
Akibat kerusuhan yang telah geng Belati Merah lakukan, membuat mereka kini mendekam di dalam penjara. Sedangkan Hendry, pemimpin geng tersebut dalam kondisi kritisi setelah mengalami luka fatal di lehernya, dia di bawah ke rumah saki dan menjalani perawatan intensif.
Semua orang membantu penangkapan para perusuh, hingga Raya dan Yuki pun juga ikut turun tangan. Pesta itu berakhir dengan kekacauan, namun semua orang senang karena Genk Belati Merah pada akhirnya bisa di berantas.
Kecuali Budi yang wajahnya semakin kesal karena Raya lupa tentang janjinya untuk memberi Nasi Goreng untuknya.
Grouur!
Suara keroncong itu kembali berbunyi, namun kini lebih kencang dari sebelumnya. Budi hanya bisa meratapi ke sialannya, pemuda itu berpikir untuk pergi ke dapur Mansion dan berharap menemukan sedikit makanan.
“Nak Budi!.” namun tiba-tiba Yuniar memanggilnya.
***
Roxy, Akita dan Pushrank pergi bersama Rohid menuju kandang mereka sebelumnya. Sedangkan Yuniar saat ini berada di dapur menyiapkan makanan untuk Budi.
“Maafkan putriku, dia benar-benar suka melupakan hal-hal seperti ini.” Ucap Yuniar menyajikan makanan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Rencana mereka akan makan malam bersama setelah acara pesta selesai. Namun karena kekacauan yang disebabkan oleh Genk Belati Merah, membuat rencana itu gagal dilaksanakan.
“Aku pikir dia sudah keterlaluan kali ini karena membuatku hampir pingsan karena kelaparan.”
Budi masih marah karena Raya membuatnya begitu menderita karena dengan sengaja membuatnya kelaparan.
“Terapi karena makanan yang dia buat cukup enak, aku pikir bisa memaafkannya.” lanjut Budi.
Mendengar itu Yuniar tersebut lembu. “Raya pasti akan senang mendengar jika kau memuji masakannya.”. Budi tidak terlalu mendengarkan perkataan Yuniar karena dia fokus pada makanannya.
Ketika Budi tengah makan malam ditemani oleh Yuniar. Tiba-tiba Rohid muncul, dia mengatakan sudah selesai mengantar para bintang ke kandang.
Budi pun berterima kasih padanya karena telah merawat Pushrank dan yang lainnya. Setelah mengatakan itu, Rohid segera pergi karena sudah mengantuk.
__ADS_1
“Baiklah, selama malam sayang.” Yuniar menatap Rohid yang meninggalkan dapur. Budi hanya melirik sekilas lalu kembali pada makanannya.
“Bibi dan yang lainnya sepertinya sudah beradaptasi dengan keadaan ini.” Budi memulai percakapan.
Yuniar hanya tersenyum pahit mendengarnya. “Mau tidak mau semua orang harus bisa beradaptasi jika ingin tetap bertahan hidup.” balas wanita itu.
Budi mengangguk kecil sebagai jawaban setuju. Sebagai seorang yang hanya hidup seorang diri membuat Budi seringkali dihadapan dengan keadaan yang ekstrim, seperti saat dia diharuskan untuk bekerja dalam kelompok.
Terasa begitu berat bagi Budi ketika diwajibkan berinteraksi dengan orang lain, apa lagi sampai bekerja sama dengan orang asing itu. Namun karena tidak memiliki pilihan yang bisa diambil, Budi pun akhirnya terpaksa harus beradaptasi.
Keduanya pun saling mengobrol, Budi menceritakan kondisi desa saat ini yang sudah dia rubuh menjadi begitu berbeda.
“Kau menjadikan basemen rumah kami sebagai kandang?.”
“Itu, itu hanya sementara. Dan aku juga membersihkannya setiap hari.”
Budi panik karena takut wanita itu akan marah setelah mengetahui jika Basemen rumahnya dijadikan kandang sementara.
“Tidak masalah kau akan menjadikan rumah kami seperti apa. Lagi pula kami juga tidak tahu apakah akan kembali ke desa itu lagi atau tidak.”
Yuniar mengatakan jika Raya saat ini memiliki rencana besar untuk membangun kota Sawi. Mereka telah mendapatkan banyak dukungan dan posisi yang baik di tengah masyarakat.
Besarnya pengaruh yang mereka miliki membuat keinginan untuk menguasai seluruh kota semakin besar. Ditambah fakta jika kini posisi Wali Kota yang kosong setelah Gofar terbunuh oleh Hendry.
