
Hari ini adalah hari yang ditentukan untuk melakukan pembersihan area sekitar Dungeon. Ratusan Hunter yang menjadi sukarelawan telah bersiap di depan Mansion untuk melakukan pawai penaklukan.
Raya berdiri di atas atap kereta kuda yang membawa perbekalan dan peralatan. Gadis berambut merah dengan poni panjang yang menjuntai menutupi sebelah matanya itu menatap para sukarelawan yang berbaris rapi di depannya.
Pertama Raya mengucapkan rasa terimakasihnya karena para sukarelawan bersedia untuk hadir dalam penyerbuan ini. Kemudian dia mulai mengatakan pidatonya yang membakar semangat.
Banyak Hunter yang terpicu adrenalin nya setelah mendengar orasi Raya mereka merasa menjadi lebih percaya diri.
“Keahlian dari pekerjaan Komandan memang sangat efektif untuk meningkatkan moral pasukan.” ucap Budi yang juga ikut bersemangat setelah mendengar pidato dari Raya.
Setelah pidato selesai, mereka pun mulai berangkat. Tali kekang Pushrank ditarik kereta pun mulai berjalan, Budi saat ini menjadi kusir yang membawa karet perbekalan.
Sepanjang jalan menuju keluar kota dipenuhi warga yang memberikan semangat. Semua Hunter merasa senang mendapat dukungan dari para warga kota, mereka merasa seperti prajurit yang akan pergi ke medan perang.
“Bagaimana dengan keamanan kota. Kita tidak bisa meninggalkan kota kosong begitu saja tanpa penjagaan bukan?.”
Kepala kepolisian Ridwan juga ikut dalam pawai. Dia mengutarakan kekhawatirannya pada kondisi pertahanan kota yang renggang karena sebagian besar Hunter ikut dalam pawai pembersihan monster.
“Tuan Ridwan tidak perlu khawatir,” balas Yuki.
“Kenapa?.”
“Ya karena para polisi saat ini sedang menjaga kota bukan? Apa anda tidak percaya dengan kemampuan bawahan Anda sendiri?.”
“Eh! Ten... tentu saja aku percaya pada mereka. Anggota kepolisian adalah pasukan terbaik di kota Sawi, tidak perlu khawatir dengan keamanan kota selama kami masih ada kami.”
Ridwan mengatakan semuanya dengan dada membusung ke depan, terlihat begitu sombong walaupun sebelumnya dia sendiri tidak yakin dengan kekuatan anak buahnya bisa menjaga keamanan seluruh kota.
Lagi pula pada faktanya Yuki sendiri mengatakan jika dia percaya pada kemampuan para anak buah Ridwan adalah sebuah kebohongan belaka.
Dia tidak mungkin membiarkan keamanan dikendalikan oleh orang-orang yang selalu terlihat bermalas-malasan tanpa terlihat pernah berburu monster.
Awalnya Yuki sendiri hanya ingin mengajak puluhan Hunter dalam ekspedisi ini. Namun setelah Budi menjamin jika tidak akan ada masalah yang terjadi di kota ketika mereka pergi keluar, Yuki pun percaya pada perkataan pemuda itu lalu membawa Hunter sebanyak yang bisa dia dapatkan.
Yuki yang penasaran kenapa Budi begitu yakin jika tidak akan ada serangan yang dating ketika para Hunter meninggalkan kota, akhirnya bertanya pada pemuda itu.
__ADS_1
“Di atas atap gedung arah jam tujuh, kau akan melihatnya.”
Mengikuti arahan dari Budi, Yuki melihat beberapa sosok yang menatap rombongan mereka dari atas gedung.
Sosok itu bertubuh kecil mengenakan Hoodie dan topeng, di punggungnya sebuah panah dan tongkat tergantung, menunggangi kambing dan seekor kucing duduk di kepalanya. Kemudian empat ekor ayam bertengger di pinggir tembok pembatas gedung.
Yuki tidak tahu siapa kelompok aneh itu. Tetapi karena Budi percaya pada mereka, membuat Yuki merasa yakin jika mereka bisa diandalkan. 'Menyerahkan pertahanan kota pada para hewan ternak dan seseorang yang terlihat seperti anak-anak. Ini pasti hal tergila yang aku lakukan di bulan ini.' pikir Yuki.
Rombongan pun akhirnya keluar dari tembok, meninggalkan kota menuju Dungeon berada.
Jarak antara Mansion yang menjadi pusat kota Sawi dan Dungeon adalah satu setengah kilometer.
Seratus meter pertama dilalui pasukan pawai dengan mudah karena wilayah itu sudah dibersihkan oleh para Hunter sebagai kegiatan berburu harian.
Namun keadaan mulai sulit saat mencapai jarak dua ratu meter perjalanan. Monster mulai berdatangan, mereka kuat sehingga banyak Hunter yang belum pernah masuk ke bagian dalam mulai kerepotan.
