Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
73. Pengejaran


__ADS_3

Di tengah kemeriahan pesta, beberapa orang dengan jubah hitam keluar dari kantor polisi dan segera menuju luar tembok.


Salah satu diantara prang berjubah menatap kota sebelum keluar gerbang, api kebencian berkobar di matanya membuat marahnya kembali membara.


“Setelah aku kembali bersama kakak ku, kota ini akan berubah menjadi abu.”


Ucap Jiecie yang dipenuhi oleh dendam karena telah mengalami satu hari yang begitu menyiksa. Kegagalan misi juga membuatnya harus menanggung hukuman berat dari organisasi.


“Nona kita harus segera berangkat. Tidak ada yang tahu orang yang berhasil mengalahkan anda akan datang kembali atau tidak.”


Mendapat peringatan dari bawahannya, Jiecie pun segera meninggalkan kota Sawi. Kepergian mereka disaksikan oleh seorang pemuda dan empat gadis disampingnya.


Mereka selama ini memantau pergerakan Jiecie dari menara sutet, sejak wanita itu meninggalkan kantor Polisi hingga keluar tembok.


“Mereka pergi.” ucap Raya, angin yang bertiup kencang membuat rambutnya berantakan.


“Semu orang melihatnya dengan jelas Raya.” jawab Budi, yang segera mendapatkan cekikan dari Raya.


“Lalu sekarang bagaimana? Apa kita akan membicarakan wanita itu dan para penghianat pergi begitu saja?.” Yuki seakan tidak ingin membiarkan anggota organisasi Gamprit lolos begitu saja.


“Atau kita bisa menangkap mereka lagi?.”


“Tetapi itu bukanlah akan menyulut kemarahan dari organisasi paling berbahaya sepulau Jawa?.”


Setelah Gadis menghadapi dilema. Mereka tidak ingin membiarkan orang yang begitu berbahaya meninggalkan kota dengan kebencian yang begitu besar sampai-sampai berniat untuk menghancurkan kota suatu saat nanti.


“Tidak peduli apa pun yang terjadi, mereka akan tetap datang.”


Pernyataan Budi dalam sekejap merubah dilema para gadis menjadi rasa takut. Mereka berpikir tidak mungkin untuk menang melawan organisasi besar sekelas Gamprit.


Walaupun mungkin kota bisa mengandalkan para Hunter. Namun di depan pasukan bersenjata lengkap, tidak akan ada yang bisa Hunter lakukan.


“Jangan khawatir, nikmat saha pestanya. Serahkan keamanan kota padaku.” ucap Budi yang hendak mengikuti Jiecie.


Raya dan Yuki tidak bisa melakukan apapun saat ini, mereka hanya bisa mengandalkan Budi sebagai pengawas dan keamanan kota Sawi.


Mereka sepenuhnya percaya jika Budi bisa menyelesaikan masalah apa pun yang menghalangi jalannya.


Budi melakukan semua itu juga bukan tanpa alasan. Dia ingin memiliki pengaruh di kota untuk rencana masa depannya.


Toko asongan dia buat untuk mendapatkan banyak batu Monster yang sangat berguna, dan juga untuk menguasai pasar senjata di kota Sawi.

__ADS_1


Sementara tembok kota dan pembangkit listrik yang nanti akan dia bangun, semuanya adalah bentuk investasi. Bayangkan keuntungan yang bisa didapatkan dari pembangkit listrik yang kau kelola sendiri.


Semakin luas tembok maka membuat semakin banyak warga yang bisa tinggal di kota Sawi. Kemudian saat semakin banyak warga menetap maka kebutuhan energi pun semakin meningkat.


Semua itu tentu akan memberikan keuntungan bagi Budi yang menjadi pemilik pembangkit listrik.


Budi mengikuti kelompok Jiecie, tetapi dia tidak seorang diri karena Liliana mengikutinya. Gadis itu sudah mengatakan jika hanya ingin melihat.


Tiba di pinggiran kota, mereka menemukan anggota Gamprit tengah menunggu di samping mobil.Budi memperhatikan jika mereka yang menunggu di mobil menunjukkan sebuah tato di lengannya.


Melihat tato itu Jiecie dan empat rekannya membuka tudung untuk memperlihatkan wajah mereka pada para penjemput.


Budi memperhatikan tato yang sebelumnya dia lihat, dia berpikir itu mungkin saja lambang dari organisasi Gamprit, atau sebuah simbol tertentu yang menunjukkan status pemilik tato di dalam organisasi.


“Itu memberiku ide untuk mengembangkan guild Legion Teapot kedepannya.” gumam Budi.


