata Zivanya.


“Aku gak peduli, kamu tadikan nyuruh aku makan. Biar gak sakit, nah sekarang aku mau makan kamu,” bisik Arya.


“Jangan main-main deh, Beng. Aku nyuruh kamu makan nasi, bukan makan aku. Aku mana bisa di makan!” ujar Zivanya. Ia kesal pada Arya yang selalu saja menggodanya tidak kenal tempat itu.


“Aku gak sabar lagi, nunggu malam, Yank.”


“Pikiran kamu tu mesum terus, aku gak nyangka. Kamu bisa semesum ini!” kesal Zivanya. “Aku kira, kamu tu cowok yang kalem.”


“Transfer energi dikit aja, biar aku pergi dari sini,” kata Arya dengan expresi wajah yang di buat sesendu mungkin.


“Energi apa sih? Kok energi-energian!”


“Cium aku, dikit aja,” kata Arya dengan penuh harap.


“Gak mau,”

__ADS_1


Mendengar tolakan dari Zivanya, Arya malah menarik tengkuk leher Zivanya. Lalu mencium serta menggigit kecil bibir Zivanya dengan lembut.


Tak lama kemudian, Arya melepaskan bibirnya dari bibir Zivanya. Saat Zivanya hendak protes, ia lebih dulu pamit pergi dari ruangan itu.


“Bye, Sayang. Aku pergi dulu, nanti aku kembali!” Arya melambaikan tangannya sambil tersenyum nakal ke arah Zivanya yang sedang kesal padanya itu. Sedangkan dirinya, berbicara dari pintu ruangan itu.


“Kamu ngeselin!”


.


.


.


“Saya terima nikah dan kawinnya, Zivanya anatasya binti Sudarsono dengan emas kawin yang tersebut di bayar tunai!”


“Bagaimana saksi? Sah?”


“Sah!”


“Sekarang, kalian tanda tangani dulu surat nikah ini,”


Arya dan Zivanya pun menandatangani surat nikah mereka. Setelah itu, Mei dan Willy membuat keributan.


“Tolong, fotokan saya, dan pengantin baru itu!” pinta Mei pada Willy yang duduk di sampingnya.


“Oh, foto ya! Sini ponselnya!” kata Willy seperti biasa, tanpa Expresi.


Dengan senang hati Mei memberikan ponselnya pada Willy. Lalu, ia meminta Arya dan Zivanya berdiri dan memasang gaya untuk berfoto.


“Mbak, Bang, kita foto ya!” ajak Mei pada Pasangan pengantin baru itu.


Mereka pun berpose macam-macam, sedangkan Willy yang berdiri di hadapan mereka, juga nampak sangat serius.


Setelah cukup lama, “Gimana, udah belum, Mayat?” tanya Mei pada Willy. Willy pun mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Willy segera memberikan ponsel itu kepada pemiliknya, Mei menerima ponsel itu dengan senyum merekah. Ia pun melihat hasilnya, sesaat kemudian. Mei membulatkan matanya, lalu menatap tajam pada Willy.


“Dasar mayat hidup! Kau sudah mempermainkan aku, camera ponselku bisa pecah karena menampung fotomu yang kaku seperti mayat ini!” Mei mengepalkan tangannya dan berjalan maju ke arah Willy.


“Baru kali ini, aku melihat Willy berani mempermainkan wanita. Jangan-jangan mereka berdua berjodoh,” bisik Arya pada Zivanya.


“Hmm.. Semoga saja,” kata Zivanya.


Semua orang yang ada di kediaman Arya, menatap heran dengan tingkah Willy dan Mei.


“Buat semua bapak-bapak dan para ibu-ibu sekalian, kami ucapkan terimakasih banyak. Silahkan nikmati hidangan sederhana yang sudah kami sajikan,” kata Arya dengan sopan, kepada penghulu dan juga saksi yang menghadiri acara pernikahan mereka.


Pertengkaran sengit antara Mei dan Willy masih berlanjut. “Stop! Jangan sentuh-sentuh tubuh saya. Nanti saya kena virus!”


“Virus apa virus? Kamu berani-beraninya mempermain saya,” kata Mei dengan kesal.


“Salah sendiri, minta tolong tapi menyebut orang dengan sebutan, Mayat,” ucap Willy dengan nada dingin.


“Kamu memang seperti mayat, kaku gak ada gairah hidup!” cetus Mei.


“Hei! Jaga ucapan, Anda, Nona leon. Nanti anda bisa jatuh cinta pada saya yang sepeti mayat ini!” timbal Willy.


“Apa leon?” tanya Mei sembari berkata pelan pada Willy. Kesan orang lain, mereka sedang berbisik-bisik.


“SINGA!” sahut Willy dengan santai.


Bukk! Mei memukul wajah Willy dengan cukup keras. Membuat Willy meringis menahan sakit.


“Gadis gila!”


BERSAMBUNG!


Jangan lupa, kritik saja bila ada typo atau salah penempatan kata. Neng akan sangat senang dan berterimakasih, jika kalian perduli!


Dukungan kalian, semangat untuk Neng!

__ADS_1


__ADS_2