Membuat seakan mereka memang sudah ditakdirkan untuk mengambil alih kota Sawi.
“Hanya tinggal satu langkah lagi hingga seluruh kota kami kuasai. Tidak mungkin bukan kami membuang kesempatan yang tidak akan datang dua kali?.”
Yuniar berbicara seperti seorang komandan perang yang sudah melihat kemenangan di depan matanya.
Setelah makan, Budi mulai mengeluarkan minuman dan rokok. Yuniar yang sudah beberapa bulan tidak minum dikarenakan sakit. Membuat dia tidak tahan untuk ikut minum bersama pemuda itu.
__ADS_1
“Ini sangat kuat.... tubuhku serasa terbakar...” ucapnya setelah meminum racikan yang dibuat oleh Tohir.
Keduanya terus terjaga sambil menikmati minuman selama berjam-jam. Mereka awalnya menunggu Raya dan Yuki pulang, namun sepertinya kedua gadis tidak akan pulang karena masalah lain terjadi dimana beberapa anggota geng Belati Merah membuat keributan lainnya di pemukiman warga.
Budi terus menemani Yuniar minum, wanita itu menangisi kepergian suaminya. Dia merasa lega setelah mengutarakan keluh kesah pada Budi karena Yuniar tidak bisa melakukannya pada dua anaknya karena tidak ingin membuat Raya maupun Rohid bersedih.
“Mengobrol dengan mu sangat menyenangkan.” ucap Yuniar dengan senyum lebar, wajahnya memerah karena pengaruh minuman. Budi segera memalingkan wajahnya karena melihat beberapa kancing baju Wanita itu terlepas karena merasa kepanasan.
Jam menunjukkan pukul sebelas, keduanya sudah begitu mabuk dengan belasan botol berserakan di lantai. Budi merasa dirinya sudah tidak kuat dan ingin segera tidur.
Dengan segenap kesadaran yang masih tersisa Budi berniat pergi ke luar, dia berniat untuk tidur di kandang kuda bersayap Pushrank.
Tetapi setelah melihat Yuniar terkapar di lantai karena mabuk, Budi pun berpikir untuk membantu wanita itu pergi ke kamarnya lebih dahulu.
“Bibi ayo pindah.” Budi mencoba memindah Yuniar, namun dia tidak kunjung terbangun. Pada akhirnya Budi membopong Yuniar ke kamarnya. “Tetapi kamarnya yang mana?.” ada puluhan kamar di Mansion besar tiga lantai itu, Budi tidak tahu mana kamar Yuniar.
Budi berpikir akan menjadi mudah jika dia menghubungi Raya dan bertanya, namun pemuda itu takut jika Raya marah setelah mengetahui jika ibunya menjadi mabuk karena ulahnya.
Pada akhirnya karena tidak memiliki pilihan lain, Budi pun membangunkan Yuniar untuk menunjukkan kamarnya. Tetapi kesulitan tidak berhenti sampai di sana karena ternyata kamar Yuniar berada di lantai tiga yang membuat Budi harus membopong wanita itu ke lantai paling atas.
Setelah susah payah menaiki tangga dan beberapa kali tersesat karena penunjuk arah (Yuniar) yang kembali kehilangan kesadaran di tengah perjalanan.
Pada akhirnya Budi menemukan kamar Yuniar. Dia berniat untuk segera pergi setelah membaringkan membaringkan wanita itu di kamarnya, namun tiba-tiba kepalanya merasa sakit luar biasa karena efek mabuk.
Berusaha menenangkan diri Budi duduk di tepian tempat tidur, dia bernafas perlahan untuk menghilangkan sakit kepalanya, namun itu justru membuatnya kepanasan.
Lalu tiba-tiba dua lengan memeluknya dari belakang, diikuti oleh suara nafas saat terasa di belakang lehernya. Saat Budi menoleh ke belakang, bibir lembut Yuniar segera menyambutnya.
Budi terkejut saat mendapati ciuman dari wanita itu, namun dia tidak dapat melakukan apa pun untuk menolaknya karena tubuhnya yang terasa semakin panas mulai tidak dapat dia kendalikan.
Malam itu Mansion tengah dalam kondisi sepi karena sebagian besar penghuninya tengah keluar melakukan pembersihan kota dari Genk Belati Merah. Sehingga tidak ada satupun orang menyadari kegaduhan kecil yang saat ini terjadi di dalam salah satu kamar.
__ADS_1