Setiap orang masuk kedalam mobil termasuk Ferdinand dan Ridwan, mereka tidak berniat untuk kembali ke kota Sawi karena sudah tahu apa yang akan terjadi setelah wanita bernama Jiecie berhasil diselamatkan.


Organisasi Gamprit sudah mengutus salah satu anak cabang mereka yakni Genk The Daki untuk menyerang kota Sawi. Mengingat betapa brutalnya Genk itu membuat para penghianat merasa tidak ada harapan lagi kota ini.


“Jadi apa rencana mu?.” tanya Liliana saat melihat mobil yang membawa Jiecie menjauh.


“Ferdinand pernah mengajakku bergabung dengan organisasi Gamprit, dan dua memberitahuku jika Genk The Daki sedang mengawasi provinsi ini dari kota Jati.”


Liliana berkata dia pernah mencurigai jika ayahnya memiliki hubungan dengan organisasi Gamprit namun dia kurang yakin karena kurangnya bukti.


Tetapi setelah melihat Ferdinand yang terlihat begitu akrab dengan Jiecie dan rekannya membuat Liliana semakin yakin jika dugaannya benar.


‘Apakah Ferdinand sebenarnya agen dari organisasi itu yang diutus untuk melayani ayah?.’ dalam benak Liliana terdapat banyak sekali pertanyaan.


Tetapi tepukan di punggung membuatnya sadar.


“Kita akan menghentikan mereka.” ucap Budi.


“Tapi mereka sudah....” perkataan Liliana terhenti ketika melihat kuda dengan kulit kemerahan sudah berada di bawah pohon tempat mereka mengintai.


Budi segera melompat dari dahan lalu mendarat di punggung Pushrank. “Kau ingin ikut?.” tanya Budi pada Liliana. “Tentu.” Liliana pun ikut melompat lalu mendarat di pangkuan Budi.


Keduanya saling bertatapan selama sesaat.


“Nona Lilian,”

__ADS_1


“Ya?”


“Bisakah aku mengajak anda berkencan?”


Liliana hanya tertawa kecil sebagai jawaban. Dia kemudian membetulkan posisi duduknya. Sekarang Liliana duduk di belakang Budi.


Setelah semua siap, Budi segera menarik tali kekang mengejar mobil yang mulai meninggalkan kota Sawi.


“Aku sangat mahal.”


“Oh benarkah?.”


Budi mendengar suara cekikikan perempuan di belakangnya. Jika saja sedang sendirian dia pasti akan merasa sedang diikuti oleh kuntilanak. Tetapi dia bersyukur karena tahu itu adalah suara tawa Liliana.


Liliana sangat terkejut melihat kecepatan kuda itu berlari, dia seakan sedang menaiki mobil sport dengan kecepatan tinggi ratus kilometer perjam.


Tetapi anehnya Liliana tidak merasakan hentakkan kaki kuda, seakan kuda itu berjalan di atas awan.


Di tengah gelapnya malam tanpa sedikitpun pengarengan Budi mengendalikan kudanya dengan sangat baik, seakan dia bisa melihat jalanan seperti siang hari.


Di belakang Liliana terus menatap wajah pemuda itu yang sebagainya di tutupi dengan perban.


“Ada apa dengan matamu?.” tanya Liliana penasaran. “Aku pikir potions bisa mengembalikan anggota tubuh yang hilang bukan?. Apakah mungkin kau mengenalku itu hanya untuk sekedar ‘Gaya’?.”


Liliana mengingat beberapa Hunter sengaja melukai wajah mereka agar terlihat lebih sangar dan mengintimidasi.


“Tidak seperti itu, sebenarnya mata kiri ku memiliki kemapuan melihat tembus pandang.” Budi berkata jujur, mendengarnya mata Liliana langsung terbelalak.


“Raya yang mengetahuinya langsung memintaku untuk menutupinya, dia mengatakan mengintip itu tidak sopan.” terang Budi.


“Dan apa itu berhasil?.” wajah Liliana mulai berubah Merah.


“Sebenarnya tidak, aku masih bisa melihat dengan sangat jelas walaupun kain ini menghalangi.”


Liliana begitu terbakar, wajahnya menjadi mirip kulit kepiting rebus. Tetapi dia tidak terlihat marah sedikitpun.


“Apa yang kau lihat dariku?.” dia bertanya dengan malu-malu.


“Tato... aku melihat tato yang sangat cantik dibawah pusar mu.”


Tidak ada lagi yang ditanyakan oleh Liliana. Keadaan menjadi hening selama sesaat, namun tiba-tiba Budi merasakan kedua tangan gadis dibelakangnya mulai memeluk pinggulnya, Liliana memeluk dengan erat hingga Budi merasakan dada gadis itu menempel dengan lekat di punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2