Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
92. Perburuan 1


__ADS_3

Budi mendapati dirinya berada di tengah hutan belantara. Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari keberadaan Raya, namun perhatiannya teralihkan saat melihat pesan dari sistem yang juga di terima oleh peserta lainnya.


“Aku penasaran apa yang bisa didapatkan oleh pemenang pertama.”


Tidak ingin melewatkan kesempatan mendapatkan hadiah bagus pada event pertama sistem dunia, Budi pun berniat untuk mendapatkan poin sebanyak-banyaknya.


“Mungkin lebih baik jika aku tidak menemui Raya sekarang.”


Budi berniat untuk berburu lebih dahulu sebelum bertemu dengan Raya, karena berburu sendiri memiliki keuntungan mendapatkan lebih banyak poin dari pada membentuk sebuah tim.


“Walaupun pekerjaan tidak cocok untuk pertarungan satu lawan satu, namun raya memiliki keahlian yang tidak bisa diremehkan. Aku seharusnya tidak khawatir dengan dia.”


Setelah meyakinkan diri jika Raya akan baik-baik saja, Budi pun bergerak melalui dahan pohon menuju sebuah area di dalam hutan yang dia merasa ada monster di sana.


Namun di perjalanan, deteksi Budi menemukan dua orang yang sedang mengobrol.


Budi segera berhenti lalu bersembunyi di atas pohon untuk melihat keduanya.


“Issho ni hatarakou!.”


Seorang pria dengan baju zirah seperti seorang samurai dengan katana yang masih di dalam sarungmencoba membuat pertemanan dengan orang asing yang baru dia temui.


Namun orang asing dengan rambut putih dan sejumlah besar tato di tubuhnya tidak dapat mengerti perkataan samurai itu.


“YA ne znayu, o chem ty govorish', no yesli ty khochesh' drat'sya, ya budu!.”


Setelah mengatakan itu pria bertato mengangkat tangannya yang dilapisi dengan sarung tangan besi berduri menutupi seluruh lengannya.


Melihat gaya bertarung pria bertato membuat Budi merasa jika dia adalah seorang pertarungan tangan kosong.


“Apa itu bahasa Rusia?.”


Walaupun kedua orang di bawahnya menggunakan dua bahasa yang berbeda dimana satu adalah orang Jepang dan satunya lagi orang Rusia.


Tetapi Budi dapat memahami perkataan mereka dengan kemampuan mata naga miliknya.


Melihat jika orang yang dia anak beraliansi justru menunjukkan posisi siap bertarung, membuat samurai merasa tawarannya telah ditolak.


Samurai pun menarik pedangnya bersiap melakukan pertempuran.


Keduanya saling menatap selama beberapa saat, hingga akhirnya samurai mengayunkan pedangnya dengan begitu cepat.


Gelombang angin tercipta dari tebasan itu yang langsung menuju petinju Bertatto tetapi mudah di hindari.


{Serangan itu seperti belalang sembah biru, sangat mudah di hindari}

__ADS_1


Petinju Bertatto mengatakan kekutan serang Samurai tidak lebih baik dari serangan monster peringkat dua yakni Bekalang sembah biru.


Mendengar perkataan lawannya, Samurai tidak menunjukkan ekspresi apapun dan hanya tebang saja, karena dia memang tidak mengerti apa yang lawannya bicarakan.


Serangan balasan datang dari Petinju. Dia menginjak tanah dengan keras hingga sebuah tiang tanah setinggi satu meter muncul didepannya.


“Apa itu sihir tanah?.” pikir Budi.


Tiang tanah terlalu kecil untuk dijadikan sebagai perlindungan, karena memang petinju itu tidak menggunakan tiang tanah yang rapuh untuk berlindung.


Tetapi sebagai proyektil.


Dengan raungan keras Petinju segera memukul tiang tanah didepannya bertubi-tubi dengan pukulannya yang cepat dan kuat. Membuat serpihan Tiang tanah beterbangan kearah Samurai.


Sambil bergerak menghindar Samurai semakin mendekat. Gerakannya begitu gesit seperti angin, seakan armor miliknya tidak seberat seperti yang terlihat.


Berhasil menghindari semua proyektil, samurai segera mengirim tebasan angin lainnya. Petinju menahan tebasan angin dengan lengan berlapis baja.


Pilihan bertahan petinju membuat Samurai memiliki kesempatan untuk memperpendek jarak.


Samurai berlari mendekat lalu mengayunkan Katana miliknya. Akan tetapi petinju itu dapat menahan setiap serangan yang diberikan oleh Samurai.


Pertarungan sengit berlangsung selama beberapa saat. Samurai yang diunggulkan oleh senjata membuat serangannya memiliki jangkauan lebih jauh, membuatnya lebih mudah menyerang.


