
Beberapa orang berjubah memasuki toko. Budi melirik sesaat pelanggan barunya, namun dia segera kehilangan minat.
“Maaf tuan-tuan toko akan segera saya tutup.” Budi hendak mengusir empat pengunjung yang terlihat mencurigakan.
Bukan karena dia takut, namun dikarenakan Budi tidak ingin membuat Raya dan yang lain menunggu.
“Kenapa begitu terburu-buru, bukankah hari masih begitu sore untuk menutup toko?.” salah satu dari mereka membalas, sementara yang lainnya mulai melihat-lihat isi toko.
“Masih sore? aku pikir kacamata yang anda gunakan sudah berdebu.”
Mendengar perkataan Budi seketika seluruh perhatian keempat orang berjubah tertuju pada si pemilik toko.
Jubah yang mereka kenakan dibuat dengan teknologi khusus yang memungkinkan menyamarkan penampilan penggunanya.
Namun melihat Budi bisa mengetahui wajah asli pria didepannya membuat setiap orang mulai waspada terhadapnya.
“Anda memiliki mata yang bagus.” pria yang terus mengajak Budi berbicara mulai mendekat, namun perhatian Budi justru tertuju pada salah satu dari mereka yang melihat rak Potion.
“Tuan tolong jangan masukan botol-botol itu kedalam kotak item sebelum anda membayarnya.”
Budi kembali membuat mereka terkejut. Keahlian kotak item menang sudah dikenal luas, namun jarang ada yang memilikinya. Seharusnya tidak banyak orang mengetahui keahlian itu seperti apa, terutama di kota yang Dungeon nya belum bisa dimasuki.
“Apa maksudmu, kau mengaggap aku pencuri?.” pria yang sejak tadi berada di depan rak Potion menjadi marah karena perkataan Budi.
“Aku tidak mengatakan anda seorang pencuri.”
“Tapi kau mengatakan dengan jelas jika tidak boleh memasukkan barang yang belum dibayar ke dalam kotak item, bukan!.”
Wajah pria itu begitu merah karena marah. Dia penuh intimidasi.
“Ya tepat sekali.” tetapi seakan tidak terpengaruh, Budi masih terlihat begitu tentang.
“Bukankah itu artinya kau mengatakan aku hendak mencuri!.”
“Aku tidak ingat bagian mana yang menyebutkan anda seorang pencuri.” Budi tersenyum seakan tidak mengkhawatirkan apapun, “Apa anda seorang pencuri tuan?.”
__ADS_1
“Kurang ajar?.” karena begitu emosi pria itu segera menarik pedang di pinggangnya, namun saat dua hendak mengayunkan pedang miliknya untuk memenggal kepala Budi, tiba-tiba suara seorang wanita terdengar.
“Apa ini asli?.” perkataan wanita itu begitu mengintimidasi hingga pria yang ingin memenggal kepala Budi tiba-tiba berhenti.
Budi melirik ke sumber suara dan melihat jika wanita itu sedang memegang kompor sihir. “Aku bisa menunjukkan cara menggunakannya jika anda ingin membelinya.”
“Tetapi ini sangat mahal. 20 batu monster putih, orang beruntung mana yang bisa mengumpulkan batu monster sebanyak itu?.”
Wanita itu mengatakan komplain yang sudah aku dengar dua puluh satu kali hari ini dari para pelanggan sebelum dia.
Adalah hal yang wajar mereka mengganggap harga dua puluh batu terlalu mahal, karena batu monster masih sangat langka untuk didapatkan.
Monster lemah seperti Tikus Besar dan jenis segala Kelinci kecil sangat jarang menyimpan Batu Monster di dalam tubuh mereka.
“Hey, kau akan memberikan rongsokan itu secara gratis bukan?.” pria yang hendak mencuri kembali menggunakan intimidasi.
“Enyahlah jika tidak punya apa pun untuk ditukar.” namun sebanyak apapun intimidasi yang dua terima, Budi masih begitu tenang.
Pria itu kembali marah dan mengatakan berbagai macam hal yang sama sekali tidak didengar oleh budi.
Tetapi tiba-tiba Budi segera mengejar mereka karena salah seorang dari keempatnya meninggalkan sesuatu.
