Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
40. Dikejar Monster Kuat


__ADS_3

Di dalam hutan sekelompok manusia berjumlah lima orang tengah berjuang melawan tujuh monster.


Salah satu monster adalah Belalang Sembah dengan empat lengan. Belalang Sembah mengayunkan lengannya kearah seorang gadis berambut hitam Panjang.


Gadis itu segera menahannya menggunakan prisai Cangkang Kelabang Besi. Serangan berhasil di tahan, namun serangan lainnya datang hampir melukai gadis itu.


“Yuki mundur!.” suara terdengar dari belakang. Mendengar itu gadis bernama Yuki pun segera melompat mundur sebelum serangan Belalang sembah mengenai tubuhnya.


Lalu sebuah tombak meluncur cepat menembus dada Belalang Sembah. Teriakan kesakitan terdengar.


Tidak membuang kesempatan, Yuki segera menabrakkan perisainya pada tombak yang melukai dada Belalang Sembah, membuat tombak itu menusuk lebih dalam lalu menembus dada monster.


Belalang Sembah akhirnya tewas oleh kerja sama Tim itu.


Yuki mengambil tombak di dada Belalang Sembah lalu melemparnya kembali pada pemiliknya, “Raya!.” ucap Yuki.


Raya menerima kembali tombak miliknya, dia segera membantu rekannya yang lain untuk melawan para monster. Selain Belalang sembah tidak ada monster yang menyulitkan untuk kelompok itu.


Hanya Kelabang Cangkang Besi yang memiliki ketahanan kuat namun mudah untuk di serangan. Sementara Kelinci Belati begitu mudah ditangani setelah mengerti bagaimana monster itu melakukan manuver gerakkan.


Akhirnya setelah sepuluh menit kelompok itu berhasil memenangkan pertempuran.


“Yuki ini minum.” Raya memberikan Yuki air minum.


“Terimakasih Raya.” Yuki tersenyum cerah saat menerima air minum dari temannya.


Kemudian dua orang lainnya yang berada dalam kelompok itu pun mendekati keduanya.


“Luar biasa, kalian berdua benar-benar bisa mengalahkan seekor Belalang Sembah hanya dengan dua orang dan waktunya pun kurang dari dua menit. Bagaimana kalian melakukannya?.”


Hendry, pria berusia tiga puluhan itu mencerca kedua gadis dengan berbagai pertanyaan. Membuat Raya dan Yuki yang sedang beristirahat merasa tidak nyaman.


“Hentikan itu tuan Hendry, kau mengganggu waktu mereka beristirahat.” ucap seorang perwira polisi dengan pin nama Ridwan di dadanya.


“Apa salahnya, aku hanya bertanya. Apa sesulit itu berbicara sambil beristirahat?.” Hendry merasa tidak bersalah sedikitpun setelah mengganggu waktu istirahat kedua gadis yang telah mengambil bagian paling besar dalam pertempuran.


“Anda bisa mengetahui cara mudah melawan monster Belalang Sembah jika menonton videonya Goblin Factory.” ucap Raya.


Namun balasan itu justru membuat Hendry meradang, “Heeh... kau mengatakan cara bertarung yang kau gunakan adalah sama seperti yang dilakukan oleh goblin itu? Itu bohong bukan?.” pria itu menolak untuk percaya.


Goblin Factory adalah nama dari akun media sosial yang sudah memberikan manfaat bagi dunia, karena kontennya berisi berbagai tips untuk bertahan hidup dari serangan monster.


Tetapi beberapa orang tidak suka dengan akun itu karena berbagai alasan. Salah satunya karena ada monster goblin yang seringkali terlintas bersama di pembuat konten.


Sementara alasan lainnya si pembuat konten sendiri tidak pernah memperlihatkan wajahnya sehingga beberapa orang berpikir itu terlalu mencurigakan.

__ADS_1


Beragam spekulasi tentang pemilik akun pun mulai bermunculan, mulai dari pemilik akun adalah seorang monster bahkan iblis, hingga yang paling konyol adalah tuduhan jika pemilik akun adalah seorang Dewa.


Menghela nafas panjang, raya tidak mempedulikan perkataan Hendry. “Itu pilihanmu sendiri karena tidak percaya. Jadi nikmatilah Tikus dan Kelinci yang bisa kau dapatkan.” ucap Raya.


Mendengar itu Hendry tentu marah karena gadis itu telah mengolok-olok dirinya dengan mengatakan Hendry hanya bisa berburu Kelinci dan Tikus. Tetapi dia bukanlah orang yang gegabah, Hendry memendam kemarahannya untuk saat ini.


“Mbak yu, aku Sudah selesai!.” suara anak kecil terdengar dari belakang. Dia adalah anggota terakhir kelompok itu yang tidak lain adalah adik Raya.


Rohid, bocah lelaki berusia lima belas tahun itu datang dengan tubuh dilumuri oleh darah. Ditangannya dia membawa seekor kelinci yang telah dikuliti dengan baik dan beberapa cangkang kelabang.


“Kerja bagus Rohid, kau melakukannya dengan baik.” Raya memberikan pujian pada adiknya


“Uwaaa... terimakasih Rohid, berkat mu aku tidak perlu lagi membongkar mayat monster.” Yuki menekuk Rohid dengan air mata kebahagiaan.


“Eh.. eh... aku senang bisa membantu.” Rohid agak grogi saat Yuki memeluknya.


