Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
25. Ladang dan Sinyal Radio


__ADS_3

Setelah memotong rumput liar menggunakan sabit besar, aku mulai menggali tanah untuk dijadikan ladang. Tohir yang selesai memperbaiki senjata juga ikut membantu, Sementara Jek mempersiapkan benih yang akan ditanam dan pengairan.


Kami bekerja sama membangun ladang hingga matahari terbit. Aku membuka pekerjaan [Farmer] dan mendapatkan beberapa skill tambahan yang berkaitan dengan penggalian dan penanaman.


Namun karena masalah pengairan yang masih menggunakan cara menyiram secara manual menggunakan air sumur, kami pun terpaksa hanya menanam setengah hektar dari semua lahan yang kami miliki.


“Mungkin aku harus secepatnya memasang panel surya.”


Selama pembuatan lahan aku terpaksa mengupgrade Skill (Job Setting) menggunakan Statistik poin (Sp) dikarenakan aku membutuhkan lebih banyak tenaga.


Setelah job Setting di upgrade kini aku memiliki 4 job yang bisa aku gunakan secara bersamaan. Kemudian job keempat yang baku gunakan saat ini adalah (petani)


___________________________________________


[Farmer]


Rank : Common


Keterangan: pekerjaan seorang petani yang mengolah lahan. Meningkatkan Stamina (Sedang), produktivitas pekerja.


Statistik Job:


Stamina: ★★


Skill Job: (Cultivation)


___________________________________________


Mungkin job keempat akan aku rubah sesuai kondisi, seperti saat bertarung dengan monster aku akan mengganti job petani menjadi pencuri karena berguna untuk menambah kecepatan gerak.


Semenjak memiliki empat job membuatku semakin menggila. Tohir dan Jek hanya bisa menatapku dengan aneh saat mencangkul tanah selama berjam-jam dengan kecepatan tinggi tanpa menunjukkan kelelahan sedikitpun.


Alhasil membangun ladang lima hektar sebelum matahari terbit pun bisa aku selesaikan dengan sempurna.


“Ahahaha.... mungkin aku juga bisa mendirikan seribu candi dalam satu malam.” aku mulai sombong.


{Sepertinya bantuan ku tidak dibutuhkan di sini}


Kara Tohir.


{Manusia sangat mengerikan}


Jek menjadi lelah hanya dengan melihatku bekerja.


Melihat aku bisa bekerja keras dengan cepat, Tohir mengatakan keinginannya untuk memiliki rumah sendiri yang bisa dia gunakan untuk menempa tanpa perlu khawatir mengangguk waktu tidur ku dan Jek.


{Aku akan mengajarimu dasar dari keahlian penempa jika berhasil membangunkannya dalam satu malam}


Aku hanya memasang wajah datar ketika membaca subtitle dari terjemahan perkataan Tohir. Membangun sebuah ladang adalah satu hal, aku hanya perlu menggali tanah dan semuanya selesai.


Sementara membangun rumah?. Benar itu adalah sesuatu yang sangat merepotkan jika harus dilakukan seorang diri, Terlebih lagi aku tidak memiliki keahlian apa pun dalam bidang konstruksi.


Tetapi tetap saja, aku tidak akan takut untuk mencoba.


“Aku tidak akan keberatan membantu membuatkan mu sebuah rumah. Tetapi masalahnya...”


Aku melihat sekeliling, Tohir pun mengikuti dengan kebingungan.

__ADS_1


{Apa yang salah?}


Dwarf ini semakin mudah memahami bahasa yang aku gunakan setelah tinggal cukup lama denganku.


“Kita tidak bisa membangun rumah di tanah milik orang lain bukan?.”


Itu adalah masal utama. Aku berani membangun ladang di tabah yang bukan milikku karena bisa memperbaiki tanah itu jika suatu saat pemilik lahan meminta lahannya dikembalikan. Mengerjakan itu akan sangat mudah.


Namun lain halnya jika itu adalah rumah. Apa yang akan kau lakukan jika rumah yang kau bangun dengan susah payah tiba-tiba diminta untuk dihancurkan karena berdiri di tangan miliki orang lain.


“Itu akan menjadi rasa sakit di p4nta7.”


Tohir terdiam seakan mengerti masalah seperti ini. Dia juga pastinya sadar jika ada kemungkinan orang-orang penghuni kompleks perumahan yang masih selamat, dan ada juga kemungkinan mereka akan kembali ke tempat ini suatu saat nanti.


‘Sepertinya memang mustahil membuat rumah untuk Tohir dalam waktu dekat.’ pikirku dengan naif. Hingga perkataan Tohir selanjutnya membuat otakku berputar.


{Lalu bagaimana jika kau membuat rumah untuk ku di dalam tanah?}


“Hah?.”


Dalam otakku mulai memikirkan banyak hal tentang ide dari Tohir. ‘Mungkin itu bisa dilakukan’.


Pagi datang, para hewan mulai berisik, Jek yang selesai menabur benih segera membuka kandang. Semua hewan keluar dari basemen rumah tetangga dengan suasana hati penuh kebahagiaan, hingga mereka melihat taman bermain mereka sudah berubah menjadi sebuah ladang.


Akibatnya mereka pun protes padaku yang dengan seenaknya merusak padang rumput liar untuk dijadikan lahan pertanian. “Humanisasi memang sebuah racun untuk dunia.” aku pun berakhir terkapar di tanah karena dikeroyok oleh para bintang.


