Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
115. Aku Siapa?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Yuki mendapatkan laporan dari Siti dan empat pelayan yang dia tugaskan di toko.


“Kelimanya sekaligus?.” ucapnya saat melihat ada lima email yang masuk.


Dia kemudian melanjutkan sikat giginya sambil membuka kelima email yang masuk. Namun hanya dalam beberapa saat Yuki langsung tersedak hingga membuatnya batuk-batuk.


“Gila bagaimana mungkin ini bisa terjadi!.”


Yuki seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat dari lima email itu.


“Dia menggunakan kelimanya sekaligus dalam satu malam. Sebanyak apa stamina yang kak Budi miliki hingga mampu bermain dengan lima wanita sekaligus.”


Isi pesan singkat yang dia terima dari lima karyawan toko Asongan adalah laporan mengenai kegiatan yang terjadi semalam.


Yuki mengutus para pelayan terbaiknya untuk menjaga toko Asongan karena berbagai alasan.


Bukan hanya karena tempat itu menjadi sumber dari segala senjata dan alat sihir yang beredar di kota Sawi.


Tetapi juga karena pemiliknya adalah seseorang yang sangat berharga untuk kota.


Yuki akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuat Budi betah di kota dan berpikir tidak pernah keluar dari kota.


Dia sengaja mengutus Siti karena pelayanan itu begitu ahli merayu para pria. Walaupun dari luar gadis itu terlihat begitu dingin, namun di dalam dia begitu lembut seperti marshmellow.


Tetapi semua itu hanyalah akting, sebenarnya Siti tidak memiliki kepedulian pada siapapun, dia hanya memikirkan dirinya sendiri.


Fakta jika dia bahkan tidak peduli dengan kematian rekan dan majikannya yang sebelumnya membuktikan betapa gelap hatinya.


Tetapi walaupun demikian Siti bisa dipercaya, itu dibuktikan saat dia menolak untuk mendatangkan apa pun mengenai majikannya yang lama.


Karena itulah Yuki memilihnya untuk melayani Budi karya bisa menjaga rahasia.


Yuki berpikir tidak akan ada apa pun yang terjadi setelahnya, tetapi baru dua hari bekerja Siti sudah dibawa pergi oleh Budi ke sisinya.


Pemuda itu sudah sepenuhnya mendapatkan hati dan tubuh Siti.


Yuki merasa itu sangat aneh karena dalam waktu singkat Budi bisa mendapatkan kendali penuh salah satu pelayan terbaiknya.


Siti mengatakan jika ingin secara penuh bekerja di toko Asongan untuk melayani budi, Yuki iak masalah dengan permintaan Itu.


Tetapi Yuki segera berubah pikiran saat mendengar jika Siti bukan hanya mendapatkan pelayanan fisik memuaskan namun juga pelatihan Alkemis.


Mendengar itu Yuki pun memiliki ide untuk memanfaatkan kebaikan Budi dengan mengirimkan empa pelayan lainnya.


Mereka adalah para pelayan yang paling berpengalaman dalam memuaskan para tamu elite.


Yuki berharap dengan lima pelayan yang ia berikan bisa mendapatkan beberapa pengetahuan dari Budi sekaligus mengikat pemuda itu di kota Sawi.


“Aku sama sekali tidak mengira ini akan terjadi, dia begitu brutal.”


Yuki terus memandangi foto dan video pesta yang terjadi semakin di toko Asongan. Nafas Yuki tersa berat saat melihat kiriman dari para pelayannya.


Jantung berdebar kencang, Yuki merasakan birahinya mulai naik.


“Aku kok jadi pengen yah?.”


Yuki mengambil sikat gigi yang baru saja dia gunakan untuk melakukan perawatan di bagian bawahnya.

__ADS_1


Suara-suara aneh mulai terdengar.


Pada akhirnya kegiatan pagi Yuki pun berlangsung lebih lama dari biasanya.


“Aku hampir lupa jika hari ini akan ada anggota Dewan yang akan datang.”


Mengingat jika akan datang tamu penting, Yuki pun segera menyudahi permainannya.


“Itu sangat menggantung, memang tidak enak rasanya jika melakukannya dengan diri sendiri. Aku harus meminta bantuan orang lain untuk masalah ini.”


Yuki merasa harinya akan dipenuhi kegalauan karena tidak dapat merasakan kepuasan. Dia ingin seseorang membantunya untuk itu


Saat mengingat kiriman foto dan video dari para pelayannya, Yuki pun tahu orang yang tempat untuk membantunya.


***


Gerbang barat area yang sangat dekat dengan Dungeon, jika luapan monster terjadi maka area itu akan menjadi sasaran dari amukan monster.


Untuk menanggulangi itu Raya mendirikan Markas guild Legion Teapot di sana. Raya bisa saja mendirikan guildnya di dalam tembok.


Tetapi dengan alasan keamanan dan efesien, raya tetap mendirikan markasnya di tempat berbahaya itu.


Bukan hanya Markas guild Legion Teapot, banyaknya Hunter yang melalui area distrik barat itu untuk pergi ke Dungeon mengakibatkan para pedagang pun berkumpul di sana.


