Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
35. Pengungsian


__ADS_3

Kota Sawi


Sebuah rumah mewah di tengah kota yang kini menjadi tempat pengungsian sementara. halaman yang begitu luas kini dipenuhi dengan tenda-tenda pengungsian. Banyaknya pengungsian membuat halaman rumah itu penuh sampai membuat tenda mengelilingi rumah karena tidak ada lagi tempat di halaman.


Tempat itu begitu ramai, dan sangat keras untuk seseorang bisa hidup di dalamnya. Banyak tindakan kriminalitas seperti kekerasan dan penetasan.


Beberapa penghuni tempat itu bahkan bisa dikatakan lebih buruk dari monster yang ada di luar.


Raya datang ke pengungsian ini bersama ibu dan adiknya, desa tempat tinggalnya diserang oleh monster saat Outbreak terjadi. Ayah Raya yang mencoba melindungi saat mereka ingin kabur saat ini tidak jelas nasibnya.


Walaupun Raya melihat dengan jelas jika ayahnya terluka akibat serangan monster, tetapi dia tidak akan percaya jika belum melihatnya sendiri.


Di dalam hati Raya, dia selalu berdoa agar ayahnya berhasil selamat.


“Raya awas!.” terdengar suara teriakan seorang gadis, itu membuat Raya tersadar dari lamunannya.


Kemudian seekor kelinci dengan tanduk di kepala berlari kearahnya membuat Raya panik.


Tatapan kelinci itu penuh aura membunuh membuat raya ketakutan.


Raya tidak mampu mengayunkan pipa besi yang dia gunakan sebagai senjata .


“Raya tidak!.” suara gadis itu kembali terdengar saat melihat Raya akan diserang oleh monster kelinci.


Raya merasa dirinya akan terbunuh saat itu juga.


Tetapi disaat yang bersamaan ingatan tentang ayahnya membuat Raya merasa marah. Dia melihat banyak penderitaan di depan matanya akibat para monster.


Banyak manusia terbunuh, banyak orang kelaparan, banyak orang kehilangan keluarga dan masih banyak penderitaan lainnya yang mungkin tidak akan bisa dipulihkan.


“Aaaarr!.”


Raya berteriak keras dipenuhi oleh kemarahan, tubuhnya bergerak dengan sekuat tenaga dia mengayunkan pipa besi dengan mata tertutup.


Peng! Raya merasakan pukulannya mengenai sesuatu, dia berharap jika serangannya tidak melukai temannya.


Tetapi ketika dia membuka matanya yang dia lihat adalah pipa besi miliknya telah ternoda oleh darah, sementara kelinci yang hendak menyerangnya kini terkapar di tanah dengan kepala remuk.

__ADS_1


“Kyaaa... Raya, kau berhasil.”


Yuki teman Raya segera memeluk gadis itu karena begitu senang. Sama seperti Raya, Yuki juga tinggal di pengungsian.


Saat ini kedua tengah menjalani latihan berburu monster yang diwajibkan pada semua orang yang bisa bertarung.


Berbagai masalah terjadi di dalam pengungsian. Salah satunya adalah kurangnya persediaan makanan karena jumlah pengungsi yang sangat banyak.


Tidak memiliki pilihan lain, pemimpin tempat itu pun meminta setiap orang untuk berburu monster agar bisa memenuhi kebutuhan pangan semua orang.


“Apa kau berpikir jika daging monster bisa dimakan?.” tanah Yuki yang terlihat kesulitan saat mencoba mengambil mayat kelinci yang temannya bunuh.


“Entahlah, kita tidak diberitahu apa pun mengenai ini.” balas Raya.


Setelah berhasil berburu satu monster, keduanya pun hendak kembali ke pengungsian.


Di sepanjang perjalanan mereka melihat beberapa orang yang tengah berburu seperti mereka. Raya melihat ada satu orang terluka karena serangan monster, melihat itu Raya kembali teringat akan ayahnya yang mencoba melindunginya.


Keduanya pun akhirnya sampai di tempat pengungsian, di depan gerbang terdapat antrian panjang para pengungsi yang ingin masuk. Melihat panjangnya antrian membuat kedua gadis kelelahan.


Kemudian setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya giliran Raya dan Yuki untuk diperiksa, semua orang harus melalui pemeriksaan sebelum bisa masuk kedalam pengungsian.


Raya pun menyerahkan kelinci yang dia buru pada petugas. Melihat itu semua petugas menjadi terkesima, mereka menatap kedua gadis dengan penuh minat.


“Woah, kelinci bertanduk. Ini sungguh luar biasa. Apa kau tahu betapa merepotkan monster kecil ini untuk ditangani?.”


