Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
34. TV dan Internet


__ADS_3

Hujan deras mengguyur sepanjang malam, membuat helikopter terpaksa menghentikan pemantau terhadap Wong Pute. Linda masih sangat penasaran dengan nasib dua orang yang bertemu dengan makhluk api itu.


“Bukankah itu sudah jelas jika mereka sudah menjadi arang sekarang?.” ucap Pilot yang terus bersama linda.


Saat ini mereka berada di salah satu pengungsian yang terletak di Kota Sawi.


Linda menggelengkan kepala, tidak setuju dengan perkataan rekannya. “Itu belum pasti, selama tidak ada mayat, artinya masih ada kemungkinan mereka bisa selamat.” Linda berusaha berpikir positif.


Sudah hampir dua minggu bencana monster berlangsung, mengakibatkan kekacauan terjadi di semua negara. Beragam cara dilakukan untuk menangani masalah para monster, namun sampai saat ini tidak ada hasil memuaskan yang bisa di raih.


“Mereka sangat kuat, aku hanya bisa berharap mereka masih selamat.”


Besoknya Linda bermaksud untuk melihat keadaan area dimana pertarungan itu terjadi, namun dia tidak menemukan petunjuk apapun. Tidak ada mayat, yang ada hanya bekas kebakaran pada wilayah yang begitu luas.


Tetapi yang lebih mengejutkan tidak ada tanda-tanda keberadaan Wong Pute sejak saat itu. Semua orang merasa senang mendengar kabar salah satu bencana telah menghilang, namun mereka juga bertanya-tanya kemana perginya monster itu.


Beragam spekulasi pun bermunculan, ada yang mengatakan jika menghilangnya wong Pute adalah berkat bantuan dewa, lalu ada yang mengatakan jika monster itu dibunuh oleh seseorang. Sebagian besar spekulasi itu tidak dipercaya karena terdengar seperti kebohongan.


“Kau masih percaya jika dua orang waktu itu yang mengalahkan wong Pute?.”


“Tentu, tidak ada makhluk lain yang berada di sana waktu itu. Kita harus menemukan kedua orang itu, bagaimana pun caranya.”


Pada akhirnya Linda meminta atasannya untuk mencari keberadaan dua orang yang dilihat tadi malam. Namun permintaannya ditolak karena terdengar terlalu mengada-ada.


“Ini terlalu mencurigakan.”


Linda yang tidak puas dengan keputusan atasannya, merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh petinggi militer.


Dua ingin mencari keberadaan dua orang misterius, namun tidak mungkin dia bisa melakukan penyelidikan seorang diri karena ancaman monster sangat berbahaya di luar sana.


***


“Akhirnya selesai.”


Perasaanku sangat puas setelah pekerjaan yang kulakukan selama lima hari terakhir akhirnya selesai.

__ADS_1


Aku menatap langit dengan penuh kebanggaan. Tatapanku tertuju pada ujung menara sutet yang aku pinjam dari negara.


Yap, aku memindahkan menara yang berada di dekat Minimarket ke samping rumahku.


Setelah memasang parabola dan berbagai panel Surya tambahan, aku pun segera kembali kedalam rumah untuk mengecek apakah semuanya sudah bekerja dengan baik.


Yang pertama aku periksa adalah televisi. Melihat ada banyak saluran yang masih beroperasi membuatku aku cukup puas, karena berhasil membuat alat elektronik yang merupakan sumber hiburan itu bisa kembali berfungsi.


Tohir terlihat tenang memandangi televisi, walaupun dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh pembawa acara.


Lalu yang kedua dan menjadi hal paling penting untuk segera diperbaiki adalah koneksi internet.


Jangan bertanya bagaimanapun aku bisa mendapatkan koneksi internet tanpa membayar pulsa atau semacamnya karena itu adalah trik yang sangat sangat rahasia.


“Halo dunia, akhirnya Mamang Budi kembali online.”


Aku sangat bersemangat, setelah sekian lama meninggalkan dunia maya yang menjadi sumber informasi dan hiburan saat dunia masih aman.


