
Setiap orang di dalam bar mengalihkan perhatian mereka pada pintu masuk, dimana seorang anak kecil terlihat tengah menatap ponsel yang terus berdering. Topeng di wajah anak itu membuatnya sulit dikenali, sementara baju yang dia kenakan telah menutupi seluruh kulitnya.
“Hey apa mereka di sini, Anggota organisasi Gamprit?.” mengikuti anak bertopeng, dua anggota polisi masuk kedalam bar. Melihat beberapa pengunjung baru membuat Jiecie menjadi waspada, dia segera menyiapkan senjata dibalik lengan baju.
Para polisi menatap dengan intimidasi ke setiap pelanggan. Mereka melihat ke sekeliling melewati Jiecie berada. “Anak kecil yang mana anggota Gamprit, jangan berani membohongi polisi Kau!.” mendengar itu semua orang mengalihkan perhatian dari para polisi ke gadis bertopeng.
“Aku tidak bohong tuan polisi.” suara dari gadis bertopeng itu terdengar begitu imut.
“Lalu yang mana?.”
“Ada empat orang jahat yang kau cari di tempat ini, dan salah satunya tepat berada di sampingmu.”
Jiecie begitu terkejut dengan perkataan anak bertopeng itu. Sementara polisi yang sebelumnya bertanya pun melirik orang disampingnya yang jika diperhatikan dengan seksama memiliki luka cakaran di wajah.
“Apa kau...!”
Belum menyelesaikan kalimatnya, sebuah pedang menembus dada polisi itu. Melihat rekannya di serang polisi yang lain pun hendak mengarahkan senjatanya, namun dari sudut bar sebuah kursi melayang menghantam kepala polisi itu.
Dalam sekejap dia polisi berhasil dilumpuhkan.
Tetapi tidak terhenti sampai di sana, tersisa satu masalah yakni anak bertopeng yang entah bagaimana bisa mengetahui identitas anggota Gamprit yang sedang menyamar. Karena tidak ingin terjadi masalah lain, Jiecie pun memutuskan untuk menghabisi anak itu.
Sebuah belati Jiecie lempar, sebentar lagi anak bertopeng akan mati dengan luka di kepala. Setidaknya itulah yang Jiecie pikirkan, akan tetapi prediksinya meleset.
Jek dengan tenang menggunakan tongkat yang dia bawa di punggungnya untuk menangkis belati. Melihat kejadian itu seketika membuat semua anggota Gamprit sadar jika anak yang mereka lihat bukanlah warga biasa.
***
Di balik topengnya, Jek melirik dua anggota polisi yang ikut bersamanya. Satu tengah sekarat dengan luka di dada yang butuh pertolongan secepatnya, sementara yang satunya hanya kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Empat manusia yang tidak sedikitpun memancarkan intimidasi kuat tidak menjadi masalah untuknya. Jek bisa menyelesaikan tugas dari Budi dengan mudah. Namun apakah dua ingin semua ini cepat berakhir?.
Serangan kembali datang, pria yang sebelumnya menikam anggota polisi kini berlari menuju Jek sambil menghunuskan pedang berlumuran darah.
Jek dapat menghindari sabetan pedang dari pria itu, namun sebuah belati cdari Jiecie segera mengarah tepat pada area tempat Jek menghindar.
Sebuah serangan Tim yang apik, namun Jek tidak terlalu terkesan. Dengan mudah Jek menangkap belati yang datang kearahnya, melihat itu sontak Jiecie sangat terkejut.
Menggunakan belati yang baru dia dapat, Jek melempar kearah anggota Gamprit terjauh yang berusaha melempar bangku. Jeritan kesakitan terdengar ketika hasil lemparan Jek mengena lengan pria bertubuh besar itu.
Satu tumbang, tersisa tiga. Pedang kembali datang, pistol dan belati mengarah padanya. Merasa kerepotan Jek ingin menggunakan sihir, namun dia mengurungkan niatnya karena Budi melarang penggunaan sihir jika bukan dalam kondisi berbahaya.
Alhasil Jek tidak memiliki pilihan lain selain meminta bantuan pada teman-temannya. Empat ekor ayam yang sudah sejak tadi bertengger di atas platform turun untuk membantu Jek, lalu muncul Kepala seekor kucing dari pakaian yang Jek kenakan.