Hendry dan Ridwan hanya diam melihat para muda-mudi di depan mereka. Raya baru berusia 22 tahun begitu juga dengan Yuki. Namun keduanya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari orang yang lebih dewasa, itu dibuktikan dengan banyaknya monster yang telah mereka buru.


Sedangkan Rohid baru saja bergabung dengan kakak perempuannya setelah ibu mereka sembuh dari penyakit akibat serangan tikus.


Dilihat dari mana pun kekuatan mereka tidak masuk akal menurut kedua pria dewasa itu. Padahal setiap orang bisa belajar melawan monster pada channel ‘itu’, seharusnya semua orang pun bisa menjadi lebih kuat, dan faktanya memang demikian.


Tetapi kedua pria dewasa merasakan ada yang berbeda dengan kedua gadis itu.


Setelah beristirahat mereka kembali melakukan perburuan. Raya, Yuki dan Rohid adalah yang paling aktif melakukan perburuan, sementara dua pria hanya memperhatikan sambil sesekali memberikan bantuan.


“Hey apa kalian berniat maju lebih dalam lagi!.” Hendry berkata dengan nada tinggi seperti sedang memberikan peringatan.


“Benar, kau tidak boleh pergi lebih dalam dari area ini karena sangat berbahaya. Monster yang lebih ganas ada di sebrang sana.” Ridwan pun ikut memberikan peringatan.


Raya dan Yuki saling menatap, Yuki pun mengangguk kecil.


“Baiklah aku mengerti, kita akan kembali sekarang.” balas Raya.


Sebelum mereka pergi raya menatap area yang belum di jelajahi, area itu adalah asal dari para monster yang mengacaukan kota Sawi. Semua orang percaya jika di sanalah Dungeon berada.


Sring!


“Hah!.” Raya tiba-tiba terdiam. Melihat itu Yuki bertanya ada apa. Namun Raya tidak menjawabnya, tubuhnya terasa mengigit kuat.


“Raya, ada apa?.”


“Mo.... monster bukan entahlah, aku merasa kehadiran yang begitu kuat mulai mendekat.” ucap Raya yang terbata-bata membuat semua orang panik.


“Apa itu datang dari area yang belum dijelajahi? Kalau begitu ayo kita kembali!.” ucap Yuki.

__ADS_1


“Tidak, Yuki. Perasaan itu justru datang dari arah kota.”


Seketika semua orang panik mendengar perkataan Raya. Selama perburuan mereka selalu mengandalkan insting yang gadis itu milik.


Insting yang gadis itu milik membantu dalam perburuan monster yang lebih aman.


Jika gadis itu merasakan kekuatan monster bisa dilawan maka mereka pun akan melawan monster itu, tetapi sebaliknya jika Raya merasa monster terlalu kuat maka tidak ada kesempatan untuk melawan monster itu.


Jadi ketika melihat Raya menggigil ketakutan seperti saat ini sudah dapat dipastikan jika monster yang datang tidak mungkin bisa mereka lawan.


Raya pun segera mengarahkan kelompoknya ke jalan lain untuk menghindari monster. Namun sebanyak apapun mereka merubah jalur monster selalu bisa mengikuti


“Mereka melacak kita.” ucap Raya yang masih ketakutan.


“Sial ini salahmu karena membawa kita lebih dekat dengan Dungeon!.” Hendry mulai menyalakan Raya. Ridwan berusaha untuk menenangkan pria itu.


“Lalu apa sekarang?.” tanya Ridwan.


Mencoba menenangkan diri, Raya diam dan berpikir hingga. “Tidak ada cara lain. Rohid kembali ke pengungsian bersama dengan yang lain, aku akan menahan monster itu.”


“Tidak kakak aku mohon ijinkan aku bersamamu!.” pinta pemuda itu sambil menangis.


“Benar, aku juga akan bertamu. Kau tidak akan bisa bertahan sendirian tanpa aku sebagai pertahanan.”


Raya tidak dapat membalas perkataan Yuki karena dua memang tidak akan sanggup menahan para monster dalam jangka waktu yang lama jika tanpa bantuan sahabatnya.


Namun dia tetap memaksa adik lelakinya ut kembali. “Rohid kau harus kembali dengan selamat agar untuk menjadi ibu!.” bentak Raya.


“Ta.... tapi...” Rohid mulai menangis.


Raya segera meminta pada Ridwan untuk membawa Rohid, pria itu pun segera mengangkat Rohid dan membawanya.


“Baiklah, ayo kita segera pergi tuan Hendry..... eh kemana dia pergi?.”


Hendry sudah lebih dahulu meninggalkan tempat itu. “Sialan pria brengsek itu sudah kabur lebih dulu!.” Ridwan mengumpat saat menyadari jika dirinya telah ditinggal.


“Tidak kita terlambat!.” Raya berteriak keras ketika dia terjatuh seakan kejutannya menghilang karena tekanan dari kekuatan monster yang sudah menemukan mereka.


Rohid segera melepaskan diri dari lengan Ridwan laku menekuk kakak perempuannya. Yuki yang tidak merasakan apapun segera memasang posisi bertahan.


Sementara Ridwan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Lalu saat ketegangan semakin kuat tiba-tiba...


Guk!

__ADS_1


Guk guk!


Suara gonggongan anjing terdengar dari dalam hutan. Dua ekor anjing berlari kearah mereka.


__ADS_2