Suara petugas itu membuat kegaduhan dari para pengungsi. Menyadari jika ditanya menjadi pusat perhatian, Raya pun meminta pada petugas untuk secepatnya memberi izin masuk.


“Oh maaf, aku telah menahan mu. Ini dia kupon untuk kalian.” petugas itu pun memberikan beberapa kupon yang bisa digunakan untuk ditukarkan dengan makan di kantin.


Yuki sangat senang dengan kupon yang mereka dapatkan. Beberapa hari terakhir menjadi begitu sulit, mereka kesulitan mendapatkan makanan.


Itu terjadi setelah pengumuman tentang aturan baru telah tetapkan. Peraturan yang menyatakan jika tidak ada lagi jatah makan untuk mereka yang tidak bekerja.


‘Sadarkan diri kalian, jangan cuma menangisi apa yang telah terjadi. Bergeraklah, kalian yang hi bisa berpangku tangan tidak layak mendapatkan kemewahan di saat seperti ini’


Ucap pemimpin pengungsian dalam pidatonya. Aturan itu tentu mendapatkan banyak pertentangan, tetapi para pengungsi tidak mampu melakukan apapun saat jatah makanan benar-benar di perketat, setiap orang kini hanya bisa mendapatkan satu makan perhari.

__ADS_1


“Nona muda kasihanilah saya. Saya belum mendapatkan makanan sejak Minggu lalu.”


“Mbak tolong, Mbak. Anak saya pingsan belum makan.”


Beberapa pengemis segera menghampiri Raya dan Yuki saat mereka memasuki wilayah pengungsian. Keduanya merasa tidak nyaman saat para pengemis itu mengelilingi mereka dengan wajah memelas.


“Hey, enyah kalian para lintah tidak berguna!.”


Suara seorang pemuda berteriak keras membuat para pengemis ketakutan. Orang yang barusan berteriak adalah Pram, salah satu anggota Genk Belati Merah yang dikenal suka membuat kerusuhan di dalam pengungsian.


Pram menatap kedua gadis dengan wajah mesum. Dia terus mengajak Raya dan Yuki untuk bergabung kedalam Genk, namun karena Genk itu memiliki reputasi yang buruk membuat keduanya terus menolak ajakan Pram.


“Maaf, aku harus segera melihat kondisi ibuku.” balas Raya saat menolak ajakan Pram untuk ke sekian kalinya.


Keduanya pun meninggalkan Pram sendirinya, membuat api kemarahan di mata pria itu berkobar.


“Tunggu saja kalian berdua, para gadis tidak berguna seperti kalian tidak cocok menjadi pemburu monster.” senyum kejam tergores di bibir Pram, “Kalian lebih cocok untuk menjadi penghangat ranjang, Ahahaha...” dia terus tertawa di dalam fantasinya sendiri.


“Kakak akhirnya kau pulang!.”


Di dalam sebuah tenda, seorang bocah lelaki menyambut kepulangan Raya. Dia adalah Reyhan, adik raya yang baru berusia 15 tahun.


“Aku kembali Ray, ini tukar untuk mendapatkan makanan.” Raya menyerahkan kupon yang baru dia dapatkan pada Reyhan. Bocah lelaki itu pun segera pergi ke kantin untuk mendapatkan makanan.


Setelah kepergian Reyhan, Raya pun melihat keadaan ibunya yang kini dalam keadaan sakit parah. Salah satu kakinya membusuk karena tergigit oleh monster tikus saat melakukan perburuan.


Awalnya keadaan baik-baik saja tetapi semakin lama luka itu semakin parah hingga ibu Raya kini tidak bisa menggunakan kakinya. Setiap hari rasa sakit itu datang membuat wanita itu sangat menderita.


“Apa yang harus aku lakukan.”


Raya begitu sedih dengan keadaan ibunya, dia pun menghawatirkan kehidupannya yang begitu tidak menentu. Seakan kemalangan terus menghantuinya.


Raya mencoba mencari cara untuk mengobati ibunya dari internet. Dua mendapati banyak orang yang juga mengalami luka sama seperti ibunya karena gigitan tikus.


Namun tidak ada satupun orang yang berhasil sembuh dari penyakit itu, satu-satunya cara yang mereka miliki saat ini hanya dengan melakukan amputasi.


Melihat semua butuh membuat Raya semakin Sedih, dia tidak mungkin bisa memotong kaki ibunya sendiri.

__ADS_1


Di tengah kesedihan itu tiba-tiba Raya mendapatkan sebuah kiriman email dari seseorang yang sudah lama dia tidak temui.


“Budi?.”


__ADS_2