“Lain kali jangan begitu ceroboh tuan.” dengan wajah penuh senyuman Budi menyerahkan koper yang tertinggi. “Benda yang sangat berbahaya itu seharusnya disimpan dengan lebih hati-hati.” setelah mengatakan itu Budi kembali ke tokonya lalu segera menutupnya.
Keempat orang asing berjubah hanya terdiam mematung menatap toko yang sudah tutup. Hingga beberapa saat kemudian wanita yang sepertinya pemimpin dari keempatnya mulai berbicara.
“Apa kau sudah menonaktifkan benda itu?.” suara wanita bertanya.
“Yeah, ini sudah aman.” balas orang terakhir yang tidak berbicara sedikitpun saat berada di toko.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?. Kita tidak bisa kembali dengan kegagalan bukan?.” kali ini yang bertanya adalah pria pemarah yang sebelumnya ingin memenggal kepala Budi.
Wanita itu hanya mendengus kesal, lalu segera berbalik. “Kita cari target yang lain.” ucapnya. Kemudian keempatnya bergegas menuju Area yang biasanya dipenuhi oleh banyak orang saat siang hari.
Mereka berasal dari sebuah organisasi yang tengah gencar menunjukkan eksistensinya dengan menebar kekacauan di berbagai kota yang memili Dungeon dan sebuah pengungsian.
__ADS_1
Tujuan mereka sederhana yakni ingin menguasai kota dan memanfaatkan para pengungsi untuk dijadikan budak. Sebelumnya mereka sudah menjalani kerjasama dengan Genk Belati Merah, organisasi telah menyediakan banyak sumberdaya agar Handry berhasil mengambil alih kota.
Namun sayangnya usaha itu berhasil digagalkan. Akibatnya mereka pun terpaksa harus turun tangan sendiri untuk menguasai kota Sawi.
“Tetapi siapa sangka jika kota ini lebih menarik dari yang aku bayangkan.” wanita berjubah menatap sebuah ladang bunga yang tiba-tiba muncul setelah bom pada koper yang mereka bawa diledakkan.
Bukannya api dan guncangan yang ditimbulkan dari ledakan, tapi justru ribuan kelopak bunga menyebar bagaikan konferti yang meledak, seluruh alun-alun kota kini tertutup oleh bunga seakan seseorang baru saja menikah di tempat itu.
“Apa kau mendengar sesuatu?.” tanya Raya yang melihat Budi mengalihkan perhatiannya ke alun-alun kota.
Mereka sangat ini tengah maka bersama di dalam Mansion.
“Yeah, sepertinya beberapa orang sedang melakukan pesta di alun-alun.”
“Disaat seperti ini?.”
Mereka kembali melanjutkan makan malam dengan tenang. Sebagian besar percakapan makan malam itu seputar perkembangan mereka ketika melakukan pertarungan menggunakan beragam senjata.
“Aku pikir aku ini mencoba menggunakan senjata ini.” Raya menunjukkan salah satu senjata prototipe yang diberikan Budi sebelumnya.
“Estoc?. Entah kenapa kau menjadi suka menusuk.”
“Hey, apa yang baru saja kau katakan pada seorang perempuan!.” Raya terlihat marah setelah mendengar perkataan Budi.
“Ya tapi bukankah itu kenyataanya?. Pertama tombak lalu sekarang Estoc, bukankah keduanya adalah senjata untuk menusuk?.”
Walaupun sudah berbicara dengan jujur namun Budi tidak bisa lepas dari amukan gadis berambut merah itu. Hingga akhirnya pemuda itu meminta maaf untuk sebuah kebenaran yang dua ucapkan.
Selanjutnya adalah Yuki, gadis itu mengatakan jika dia merasa cocok dengan senjata mirip katana yang Budi berikan, dia ingin segera mendapatkan katana asli, namun untuk sekarang mustahil karena Budi tidak bisa membuat senjata khas negeri sakura itu.
“Lagipula katana adalah pedang yang sangat sulit untuk dirawat. Pedang sangat mudah patah, tidak cocok untuk digunakan dalam perburuan yang memakan waktu lama.”
Walaupun Budi sudah mengatakan alasan yang masuk akal, tetapi sama seperti Raya yang tidak mau mengalah. Yuli pun bersikeras untuk menggunakan pedang Katana sebagai senjata utamanya.
“Hadeh, dasar Wibu.” tidak ada yang bisa Budi lakukan selain menuruti permintaan Yuki.
__ADS_1