
Pagi harinya Budi terbangun di kamar Yuniar, disampingnya pemilik kamar masih tertidur lelap dengan kondisi sama seperti dirinya, hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya.
Budi memeluk wanita itu yang membuatnya terbangun. “Pagi.” ucap Budi sambil mengecup pipi Yuniar.
Senyum Yuniar merekah karena merasa senang mendapatkan pelukan hangat dan kasih sayang dari pemuda itu.
Pelukan hangat di pagi hari membuat gairah keduanya kembali naik. Mereka pun melakukan beberapa kali di tempat tidur sebagai olahraga untuk pemanasan.
Lalu melanjutkannya di kamar mandi saat mandi bersama. Keduanya saling membersihkan satu sama lain.
Setelah melakukan rutinitas pagi tubuh mereka menjadi begitu segar dan merasa sempurna untuk memulai hari. Yuniar menatap keluar jendela melihat Budi yang hendak menyelinap keluar dari Mansion.
Suara ketukan terdengar dari pintu lalu suara Raya terdengar setelahnya. Mendengar itu Yuniar segera menutup kamarnya.
“Ya ibu datang sayang.” Wanita itu berprilaku begitu normal seolah tidak ada yang terjadi tadi malam.
***
Pesta tadi malam telah membuat warga kota sangat gembira.
Terutama para Hunter yang mendapatkan tanah di dalam tembok kota. mereka senang karena akhirnya tidak perlu takut diusir dari dalam kota.
Walaupun tindakan itu mendapat banyak pertentangan dari kalangan pedagang dan orang kaya, tetapi perkataan mereka tidak didengar pembagian hadiah pun tetap dilakukan.
Yuki yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota walaupun masih belum resmi. Dia bahkan mendapatkan banyak ancaman dari beberapa orang tidak dikenal.
Namun gadis itu mengabaikannya dan tetap menjalankan rencana awal. Hingga ketika acara pembagian hadiah tadi malam tidak ada apa pun yang terjadi, semua ancaman yang Yuki dapat hanyalah omong kosong.
Tidak ada lagi hal yang merepotkan selain kaburnya Jiecie dan penghianatan Ferdinand bersama Ridwan tadi malam.
Orang-orang kaya itu hanya bisa mengigit jari mereka karena tidak bisa menguasai semua lahan yang akan menjadi sangat berharga di masa depan.
Pagi ini kota terlihat begitu damai, para warga mulai bekerja dengan menjadi petani atau ikut membangun tembok.
Raya, Rohid dan para anjing pergi bersama pasukan Hunter, mereka berniat untuk mulai menjelajah. Raya juga telah membagikan kartu keanggotaan guild yang dibuat oleh Budi.
Yuki mengatur kota sebagai Wali Kota sementara, Yuniar bekerja disampingnya sebagai sekertaris. Sedangkan Liliana saat ini sibuk dengan urusan perusahaan yang sedang ia rintis.
Kemudian yang tersisa hanyalah Budi, hari ini dia tidak membuka tokonya, itu membuat beberapa orang kecewa.
__ADS_1
Desas-desus kebangkrutan mulai beredar, namun yang sesungguhnya adalah pemuda itu sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi berperang.
Dia tentu tidak akan lupa dengan ancaman dari pemimpin organisasi Gamprit yang kemarin malam sudah dia buat terkena stroke dengan melecehkan cucunya.
Walaupun serangan yang akan datang bukan seluruhnya tanggung jawabnya, tetapi Budi tidak ingin jika ada orang lain yang terlibat dalam perang.
Bukan karena Budi baik hati karena tidak ingin orang lain terluka. Tetapi ada alasan dibalik semua itu. Yang pertama dia tidak ingin mengandalkan para Hunter yang tugasnya memburu monster bukan berperang.
Kedua Budi ingin dunia melihatnya, dan yang terakhir Budi ingin bersenang-senang.
“Cara apa yang harus aku gunakan untuk melawan Genk The Daki?.”
Budi mencampur beberapa bahan kimia dalam satu botol. Dia sedang membuat bom sihir dengan batu monster.
“Apa perlu aku mengeluarkan Goliath?. Tidak itu terlalu mencolok.”
Budi terus bekerja di area tungku dan laboratorium. Dia menciptakan beberapa senjata yang tidak akan pernah dia jual di tokonya.
Jam sepuluh siang, kabar itu mulai terdengar di telinga warga kota. Dalam sekejap kota Sawi yang damai berubah menjadi penuh ketakutan karena kabar yang baru mereka dengar.
