
Sekitar satu jam aku berada di puncak menara demi mendengar siaran radio. Karena penasaran beberapa hewan pun mulai naik mendekatiku.
Radio itu terus menyiarkan rekaman yang berulang, memberitahu lokasi pengungsian yang aman untuk para survivor yang membutuhkan perlindungan.
“Aku mendapatkan banyak lokasi pengungsian. Tapi sayangnya mereka sangat jauh dari sini.”
Pengungsian terdengar berada di kota lain, mungkin sekitar jarak 25 kilometer. Aku penasaran seberapa lama aku akan sampai ke kota itu jika menunggangi Pushrank.
Beberapa artikel yang aku baca mengatakan kuda dapat berlari dengan kecepatan 30-45 kilometer perjam. Apa itu artinya aku bisa mencapai kota tetangga dalam waktu kurang dari satu jam?.
“Aku sangat buruk dalam matematika.”
Setelah mencatat semua lokasi pengungsian yang ada di provinsi ini, aku pun kembali turun dari menara bersama para bintang.
“Baiklah kita akan melakukan kegiatan seperti biasa.” aku pun pergi bersama para hewan untuk mencari barang yang bisa digunakan di dalam rumah warga.
Itu jelas sebuah perampokan, tapi siapa yang peduli. Level pekerjaan pencuri naik tanpa perlu berburu monster, ini semua karena aku membawa terlalu banyak jarahan.
Gerobak yang dibawa oleh Pushrank dipenuhi oleh perabotan kayu seperti lemari, meja bahkan kursi. Aku membutuhkan semua itu bukan untuk mengisi rumahku sendiri, tetapi aku akan membuat rumah untuk para hewan.
Sesampainya di rumah aku segera bekerja, sementara para bintang pergi berkeliling untuk berburu. Aku melarang mereka untuk pergi ke dalam hutan karena terdapat monster yang terlalu berbahaya untuk mereka tangani.
“Baiklah, yang pertama adalah kandang ayam.”
Beberapa lemari aku tumpuk lalu direkatkan dengan paku. Kemudian setelah memastikan semua lemari menyatu, aku mulai membuat lubang sebagai pintu.
“Dan wala.... kandang ayam pun selesai.”
Dengan bangga aku menatap hasil karyaku. Sangat sederhana tetapi aku cukup bangga karena ide jenius yang aku miliki.
Sebagian tambahan aku pun membuat atap dari papan kayu agar jika hujan, air tidak tertampung di atas kandang
“Mungkin aku juga perlu menambahkan tangga?.” pada akhirnya aku terus memperbarui penampilan kandang ayam hingga tidak terlihat seperti sebuah tumpukan lemari.
“Bukankah ini terlalu mengesankan?.”
Di depanku kini tumpukan lemari dirubah menjadi kandang ayam yang mampu menampung 15 hingga 20 ayam dewa. Walaupun saat ini aku hanya memiliki empat ekor ayam, tapi di masa depan pasti akan bertambah lebih banyak.
Ding!
__ADS_1
[Job Wood Craft terbuka]
“Akhirnya job lainnya terbuka.”
[Wood Craft] seperti namanya pekerjaan itu berkaitan dengan kerajinan kayu. Karena rank job ini( Common) membuatnya hanya memberikan dua bintang pada statistik Kemahiran.
Aku melakukan penelitian kecil sebelumnya tentang bonus statistik yang aku dapatkan dari job. Hasil dari penelitian itu menyimpulkan jika Job dengan rank biasa (Common) akan menambah dua bintang, sementara untuk Job langka (Rare) akan menambah tiga bintang.
Tetapi kesimpulan itu tidak sepenuhnya benar karena ada job yang berbeda dari yang lainya. Yaitu job orang mesum (Pervert) yang entah bagaimana hanya memberikan satu bintang, berbeda dengan job tingkat Common lainnya yang memberikan dua bintang Statistik.
“Job tidak berguna memang.”
Aku tidak dapat memikirkan cara apa pun untuk membuat job orang mesum bisa berguna. Tetapi mungkin suatu saat nanti jika bertemu dengan orang lain, aku bisa menggunakan efek kharisma untuk membuat penampilanku menjadi lebih baik agar lebih mudah bersosialisasi.
***
Setelah membuat kandang ayam, aku segera mengerjakan pekerjaan selanjutnya.
“Sudah saatnya untuk memasang listrik.”.
Memasuki gudang aku mengambil papan hitam yang aku bawa kemari. Tohir yang melihatku membawa benda aneh merasa tertarik dengan apa yang akan aku lakukan.
