Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
100. Kekuatan Kontrak Sihir


__ADS_3

[Yeeey akhirnya tembus chapter seratus :v.]


{Saya bertanya-tanya.


Apa menurut kalian novel ini bagus?


Bagaimana menurut kalian tentang konten dewasa di novel ini?.


Apa kalian ingin bagian dewasa diperbanyak atau justru di kurangi?


Tulis jawaban di kolam komentar.}


***


Beberapa jam sebelumnya.


Kota Sawi kedatangan 4.000 pengungsian dari kota Jati. Mereka adalah orang-orang yang dipaksa pindah demi melunasi hutang Genk The Daki atas kekalahan perang melawan Rango.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah Genk the Daki tidak sedikitpun berniat melunasi hutang pada Rango.


Alasan Tangji memberikan 4.000 warga kota Jati lebih karena ketakutan adanya pemberontakan.


Itu sesuai dengan apa yang Liliana pikirkan.


Jumlah anggota Genk the Daki yang terbunuh dalam pertarungan sangatlah besar, perlu beberapa bulan hingga mereka bisa pulih.


Takut warga kota Jati mengambil kesempatan melakukan pemberontakan saat kondisi the Daki begitu lemah. Mereka pun melakukan segala cara untuk mengurangi jumlah penduduk agar tetap bisa dikendalikan.


Jumlah yang di minta 3.000 tapi the Daki justru memberikan 4.000, lebih banyak 1.000 orang dari yang diminta pada perjanjian.


Semua itu memperlihatkan betapa frustasinya Genk The Daki akibat kekalahan perang.


Jembatan Siwak.


Yuki ditemani Raya, Liliana dan seluruh anggota guild Legion Teapot. Mereka berhadapan dengan Genk the Daki.


Di belakang Genk itu terdapat empat ribu warga yang dipaksa meninggalkan kota mereka.


“Sesuai dengan kesepakatan tuntutan pasca perang. Kami membayarkan hutang yang telah disepakati.”


Kiljo wakil dari Genk the Daki. Pria bertubuh kekar itu mendengus saat berbicara, dia terlihat enggan berbicara dengan Yuki.


Dia seakan memaksa dirinya untuk berprilaku sopa, namun kiljo tahu tidak mungkin bisa berpura-pura seperti itu.


‘Cih, apa-apaan kemana si brengjek Rango itu, kenapa dia tidak muncul sialan.’


Kiljo sebelumnya dia tidak ikut perang karena bertugas menjaga kota Jati selama kepergian Tangji dan pasukannya.


Mendengar kekalahan Geng The Daki oleh satu orang, awalnya Kiljo mengaggap itu sebagai lelucon.


Tetapi setelah melihat kenyataan memang demikian, Kiljo pun menjadi penasaran dengan sosok Rango.


Menyadari jika Rango tidak akan muncul membuat Kiljo kehilangan minat.


“Kami membawa seribu tambahan budak, Kalian harus membayar 100 batu monster biru langit untuk satu dari mereka.”


Perkataan Kiljo membuat keributan di kubu Guild Legion Teapot.

__ADS_1


Namun Kiljo tidak peduli pada keributan itu. Dia hanya ingin pembayaran segera diselesaikan sebelum dia selesai membersihkan kupingnya.


Sebagai Wali Kota, Yuki sendirilah yang menghadapi wakil dari geng The Daki.


Kiljo tersenyum sinis saat melihat Yuki menghampirinya.


“Ada apa gadis keci, apa kau yakin membawa batu nya? Pastikan itu berjumlah dua ratu ribu oke.”


Kiljo tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan itu. Dia pikir Yuki akan menangis ketakutan setelah merasa intimidasi dari setiap kata yang dia keluarkan.


Tetapi justru sebaliknya, Yuki hanya menatap pria kejar itu dengan dingin, seakan Yuki tidak merasakan ancaman apa pun dari Kiljo.


“Kami tidak berniat membeli budak, jadi silahkan kau bawa kembali seribu warga tambahan yang kau bawa.”


Perkataan Yuki membuat keributan pada ribuan pengungsi. Sepertinya banyak dari warga kota Jati yang ingin keluar dari cengkraman Geng The Daki.


“Haaah!.”


Kiljo membentak keras, wajahnya begitu marah setelah mendengar perkataan Yuki.


“Kau sialan bicara apa kau barusan! Setelah aku susah payah membawa mereka kau tidak mau membayar ku!.”


“Kenapa kau berpikir jika aku akan membayar mu? Justru kalian anggota geng Daki lah yang harus membayar karena perjanjian itu menyatakan tiga ribu tenaga kerja dan lima juta batu monster Biru.”


Kiljo tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Yuki. Begitu juga anggota geng the Daki lainnya, mereka seakan menertawakan kebodohan gadis itu.


“Dasar idiot, kau pikir orang gila mana yang akan percaya jika kami akan membayar batu monster sebanyak itu, Ahahaha.”


Anggota geng the Daki benar-benar tidak peduli dengan perjanjian yang telah ditulis dalam kontrak sihir.