Jek dan empat ayam merasakan peningkatan kekuatan begitu mendengar suara kucing. Kemudian Jek segera melakukan perlawanan balik dengan baka bantuan para ayam.
Awalnya para ayam tidak dipedulikan. Namun melihat serangan mereka begitu buat hingga dapat mencabik armor dan mematahkan pedang dengan paruh, membuat setiap anggota Gamprit mengira ayam-ayam itu adalah monster.
Dengan sebuah bom flashbank, Jiecie berhasil membutakan penglihatan semua orang dalam waktu singkat, mengambil kesempatan itu, Jiecie segera melarikan diri.
Setelah cahaya intens dari flashbank berakhir, Jek hanya melihat jendela rusak yang menjadi tempat Jiecie melarikan diri. Jek tidak langsung mengejar lawannya. Namun dia mendekati anggota polisi yang sekarat laku meminumkan sebotol potions penyembuhan.
Setelah orang di bar yang bukan anggota Gamprit terkejut dengan efek potions penyembuhan yang bisa menutup luka dengan cepat. Kini polisi Itu sudah selamatkan.
Terdengar suara kambing dari luar. Setelah menyembuhkan polisi, Jek pun keluar dari bar lalu langsung menaiki punggung kambing untuk mengejar Liecie.
***
Berlari secepat yang dia biasa, Jiecie melompat dari atas atap ke atas atap menuju tembok. Dia berpikir jika telah berhasil, namu siapa sangka jika anak kecil itu masih mengejarnya dengan menunggangi sekolah kambing.
__ADS_1
“Pertama penjaga toko misterius, kini seorang anak mengendarai Jambi di ata atap. Sial, apa kota ini sebenarnya tempat penampungan orang aneh.”
Beberapa belati Jiecie lempar untu menyerang Jek, namun anak itu berhasil menangkisnya dengan anak panah.Baku tembak pun terjadi, namun kekuatan Jek yang lebih besar membuat Jiecie lebih terpojok.
Pengejaran itu pun akhirnya berakhir ketika tanpa sengaja Jiecie terpeleset ketika melompat ke atap lainnya. Akibat insiden itu Jiecie jatuh kea aspal jalan dengan kerasnya, Jiecie pun tidak bisa menggerakkan seluruh badannya.
“Skakmat.” ucap Jek saat melihat kondisi Jiecie yang sangat menderita
Setelah di tangkapnya Jiecie, organisasi Gamprit pun kini tidak memiliki anggota lainnya di kota Sawi.
Itu membuat teror yang warga khawatirkan sebelumnya menghilang.
***
Pasukan Hunter kini tengah beristirahat. Mereka yang terluka akan mendapatkan perawatan, makan bisa diambil secara gratis di dapur, Sementara mereka bisa memperbaiki senjata pada pandai besi Budi.
Ratusan senjata dengan berbagai tipe menumpuk dipinggir. Dengan kecepatan tinggi Budi memperbaiki pedang. Sementara itu Yuniar juga sibuk memasak.
Mereka berdua terus bekerja tanpa henti.
“Mas Budi, aku minta potions staminanya tiga.” Yuki baru datang setelah melakukan pembersihan area sekitar tempat istirahat bersama Raya dan Rohid. Keduanya terlihat begitu kekekalan.
“Oke,” Budi segera mengambil beberapa botol kecil berisi cairan berwarna kuning keemasan yang terlihat seperti madu, “Ini dua non.” ucap Budi dengan sopan.
Yuki meminum satu botol dan menyerahkan sisanya pada Raya. Melihat itu beberapa Hunter penasaran dengan minuman apa yang baru saja dikonsumsi oleh ketiga orang terkuat di pasukan Hunter.
“Anggap saja itu seperti minuman berenergi.” Budi menjawab saat masih terus fokus dengan pekerjaannya memperbaiki senjata.
“Bisakah kami mendapatkan beberapa?.”
__ADS_1
“Tentu.” Budi membagikan potions stamina pada secara gratis. Para Hunter sangat terkejut setelah meminumnya, seakan kelelahan yang mereka rasakan telah menghilang. Tubuh kembali segar dan penuh dengan tenaga.
Mendengar efek dari potions yang belum pernah mereka coba sebelumnya membuat lebih banyak Hunter tertarik untuk mencobanya.