Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
60. Liliana Allways


__ADS_3

Budi terus memperbaiki pedang para Hunter, tangannya yang cekatan mampu merawat semua senjata yang baru saja digunakan dengan begitu mudah.


“Hey apa ini!.” seorang laki-laki dengan armor kulit kelinci datang bersama empat temannya menghampiri gerobak, Budi yang sedang bekerja hanya memperhatikan sekilas kelima Hunter yang menghampirinya.


“Apa ada masalah?.” tanya Budi dengan perhatian yang masih tertuju pada tombak yang sedang dia perbaiki. Budi melirik kelima Hunter yang menghampirinya. Mereka adalah orang-orang yang telah mengabdikan sarannya kemarin.


Ketua Tim kelompok itu bernama Dimas, dia mengeluhkan tombaknya yang terasa tidak cocok untuk bertarung. Dimas beralasan jika itu terjadi setelah Budi memperbaiki tombaknya


“Tombak ini sudah tidak bisa digunakan karena kau menyentuhnya, aku meminta ganti rugi!.”


“Oh....” Budi tidak sedikitpun menoleh, perhatiannya hanya fokus pada pekerjaannya.


Dimas yang kesal karena Budi tidak sedikitpun menatapnya ketika dia berbicara, hendak melempar tombak itu ke arah Budi, namun dengan mudah Budi tangkap.


“Apa maksudnya ini apa kau tidak melihat aku sedang bekerja?.” sekarang Budi yang marah karena pekerjannya terganggu.


“Akhirnya kau bicara juga, aku pikir kau hanya robot.” perkataan Dimas sontak membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang begitu keras menarik perhatian para Hunter.


“Apa kau mendengarnya HAH, kau harus mengganti rugi karena telah merusak senjata kesayangan ketua kami!.” sekarang wanita berambut panjang kehijauan bernama Gisel yang mulia berbicara.


“Ya, itu harus setara dengan empat puluh Batu Monster putih.” pria berkacamata bernama Fajar dengan terang-terangan mulai melakukan pemerasan.


Mereka mulai menyombongkan diri karena telah berhasil mengalahkan banyak monster karena telah bergabung dalam pasukan yang dipimpin langsung oleh Raya.


“Senjata yang tidak cocok akan membuat performa ku menurun. Kau sadar bukan kesalahan yang sudah kau perbuat?, jika penyerang ini gagal karena aku tidak bisa bertarung maka semua itu adalah kesalahan mu!.” Dimas terus berbicara hingga mulutnya berbusa.


“Heh....” namun Budi masih tidak peduli. Penempa itu terus mengerjakan pekerjaannya, hingga dia sudah menyelesaikan sepuluh senjata saat Dimas masih berbicara.


Tetapi Dimas segera menghentikan ocehannya ketika seseorang perempuan dengan rambut keemasan datang menghampiri Budi untuk mengambil senjata miliknya yang sudah selesai diperbaiki.


Setiap senjata yang diperbaiki memiliki pin nomor, jika pemiliknya ingin mengambil senjata miliknya yang sudah selesai diperbaiki maka pemilik senjata harus menyerahkan pin lain dengan nomor yang sama.

__ADS_1


“Nomor 472, ini dia.” Budi menyerahkan sebuah pedang yang sudah dia perbaiki pada pemiliknya.


“Terimakasih.” Pemilik pedang tersenyum cerah lalu segera pergi. Tatapannya sekilas melirik Dimas dan kawan-kawannya yang masih ingin berbicara dengan Budi.


“Aku mendengar anda memiliki masalah?.” mendengar pertanyaan dari gadis itu membuat semua anggota kelompok Dimas menjadi khawatir.


“Ah, tidak-tidak ini bukan sebuah masalah yang terlalu besar, Nona Lilian tidak perlu khawatir.” Fajar segera mengalihkan pembicaraan.


Tatapan kelima Hunter itu tertuju pada Budi, mereka takut pemuda itu mengatakan sesuatu yang menyudutkan pihak Dimas, namun seperti biasa Budi fokus dengan pekerjaannya memperbaiki senjata.


Melihat itu membuat kelimanya bernafas dengan lega.


Tetapi mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan, karena pada kenyataannya gadis bernama Lilian itu masih belum melepaskan mereka.


“Tetapi yang aku dengar, kau bermasalah dengan tombak mu bukan?.” mata merah Liliana menatap lembut Dimas, namun bukannya senang ditatap oleh gadis begitu cantik, namun Dimas justru merasa ketakutan.


