
Sebuah taman yang dulu merupakan area terbuka hijau di tengah kota Sawi, kini berubah menjadi sebuah perkampungan monster. Semua terjadi karena munculnya Goa misterius yang merupakan sarang para monster.
Mereka menyebutnya sebagai Penjara Bawah Tanah atau Dungeon.
Dari atas dahan pohon beberapa Hunter tengah memantau keadaan perkampungan monster. Mereka hendak mencatat jumlah monster untuk menentukan seberapa besar kekuatan mereka.
Biasanya kegiatan ini akan berlangsung selama berhari-hari, karena sangat sulit untuk mengetahui jumlah pasti monster yang hidup dalam perkampungan. Tetapi masalah utamanya adalah bos monster yang menguasai area Dungeon yang sulit untuk di identifikasi.
“Baiklah itu sudah semua.” ucap Budi yang juga ikut dalam pasukan pengintai. “Sekarang mari kembali.” Budi telah selesai dengan pengintaian.
Dia hendak kembali bersama pasukan itu, namun salah satu dari pasukan pengintai heran dengan Budi yang meminta untuk kembali begitu cepat.
“Apa kau takut setelah melihat monster sebanyak itu?.” ucap seorang lelaki dengan penampilan serba hitam dengan wajah tertutupi oleh topeng rubah, dia seperti seorang ninja.
“Pengintaian selesai. Kalian juga harus ikut bersamaku kembali ke kamp.” Budi tidak mengindahkan provokasi si Ninja dan tetap meminta semua anggota Tim pengintai untuk segera kembali.
“Cih, kau pikir siapa dirimu. Penakut, melihat monster sebanyak itu saja sudah mau kabur, pantas saja selama ini kau hanya berada di barisan belakang menunggu di grobak.”
Ninja terus memberikan provokasi, mendengar itu anggota pengintai yang lainnya pun ikut berpikir sama. Mereka baru beberapa menit mengintai tetapi Budi tiba-tiba meminta mereka untuk segera kembali.
“Semua akan lebih mudah jika aku pergi seorang diri, tapi Raya justru memintaku untuk membawa beban seperti kalian.” ucap Budi ketus.
Tentu saja perkataannya membuat semua orang marah. Namun sebelum mereka mengatakan apapun, Budi segera menggunakan keahlian (Intimidasi).
“Diam!.”
Satu kata membuat lima relawan yang bersamanya terdiam. Lutut mereka bergetar dengan keringat mengalir deras di sekujur tubuh. Mereka ditelan oleh ketakutan, seakan didepan mereka adalah sosok dari mimpi berburuk yang pernah mereka lihat.
“Aku pikir kalian sudah mendengar dengan jelas dari Raya jika di sini akulah yang memimpin. Jadi jangan membuat ini menjadi lebih rumit.”
Tidak ada sepatah katapun dari kelimanya. Mereka dengan patuh mengikuti Budi kembali ke perkemahan Hunter. Sepanjang perjalanan mereka hanya menatap punggung Budi dengan beragam pertanyaan.
‘Bagaimana monster seperti dia ada ditengah manusia tanpa disadari?.’ pikir setiap pasukan pengintai.
__ADS_1
***
Ditengah perkemahan dan disaksikan semua Hunter, Budi menunjukkan apa yang dia temukan. Walaupun hanya beberapa menit nyatanya dia sudah mendapatkan sangat banyak informasi.
Di sebuah kanvas besar dia menggambarkan denah pemukiman Monster dengan begitu detail, membuat beberapa orang kagum dengan kecepatannya menggambar.
Semua Tim pengintai dibuat terkejut dengan betapa detailnya Budi menggambarkan denah pemukiman. Mereka yang mengamati beberapa menit tentu tidak akan mampu mengingat semua bagian pemukiman dengan begitu terperinci.
“Penghuni terbanyak adalah Celengman, yaitu sejenis monster humanoid berkepala Babl hutan.”
Budi menempelkan gambar Celengman di pojok kanvas lengkap dengan kemampuan bertarung dan senjata yang digunakan oleh monster itu.
“Dengan total monster lainnya, jumlah diperkirakan mencapai sekitar dua ribu pasukan monster.”
Mendengar jumlah lawan sontak membuat kegaduhan dari pihak Hunter, kegaduhan segera mereda setelah Raya menggunakan kekuatan yang dapat mengendalikan bawahannya.
