Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
105. Api Kekacauan


__ADS_3

Siti memeluk erat lenganku saat merasakan tekanan nafsu membunuh dari keempat anggota guild Legion Teapot.


Aku mengusap kepala Siti untuk menenangkannya.


Melihat tangan keempatnya menggenggam pedang yang masih di dalam sarungnya, membuatku sadar jika mereka sudah siap untuk mencabut pedang itu kapan saja.


Tetapi tekanan itu segera menghilang manakala aku berkata...


“Oh lihat, Raya sedang berada di balkon. Apa dia berniat menyambut kedatangan kita?.”


Mendengar itu keempatnya segera melihat ke arah balkon Mansion, dan benar saja mereka bisa melihat gadis berambut merah panjang menatap ke arah kami dengan sorot mata dingin.


Tubuh keempatnya seketika membatu seakan tatapan pemimpin guild Legion Teapot itu memiliki efek seperti mata Medusa.


“Apa dia sejak tadi berada di dalam dan memperhatikan? Jika itu Raya pasti dia tahu tentang batu ini.” ucapku.


Keempatnya semakin putus asa. Jika itu Raya yang mengawasi maka tidak akan ada kesempatan untuk keempatnya membungkam kami.


Bahkan bukan tidak mungkin jika Raya sebenarnya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Perjalanan sejauh lima puluh meter itu terasa panjang. Keempatnya tidak jadi menarik pedang mereka.


Dengan penuh penyesalan mereka mengantar kami hingga pintu depan Mansion. Setelah itu keempatnya pun meninggalkan kami.


Tetapi sebelum mereka pergi, aku menyerahkan batu itu pada orang yang melemparnya.


Pria itu sangat terkejut karena selama ini ternyata aku sudah tahu identitas dari pelaku pelempar batu.


“Apa kalian tahu jika trik lempar batu sembunyi tangan hanya dilakukan oleh para pecundang?.”


Mereka marah mendengar perkataan ku, tetapi tidak ada yang membalas karena apa yang aku katakan memanglah sebuah kebenaran.


“Oh!.”


Siti terkejut saat aku tiba-tiba merangkul lehernya dan membuatnya lebih dekat padaku. Wajah Siti benar-benar merah saat aku melakukan itu di depan orang lain.


Melihat itu membuat kemarahan pria pelempar batu semakin besar. Dia hendak mencabut pedangnya namun tiga temannya segera mencegahnya.


“Para pecundang selalu hidup dalam dunia fantasy mereka. Sementara pemenang sepertiku hidup sebagai tokoh utama dalam fantasy setiap pecundang.”


Tanpa peduli dengan reaksi keempatnya atas perkataanku, aku mengajak Siti masuk ke dalam Mansion.


“Maksudmu tadi apa?.” tanya Siti.


Ia sepertinya tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan.


“Entah,”

__ADS_1


Aku tertawa cekikikan, Siti yang penasaran terus mendesak ku. Bagaikan sepasang kekasih, kami saling bercanda gurau dengan sangat mesra.


Aku bisa merasakan tatapan kebencian keempat anggota guild Legion Teapot di belakang yang semakin kuat.


Jika kebencian bisa diubah menjadi kekuatan, mungkin punggungku sudah berlubang karena tatapan keempatnya.


***


Gonggongan anjing terdengar begitu aku memasuki Mansion. Dua ekor anjing segera nyambut kediamanku.


“Roxy, Akita apa kalian semua sehat kawan?.”


Setelah beberapa hari tidak melihat mereka, aku cukup rindu dengan teman-teman ku yang sudah menemaniku saat hidup di desa.


Sepertinya keduanya pun merasakan kerinduan yang sama. Keduanya begitu menjadi, memintaku untuk terus mengusap perut mereka.


“Kak Budi!.”


Rohid datang dari lantai atas, sepertinya dia mengejar dua anjing ini. Melihat adik lelaki Raya itu, aku merasa ada perbedaan padanya.


“Aku melihat, jadi kau sudah mengganti pekerjaanmu.” ucapku.


“Wah, bagaimana kak Budi tau? Apa embak Raya yang kasih tahu?.”


“Tidak juga, aku hanya merasa kekuatanmu turun drastis dari sebelumnya. aku berpikir itu pasti karena level mu sudah direset kembali ke level awal.”


Mulut Rohid membentuk lingkaran setelah mendengar perkataanku. Dia pun membenarkan jika memang sudah mengganti jobnya dari seorang archer menjadi Penjinak.


