Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
65. Arc 3 End (Kota Sawi)


__ADS_3

Tombak dan pedang melukai kedua mata Rusa monster, dengan menanggung rasa sakit monster itu berusaha menyerang Raya secara membabi-buta. Namu karena tidak memiliki penglihatan membuat monster itu hanya menyerang udara kosong.


“Sekarang serang!.” setelah melumpuhkan penglihatan Monster Rusa, Raya segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang.


Pertarungannya berjalan cukup keras. Walaupun telah kehilangan penglihatannya , tetapi kenyataannya Bos monster tetaplah monster kuat yang tidak mudah untuk dikatakan.


Kekuatan monster itu hampir membuat sepuluh Hunter tewas dengan satu pukulan. Rusa monster juga bisa menyembuhkan diri jika mulut di perutnya memakan sesuatu.


“Tidak, aaah... tolong!.” seorang Hunter terikat oleh benang laba-laba lalu ditarik menuju mulut monster. Hunter yang lain mencoba menolong, tetapi benang laba-laba begitu kuat jika mencoba memutusnya dengan senjata.


Namun Raya dan yang lainnya sudah tahu kelemahan dari benang laba-laba itu adalah api.


“Bola api!.” Yuniar melempar bola api yang dia buat dengan sihir kearah mulut perut monster Rusa. Api meledak dari dalam tubuh monster itu, membakar bagian dalam tubuhnya.


“Beruntung Monster ini tidak memiliki keahlian untuk mengkopi apapun yang dia makan.” ucap Budi yang menonton dari atas tugu yang ujungnya berbentuk teko teh.


Ketika pasukan garis depan terluka, Roxy menjadi umpan untuk membuat monster Rusa sibuk, beberapa Hunter menemukan jika mereka bisa menggunakan sihir penyembuhan ketik membantu mengobati rekan yang terluka.


“Kekuatan Persatuan!.”


Raya menyerang dengan kekuatan terbaiknya yang dapat meningkatkan daya rusak sesuai dengan jumlah pasukan yang dia milik. Serangan Raya tentu sangat berusaha hingga tusukan pedangnya menembus jantung Monster Rusa.


Namun monster itu masih belum tumbang, baru setelah Liliana dan Yuki melakukan kerjasama yang cukup epik, lalu serangan dari Roxy dan Akita akhirnya sebagai penutup.


Grouurngooh! Tangisan Monster Rusa disaat kematiannya seperti hewan yang baru saja tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan. Sangat menyedihkan.


[Selamat untuk pasukan dari Kota Sawi yang telah berhasil mengambil alih Dungeon]


Pengumuman dari sistem terdengar di kepala setiap anggota yang ikut bertempur. Semua orang seketika dipenuhi oleh kebahagian setelah akhir berhasil Pertarungan ini dengan kemenangan yang begitu gemilang.


“Terimakasih semuanya, berkat kerjasama kalian semua kita akhirnya bisa menaklukkan sumber bencana di kota kita!.” ucap Raya, mendengar itu semua Hunter menangis karena begitu bahagia.


“Beri sorakan tiga kali untuk kita semua!.”


“Hip hip!.”


““““HORE!””””


“Hip hip!.”


““““HORE!””””


“Hip hip!.”


““““HORE!””””


Kegaduhan yang ditimbulkan oleh pasukan Hunter membuat banyak monster yang masih tersisa di sekitar area pemukiman mulai berdatangan. Namun itu bukanlah masalah karena Budi segera mengurus mereka.


Setelah penjara bawah tanah berhasil di rebut dari bos monster. Pemilik yang baru berhak untuk menamai penjara bawah tanah. Itu diperlukan karena sistem sendiri yang meminta nama itu.

__ADS_1


Tidak ada efek apapun dari memberikan nama pada Dungeon, karena Budi sendiri telah dua kali melakukannya.


“Mungkin itu hanya sebagai penanda jika Dungeon bernama berati sudah ditaklukkan.”


Untuk menamai Dungeon, Raya melakukan musyawarah dengan seluruh Hunter yang ikut bertarung. Mereka sedang beristirahat di depan pintu masuk penjara bawah tanah.


Sementara itu Budi mulia menyalakan lampu sihir karena malam ini semua orang akan tinggal di area pemukiman Monster. Para Hunter terlalu lemah untuk kembali ke kota.


[Dungeon Poci telah terdaftar]


Suara itu kembali terdengar di kepala semua orang. Setelah melakukan perundingan, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan nama Poci sebagai nama Dungeon.


Nama Poci sendiri diambil dari nama teko air berukuran kecil yang menjadi ikon dari kota Sawi. Bahkan ditengah kota ini pun terdapat tugu Poci yang sering disalahartikan sebagai lampu jin.


Dengan penamaan itu tentu tidak ada seorangpun yang mempermasalahkannya karena memang cocok dan sangat menggambarkan kita Sawi.


Malam itu terasa begitu tenang, entah karena semua orang kelelahan atau karena hantu gentayangan yang terus meneror.


Walaupun lampu sihir yang bersinar di sekitar area pintu masuk Dungeon, membuat semua orang aman dari gangguan makhluk halus. Tetapi tetap saja ditatap oleh Kuntilanak dan kawan-kawannya yang sedang mengintai, pasti akan membuat siapapun merasa takut.


Semua orang tertidur begitu lelap bagaikan tumpukan mayat yang tergeletak tidak beraturan. Mereka terkena efek obat penenang yang Budi bakar di perapian sehingga aromanya tersebar, siapapun yang mencium asap itu akan terasa rileks hingga akhirnya tertidur pulas.


