Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
87. Moral yang Aku Miliki


__ADS_3

“Bos?.”


Siti menatap dengan heran saat melihat Budi kembali. Dia berpikir jika pemilik toko tidak akan kembali karena pekerjaan di area pembangunan.


“Ada yang perlu aku lakukan di bengkel. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”


Budi segera menuju ruang bawah tanah tempat tungku dan laboratorium berada.


Seperti biasa Budi dapat merasakan tatapan tajam dari para Hunter, namun kali ini ada yang berbeda yakni beberapa diantara pengunjung toko adalah anggota militer.


Walaupun mereka tidak mengenakan seragam tetapi Budi dapat membedakan mereka karena Budi sudah mencatat semua detail warga kota dan para pendatang di dalam memori otaknya.


'Kira-kira kenapa mereka mengawasi tempat ini?.' pikirnya.


Budi hendak masuk ke ruang belakang dimana tangga menuju lantai bawah berada. Namun seseorang tiba-tiba memanggilnya.


“Apa kau pemilik toko senjata ini?.”


Budi berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dia pun melihat seorang pria berkacamata mulai mendekat.


Perkataannya yang lantang membuat semua orang memperhatikan dirinya. Budi hanya melihat orang itu sekilas, tetapi dia langsung kehilangan minat.


“Ya itu saya, apa ada ada sesuatu tuan pelanggan?.”


Tetapi Budi masih berusaha bersikap sebaik mungkin pada pelanggannya.


“Aku hanya ingin bertanya bagaimana kau akan bertanggung jawab dengan senjata yang kau jual jika nanti digunakan untuk melukai atau bahkan merenggut nyawa orang lain?.”


Pertanyaan yang sangat menyulitkan untuk seorang pedagang senjata. Budi membuka tokonya untuk menjual berbagai perlengkapan untuk para Hunter.


Dengan harapan dia bisa membantu banyak orang lebih mudah dan aman saat melawan monster.


Namun dia tidak dapat memastikan apakah mereka yang membeli barang dari toko Asongan seperti yang dia harapkan atau tidak.


Perkataan pria berkacamata itu begitu lantang hingga perhatian para Hunter tertuju pada Budi sekarang. Mereka seakan menanti pemuda itu untuk memberikan jawabannya.


“Itu pertanyaan terbodoh yang aku dengar bulan ini.”


Raut wajah Budi berubah menjadi bosan. Sementara pria berkacamata mengerutkan keningnya.


“Apa kau juga menanyakan hal seperti ini pada seorang pedagang peralatan masak termasuk pisau dapur?.”


Pertanyaan balasan dari Budi sontak membuat perhatian Hunter yang terarah padanya beralih ke pria berkacamata.


Namun wajah pria itu penuh percaya diri seakan sudah menduga Budi akan mengatakan itu.


“Kau ingin menyamakan toko senjata seperti ini dengan toko peralatan umum? Ini jelas sangat berbeda. Senjata yang dijual di sini terlalu berbahaya jika di jual secara bebas.”

__ADS_1


Pria itu berbicara dengan menggebu-gebu.


“Kau seharusnya memiliki semacam sertifikasi khusus untuk menjual senjata, agar mereka yang membeli senjata dari toko ini tidak menggunakannya untuk melakukan tindakan kriminal.”


Dia sangat bersemangat dalam pidatonya. Namun Budi merasa mengantuk mendengarnya, dia menguap ketik pria berkacamata selesai dengan perkataannya.


Melihat itu tentu membuat pria berkacamata merasa jengkel.


“Kau tahu, aku sudah mendapatkan izin dari Wali kota Yuki untuk menjual senjata di kota ini. Apa menurut anda itu belum cukup?.”


“Tentu saja itu belum cukup. Seharusnya kau memiliki sertifikasi dari pihak berwenang seperti kepolisian dan militer. Bukan hanya pemilik toko tetapi juga para Hunter, tidak mungkin bukan setiap orang yang tidak jelas sifatnya seperti apa lalu diperbolehkan memegang senjata!.”


Tatapan para Hunter seketika menjadi sinis saat mereka tahu arah pembicaraan pria berkacamata itu.


Dia ingin agar setiap Hunter memiliki syarat perizinan dari pihak berwajib jika ingin memiliki senjata.


