Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
94. Banaspati


__ADS_3

Keadaan area pertarungan sudah benar-benar berubah. Lebih dari setengah peserta bergerak kearah Budi untuk melawannya.


Pertarungan satu lawan ribuan tidak dapat dihindari. Namun itu bukan sebuah kesialan untuk Budi.


Dia pernah mengalami sesuatu yang lebih buruk dari situasi ini.


Ledakan berulang kali terjadi, kobaran api menghanguskan puluhan peserta yang mencoba melawannya.


“Kekuatan dari Wong Pute singgung sebuah kecurangan. Aku penasaran apakah jika melawan monster tingkat Bencana lainnya bisa membuatku mendapatkan kekuatan baru.”


Ada ribuan Monster tingkat Bencana yang tersebar di seluruh dunia, menjadi teror bagi umat manusia.


Menyebabkan kematian dalam jumlah jutaan, serta menyebabkan kerusakan pada wilayah yang begitu luas, itulah Monster tingkat bencana.


Sampai saat ini baru satu monster pada tingkat itu berhasil dikalahkan yakni wong Pute yang Budi lawan bersama Jek dan para binatang.


Di pulau Jawa tersisa enam monster tingkat bencana, Budi berniat melawan monster seperti Wong Pute setelah urusan di kota Sawi selesai.


***


Raya sampai di tempat titik merah berada, dia tidak heran jika target peserta yang ditujukan oleh sistem ternyata adalah Budi.


“Dia sudah memiliki sembilan ribu poin, sementara posisi kedua bahkan belum menyentuh lima ratus poin. Entah sudah berapa banyak peserta yang ia lawan.”


Melihat kembali ke tengah kerumunan, timpukan mayat yang hangus maupun terpotong mulai menumpuk.


Sementara di atas tumpukan mayat berdiri seorang pemuda bertopeng merah yang terus bertarung seakan tidak merasakan kelelahan sedikitpun.


“Kak Budi terlihat bosan karena terus melakukan pembantaian pada kerumunan yang tidak terkendali. Lalu bagaimana jika aku membantunya dengan menaikkan sedikit kesulitan?.”


Senyum gadis itu melebar. Raya merasa senang ketika mendapatkan ide yang dia anggap sangat brilian.


Menggunakan keahlian dari pekerjaan Commander, Raya berniat mengendalikan ribuan peserta.


“Hirarki!.”


Keahlian pertama membuat Raya dapat mengetahui siapa saja yang bisa ia kendalikan. Rasa hormat, kepercayaan dan rendah diri adalah beberapa hal yang dapat membuat seseorang bisa Raya kendalikan.


Tetapi khusus untuk kondisi seperti saat ini dimana para peserta tidak mengenalinya, membuat tidak seorang pun dapat dia kendalikan.


“Seperti yang aku duga.” ucap Raya melihat tidak ada seorangpun yang bisa dia kendalikan.


Tetapi dia tidak menyerah untuk menjadikan ribuan peserta di depan menjadi anak buahnya karena dia masih memiliki kartu as terakhir.


“Otoriter!.”


Keahlian kedua ini belum pernah Raya gunakan semenjak dia mendapatkannya setelah menembus level 30.

__ADS_1


Keahlian yang dapat merenggut kebebasan orang lain dengan level lebih rendah dari pengguna Skill.


Mereka yang dikendalikan akan tunduk pada perintah Raya dalam waktu lima belas menit. Waktu yang relatif singkat. Namun akan sangat berguna dalam keadaan tertentu.


“Sekarang mari bertarung bersama, menggabungkan kekuatan dan membuat event ini semakin menarik.”


Dengan lima ribu peserta di bawah komandonya, raya bersiap melawan Budi.


“Apa yang terjadi?”


Budi merasa jika pertarungan telah berubah. Lawan tidak lagi menyerang secara membabi-buta, mereka menjadi lebih terstruktur.


Merasa ada yang janggal Budi pun mencoba mencari penyebabnya. Menggunakan keahlian [Hero Sense] Budi menemukan keberadaan Raya ditengah kerumunan.


Penglihatan itu membuat Budi langsung menyadarkan jika keanehan pada para peserta diakibatkan oleh keahlian raya yang dapat memanipulasi kerumunan.


“Apa yang dia coba lakukan? Apa dia berpikir untuk melawanku?.”


Di balik topeng Budi tersenyum kecil. Gadis yang sebelumnya akan dia jadikan rekan tetapi ternyata malah bergerak sebagai lawan.