Hanya Budi yang masih sadar. Dia tidak akan tidur malam ini karena harus berjaga, takut jika nanti tiba-tiba monster atau manusia datang dengan maksud buruk.


“Yeah walaupun aku juga sudah membersihkan area sekitar dengan seksama.”


Malam terasa begitu panjang untuk Budi, tatapannya melihat langit yang begitu cerah dipenuhi oleh bintang. Saat ini mereka berada di tengah lapangan yang begitu luas sehingga semua Hunter tidur di bawah sinar rembulan.


“Setelah ini apa?.” Budi bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang akan dia lakukan setelah membantu Kota Sawi menaklukkan penjara bawah tanah.


Pada awalnya dia datang ke kota ini hanya untuk mengantar Roxy dan Akita kembali pada majikan mereka.


Walaupun terasa sangat berat harus melepas dua sahabat yang begitu berarti baginya, tetapi Budi tidak mungkin memaksa keduanya untuk terus bersamanya.


Tugasnya sudah selesai di kota Sawi. Tetapi Budi merasa cukup nyaman tinggal di kota, dia dapat mempelajari banyak hal, hidup ditengah komunitas yang membutuhkan bantuannya.


“Mungkin ini memang akan baik-baik saja jika aku mulai memikirkan rencana tinggal di kota.” Budi berpikir untuk membawa Jek dan Tohir untuk pindah dari desa ke kota.


Walaupun dia berpikir itu akan menjadi hal yang sulit karena desa mereka sudah begitu betah di desa.


“Tetapi...” untuk memastikan Budi akan langsung bertanya pada keduanya lewat Naonapps grup keluarga.


[Budi: Yo Jek, gimana keadaan kota?]


[Jek: Membosankan, aku sudah menangkap semu orang yang kak Budi minta]


[Budi: Kerja bagus jek]


[Tohir: Kalian para bocah belum tidur!]

__ADS_1


[Jek: Aku sedang ada di rumah kak Budi bersiap untuk tidur]


[Budi: sementara aku harus berjaga sepanjang malam untuk menjadi orang-orang ini]


Budi Kemudian mulai menanyakan pendapat Jek tentang kota Sawi yang dihuni oleh manusia. Mendapat pertanyaan itu, Jek menjawab dengan begitu sederhana.


“Sangat tidak nyaman.” gumam Jek yang menatap jendela di gedung toko Asongan.


Yang dia lihat adalah kota gelap yang begitu sepi. Beberapa orang terlihat berjalan terburu-buru seperti takut akan sesuatu.


“Para manusia membenci monster, mereka pasti akan langsung berusaha untuk membunuhku jika tahu aku adalah seekor goblin.” imbuh Jek memberikan alasannya kenapa merasa tidak nyaman hidup ditengah kota yang dipenuhi oleh manusia.


Melihat balasan dari Jek, seketika Budi sadar jika ada masalah seperti itu. Manusia akan selalu menganggap monster sebagai musuh.


Karena itu walaupun akun Goblin Factory yang dia buat bersama Jek telah membantu banyak orang di dunia, tetapi masih saja banyak orang yang membenci mereka karena Jek yang menjadi model adalah seorang goblin.


[Budi: Lalu bagaimana denganmu pria tua, apa kau ingin setidaknya sekali melihat kota manusia di dunia ini?.]


[Tohir: Aku sudah melihatnya di televisi]


[Budi: Ah... Tapi mungkin kau tidak bisa merasakan minum enak dari televisi]


[Tohir: Itu patut diperhitungkan]


Percakapan ketiganya lewat grup Naonapps pun berakhir. Setelah melihat reaksi yang diberikan oleh Jek dan Tohir membuat pemuda itu cukup pesimis dapat membujuk mereka untuk tinggal di kota.


“Aku merasa seperti anak rantau yang khawatir dengan keadaan orang tua di kampung.”


Budi terus melakukan tugas penjagaan dengan baik. Beberapa jam berlalu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun ketika jam menunjukkan lewat tendangan malam, mata Budi mulai terasa berat.


Pemuda itu terus menatap api unggun sambil sesekali kepalanya mengangguk kecil tidak kuat menahan kantuk.


Lalu tiba-tiba tanpa dia tahu akan itu datang, Budi sadar disampingnya duduk seorang wanita yang cukup aneh jika dilihat dari tampilannya.


“Kau suka ikan bakar?.” tanya wanita dengan kebaya hijau itu. Budi hanya bisa mengangguk kecil sebagai menjawab. Pemuda itu begitu bingung dan cemas.


Seseorang yang mampu menghindar dari kemampuan deteksi yang dia miliki telah muncul dan orang itu saat ini duduk disampingnya menatap api unggun.


‘Aku merasa tidak asing dengan wanita ini.’ Budi mencoba menggali ingatannya, namun dua tidak bisa mengingatnya.


“Jangan khawatir aku hanya ingin menyapa. Jika kau ingat sebelumnya kita sudah bertemu saat kau bertarung dengan Assassin Spider.”


Mendengar itu Budi langsung teringat dengan penglihatan wanita cantik dan wanita tua yang dia anggap hanya sebuah halusinasi.


“Jadi siapa anda?” walaupun banyak yang ingin Budi tanyakan, tetapi mengetahui identitas dari lawan bicaranya adalah yang paling utama.


Wanita cantik bermahkota itu hanya tersenyum, lalu dari bibirnya keluar sebagai nama.


“Khadita.”

__ADS_1


Arc 3 End (Kota Sawi)


__ADS_2