
Aku terbangun secara tiba-tiba karena perasaan bahaya tiba-tiba terasa sangat kuat. Di saat masih mengantuk, aku mencoba fokus memperkuat skill (Hero Sense) untuk melihat apa yang terjadi.
Skill (Hero Sense) yang telah mencapai level 4 membuatku dapat merasakan kehadiran monster dan makhluk berbahaya lainnya dalam jarak yang lebih luas.
Setelah berhasil memfokuskan diri, aku pun dapat melihat apa yang membuat perasaan bahaya begitu keras memperingatkan aku.
Sejumlah besar kelompok monster sedang bergerak menuju kemari, walaupun pergerakan kelompok itu lambat, tapi sangat jelas jika yang mereka tuju adalah area rumahku berada. Aku sangat berbahaya jika mereka sampai kemari.
“Apa mereka langsung dari Dungeon?.”
Aku bergegas bangkit dari tempat tidur, Roxy dan Akita masih terlelap. Mereka pasti sangat kelelahan karena pertarungan kemarin. Aku ingin mereka beristirahat, karena itu tidak akan mengajak keduanya dalam pembasmian kali ini.
“Aku juga perlu naik level.”
Beberapa hari terakhir aku disibukan dengan berbagai pekerjaan, sementara masalah keamanan aku membiarkan para bintang berburu sebagai besar monster di sekitar perumahan. Itu membuatku tidak memiliki kesempatan untuk berburu.
Setelah mengambil seluruh perlengkapan, aku segera berniat keluar rumah. Tetapi di depan pintu tiba-tiba aku mendapati Tohir sedang duduk di teras.
{Kau yakin bisa menangani ini sendirian?}
Ucap Tohir dengan mulutnya mengeluarkan asap rokok.
“Sip, tidak masalah.” balasku sambil menunjukkan jempol yang dengan mudah bisa Tohir pahami.
Dwarf itu menghela nafas panjang membuat seluruh asap rokok di mulutnya keluar. Dua kemudian menyerahkan beberapa perlengkapan padaku.
“Ini yang aku janjikan padamu.”
Tohir menyerahkan sepasang belati, pedang, sabit besar dan satu set Armor yang sepertinya terbuat dari cangkang kelabang besi. Aku sangat berterima kasih pada senjata yang dia berikan, tapi entah dengan armor.
Awalnya aku merasa ragu untuk menggunakan armor yang terlihat berat dan mungkin nantinya akan mengganggu pergerakan ku. Tetapi aku salah besar, setelah menahannya armor itu terasa begitu ringan dan tidak menggangu pergerakan.
“Ini jauh lebih baik dari pelindung dada yang aku buat.”
{Apa kau membandingkan armor buatan ku dengan cangkang yang kau gunakan untuk melindungi dada?}
Tohir terlihat kesal saat armor ciptaannya dibandingkan dengan pelindung dada yang dibuat dengan begitu sederhana.
“Ya mau bagaimana lagi, aku bukan seorang ahli dalam bidang membuat senjata maupun armor sepertimu.”
__ADS_1
{Humu... }
Thohir menggangguk kecil sambil memijat dagunya, seakan dia sedang memikirkan sesuatu. Apa dia mengerti apa yang baru saja aku bicarakan?.
Di luar rumah aku mencoba senjata yang berikan Tohir, yang pertama adalah sabit besar. Senjata yang mirip dengan lengan Belalang sembah itu terasa sangat nyaman. Lebih ringan dari lengan Belalang, tetapi tidak sedikitpun mengurangi kekuatannya.
Tohir mengatakan jika semua senjatanya memiliki efek sepesial. Cara mengaktifkan efek sepesial pada senjata adalah mengalirinya dengan sihir.
Aku pun melakukan apa yang Dwarf itu ajarkan padaku. Berkat usaha belajar yang menghabiskan waktu beberapa hari, akhirnya aku bisa membuka skill baru yaitu (Control Mana) skill ini mempermudah mengendalikan mana di seluruh tubuh.
“Walaupun sebenarnya aku lebih suka menggunakan skill (Aura).”
Alasan itu dikarenakan semakin sering menggunakan skill maka levelnya pun akan lebih cepat meningkatkan. Dan juga saat menggunakan Aura, tubuhku jauh lebih kuat daripada menggunakan energi sihir. Tetapi kekuatan itu juga seringkali menimbulkan masalah.
“Entah sudah berapa banyak Jek memarahiku karena merusak perabotan rumah akibat aku menggunakan kekuatan berlebihan saat beraktivitas.”