Sadar tidak diuntungkan dalam pertarungan, petinju mulai memikirkan sesuatu. Dia seperti seorang veteran yang memahami bagaimana bersikap saat dalam kondisi genting.


Samurai penasaran dengan apa yang akan petinju itu lakukan, namun rasa penasaran itu membuat dia kehilangan fokus sesaat.


Melihat kesempatan petinju langsung mengayunkan pukulan cepat sehingga Samurai segera melompat ke belakang untuk menghindar.


Tetapi tembok di belakangnya menghalangi pergerakan Samurai.


BRAK! Tinju yang begitu keras hampir saja menghantam wajah Samurai, namun itu bisa dihindari hanya dengan memiringkan kepala.


Petinju melancarkan serangan bertubi-tubi membuat posisi mereka sekarang berbalik. Samurai yang kehilangan keunggulan sekarang hanya bisa bertahan.


Namun bagaimana dua bertahan tidak sebaik lawannya. Pukulan beberapa kali mendarat di tubuh Samurai, membuatnya harus melakukan sesuatu sebelum tubuhnya hancur oleh pukulan Petinju bertato.


{Ledakan Angin!}


Terjadi sebuah ledakan yang berasal dari tubuh Samurai membuat lawannya terpental mundur beberapa langkah.


Keahlian ledakan angin sepertinya pisau bermata dua karena selain Petinju yang merasa dampak akibat ledakan itu, Samurai juga mengalami hal yang sama.


Tetapi Samurai justru yang mengalami luka paling parah, darah mengalir dari mulut dan hidungnya setelah menggunakan Ledakan angin.

__ADS_1


Walaupun berhasil menjauhkan lawannya, namun Samurai masih belum lepas dari keadaan genting.


Luka yang dia derita membuatnya melemah, itu memberikan kesempatan bagi lawannya untuk mengakhiri pertarungan.


“Sudah berakhir.”


Budi yang sejak tadi menonton pertarungan dari atas pohon berpikir jika Samurai akan kalah dalam pertarungannya. Dia melihat tangan Samurai itu bergetar saat menggenggam Katana.


Petinju berlari mendekat, Samurai yang tidak takut akan kematian pun kembali menerjang. Keduanya akan kembali bertarung.


Namun Budi yang merasa sudah cukup menonton tiba-tiba melompat dan mendarat tepat ditengah-tengah keduanya.


Kedua telapak tangan Budi mengarah kepada keduanya. Kulit telapak tangan semakin memerah, lalu....


“Pembakaran!.”


Keduanya begitu terkejut ketika api berwarna putih berkobar begitu kuat dan langsung melalap tubuh mereka.


Tanpa teriakan sedikit keduanya hangus terbakar menjadi arang, begitu pula dengan pepohonan di belakang mereka yang dengan cepat terbakar bagaikan hutan di musim panas.


“Gawat, sepertinya aku terlalu banyak meningkatkan suhu api yang aku gunakan.”


Melihat hutan yang terbakar membuat Budi agak menyesal menggunakan api dengan suhu tinggi.


[Mengalahkan Ishima Takegawa +40 poin]


[Mengalahkan Yuri Iskovic +40 poin]


Melihat poin yang diterima, Budi pun berpikir jika para player di kategorikan sebagai lawan peringkat menengah karena memberikan 40 poin saat di kalahkan.


Setelah mengalahkan dua peserta, Budi kembali melanjutkan perjalanan menuju area monster yang sebelumnya ingin dia lawan.


Sementara itu di belakangnya hutan yang terbakar semakin meluas, membuat bencana bagi siapapun yang masih ada di dalam hutan.


Monster dalam jumlah besar berlari menghindari api, pada akhirnya mereka bergabung menjadi satu menjadi bencana yang sangat berbahaya.


Hanya dengan satu tindakan dari Budi, dia sudah berhasil membuat area hutan menjadi penuh kekacauan.


Sementara itu Budi sendiri tiba di tempat monster yang dia cari berada.


“Ternyata hanya Troll.”


Budi agak kecewa saat melihat monster yang dia cari ternyata hanya raksasa setinggi tiga meter yang disebut sebagai Troll.


Dia berpikir akan menemukan monster kuat di area itu, namu kenyataannya tidak demikian. Budi sudah pernah bertemu dengan Troll sebelumnya di Dungeon yang berada dekat dengan rumahnya.

__ADS_1


Pemuda itu hendak menyerang Troll dan mengalahkan monster itu dengan cepat. Namun dia segera berhenti ketika melihat empat orang menghampiri Troll buruannya.


__ADS_2