
Aaaaa...
Terdengar teriakan dari langit.
Brak!
Sebuah atap mobil hancur setelah dihantam oleh tubuh seorang pria.
“Wahahaha. Bos!.”
Semua aggota geng Belati Merah menjadi begitu panik setelah melihat bos mereka jatuh dari atas langit.
Pria yang sebelumnya berusaha menunggangi Pushrank, terkapar tidak berdaya dengan darah keluar dari mulutnya. Beruntung pria itu mendarat di atap mobil, jika tidak bisa saja luka yang akan dia derita menjadi lebih parah.
“Kurang ajar, berani kau melakukan ini pada bos kami!.” Teriak penuh kemarahan salah satu orang yang menghadang jalan Budi.
“Apa yang kau bicarakan, Bukankah aku sudah memberi sebuah peringatan padanya jika Pushrank tidak suka punggungnya dinaiki oleh orang lain selain aku?.” Budi mencoba untuk membela diri.
Tetapi dia sadar jika usahanya tidak akan berhasil, karena tatapan penuh amarah dan niat membunuh dapat dirasakan dengan jelas dari para preman yang mencoba mencari masalah dengannya.
“Bajingan ini membawa monster!.” ucap anggota geng Belati Merah dengan nada yang keras seakan sengaja biar semua orang mendengarnya.
“Hei, Pushrank bukan monster!.”
Budi mulia kesal karena temannya disebut monster. Bahkan Roxy dan Akita pun mulai menggeram karena marah.
“Ini demi kebaikan kota ini. Kita tidak bisa membiarkan ada monster yang berkeliaran!.” kembali suaranya diperkeras hingga hampir berteriak.
Mereka tidak peduli dengan kemarahan Budi dan dua ekor anjingnya. Para preman itu berniat untuk menyerang mereka tanpa berpikir panjang.
‘Hanya pemuda bodoh dengan dua ekor anjing, mereka hanya makhluk lemah seperti yang lainnya.’ pikir setiap anggota Geng Belati Merah.
Sebagai geng preman paling di takuti di pengungsian kota Sawi. Mereka sering melakukan tindakan kekerasan pada orang yang tidak mereka sukai.
Beberapa kali Genk Belati Merah terkena tuduhan pemerasan dan penganiayaan, membuat pihak berwajib selalu direpotkan oleh kejahatan kelompok itu. Terapi seakan tidak kapok, Genk itu selalu kembali membuat kerusuhan.
“Kalian tidak takut mendapatkan masalah dengan pihak berwajib jika melakukan kekerasan pada orang lain?.” tanya Budi.
__ADS_1
“Kau pikir kami takut dengan para penjaga bayi itu? Mereka membutuhkan orang-orang kuat seperti kami untuk memusnahkan para monster. Jadi seberapa pun buruknya kekacauan yang kami buat, mereka tidak akan menghukum kami dengan berat. Paling-paling kita hanya akan mendekam dalam sel penjara selama satu atau dua hari.”
Semua anggota geng Belati Merah tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan itu. Sementara para pengungsi hanya bisa menatap mereka dengan geram.
Namun kenyataannya memang seperti itu, tidak bisa dipungkiri jika memang pengungsian membutuhkan orang-orang kuat seperti mereka untuk melawan monster. Walaupun perilaku Genk Belati Merah sangat buruk.
Tetapi berbeda dengan kemampuan mereka dalam berburu monster. Mereka sangat disegani karena selalu berhasil mendapatkan banyak buruan.
Budi memijat dagunya seakan sedang berpikir, “Jadi itu artinya kau bisa kebal hukum jika kau kuat?.”
“Ahahaha benar sekali. Sekarang bersujudlah, di tanah dan minta maaf karena telah membawa monster ke kota ini, lalu berikan tas di punggung mu untuk kami periksa!.”
Gelak tawa Genk Belati Merah semakin keras. Budi hanya menatap bosan, 'apa mereka berpikir aku sungguh akan melakukan itu?.' pikirnya.
Pemuda itu hanya bisa menghela nafas panjang. “Sungguh menjengkelkan.” Budi mengabaikan mereka, lalu kembali menaiki punggung Pushrank. “Sudahlah ayo kita segera ke pengungsian. Katanya pintu masuknya sangat ramai dan harus mengantri.”
Anggota geng Belati Merah seketika terdiam melihat Budi dengan tenang meningkatkan tempat itu. Mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Sebelumnya mereka berpikir bisa menggertak pemuda yang terlihat seperti seorang penurut.
