Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
85. Persyaratan


__ADS_3

Budi menatap Fikri setelah mendengar perkataan prajurit itu. Bibirnya agak maju dengan tatapan tidak yakin, seakan dia tidak tahu akan mengatakan apa.


Melihat ekspresi yang Budi buat , Fikri yakin jika menang ada sesuatu yang disembunyikan di balik tembok.


“Tidak ada warga kota yang akan datang kemari, karena itulah tidak perlu adanya penjaga gerbang.”


Jawaban Budi membuat Fikri memasang wajah tidak percaya.


Fikri kembali bertanya, “Bagaimana kalian begitu yakin?.” dia merasa geram melihat Budi yang dia anggap mulai melantur.


‘Bagaimana mungkin sebuah tempat terlarang tidak ada penjaganya. Apa dia pikir aku adalah orang bodoh hingga ia ingin membodohi aku dengan cara terbodoh?.’


Fikri terus berpikir dengan kebodohannya. Namun seorang yang bodoh jarang sadar akan kebodohannya, sehingga ia berpikir jika dirinya bukanlah orang bodoh.


“Yang aku ketahui warga kota Sawi sangat patuh dengan peraturan, mereka juga tidak akan melanggar larangan dari wali kota. Karena itulah tidak ada penjaga gerbang karena memang tidak akan ada penyusup yang datang kenari.”


Senyum Fikri perlahan luntur saat mendengar perkataan Budi.


“Ya kecuali jika penyusup berasal dari luar kota. Tetapi kemungkinan itu cukup kecil bukan?.”


Budi sedang menyindir anggota militer yang berasal dari luar kota Sawi. Mereka telah melanggar peraturan Wali kota dengan mendatangi area pembangunan.


Namun dengan wajah tebalnya, Fikri merasa itu bukanlah sebuah kesalahan.


Walaupun wali kota adalah seorang penguasa daerah, tetapi mereka tidak bisa menghalangi para tentara untuk memastikan keamanan negara.


Karena pemikiran itulah Fikri tidak merasa adanya pelanggaran apapun, tentara bisa dengan bebas pergi kemanapun dengan dalih melakukan inspeksi.


“Kau mengerti apa yang aku katakan?.” ucap Fikri setelah berusaha menjelaskan posisi para tentara yang superior.


“Tidak juga.” Budi menjawab dengan singkat.


Wajah Fikri langsung memerah karena jawaban Budi. Dia berniat masuk kedalam area pembangunan dengan alasan inspeksi, namun Budi menghalanginya karena tidak ada izin.


“Sangat mencurigakan, kalian pasti melakukan sesuatu yang ilegal di dalam sana bukan?.” Fikri kembali menekan.


“Anda berbicara sembarangan tanpa ada bukti, bahkan mungkin anda sendiri tidak tahu hal apa yang terjadi di dalam. Anda hanya termakan oleh rasa penasaran dan egoisme.”


Budi tidak akan mundur, dia tidak mungkin memberikan izin mereka masuk dalam melihat apa yang sedang ia bangun.


“Kau berani mengatakan itu pada prajurit sepertiku yang mempertaruhkan nyawa untuk melindungi B0k0ng mu dari para monster.”


Tidak ingin kalah dalam perdebatan, akhirnya Fikri mengeluarkan jurus pamungkas yakni jabatan dan seratus.


“Aku sangat menghormati anda sekalian para prajurit yang gagah berani. Namun sangat disayangkan, peraturan tetaplah peraturan, mohon kembali lagi jika sudah mendapatkan izin dari Wali Kota Yuki.”


Budi berbicara dengan nada sopan dan halus, namun itu justru semakin melukai perasaan Fikri yang permintaannya berulangkali ditolak oleh pemuda di depannya.


“Jika tidak ada yang lainnya, mohon agar kalian segera meninggalkan area ini, karena area ini terlarang.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Budi segera berbalik untuk kembali ke sisi lain tembok.


Mendengar dirinya diusir membuat Fikri merasa sangat terhina, sebagai seorang prajurit berpangkat dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu sebelumnya.


Fikri hendak memberikan pelajaran pada pemuda yang membuatnya tersinggung. Namun Lidia menghentikan pria itu dan mengatakan jika tempat itu memiliki kamera pengawas.


Pada akhirnya mereka pun tidak memiliki pilihan lain selain kembali ke Kota. Pemimpin pasukan merasa kecewa pada Fikri yang tidak berhasil mendapatkan informasi apa pun mengenai area itu.


Namun Fikri berjanji akan terus berusaha mencari tahu apa yang sedang mereka bangun hingga dampak getaran terasa hingga kota.


“Kota ini sangat aneh.” kata Bambang yang merupakan pemimpin dari pasukan tentara. “Kota ini terlihat begitu damai, berbeda dengan kota lainnya yang sangat ricuh karena orang-orang saling berebut kekuasaan.”


