Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
111. Bisnis Hunian


__ADS_3


Yuki dan Raya sama terkejutnya dengan Liliana saat melihat gedung yang baru dibangun. Liliana terlihat sangat senang saat melihat gedung perusahaan Ceplik yang sudah di perbarui.


“Aku harap ini sesuai keinginan mu.” ucapku sambil mengelap keringat di dahi.


Pekerjaan di luar ruangan saat siang hari memang sangat melelahkan.


“Uwa! Terimakasih, aku sangat suka desain futuristik ini.”


Liliana begitu senang karena bangunan yang aku buat bersama Omega melebihi ekspektasinya.


Gadis itu bahkan sampai memelukku hingga membuat tatapan tajam Raya mengarah padaku.


Liliana menyadari tatapan Raya, nun dia tidak peduli dan tetap memelukku seakan ingin membuat keadaan panas di siang ini semakin panas.


Ini gawat.


“Oh, ngomong-ngomong bukankah ini saatnya kita berburu di Dungeon?.”


Aku segera mengalihkan topik pembicaraan. Raya yang mendengar aku membahas tentang janji itu pun merasa senang.


Wajahnya menunjukkan senyum yang sangat jarang aku lihat saat dia di televisi.


“Aku sangat menantinya.” ucapnya.


Kemudian kami pun sepakat jika besok kami akan berburu bersama.


“Kita akan berburu di kota Jati.”


Perkataanku seketika membuat para gadis menjadi keheranannya.


“Kenapa di kota Jati?.” tanya Yuki mewakili gadis-gadis lainnya.


“Tujuanku berburu bukan untuk naik level ataupun bersenang-senang, melainkan sebuah penaklukan.”


Mendengar alasanku, ketiganya pun memahami alasanku tidak pergi ke Dungeon Kota Sawi yang lebih dekat.


Dungeon Poci di kota ini masih Sangat berharga, 75% kehidupan warga bergantung pada sarang Monster itu.


Itulah kenapa warga kota sangat marah ketika pihak Militer memutuskan untuk memblokade Dungeon.


Walaupun Dungeon adalah sarang Monster berbahaya, tetapi saat ini manusia sangat membutuhkan keberadaan Dungeon karena dunia yang menjadi lebih berbahaya.


'Sungguh sangat ironis.'


Tidak lama kemudian para pengungsi mulai dipindahkan ke tempat baru. Mereka akan diberikan keringanan gratis tinggal selama tiga bulan.


Setelah mereka akan diperlukan layaknya penyewa biasa.


Menyewa kamar di gedung itu akan dikenakan biaya 10 batu putih permalam.


Sedangkan jika menyewa selama satu bulan penuh maka hanya akan dikenakan biaya sebesar 250, lebih hemat 50 batu monster dari yang menyewa permalam.

__ADS_1


Harga sewa yang ditawarkan tergolong murah karena para Hunter terlemah maupun paling sial sekalipun dapat mendapatkan setidaknya 15 batu putih dari berburu tikus maupun kelinci.


Semua harga itu hanya untuk kamar standard, ada beberapa tipe kamar yang lebih baik. Semakin tinggi lantainya maka semakin naik harga sewa kamar.


“Aku tidak mengerti tentang semua ini.”


Karena tidak mengerti dengan bisnis perumahan, aku pun menyerahkannya pada Omega yang telah membangun hotel itu.


Yuki menyarankan jika aku membuat sebuah robot Avatar untuk menjadi pelayan hotel. Mendengar ide itu aku merasa bimbang karena takut Omega menjadi semakin dekat dengan manusia.


“Aku akan memikirkan ide itu.” balasku.


Memberikan tubuh Avatar untuk Omega adalah hal yang sangat beresiko.


Karena takut terjadi pemberontakan aku bahkan tidak mengizinkan Omega untuk memproduksi apa pun termasuk robot jika tidak diperintahkan.


Aku perlu berbicara dengan Tohir tentang masalah ini.


Empat ribu warga kota Jati telah pindah ke tempat baru, mereka terlihat senang menempati bangunan yang disediakan kali ini.


Sepertinya itu karena ruangan yang mereka tempati jauh lebih baik dari tempat yang lama.


Di gedung lama mereka akan hidup bersama belasan pengungsi lainnya di dalam satu ruangan.


Sulit untuk hidup seperti itu, selain masalah kenyamanan juga tidak adanya privasi yang mereka miliki membuat para pengungsi semakin stress.