“Sangat ironis, tetapi memang seperti itulah dia. Beberapa hari melihat senyum Raya seakan membuatku lupa dengan sifat gadis itu yang sesungguhnya.”


Kobaran api merah perlahan semakin cerah dengan suhu yang perlahan meningkat, hingga membakar lapisan aura di sekitar Budi.


Pemuda itu terlihat seperti manusia api sekarang, jika karena tidak memiliki ketahanan api tingkat maksimum mungkin Budi sudah mati terpanggang oleh sihirnya sendiri.


Hawa panas dapat membunuh siapapun yang mendekati Budi kurang dari Lima meter. Namun Raya percaya diri dengan jumlah pasukannya.


“Serang!.”


Seruan Raya membuat langit di tutupi oleh ribuan anak panah dan sihir, semua serangan itu tertuju pada satu titik.


Berusaha bertahan dari serangan, Budi memperkuat aura miliknya. Hujan anak panah, ledakan sihir membuat area dimana Budi berdiri menjadi porak poranda.


Debu menyelimuti area sekitar, tidak ada yang tahu apakah serangan itu berhasil atau tidak. Namun saat debu perlahan menghilang sosok raksasa api menampakkan diri dengan penuh intimidasi.


Raksasa itu terbuat dari aura Conqueror, sebuah jiwa pelindung yang diciptakan oleh keinginan kuat seorang penakluk.


Di selimuti oleh api cahaya dari Starborn terciptalah Banaspati.


“Aku masih memikirkan nama dari keahlian ini, apakah menggunakan nama iblis api Ifrit atau Banaspati yang lebih populer di masyarakat Indonesia.”


Di saat ribuan orang yang dipimpin oleh Raya berusaha mengalahkannya, Budi justru sibuk menentukan nama untuk keahlian baru miliknya.


***


Aroma daging terbakar menggugah selera, namun perasaan itu akan berakhir setelah tahu jika daging yang terbakar ternyata adalah tubuh manusia.

__ADS_1


Ribuan mayat yang hangus terbakar menutupi pada rumput, di tengah Budi berdiri menatap pemimpin pasukan yang menggerakkan ribuan peserta untuk melawannya.


“Sangat kuat, seperti yang diharapkan dari satu-satunya penantang Bencana dan berhasil mengalahkannya.”


Raya bersikap seperti seorang prajurit yang kalah dalam perang dan bersiap menanggung konsekuensinya.


Budi berniat mengajaknya bergabung dalam Tim, namun Raya menolak karena tidak ingin semua peserta yang telah dia kendalikan berpikir jika keduanya telah melakukan konspirasi.


Pada akhirnya Budi pun mengalahkan Raya dengan menikam Gadi itu dari depan. Dengan darah mengalir deras dari mulutnya, Raya menatap Budi yang memasang wajah sulit.


“Aku harap ini terakhir kalinya aku melakukan ini padamu.”


“Tidak apa, ini tidak begitu menyakitkan.”


“Omong kosong, kau tidak bisa menyembunyikan itu dari wajahmu.”


“Apa aku benar-benar terlihat seperti itu?.”


Raya memberikan senyum yang dipaksakan.


“Aku menantikan janjimu untuk memasuki Dungeon bersama.” ucap Raya.


“Tentu, aku pasti akan menepati janjiku.”


Menggunakan sihirnya, pedang yang Budi gunakan mengeluarkan api, membakar tubuh Raya dari dalam.


[Selamat pada Rango yang berhasil menjadi peserta terakhir bertahan hidup]


[Gelar First Champions di dapat setelah memenangkan event]


[Mendapatkan kotak Emas]


[Seluruh poin bisa digunakan untuk toko yang terbuka pada fitur baru menu statistik]


Setelah pemberitahuan sistem. Penglihatan Budi kembali dipenuhi oleh cahaya putih, perasaan mengambang itu pun membuatnya sadar tengah dipindahkan.


Ketika membuka mata, Budi menyadari sudah berada di kamarnya. Dia merasa sudah mengikuti event selama berjam-jam, namun ketika melihat ponsel jam masih menunjukkan pukul tiga pagi.


“Seakan semua yang terjadi hanyalah mimpi.”


Budi segera membuka layar statistik untuk melihat apakah event barusan adalah kenyataan atau memang hanya mimpi.


Melihat log notifikasi, Budi sadar jika spa yang dia alami dalam event bukanlah sebuah mimpi belaka.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2