Dia dalam sebuah hotel, pria berusia empat puluh tahun itu menatap melalui jendela, Mansion Yuki yang masih digunakan sebagai kantor walikota sementara.


“Namun di tempat ini seakan semua orang sudah sepakat jika gadis kecil itu yang akan duduk di kursi tertinggi.”


Bambang memijat dagunya, seakan sedang memikirkan sesuatu.


Awalnya Bambang berniat untuk segera pergi dari kota Sawi setelah tahu kota itu berhasil bertahan dari serangan Genk the Daki.


Namun setelah melihat keadaan kota yang begitu tenang, dia pun merasa nyaman dan ingin lebih lama tinggal di kota Sawi.


“Aku ingin tahu apa yang membuat tempat ini menjadi begitu damai.”


Bambang kemudian menanyakan keberadaan manusia kadal yang sudah berhasil mengalahkan Genk The Daki seorang diri.


Namun sampai sekarang agen yang dia perintahkan belum mendapatkan informasi apapun. Informasi yang mereka miliki hanyalah berasal dari Wali Kota Yuki.


“Dia berbaur dengan manusia katanya.”


Tatapan Bambang beralih dari Mansion ke jalanan yang begitu ramai.


“Selama ada kadal itu, sepertinya kota ini akan menjadi sangat aman. Akan sulit jika seseorang ingin mencoba merebut tahta walikota.”


Bambang terus berpikir, banyak hal ada di benaknya. Entah apa yang dia pikirkan hingga membuat dagingnya yang dipijat mulai terasa sakit.


***


Budi kembali bekerja melanjutkan pembangunan. Namun untuk keduakalinya dia kembali di ganggu oleh suara klakson


Tetapi kali ini yang datang adalah Liliana.


“Ada apa kau kemari?.”


Budi menemui Liliana di depan gerbang.


“Apa sesuatu terjadi pada toko?.”


“Tidak semuanya lancar.”

__ADS_1


Liliana keluar dari mobilnya.


Perusahaan Ceplik yang Liliana bangun memiliki kerja sama dengan toko Asongan milik Budi.


Toko Asongan sebagai penyedia barang, sedangkan Perusahaan Ceplik sebagai pihak penasaran. Itu adalah bisnis yang sangat menguntungkan bagi keduanya.


Permintaan akan senjata dan potions terus berdatangan, namun karena persediaan terbatas menjadikan item yang Budi buat berharga sangat mahal.


“Aku datang karena ingin melihat kau bekerja.”


“Untuk apa? Memangnya kau tidak memiliki pekerjaan? Jika memiliki waktu luang sebaiknya kau pergi berburu untuk naik level.”


“Heeeee.....”


Wajah Liliana berubah menjadi begitu panik. Budi tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti itu.


“Aku tidak mengira jika tuan Budi akan mengaggap aku sebagai pengganggu.”


Mata Liliana mulai berkaca-kaca.


“Ya, tapi pada kenyataannya memang seperti itu.”


“Itu kejam!.”


Tetapi Budi membalasnya tanpa perasaan.


Walaupun Budi sudah mengatakan jika dua lebih nyaman saat bekerja sendiri. Tetapi Liliana tetap memaksa untuk melihat ke dalam.


“Ini sudah peraturannya, nona Liliana tidak boleh masuk!.” Budi tetap tidak membiarkan gadis berambut emas itu lewat.


“Tapi aku punya izin dari Yuki.” Lilian menunjukkan surat perijinan.


“Iya tapi aku tetap tidak memberikan izin.”


“Lah?.”


Wilayah pembangunan adalah tanah yang diberikan oleh Wali Kota untuk Budi, dan proyek pembangkit listrik juga sepenuhnya adalah miliknya.


Dengan itu sudah jelas jika satu-satunya yang berwenang di tempat pembuangan adalah Budi.


Jadi walaupun seseorang memiliki surat izin dari Wali Kota, selama Budi tidak memberikan izin maka tidak ada yang bisa masuk ke dalam tembok.


“Jadi bagaimana aku bisa mendapatkan izin tuan Budi?.” Liliana masih tetap ngotot ingin masuk.


Pertanyaan Liliana sontak membuat Budi kebingungan, karena dia tidak menyangka jika gadis itu akan begitu keras kepala.


Dia pun memikirkan cara bagaimana menyeleksi seseorang yang layak untuk masuk ke dalam area miliknya.


“Kau harus mengalahkan aku dalam duel.”

__ADS_1


Mata Liliana terbelalak saat mendengar persyaratan yang Budi berikan. Tapi berikutnya bibir cantik Gadis itu mulai melengkung membentuk sebuah senyuman.


__ADS_2