Kabar tentang pergerakan Genk The Daki sudah tersebar di internet, sepertinya yang menyebarkan berita itu adalah Genk the Daki sendiri. Mereka bahkan menyiarkan konvoi pasukan secara live.
Mereka seakan tidak akan kalah jika pergi berperang dengan tentara yang asli.
Keluar dari toko, Budi melihat kota menjadi begitu anarkis. Banyak kekacauan yang terjadi, para warga yang takut dengan nama besar Gamprit dan The Daki mulai berpikir untuk mengungsi.
Terutama para orang kaya yang merasa kota Sawi sudah tidak memiliki harapan.
Sebelumnya mereka meminta pada Yuki untuk menyerah dan membiarkan Genk The Daki menguasai kota, karena itu adalah satu-satunya cara agar mereka bisa selamat sambil terus hidup di dalam kota.
Walaupun kemungkinannya mereka akan dijadikan budak.
Tetapi tentu saja usulan itu tidak digubris oleh Yuki sebagai Wali Kota sementara. Alhasil mereka pun memilih pergi meninggalkan kota.
Tetapi sebelum mereka pergi Yuki mengatakan jika yang kabur saat kota dalam keadaan darurat akan di cap sebagai penghianat dan tidak akan diterima di kota ini lagi, lalu harta seperti rumah dan lahan akan menjadi milik penguasa kota.
Mendapatkan ancaman seperti itu membuat beberapa orang kaya mengurungkan niatnya untuk meninggalkan kota, tetapi masih banyak yang tetap memilih menjadi penghianat asal bisa selamat.
Yuki sudah meminta bantuan dari militer, tetapi waktu hingga mereka sampai ke kota Sawi sekitar dua belas jam. Mereka akan datang langsung dari markas besar TNI di kota Toge.
__ADS_1
Sementara itu diperkirakan Genk The Daki akan sampai di kota Sawi dalam satu setengah jam, yang artinya warga kota harus bisa bertahan selama lebih dari sepuluh jam hingga bantuan tiba.
Bertahan dibalik tembok kota selama itu terasa mustahil karena Genk the Daki telah mengerahkan pasukan penuh dengan persenjataan canggih.
Tembok batu bata yang mengelilingi kota bisa mereka robohkan dengan mudah menggunakan pelontar roket, lalu misil akan menghujani seluruh kota dan merubahnya menjadi lautan api.
Dilihat dari sisi manapun tidak ada cara lain untuk selamat dari serangan Genk The Daki, jadi para pengusaha dan orang kaya berpikir meninggalkan kota adalah pilihan terbaik.
“Apa kita sebaiknya masuk ke dalam Dungeon dan berperang di sana?.”
“Bukankah itu ide yang bagus!.”
“Ya mari kita bergabung dengan kapten Raya dan pasukan Tentara Poci!.”
Beberapa warga bergerak kearah Dungeon bermaksud untuk mencari perlindungan. Budi hanya menatap mereka sambil mengendarai kudanya.
Beberapa orang melihatnya dengan tatapan heran karena seolah tidak ada sedikitpun kepanikan di wajah Budi.
Pemuda itu pergi ke Mansion bersama kudanya untuk berpamitan. Namun di tempat itu sudah banyak warga yang sedang melakukan demo menuntut Yuki untuk mundur dari jabatannya sebagai Wali Kota.
“Mereka pasti demonstran bayaran.” pikir Budi.
Karena begitu ramai sehingga tidak bisa masuk ke Mansion, Budi pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk berpamitan.
Tetapi suara Yuki terdengar meminta agar Budi menunggu. Gadis berdarah blasteran itu keluar dari Mansion bersama Yuniar. Beberapa demonstran senang karena mengira Yuki akhirnya menyerah.
Tetapi....
“Enyah kalian!.”
Intimidasi dari Yuniar membuat semua demonstran dipenuhi ketakutan. Mereka pun membuka jalan untuk Yuki menemui Budi.
“Apa kau akan segera pergi?.” tanya Yuki.
“Ya,” Budi menjawab singkat saat turun dari kudanya.
Pemuda itu kemudian berlutut di depan Yuki lalu mencium punggung tangan gadis itu.
“Aku doakan keberhasilan mu.” ucap Yuki seakan mengantar Kesatria terbaiknya yang akan pergi menuju medan perang.
__ADS_1
Semua orang hanya menatap kejadian itu tanpa mengatakan apapun. Hingga Budi kembali menaiki Pushrank lalu dengan cepat memacu kudanya meninggalkan kota.