Jek kemudian memberitahu jika sarapan pagi akan segera siap, aku pun segera mandi di sumur bersama Roxy dan Akita. Laku kami berkumpul di meja makan.


‘Pagi yang sangat menenangkan’


Walaupun aku telah bekerja keras selama berjam-jam sebelumnya, namun tubuhku masih begitu segar. Kelelahan yang aku alami pulih dengan cepat.


Berpikir positif tentang apa yang mungkin terjadi jika kemanusiaan yang kumiliki perlahan pudar. Aku pun akhirnya menarik kesimpulan bahwa lebih baik mengikuti alur yang ada daripada sibuk memikirkan sesuatu tidak penting.


***


Meong!


Suara kucing terdengar di atap. Saat aku melihatnya ternyata Oyen sedang berdiri di tepian atap menatapku.


“Oyen, kau ingin ikut?.”


Kucing itu mengeong lalu segera melompat ke bawah, aku bersiap untuk menangkapnya namun Oyen justru mendarat di wajahku.


“Offfuh.” aku mengalami sesak nafas karena perut Oyen menutupi wajahku. Kucing itu pun segera membuka tas ransel yang merupakan tempat favoritnya.


“Oke, mari kita mulai patroli hari ini.”


Semua binatang bersorak, mereka terlihat senang saat bersamaku pergi jalan jalan. Apa mereka tidak sabar untuk melawan monster dan bertambah kuat?


Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka terus menaikkan level dan bertambah kuat.


'Sepertinya tidak masalah selama jika mereka menjadi lebih kuat, selama mereka masih jinak. Tidak mungkin bukan mereka tiba memulai pemberontakan.'


Karena kali ini aku bersama para binatang peliharaan, aku pun mengganti job ke empat menjadi [Tamer] karena job tersebut memiliki efek positif pada anggota hewan peliharaan.


___________________________________________

__ADS_1


[Tamer]


Rank: Rare


Keterangan: Penjinak adalah seorang yang bertarung bersama hewan dan monster. Mudah disukai oleh hewan dan monster, serta meningkatkan kecerdasan (Sedang) dan Kemahiran (Kecil).


Statistik Job:


Kecerdasan: ★★


Kemahiran: ★


Skill Job: (Wild Blessings)


___________________________________________


Setelah persiapan selesai selesai, kami segera pergi menuju Minimarket karena permintaan Roxy dan Akita.


Selama perjalanan seperti biasa monster masih terus berdatangan, sepertinya Dungeon tidak henti-hentinya mengeluarkan monster. “Aku ingin tahu seberapa banyak monster yang bisa Dungeon keluarkan setiap harinya.”


Area sekitar perumahan terus di bersihkan dari para monster setiap harinya. Tetapi berbeda di wilayah lain, sepertinya monster di sisi lain hutan sudah begitu banyak karena terus bertambah.


Itu membuatku khawatir jika seandainya monster sebanyak itu tiba-tiba menyerang rumahku. “Aku harus memikirkan cara untuk menangani mereka.”, Perjalanan menuju Minimarket tidak sedikit saat pertama kali aku melakukannya.


Setelah bos lapangan (Laba-laba pembunuh) dikalahkan seperti tempat sekitar mini market menjadi lebih aman. Aku tidak menemukan monster satupun di area ini


“Mungkinkah ini Save Zone?.”


Area aman adalah sistem dalam game yang memungkinkan player tidak mendapatkan serangan dari monster selama berada di dalamnya.


Begitu sampai di mini market, aku turun dari punggung Pushrank. Tatapanku tertuju pada puncak menara sutet yang masih dihiasi oleh jaring laba-laba. Kemudian aku mengeluarkan sebuah cincin yang merupakan item sihir.


___________________________________________


[Feather Ring]


Class: Middle


Keterangan: Cincin yang dapat membuat penggunanya menjadi lebih ringan seperti bulu.(konsumsi energi sihir 10/detik)


___________________________________________


Sebuah cincin yang aku dapat dari kotak perunggu. Saat pertarungan pagi tadi aku sangat terbantu oleh kekuatan cincin ini, karena membuatku bisa mempercepat gerakan dikarenakan bobot tubuh yang berkurang.


Berkat bobot tubuh yang ruangan aku pun bisa melompat begitu tinggi hingga mencapai setengah dari ketinggian menara setinggi tiga ratus meter itu.


Setelah mencapai puncak aku pun kembali menyalakan radio dan mulai berharap jika kali ini ada suara lain selain gelombang statis.


Aku hampir menyerah saat radio itu tidak memberikan apapun selain suara yang berisik dan mengganggu. Bahkan suara itu sampai membuat Oyen keluar dari ransel karena kesal oleh suara radio.


Kucing belang terlihat marah lalu mencakar benda Antik itu.


“Whaha... apa yang kau lakukan!.” aku sangat terkejut dengan tindakan Oyen, karena benda ini adalah satu-satunya alat yang bisa aku gunakan untuk mengetahui apakah ada orang yang selamat atau tidak.


Oyen segera masuk kembali kedalam tas sebelum aku memarahinya. Alhasil aku hanya bisa menatap sedih radio dengan tanda cakaran itu hingga tiba-tiba.


{...... Yang masih bertahan di wilayah Jawa tengah dan sekitarnya.... Kami berada di... Pengungsian militer.....}

__ADS_1


Sebuah keajaiban terjadi...


__ADS_2