Tidak perlu bertanya apakah aku bisa memasang alat itu atau tidak, karena teknik kelistrikan adalah satu-satunya keahlian yang bisa aku banggakan.
Di pabrik tempat aku bekerja, jika ada masalah pada sistem maupun mesin, pasti aku yang akan pertama dimintai tolong untuk menyelesaikan masalah itu.
“Panel surya di pabrik sering rusak setelah badai, jadi aku sudah biasa menangani ini.”
Tohir terus bergumam saat melihatku bekerja, dua mengatakan sesuatu tentang teknologi sihir dan semacamnya.
‘Jika memang ada teknologi seperti itu, aku ingin mempelajarinya.’
Kemudian kurang dari tiga puluh menit aku berhasil memasang alat penghasil listrik bertenaga sinar matahari itu di atap rumahku.
Namun ketika aku ingin turut ke bawah, tiba-tiba tatapanku melihat Jek yang sedang berlatih menanam dengan menjadikan sebuah pohon sebagai target.
“Mungkin aku juga perlu membuat lahan yang ditujukan untuk berlatih.”
Dari atas atap aku memanggil Jek untuk mengajarinya bagaimana menggunakan barang-barang elektronik.
__ADS_1
“Panel Surya ini sangat mengesankan, hanya dengan waktu lima menit saja sudah bisa menghasilkan energi yang cukup untuk menghidupkan kompor selama setengah jam.”
Kompor listrik aku nyalakan untuk memasak. Jek menatapku dengan waspada, seakan dia siap menarik aku keluar dari dapur jika mulai melakukan hal aneh.
“Oh ayolah Jek, walaupun aku memang tidak bisa masak. Tetapi tidak mungkin bukan jika aku bahkan tidak bisa memasak air.”
Jek menjadi agak tenang setelah aku mengatakan itu, tetapi dia masih tetap waspada. Dia terlihat seperti seorang ibu yang takut anaknya terluka saat bermain di dapur.
Karena komputer listrik memerlukan waktu lebih lama untuk memanaskan panci, air pun akhirnya mendidih sepuluh menit setelah kompor mulai dinyalakan.
Jek tidak merasa terkesan sedikit pada teknologi milik umat manusia. Sangat berbeda dengan Tohir yang menjadi histeris dan sangat tertarik untuk mempelajari mekanisme kelistrikan.
Pasokan energi listrik sudah teratasi, tetapi aku harus berhemat karena tidak selalu langit akan cerah. Namun itu bukan masalah, lagipula rumah ku tidak banyak memiliki banyak perangkat elektronik.
Lampu penerangan, kompor, lemari pendingin, komputer, handphone dan saluran air.
Menghitung energi yang bisa dihabiskan dalam sehari dan jumlah energi listrik yang bisa dikumpulkan. Aku merasa listrik dari panel surya tidak akan cukup untuk menangani semuanya.
“Mungkin untuk sekarang aku harus menunda menghidupkan lampu. Lagipula menggunakan penerangan di malam hari bisa menarik perhatian beruang laut.”
Setelah lampu penerangan dicoret dari daftar alokasi energi listrik, sekarang kami memiliki energi yang cukup untuk digunakan dalam sehari-hari.
Komputer sudah bisa aku gunakan kembali setelah adanya persediaan energi listrik. Aku segera membukanya dengan harapan mendapatkan sebuah informasi. Tetapi tentu saja itu mustahil karena tidak ada sambungan internet yang tersedia.
Begitu juga dengan handphone, tidak ada yang bisa aku gunakan untuk mencari informasi atau sekedar hiburan....
“Oh tunggu sebentar, bukankah televisi bisa digunakan tanpa sambungan internet seperti radio?.”
Televisi merupakan barang antik yang sama seperti radio, tetapi jelas berbeda. Sebuah peralatan elektronik penghasil gambar bergerak, bisa berfungsi tanpa memerlukan sambungan internet.
Sadar jika di rumah aku tidak memiliki televisi, aku pun 'meminjam' dari rumah tetangga. Tetapi walaupun aku sudah memiliki televisi di rumah, aku masih belum bisa menggunakannya.
Yang muncul pada layar televisi itu hanya gambar statis dan suara mengganggu, sama seperti saat aku menggunakan radio.
“Mungkin aku membutuhkan antena yang lebih tinggi.”
Saat ingin mencari sinyal, hanya satu tempat yang bisa aku pikirkan. “Menara Sutet. Tetapi...” ada satu masalah, aku tidak mungkin membawa televisi ke area Minimarket.
“Jika aku tidak bisa mengantar televisi ke menara, maka aku akan mengantar menara pada televisi.”
__ADS_1
Sebuah ide gila tiba-tiba muncul di Kepalaku.