Mereka seperti itu karena memang belum tahu ancaman sesungguhnya dari kontrak sihir.


Kiljo dan rekannya masih tertawa terbahak-bahak saat Yuki berbicara. Warga kota Jati yang melihat mereka tertawa merasakan kebencian yang begitu dalam.


Hidup dibawah kekuasaan the Daki seperti hidup dalam neraka. Setiap hari dilalui dengan ketakutan dan penyiksaan.


Melihat orang-orang yang telah membuat hidup mereka begitu tersiksa, justru terlihat bahagia tanpa ada rasa bersalah maupun penyesalan.


Itu membuat ribuan warga kota Jati merasa tidak ada lagi keadilan di dunia ini.


Namun tidak ada yang mengira jika datangnya pembalasan berasal dari arah yang tidak terduga.


“Sebagai perwakilan dari pemilik kontak, aku menganggap perkataan mu tadi adalah sebuah penghianatan pada kontrak yang sudah disepakati.”


Dalam sekejap tawa Kiljo dan seluruh rekannya terhenti. Mereka tiba-tiba merasakan seluruh tubuh merasa sakit tanpa sebab.


Mereka mulai merintih menahan sakit dan satu persatu mulai terjatuh, berikutnya teriakan kesakitan dan meminta tolong terdengar.


Bukan hanya Kiljo dan rekannya yang berada di jembatan Siwak, tetapi semua anggota geng the Daki termasuk Tangji yang saat ini berada di kota Toge pun ikut merasakan siksaan akibat pelanggaran kontrak.


Warga kota Jati yang melihat itu merasa sangat puas.


“Hentikan! Hentikan! Hentikan!.”


Kiljo berniat menyerang Yuki karena mengira rasa sakit dia rasakan berasal dari gadis itu.


Namun Kiljo tidak dapat menyerang Yuki karena dalam kontrak juga dikatakan jika Guild The Daki tidak akan menyerang kota Sawi selama dua tahun penuh.

__ADS_1


Yuki adalah bagian dari kota Sawi, jadi anggota geng the Daki tidak bisa menyerangnya karena perlindungan kontrak sihir.


Selama setengah jam semua anggota the Daki jatuh dalam kehilangan akibat efek kontrak sihir.


Merasa sudah cukup memberikan The Daki pelajaran penting jika tidak boleh bermain-main dengan perjanjian kontrak sihir.


Yuki pun akhirnya mengangkat rasa sakit yang diderita Kiljo dan rekannya.


“Apa kau sudah belajar sesuatu?.”


Yuki bertanya pada pria kekar yang baru saja menangis dan ngompol di celana. Kiljo hanya bisa mengangguk kecil sebagai jawaban.


“Sekarang kalian boleh pergi, sementara para warga kota Jati yang kalian bawa tetap di dini.”


Takut diberikan rasa sakit lagi, anggota geng the Daki segera mengambil langkah seribu, mereka berlari meninggalkan semua warga yang mereka bawa.


***


Setelah Kiljo kabur, warga kota Jati merasa begitu senang karena bisa bebas dari cengkraman Geng The Daki.


Walaupun telah mengorbankan banyak hal, tetapi mereka mengira jika semua Itu sepadan dengan apa yang akan mereka dapatkan.


Banyak warga pendatang yang menderita luka parah. Yuki pun meminta anggota guild Legion Teapot untuk merawat mereka yang terluka.


Setelah itu baru mereka diajak masuk ke dalam kotak sawit.


Di dalam perjalanan rombongan itu dicegat oleh pihak militer yang dipimpin langsung oleh Bambang.


Bambang marah karena mengira jika Yuki melakukan persengkokolan dengan Geng The Daki dalam bisnis jual beli manusia.


Itu merupakan tuduhan yang tidak berdasar.


Marah karena tidak terima dianggap sebagai penjual manusia, Yuki pun akhirnya lepas kendali.


“Kalian lihatlah mereka.”


Yuko menunjuk pasukan militer yang Bambang pimpin pada warga kota Jati.


“Mereka adalah pasukan militer yang mungkin kalian pernah harapkan datang sebagai pahlawan untuk menyelamatkan kalian.”


Yuki berkata dengan sangat lantang hingga semua orang di alun-alun kota dapat mendengar.


Ribuan pasang mata yang menatapnya beralih pada Bambang, yang membuat Pria itu tidak merasa nyaman.


“Daripada memberantas anggota Genk the Daki yang sedang melemah, mereka justru tinggal di kota ini menjadi benalu.”


Jdar!.


Yuki tanpa rasa takut langsung memberikan serangan fatal dengan kata-katanya. Yang tentu saja perkataan gadis itu membuat semua anggota militer merasa terhina.


Tetapi rasa terhina itu masih belum apa-apa dibandingkan dengan kebencian warga kota Jati. Mereka mengaggap apa yang dikatakan Yuki adalah sebuah kebenaran.


Kenapa militer tidak menyerang sisa Genk The Daki yang sudah sangat melemah, lalu membebaskan kota Jati?.


Tetapkan menusuk setiap orang tertuju pada setiap anggota militer. Mereka menuntut sebuah jawaban.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2