Rohid menunjukkan kepalanya dengan sangat sopan saat berterimakasih. Setelah itu dia pun mengantarku ke lantai dua di mana yang lainnya sedang menunggu.


Di depan meja ada Raya, Yuki dan Yuniar yang sedang menunggu.


Karena pembicara ini bersifat rahasia, Rohid yang tidak ingin terlibat dengan masalah orang dewasa pun menghindar.


Bocah lelaki itu lebih memilih untuk berlatih dengan semua monster yang ia Kontrak.


Aku melihat selain selain Roxy dan Akita, Rohid juga membawa empat monster lainnya yakni Kelinci telinga sayap, Ular ungu, Burung Dodo Biru dan yang terakhir adalah Axolotl merah muda.


Keempatnya adalah hewan yang bermutasi karena efek energi sihir. Berbeda dengan Roxi dan Akita yang bermutasi karena membunuh monster lalu berevolusi.


Hewan-hewan itu sudah berevolusi semenjak baru dilahirkan, karena induk mereka sebelumnya memang sudah berevolusi lebih dahulu.


Walaupun keempat hewan sihir itu masih begitu muda, namun aku dapat melihat mereka bisa dikembangkan menjadi lebih kuat.


Itu membuatku penasaran akan menjadi sekuat apa mereka.


***

__ADS_1


Siti pergi menuju asrama pelayan untuk mengambil barang-barang yang akan dipindahkan ke toko.


Tidak lama setelah kepergian Siti, Lilian datang bergabung dalam diskusi.


Sebelum percakapan di mulai aku menggunakan keahlian [Area Senyap] yang membuat ruangan selebar lima belas meter di sekitarku menjadi kedap suara.


Tidak ada suara apapun yang keluar dari dalam area skill.


Pembicaraan di awali dengan masalah keamanan kota.


Seperti yang para Hunter takutkan, pihak Militer akhirnya menutup Dungeon untuk umum. Mereka mendirikan blokade di sekitar area penjara bawah tanah.


Tentu saja tindakan itu mendapat protestan keras dari para Hunter maupun warga yang bekerja sebagai pengumpul herbal.


Pertikaian pun terjadi, dan sayangnya itu tidak berakhir dengan baik.


Para tentara tidak segan menembak mereka yang protes dengan peluru tajam. Itu membuat kemarahan warga kota semakin besar.


Anggota inti guild pun dikerahkan, perang tidak bisa terelakkan.


Berbeda dengan para warga dan Hunter independen. Anggota inti guild Legion Teapot selain terlatih dan memiliki level tinggi, mereka juga dibekali peralatan yang aku buat secara khusus.


Keadaan menjadi terbalik, Raya memimpin anggota inti untuk merebut kembali Dungeon. Pertarungan itu berlangsung sangat singkat.


Senjata api yang digunakan para tentara tidak mampu menembus pertahanan anggota guild.


Mereka seperti monster tingkat dua, di mana senjata konvensional tidak mampu memberikan dampak kerusakan.


Pertarungan berakhir tanpa korban jiwa, namun banyak penduduk yang terluka akibat tembakan.


Tidak ada kata maaf dari pemimpin militer. Saat ditanyai tentang masalah ini, Bambang bersikeras jika apa yang dia lakukan adalah usaha untuk melindungi warga dari bahaya monster Dungeon.


Buntut dari pertempuran ini Yuki sebagai Wali Kota berhenti untuk memfasilitasi pihak Militer. Perlu diketahui jika sebelumnya segala kebutuhan para prajurit selama berada di kota Sawi ditanggung wali kota.


“Diberi hati malah meminta jantung.” gumamku setelah mendengar keadaan area Dungeon.


Warga kota yang sudah tidak tahan, akhirnya menginginkan Para tentara untuk meninggalkan kota. Anggota guild Legion Teapot pun siap untuk mengusir mereka jika diperlukan.


Namun Yuki tidak melakukannya karena Militer masih memiliki pengaruh besar di negri ini. Jika dia melakukan itu bisa jadi disebut sebagai pemberontakan.


“Tapi memang apa masalahnya dengan pemberontakan?. Toh negara ini juga sedang diujung tanduk.”


Perkataanku membuat meja makan semakin tegang. Sudah diketahui oleh umum jika keadaan negara begitu kacau karena serangan monster.


Negara ini sangat luas, namun kekuatan militer hanya terpusat di satu tempat saja. Itu menyebabkan area kurang mendapatkan bantuan, bahkan banyak yang ditelantarkan.


Akibatnya nyala api pemberontakan pun mulai membesar.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2