Memang gagasan yang masuk akal, namun itu berarti para Hunter akan berada dalam kendali kepolisian dan militer.


Para Hunter yang sebagian besar adalah rakyat biasa merasa akan kembali ke masa ketika bencana monster belum terjadi.


Masa dimana segala sesuatunya memiliki prosedur yang ketat karena aturan yang rumit. Sebuah aturan yang dibuat bukan untuk mempermudah namun justru mempersulit.


Seakan mereka sengaja mendorong para warga untuk menggunakan jalan belakang.


“Hal semacam itu bukan urusan saya, dan tempat ini juga bukan tempat yang tepat untuk anda menyampaikan gagasan brilian anda.”


“Jadi itu artinya anda tidak peduli jika seseorang menggunakan senjata yang anda jual untuk membunuh seseorang?.”


“Itu benar, aku sangat tidak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan menggunakan senjata yang aku buat.”


Budi berkata sambil menunjuk para Hunter. Pernyataan itu membuat keadaan toko menjadi begitu hening.


Setiap orang tidak mengerti apa yang Budi pikirkan.


Jika orang biasa pasti akan memperlihatkan empatinya walaupun itu hanya sebuh kebohongan, dengan tujuan mendapatkan imej positif dari orang di sekitarnya.


Tetapi Budi tidak melakukan semua itu, dia begitu arogan seakan tidak peduli dengan pemikiran orang lain tentang dirinya.


“Karena aku terus menjawab pertanyaan mu, bagaimana jika sekarang aku yang bertanya dan kau yang menjawab?.”


Tatapan pria itu menjadi tajam seakan berusaha untuk mengetahui isi kepala Budi.


Melihat kecerdasan bertutur kata Budi membuat pria berkacamata berpikir pertanyaan yang akan dia ajukan pastilah akan sangat sulit.


Dia pun mulai merasa cemas.


“Bagaimana anda membuktikan jika anda menggunakan pistol anda dengan benar bukan untuk melakukan sesuatu yang melanggar hukum?.”

__ADS_1


Mata pria berkacamata itu seketika terbelalak, lalu dia tiba-tiba tertawa keras.


“Ahahaha... apa hanya itu?, Tentu saja aku bisa memastikan jika aku tidak akan menggunakannya untuk merugikan orang lain.”


“Bagaimana kau membuat orang lain percaya?.”


“Itu karena aku adalah....”


Perkataannya seketika terhenti seakan dia menyadari sesuatu. Hunter pun menjadi penasaran tentang identitas pria berkacamata itu.


Tatapan penuh amarah dia tujukan pada Budi, giginya mengerat seakan tidak tahan dengan emosi yang tiba-tiba meluap.


“Karena kau? Siapa kau?.”


Budi mendorong pria itu untuk mengungkap jati dirinya yang sebenarnya. Namun tentu pria berkacamata tidak akan melakukan itu karena dia bisa mendapatkan masalah besar dari atasannya.


“Ya terserahlah, aku juga tidak peduli.”


Mengabaikan pria berkacamata, Budi pun masuk kedalam ruangan lainnya yang terdapat tangga menuju basemen.


Sementara para Hunter di toko masih penasaran dengan identitas pria berkacamata.


“Siapa sih pria itu?.”


“Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.”


“Dia memiliki senjata api, pastilah dia bukan warga biasa.”


“Mungkinkah pihak kepolisian?.”


“Karena dia terlihat asing, aku pikir dia adalah bagian dari pasukan militer.”


“Seriusan sebelumnya dia mengatakan jika setiap Hunter wajib memiliki sertifikasi dari pihak berwajib.”


“Aku menduga jika sertifikasi itu pasti akan membutuhkan banyak uang untuk mendapatkannya.”


“Ahahaha... bukankah itu hanya karena mereka menginginkan jatah?.”


Percakapan setiap Hunter dapat terdengar oleh pria berkacamata. Merasa dipermalukan Pria itu pun meninggalkan toko dengan amarah yang luar biasa besar pada pemilik toko Asongan.


Siti yang melihat kepergian pria itu segera melapor pada Yuki.


Dia juga memberikan video percakapan di toko yang dia rekam pada majikannya.


Sejak kejadian itu kepercayaan para Hunter pada kepolisian dan militer berkurang sedikit demi sedikit.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2