Kembali pada latihan, aku mulai mengalirkan energi sihir pada sabit besar. Cahaya kebiruan mulai terpancar pada bilah sabit, itu mengingatkanku saat menggunakan senjata dari tubuh monster.
“Namun ini beredar.”
Jika aku memasukkan energi sihir pada senjata monster seperti belati kelinci dan lengan Belalang, maka bilahnya akan memancarkan cahaya kemerahan. Tetapi pada senjata yang dibuat Tohir justru memancarkan cahaya kebiruan.
Kemudian aku pun mengaktifkan skill pada sabit besar itu.
“Cakar!”
Setelah mengaktifkan skill, seketika bilah sabit terbelah menjadi tiga seperti cakar. Bobotnya menjadi lebih berat, namun aku masih bisa menanganinya.
“Woah, keren.”
Kemudian aku mencoba menggunakan pedang. Walaupun saat ini aku belum memiliki skill (beginner Sword art) tapi Tohir tetap membuatkan aku sebah pedang untuk berlatih.
Skill pada pedagang itu adalah membuat lapisan pada bilah pedang mengeluarkan sinar redup. Sinar itu merupakan sihir cahaya yang dapat menyebabkan kerusakan monster tipe Undead seperti zombie.
“Senjata Sihir, aku akan menjadi pahlawan sejati dengan senjata ini yang aku beri nama Durandal!.” ucapku dengan semangat sambil mengangkat pedang ke langit.
{Namanya Krigyus}
Suara Tohir seketika membuatku terkejut. Dia bersama dengan Jek yang masih mengantuk, menghampiriku dengan penampilan seperti seseorang yang akan pergi berperang.
__ADS_1
“Kalian juga akan ikut?.”
{Kau bertanya apa kami akan ikut bertarung?} Aku mengangguk kepala sebagai jawaban.
{Tidak juga, aku hanya akan mengawasi mu saat menggunakan senjataku}
Jadi begitu, dia ingin melihat kemampuan dari senjata yang dia buat. ‘Eh... bukankah itu artinya aku hanya dijadikan kelinci percobaan?.’
Beralih dari Tohir, aku menatap Jek yang terus mengusap matanya.
{Uuh... Aku sangat mengantuk}
Sepertinya Jek secara paksa dibangunkan oleh Tohir. Aku kemudian menunjuk Jek dan bertanya kenapa dia juga ikut. Lalu Tohir menjawab.
{Dia juga harus memperkuat dirinya}
Tohir ingin Jek mengambil kesempatan ini untuk naik level. Tetapi aku belum pernah melihat goblin yang suka membantu pekerjaan rumah ini bertarung sebelumnya.
Senjata yang Jek bawa adalah sebuah tongkat sihir dan panah, apa dia seorang pejuang jarak jauh. Itu akan sangat menyenangkan jika aku bisa melihat sebuah sihir.
Setelah persiapan selesai kami pun berangkat menuju hutan, menyambut kedatangan para monster. Di perjalanan aku mengecek senjata terakhir pemberian Tohir.
Sepasang belati dengan ornamen mata laba-laba pembunuh. Tohir mengatakan jika belati itu digunakan secara bersamaan akan memberikan efek [Stealth] yang membuat penggunanya tidak terdeteksi selama beberapa menit.
Tetapi sayang saat ini aku masih belum bisa menggunakan dua belati sekaligus. Saat aku ingin melakukan itu tiba-tiba saja tenagaku menghilang dan belati menjadi lebih berat dari yang seharusnya.
Tohir mengatakan jika itu adalah efek batas skill yang terjadi karena aku belum memenuhi syarat untuk menggunakan teknik belati ganda.
***
Di dalam hutan yang begitu gelap, aku mencoba mencari posisi yang tepat untuk melakukan serangan dadakan. Berdiri di dahan pohon aku melihat sekitar.
Keadaan yang begitu gelap saat jam menunjukan pukul dua pagi. Tetapi keadaan itu tidak menjadi penghalang bagiku karena skill (Hero Sense) memungkinkan aku melihat dalam gelap.
“Jika para monster tidak bisa melihat dalam kegelapan, itu justru akan menguntungkan untuk ku.”
Melihat rekanku, Jek sepertinya tidak terganggu dengan keadaan hutan yang gelap. Sepertinya goblin itu memiliki keahlian penglihatan malam. Sementara Tohir tidak demikian, di berulangkali tersandung oleh batu dan akar pohon saat berjalan.
Tidak lama kemudian tanah hutan bergetar seakan derap kaki dalam jumlah besar berjalan secara bersamaan. Para monster sudah hampir keluar dari dalam hutan.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan mereka keluar dari hutan ini.” ucapku sambil menjilat belati.