Pasalnya identitas Liliana adalah putri dari mendiang Wali Kota sebelumnya, Gofar Allways. Walaupun kini ayahnya telah tiada yang secara otomatis membuat pengaruh dari putri walikota menghilang.


“Kau juga mengatakan jika penyerangan ini bisa gagal karena kau tidak bisa bertarung, bukan?.” senyum di bibir merah Liliana begitu mempesona. Semua orang yang melihat senyum itu akan terpikat dan menginginkan senyum Liliana untuk diri mereka sendiri.


Namun berbeda dengan Dimas dan keempat temannya. Keringat dingin membasahi punggung mereka, seakan kelimanya adalah para tahanan yang sedang menanti hukuman mati.


“I.... itu hanya sebuah salah paham. Tolong kami tidak bermaksud mencari masalah.” Dimas menggunakan seluruh keberaniannya untuk berbicara.


“Hanya sebuah kesalahpahaman yah?.” Liliana melirik Budi, begitu juga dengan Dimas yang menatap penuh ancaman pada Budi.


“Apa anda masih membutuhkan sesuatu Nona? Jika tidak maka menjauh lah, aku tidak ingin kulit putih itu menghitam karena hawa panas dari api...” Budi samasekali tidak menghiraukan kelompok Dimas.


Melihat ketidak pedulian Budi pada setiap perkataan yang dilontarkan oleh kelompoknya, Dimas mengambil kesempatan itu untuk menghindari. Namun sekali lagi Liliana tidak membiarkan mereka pergi begitu cepat.


“Tetapi aku hanya ingin mengatakan beberapa nasehat untuk anda, tuan Hunter.” Liliana menatap ratusan orang yang berada di tempat itu, mereka melihat kearahnya. Bahkan Raya dan Yuki pun menonton dari tenda mereka.

__ADS_1


“Anda melihat mereka semua? Mereka adalah Hunter sama seperti saya dan anda, mereka juga bisa bertarung sama seperti anda. Jadi apa yang membuat anda merasa lebih spesial dari orang lain?.”


Dimas terdiam seribu bahasa, dia tidak dapat menjawab pertanyaan Liliana. Tatapan kebencian ratusan Hunter pun mulai tertuju pada kelompok Dimas. Dalam sekejap mereka seakan menjadi musuh dari setiap Hunter yang ikut dalam penyerangan ini.


“Apa kau mendengar apa yang dia kenakan?.”


“Sesuatu seperti pertempuran ini akan kalah jika dia tidak bisa bertarung?.”


“Apa-apaan! Dia pikir siapa dirinya.”


“Jika Nona Raya atau Nona Yuki yang mengatakan itu, aku pasti akan langsung percaya.”


“Tapi siapa dia?.”


“Dia terlalu menganggap dirinya penting.”


Semua Hunter mulai memojokkan Dimas. Dia telah mendapatkan balasan atas apa yang telah dia katakan. Namun Budi justru tidak menyukai hal seperti ini samasekali, karena dia cukup menyayangkan jika nantinya Dimas dan kelompoknya menyalahkan dirinya karena kejadian ini.


‘Aku tidak khawatir dengan pembalasan yang mungkin akan mereka lakukan. Tetapi masalahnya mereka adalah orang-orang yang cukup menjanjikan, akan sangat disayangkan jika bakat seperti itu lenyap begitu saja.’


Perhatian Budi beralih pada Raya dan Yuki. Mereka sudah diberikan buku catatan yang berisi daftar orang-orang berbakat yang Budi tulis. Jika mereka ingin mendapatkan hati kelima Hunter yang ada di daftar buku itu maka sekaranglah saatnya.


“Ada apa ini? kenapa tempat yang seharusnya tenang malah menjadi begitu ribut!.” Yuki datang untuk menenangkan para Hunter.


“Yuki-chan.” Liliana menyambut kedatangan Yuki dengan senyuman penuh arti.


“Liliana, tidak disangka jika aku justru bertemu dengan mu ditempat ini.”


Keduanya saling menatap, setiap orang yang melihat keduanya hanya bisa berbisik untuk berbicara. Yang satu adalah putri mantan Wali Kota, sedangkan satunya lagi adalah orang yang diyakini akan menjadi Wali Kota selanjutnya.


Pertemuan keduanya mungkin akan berdampak besar pada masa depan Kota Sawi.

__ADS_1


__ADS_2