Namun pemuda itu justru terlihat sangat tenang saat berjalan pergi. Dia sama sekali tidak seperti seorang yang ketakutan.
Orang-orang yang menonton seketika tertawa terbahak-bahak karena menganggap itu terlalu lucu.
“Ahahaha, apa-apaan Pemuda itu, dia pergi begitu saja setelah mereka terus berbicara hingga mulut mereka berbusa.”
“Pfffft... Hey berhenti jika mereka mendengar mu, maka kau bisa dalam bahaya!.”
“Oh sial perutku sakit karena menahan tawa.”
Mendengar olok-olok setiap orang di tempat itu membuat anggota geng Belati Merah dipenuhi oleh kemarahan, mereka pun dengan niat membunuh segera mengejar Budi.
“Cih, dasar merepotkan.” ucap Budi yang mengetahui jika mereka masih mengejarnya. Dia pun kemudian menatap dua anjing yang berada di jantung belakang.
“Apa salah satu dari kalian ingin melawan mereka?.” tanya Budi yang segera dibalas dengan lolongan keduanya.
“Kalian berdua ingin melawan mereka?, Baiklah, tetapi jangan sampai membunuh atau menyebabkan luka fatal, juga dilarang menggunakan keahlian.” Budi memberikan peringatan.
Kedua anjing kembali menggonggong sebagai jawaban. Mereka seakan merasa yakin bisa menang melawan para manusia, walaupun tidak menggunakan seluruh kekuatan yang mereka miliki.
__ADS_1
“Mati kau sialan!.” satu anggota Genk Belati Merah melompat tinggi hendak menikam punggung Budi. Semua orang yang melihatnya berpikir pemuda itu tidak akan selamat.
Namun yang terjadi berikutnya kaki belakang Pushrank menendang pria itu hingga terpental jauh ke belakang. Kemudian giliran Roxy dan Akita yang muncul untuk melawan sisa anggota geng Belati Merah yang tersisa empat orang.
Kedua anjing itu menggeram untuk mengintimidasi. Tetapi karena terlalu bodoh keempat orang itu hanya tertawa terbahak-bahak, mereka seolah tidak melih bagaimana bos dan rekan sebelumnya dikalahkan.
Mereka hanya berpikir Roxy dan Akita hanya anjing biasa. Namun itu berakhir setelah dua anjing itu menyerang, gerakan mereka begitu gesit hingga serangan anggota geng Belati Merah tidak ada yang berhasil melukai keduanya.
“Aaaa, anjing Sialan dia menggigit tanganku!.”
“Wajahku!.”
“Tidak masa depan ku!.”
“Itu ***** anjing!.”
Teriakan makian dan penderita terdengar begitu keras di belakang, namun Budi tidak peduli, dia terus mengendalikan Pushrank menuju pengungsian.
Tidak lama kemudian kedua anjing menyusul dengan mulut yang dinodai oleh darah. Budi sadar ini akan menjadi masalah, namun dia tidak peduli karena mereka tindakannya benar telah memberikan para preman itu pelajaran.
“Seperi yang dia katakan, tempat ini sangat ramai.” ucap Budi saat melihat antrian panjang menuju gerbang pengungsian.
Tatapan orang-orang disekitar tidak dia pedulikan, Budi ikut mengantri. Agar tidak menggangu orang lain, Budi turun dari kudanya saat berbaris dalam antrian.
“Hey kawan, kudamu terlihat menyenangkan. Bolehkah aku menaikinya?.” tanya seseorang yang mengantri di belakang. Budi hanya diam tanpa membalas.
Pria itu melihat jika Budi tidak memegangi tapi kekang kuda yang berdiri di sampingnya, itu membuat pikiran jahat muncul di kepala pria itu untuk mencuri kuda Budi.
Tetapi seperti yang terjadi sebelumnya, pria yang tidak diketahui siapa itu mendapatkan nasib yang sama seperti bos para preman.
“Aaaaa....” dia terbang tinggi ke langit saat mencoba menaiki punggung Pushrank.
“Itu yang ke dua.” Budi benar-benar tidak peduli dengan nasib mereka yang ingin mencuri Pushrank.
Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya Budi sampai di depan gerbang pemeriksaan. Namun sebelum dia melakukan apa pun tiba-tiba belasan pasukan Polisi datang menghampiri dirinya.
“Emm? Ada masalah apa yah pak?.” Budi bertanya dengan heran. Namun semua Polisi hanya menatap Budi dengan wajah gelap dan tatapan tajam.
__ADS_1