“Pasukan A mulai penarikan, pasukan C segera ambil posisi garda depan, pasukan B persiapkan serangan!.”
Bagaikan pasukan terlatih, ratusan Hunter bergerak dengan tertib mengikuti arahan Raya. Kekuatan pekerjaan [Commander] membuat Raya bisa menggerakkan setiap orang yang menganggapnya sebagai pemimpin sesuai keringnya.
“Raya seperti seorang komandan perang, sangat dingin dan keren!.”
“Yuki memenggal kepala Belalang Sembah dengan begitu mudah, sangat kuat!.”
“Apa-apaan dengan kelompok mereka. Seakan aku sedang melihat pertarungan pasukan Veteran.”
“Mereka dari kota Sawi bukan? Tidak aku sangka kota kecil itu memiliki para Hunter yang begitu berpengalaman.”
Komentar pujian dan dukungan mengalir di live chat. Ini akan menjadi sarana pengiklanan yang bagus untuk kota dan guild yang akan Raya dirikan.
Tetapi penyerbuan ini tidak akan selalu berjalan dengan lancar. Seperti duri dalam daging, akan ada saja kelompok yang membuat rencana jahat saat pertarungan sedang berlangsung.
“Hem...” Budi merasa tanda bahaya mulai mendekat. “Sangat banyak, bagaimana mereka bisa menarik monster sebanyak itu?.” Budi bergumam sendiri sambil memejamkan matanya.
Raya yang melihat keanehan pada Budi pun bertanya. Namun gadis itu segera mendengus kesal setelah Budi mengatakan apa yang dia lihat melalui kenapa (Hero sense).
__ADS_1
Tatapan Raya melihat pasukan Hunter yang sudah kelelahan. Jika kawanan monster datang dalam jumlah besar sekarang mungkin akan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
“Padahal aku berniat untuk mengistirahatkan mereka sebentar lagi.” Raya mencengkram tombaknya dengan erat. Dia merasa kesal pada orang-orang yang ingin menggagalkan usaha mereka membuka jalan ke Dungeon.
“Tidak perlu khawatir!.”
“Eh?!.”
Raya sangat terkejut saat tiba-tiba Budi turun dari kereta. Budi membawa sebuah busur lalu mengarahkannya ke langit. Semua orang yang melihatnya kebingungan dengan apa yang Budi bidik.
“Aku hanya perlu membuat mereka pincang agar bencana tidak mendatangi mereka.” anak panah dilepaskan menuju timur dan barat.
Dua ratus meter arah timur dari tempat rombongan pembersihan berada. Seorang berpenampilan seperti Hunter pada umumnya dengan peralatan armor ringan dan pedang pendek, saat ini dia tengah dikejar-kejar oleh ratusan monster.
Pria itu sengaja menjadikan dirinya sebagai umpan untuk menarik perhatian monster-monster. Tujuannya adalah agar dia dapat menggiring monster ke area yang dia inginkan.
Jika di dalam game tindakan seperti itu disebut sebagai ‘Kereta monster’. sebuah tindakan penyerangan tidak langsung menggunakan monster liar.
“Tersisa seratus meter, aku akan sampai lebih dulu.” ucap pria yang membawa monster fi belakangnya. Dia berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Senyum lebar tergores diwajahnya ketika dia membayangkan monster yang dia bawa mengacaukan pasukan Hunter yang saat ini sedang kelelahan.
“Setelah para Hunter itu mati, tidak ada halangan untuk kami menguasai kota Sawi.” Hunter Itu tertawa terbahak-bahak hingga ingatannya mengingat seorang yang menurutnya cukup meresahkan.
“Aku harap penjaga toko itu juga ikut mati. Tetapi mengingat dia memiliki kuda, mungkin dua bisa kabur.” pria itu ngengat kejadian malam sebelumnya dimana seorang penjaga toko berhasil membodohi dirinya dan tiga temannya.
“Tetapi, Ahihihihi...” dua tidak bisa menahan tawa gila saat memikirkan apa yang bisa dia lakukan pada penjaga toko itu jika berhasil selamat dari sergapan monster.
“Aku akan membuat kematiannya lebih menyakitkan daripada dimakan monster.”
Dia begitu senang, sangat yakin rencana yang sudah berulang kali dilakukan tidak mungkin bisa digagahi. Tetapi kesenangan dan senyum itu tiba-tiba menghilang ketika tiba-tiba dari atas langit sebuah anak panah dengan mulus menembus lututnya.
“Siaaaaaal.” Jeritan kesakitan dari pria itu bocor ketika kakinya terluka oleh anak panah.
Dalam sekejap wajah pria itu dipenuhi oleh ketakutan, manakala monster di belakangnya berlari kearahnya.
__ADS_1
“Tidaaaak!.” jeritan lainnya terdengar.