Sebagian besar pengungsi berpendapat jika lebih baik tidur di jalanan daripada di dalam gedung pengungsian sebelumnya.


Namun karena ketakutan pada monster malam, membuat mereka terpaksa tinggal di dalam gedung tersebut.


***


“Bos selamat datang!.”


Siti menyambut kedatanganku saat memasuki toko.


Seperti biasa tempat itu sangat ramai dengan pengunjung yang ingin melakukan pembelian item.


Tetapi tidak ada satupun yang menjual herbal karena transaksi itu sudah di pindahkan ke restoran di samping toko.


Empat pelayan baru bekerja melayani pelanggan, seperti mereka telah diberikan arahan dengan sangat baik oleh Siti yang saat ini telah menjadi wakil manajer.


“Apa ada masalah saat aku tidak ada?.” tanyaku pada Siti.


“Ya tidak ada yang khusus, hanya saja....”


Siti mengalihkan pandangannya dari tatapanku. Perkataannya yang terpotong membuatku cukup penasaran.


“Ada apa?.” aku mendesak Siti untuk melanjutkan perkataannya.


“Aku ingin berlatih meracik lagi dengan bos.” wajahnya memerah saat mengatakan itu.


“Heeh... Meracik apa,” ucapku menggodanya. Wajah Siti pun semakin memerah dan dia menjadi panik.

__ADS_1


“Ten... tentu itu ramuan, menangnya meracau apa lagi?.” Siti tergagap.


“Oh, ramuan toh, aku pikir meracik semen.”


Bluss... Asap mulai mengepul dari kepala gadis itu.


Karena aku pun perlu mengisi stok barang di toko, aku pun mengajaknya ke ruang produksi untuk bekerja sembari memberikan pelatihan meramu obat pada Siti.


Gadis itu menunjuk satu pelayan baru untuk bertugas sebagai pengawas saat dirinya masuk ke dalam bersama ku.


Aku akan memastikan gadis itu mempelajari sesuatu hari ini.


“Benar seperti itu, aduk dengan keras, gerakkan badanmu lebih aktif.”


“Ah... ah.. bos, aku sudah tidak tahan...”


“Gunakan energi sihir yang kau miliki untuk memperkuat diri, jangan sampai keluar begitu cepat saat baru mulai mencampur.”


“Mmhh, aku.... aku akan berusaha sebaik mungkin.”


Kami menghabiskan beberapa jam di ruang produksi. Banyak item yang berhasil aku buat, dan Siti pun mengalami peningkatan dalam keahlian meraciknya.


Dia bahkan membangkitkan bakat lainnya selain Alkemis, yakni Poison Maker. Keahlian yang tidak sengaja terbuka karena Siti melakukan kesalahan saat meramu obat.


“Bakat milikmu luar biasa Siti.” pujiku.


“Bakat yang mana bos maksud? Alkemis atau pelayanan?.” balasnya dengan genit.


“Keduanya, seharusnya kau pergi ke Dungeon untuk naik level dan mendapatkan pekerjaan.”


“Itu sepertinya akan mustahil untukku.”


“Kenapa? Kau takut dengan monster?.”


Siti menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia mengatakan jika tidak mungkin bisa pergi ke Dungeon untuk berburu jika dirinya bahkan tidak memiliki hari libur dalam bekerja.


“Ah... aku lupa tentang itu.”


Mendengar alasan Siti membuatku sadar jika toko Asongan tidak memiliki hari libur.


“Aku tidak masalah, di tempat kerjaku sebelumnya juga tidak ada hari libur.” ucap Siti dengan wajah penuh senyuman.


Aku tidak tahu seorang kaya mana yang memperkerjakan pelayan secantik dia dan tidak memberikan satupun hari libur.


“Tidak boleh seperti itu, aku tidak mau jika nanti tersebar rumor jika pemilik toko asongan telah mengeksploitasi karyawannya dengan memaksa kerja setiap hari tanpa hari libur.”


Setelah mendengar alasan dariku jika semua ini untuk kebaikan toko, akhirnya Siti pun terpaksa menerima hari liburnya.


Menurut pengalaman ku sebagai buruh. Para pekerja pasti mendambakan hari libur untuk mereka beristirahat. Namun berbeda dengan Siti yang seakan tidak mau liburan.


Itu membuatku penasaran bagaimana cara mantan majikan lama Siti mendidik para pembantunya.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2