Budi menyelesaikan tugasnya setelah memberitahu di bagian mana saja monster dalam jumlah besar berkumpul. Dan yang terpenting adalah letak bos area.
“Bagaimana kau bisa begitu yakin?.” tanya Liliana.
“Aku melihat banyak tulang yang berserakan di sana.” ujar Budy. Mendengar itu Liliana langsung paham, namun tidak demikian dengan sebagian besar Hunter. Sehingga Budi perlu menjelaskan dengan lebih detail.
“Ada sebuah teori yang mengatakan jika monster bos bukanlah monster yang berasal dari Penjara Bawah Tanah. Itu dikarenakan monster Bos akan menyerang semua monster yang dia temui tanpa pandang bulu, berbeda dengan monster dari Penjara Bawah Tanah yang tidak akan menyerang sesama moster jika tidak kelaparan.”
Budi menjelaskan dengan cara yang sangat mudah dipahami, sehingga setiap Hunter yang belum pernah mendengar tentang teori itu pun paham dengan apa yang coba Budi sampaikan.
Pada intinya karena monster bos bukan bagian dari Penjara Bawah Tanah membuat mereka saling bermusuhan. Pertarungan antara kedua kubu monster pasti sudah sering terjadi sehingga banyak mayat monster yang berada di pintu masuk Dungeon yang telah menjadi tempat bersemayamnya Bos monster.
“Tapi bukankah itu akan menjadi keuntungan untuk kita?, Bos monster pasti sudah terluka parah karena pertarungannya dengan Monster dari Penjara bawah tanah bukan?.” Dimas yang hanya mendengus separuh dari penjelasan Budi ikut berkomentar.
Beberapa Hunter pun berpikiran sama dengan lelaki itu.
“Tidak, itu bahkan jauh lebih buruk.” ucap Raya yang seketika membuat perhatikan setiap orang tertuju padanya, sedangkan Raya sendiri menatap Roxy dan Akita yang sedang bermain kejar-kejaran.
__ADS_1
Budi ingin menjelaskan tentang apa yang bisa terjadi, tetapi Raya menghentikannya. Gadis itu pun segera meminta pada setiap orang untuk bersiap melakukan serangan pengepungan.
“Aku mungkin harus meminta bantuan kalian lagi.” kata Raya pada dua anjing yang selama beberapa bulan diasuh oleh Budi.
“Dan mungkin kau juga.”
“Jangan khawatir, kalian akan menang dengan sempurna.”
Raya hanya tertawa kecil mendengar perkataan Budi. “Jika perkataan itu datang dari orang lain, aku pasti hanya akan menganggapnya sebagai omong kosong.” Raya menyunggingkan senyum yang begitu cerah, setelahnya gadis itu pun kembali ke posisinya untuk memimpin pasukan Hunter.
***
Seekor anjing berbulu coklat kekuningan berjalan dengan tenang menuju pemukiman Monster yang dikelilingi pagar kayu setinggi dua meter. Kedatangan anjing itu tentu menarik perhatian Celengman dan goblin yang berjaga di menara pengawas.
“Kau yakin Akita akan baik-baik saja?.” Yuki begitu khawatir dengan anjingnya yang berjalan sendirian menuju sarang Monster.
“Jangan khawatir, dia kuat.” Budi memberikan jawaban dengan tegas.
Beberapa anak panah ditembakkan oleh Goblin pemanah, tetapi Akita dengan mudah menghindar semuanya.
Mereka yang melihat anjing itu heran dengan apa yang akan Akita lakukan jika sudah sampai di depan gerbang. Apa anjing itu akan menggaruk pintu gerbang yang tertutup dengan cakarnya?.
Rasanya itu tidak mungkin. Tetapi yang terjadi berikutnya justru lebih tidak masuk akal dari semua yang mereka pikirkan.
Akita mulai melolong ketika semakin dekat dengan gerbang. Lalu dengan cepat tubuh anjing itu mulai membesar dan terus membesar hingga ukurannya mencapai dua meter.
Mata semua orang terbelalak melihat perubahan itu, mereka tidak pernah berpikir jika anjing lucu peliharaan Yuki kini menjadi hewan buas raksasa yang terlihat begitu mengerikan.
Dengan ukuran tubuh sebesar itu Akita menerobos gerbang pemukiman Monster.
“Sekarang serang!.”
Mengikuti aba-aba dari Raya, ratusan Hunter secara serempak menyerang.
__ADS_1