Namun setelah satu jam berselancar internet, semangat yang aku milik sebelumnya menghilang tidak bersisa.


“Sangat memuakkan.” ucapku dengan bosan.


Tidak ada sesuatu yang menarik bisa aku lihat, seolah dunia maya benar-benar menjadi gelap gulita akibat para monster.


Bukannya aku tidak memiliki simpati pada mereka yang sedang tertimpa bencana. Bukan juga karena aku tidak lagi seorang manusia, yang membuat rasa kepedulian pada para manusia ikut lenyap.


Tetapi ini lebih dikarenakan aku tidak peduli pada mereka yang memanfaatkan kemalang orang lain untuk keuntungan pribadi.


Saat ini media sosial seperti Xbox, Facebox, limagram dan Temitter, semuanya diisi penuh oleh ajakan berdonasi yang dibuat oleh organisasi tidak jelas.


Aku tidak mungkin tidak menaruh curiga pada mereka.


Sebagai seorang makhluk hidup yang telah kehilangan sisi kemanusiaan, namun masih memiliki hati nurani. Aku pun ingin menolong mereka yang sedang kesulitan, tetapi jangan berharap aku bisa memberikan bantuan berupa dana karena aku tidak memilikinya.


Kemudian saat aku melihat postingan di salah satu media sosial, yang menyebutkan jika si pembuat konten memiliki trik ampuh menjadi lebih kuat. Aku pun mulai tertarik untuk melakukan hal yang sama seperti orang ini.

__ADS_1


Aku berniat membuat akun khusus yang akan digunakan untuk memposting apa saja yang aku ketahui tentang melawan monster dan membuat potions.


“Aku harap apa yang akan ku tulis bisa membantu banyak orang yang membacanya.”


Membuka kembali buku diary yang selalu aku gunakan untuk mencatat kesehatanku. Aku mengkopi hal-hal penting pada buku itu untuk di posting.


"Aku pikir pengolahan mana adalah hal utama."


Suara gonggongan terdengar di depan rumah, Roxy sedang bermain dengan teman-temannya. Lalu suara dentingan logam terdengar dibawah rumah, Tohir sepertinya sedang membuat sesuatu. Kemudian suara aliran air mengalir dari Jek yang sedang menyiram sayuran di kebun belakang.


Suasana begitu tenang, ini adalah hari yang sangat damai.


“Oke sudah selesai.”


Aku segera meregangkan otot-otot jari yang terasa pegal setelah hampir dua jam mengetik keyboard.


Selama itu aku sudah mengetik sekitar lima belas postingan mengenai cara melawan berbagai jenis monster, material berguna yang bisa di dapat dari jenis monster tertentu dan cara mudah menciptakan herbal yang sangat bermanfaat.


“Semoga banyak orang yang melihat postingan ini.”


Sebelum aku menutup laptop, tiba-tiba aku teringat dengan para tetangga ku, aku ingin tahu apakah mereka masih selamat. Berniat mencari tahu tentang itu aku pun membuka grup yang dibuat khusus untuk para penghuni perumahan kami.


Aku ingin tahu apakah ada seseorang yang mencari keluarga atau kerabatnya di grup ini, seperti yang saat ini aku lakukan.


“Cukup banyak bukan?.”


Setidaknya ada lima puluh postingan tentang seseorang yang sedang mencari keluarganya. Tatapanku kemudian tertuju pada satu nama yang telah memposting sepuluh postingan pencarian orang hilang.


“Raya Sanjaya....”


Nama yang terdengar tidak asing, rasanya aku pernah mendengarnya di suatu tempat tetapi aku lupa. Mencoba dengan keras untuk mengingat, tapi tidak berhasil. Justru usaha keras itu membuat kepalaku semakin pusing.


"Aku memang hanya orang bodoh."


Akhirnya pun aku menyerah.

__ADS_1


Rasa haus membuatku pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin, tapi tiba-tiba saat kembali aku mendapati Roxy tengah menatap layar laptop dengan wajah sedih.


“Ah.... aku ingin, itu adalah nama majikan Roxy.”


__ADS_2