Tempat itu menjadi ramai, perekonomian mulai berjalan di sana. Banyak penduduk yang berjualan berbagai barang bekas di dini.


Melewati keramaian pasar sambil duduk di atas punggung Pushrank , aku cukup menikmati saat melihat berbagai macam benda yang dijual di pasar.


“Tuan apa kau berniat menjadi Hunter? Pakailah pisau ini kau pasti bisa membunuh monster dengan mudah menggunakannya.”


Seorang pedagang menawariku sebuah pisau yang terbuat dari telinga kelinci. Aku hanya melihat pisau itu sesaat lalu segera menolak karena yang membuat senjata itu adalah aku sendiri.


Selain item yang berasal dari toko Asongan, semua item yang di jual di pasar ini hanyalah sampah.


Senjata terburuk yang aku buat saja puluhan kali lebih baik dari semua item di pasar ini.


Tetapi sepertinya penjual itu tidak menyerah, dia terus mendesak ku untuk membeli barang dagangannya.


Dia bahkan sampai memberikan ancaman.


“Hei sialan, ini demi kebaikanmu. Jika kau tidak mengeluarkan batu monster untuk membeli apapun, jangan salahkan aku jika nanti ada hal buruk yang menimpamu.”


Dengan terang-terangan dia memberikan ancaman untukku.


Menanggapi ancaman Itu aku hanya bisa menatap dengan heran, kenapa dia begitu bodoh hingga mengancam orang sepertiku?.


Apa dia tidak tahu siapa aku?.


“Apa mungkin kau tidak pernah pergi ke wilayah dalam tembok?.” tanyaku.


“Siapa peduli apa yang ada di dalam tembok. Jadi kau mau membeli atau tidak, HAH!.”


Jawabannya menjelaskan jika dia tidak pernah pergi ke dalam tembok.


Mungkin dia adalah seorang pendatang karena bahkan tidak tahu jika aku adalah pemilik toko Asongan.


“Siapa yang melindungi mu hingga kau bisa bersikap begitu berani di tempat ini?.” aku kembali bertanya.

__ADS_1


Pedagang itu hanya terdiam sambil terus menatapku, dia melihat Pushrank yang aku tunggangi dengan tajam seakan memikirkan sesuatu.


“Hei, aku bicara padamu.”


Pedagang itu tersentak kaget saat merasakan intimidasi yang keluar dari perkataanku. Tubuhnya seketika bergidik seakan suhu udara tiba-tiba jatuh.


Intimidasi membuatnya begitu ketakutan. Kakinya bergetar dan dua bahkan membasahi celananya hanya dengan mendengar ucapan ku.


“Ak... aku hanya diperintahkan oleh anggota dari guild legion...”


Dengan suara terbata-bata dia mulai mengatakan yang sebenarnya. Tetapi belum dua selesai bicara, beberapa anggota Legion datang menghampiri kami.


Pedagang terlihat lega melihat kedatangan mereka.


“Apa ada masalah di sini?.” tanya salah satu anggota guild.


“Ya, pedagang ini melakukan pemaksaan dan pengancaman padaku untuk membeli senjata darinya.”


Mendengar penjelasan ku, pria yang tadi bertanya hanya menatap sekilas di pedagang, lalu segera mengabaikannya.


“Biar kami yang mengurus pedagang ini, kau segeralah bawa kudamu pergi karena menghalangi lalulintas dan terlalu menarik banyak perhatian.”


Semua yang dikatakan anggota Teapot itu tidak sepenuhnya benar. Jalan sangat lebar hingga seekor kuda saja tidak akan menghalangi jalan.


Walaupun memang perdebatan ku dengan di pedagang cukup menarik banyak perhatian. Tetapi jelas tujuannya mengusirku adalah untuk melindungi si pedagang.


“Ah, rupanya kau tidak ingin menindak kasus ini rupanya. Tidak apa...”


Aku menarik tali kekang Pushrank untuk melanjutkan perjalanan.


“Biar aku sendiri yang mengadukan masalah ini pada pemimpin guild Legion teapot.”


Tiga anggota guild yang datang seketika tersentak kaget saat mendengar itu. Namun mereka segera tertawa terbahak-bahak...


“Ahaha... Kau pikir siapa dirimu hingga bermimpi bisa bertemu dengan guild Master?.”


“Walaupun kau bisa bertemu dengan master kami nona Raya, kau pikir beliau akan mendengar orang rendah sepertimu?, Ahihihi.”


“Master adalah orang sibuk, Maba mungkin di memiliki waktu untuk mengurusi hal sepele seperti ini, Awokawok...”


Tanpa peduli dengan semua yang mereka katakan, aku terus menuju ke markas guild Legion Teapot.


“Siapa aku?.”


“Ya, kira-kira aku ini siapa yah?.”


Pertanyaan ku membuat semua orang terdiam.


Aku sangat penasaran kenapa tidak ada satupun yang mengenalku sebagai pemilik toko Asongan.


Apa itu karena aku jarang mengunjungi bagian ini?.


Tetapi setidaknya pasti ada seseorang Hunter yang mengenaliku bukan?.


“Ini sangat aneh.”


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2