Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
117. Bukan Siapa-siapa


__ADS_3


Turun dari lantai tujuh tempat kantor Raya berada, Dimas sampai di lobi dengan wajah begitu kesal.


Setiap orang yang melihatnya cukup terkejut, Dimas yang dikenal sangat ramah pada anggota guild baik Hunter maupun staf,


Saat ini pemuda itu justru seperti monster yang siap mengamuk.


“Di mana bajingan itu?.”


Tatapannya melihat sekitar lobi seakan mencari seseorang. Namun dia tidak menemukan apa yang dicari.


Dia hanya melihat anggota guild yang terkejut melihatnya berkata-kata kasar.


Tidak lama kemudian Raya menyusul Dimas turun ke lobi. Wajah marah yang sebelumnya Dimas tunjukkan berubah dalam sekejap.


‘Sial aku tidak bisa menemukan bajingan itu, apa mungkin di menunggu di luar?.’


Dimas berniat memberikan beberapa nasehat pada Budi sebelum bertemu dengan Raya, namun rencananya seketika gagal karena Raya sudah tiba di lobi.


Sama seperti Dimas, gadis berambut merah itu pun menunjukkan wajah penuh amarah. Keadaan lobi seketika berubah mencekam hanya karena kedatangan Raya.


Melihat keduanya membuat setiap orang berpikir pasti ada masalah serius yang sedang terjadi hingga membuat pemimpin guild dan anggota terbaik menjadi marah.


Raya mendekati Resepsionis yang tersenyum padanya, namun senyum Resepsionis Itu segera hilang setelah mendengar perkataan Raya.


“Baru saja kau mengusir seorang pemuda tanpa lengan kiri bukan?.” ucap Raya dengan ancaman.


Dalam sekejap semua orang di lobi mengingat dengan pemuda dengan ciri-ciri sana yang baru saja di keluarkan secara paksa oleh petugas keamanan.


“A.... iya, pemuda itu membuat keributan jadi aku meminta pada keamanan untuk mengusirnya.”


Resepsionis itu tidak menyangkal jika menjadi dalang dari pengusiran itu, namun dia menambahkan beberapa hal yang tidak semestinya untuk keamanannya sendiri.


Tetapi Raya tentu tidak percaya begitu saja.


“Keributan apa yang kau maksud?.”


Pria resepsionis itu tidak dapat menjawab, matanya terus melirik ke arah rekan-rekannya berharap mendapatkan bantuan.


Tetapi tidak ada yang berani berbicara, semua orang menjadi takut untuk mengatakan sesuatu saat di depan mereka pemimpin guild terbaik di negri ini sedang marah.


“Sudah aku duga ini pasti akan terjadi.”


Tiba-tiba Dimas memecahkan kesunyian yang mencekam itu.


“Apa maksudmu?.”


Tatapan tajam Raya beralih ke Dimas yang membuatnya sempat terkejut. Namun Dimas dapat mengendalikan dirinya dan kembali tentang.


Melihat Dimas dapat tetap tenang di depan tatapan Raya, membuat semua orang di area lobi menjadi kagum pada pemuda itu.

__ADS_1


“Aku menduga dia pasti mengajukan komplain pada kita karena menganggap guild ini memonopoli material monster.”


Ucapan Dimas terdengar sangat berdasar, Resepsionis itu merasa terselamatkan karena perkataan pemuda itu.


Resepsionis itu sempat merasa hampir saja dibunuh karena mengira telah mengusir tamu penting.


Tetapi nyatanya apa yang dia takutkan memanglah terjadi.


***


Budi yang menunggu di luar dapat merasakan luapan energi berasal dari dalam markas guild Legion Teapot.


“Oh, itu adalah ledakan amarah yang begitu besar. Aku harap dia tidak kehabisan stamina karena kemarahan itu.”


Dia dapat melihat kekacauan yang terjadi di dalam sana akibat kemarahan Raya.


Tidak lama kemudian gadis itu keluar dari gedung dan menghampirinya dengan senyum mempesona.


Raya terlihat begitu berbeda dari yang beberapa saat lalu Budi lihat melalui keahlian persepsi pahlawan.


Tatapan Budi kemudian beralih pada seorang pemuda yang mengikuti raya di belakang. Tatapan tidak menyenangkan ditunjukkan pemuda itu saat melihat Budi.


“Maaf atas perlakuan tidak sopan karyawan guild ku, aku akan memastikan jika kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi.”


Raya langsung meminta maaf karena kesalahpahaman yang dilakukan oleh resepsionis yang baru saja mengusir Budi.


Walaupun bukan dia yang melakukan kesalahan, namun Raya meminta maaf dengan sungguh-sungguh hingga menundukan kepalanya.


“Raya, kau seharusnya tidak perlu seperti ini hanya karena masalah kecil!.”


Dimas meminta Raya untuk segera mengangkat kepalanya. Dia menganggap Raya telah melakukan tindakan berlebihan dengan merendahkan dirinya sendiri di depan pemuda cacat.


“Jika kau melakukan ini sama saja dengan merendahkan nama baik Guild Legion!.”


Perkataan Dimas tidak dihiraukan oleh Raya yang tetap menundukan kepala.


Tidak berhasil menghentikan Raya, Dimas pun kembali menatap Budi dengan sorot mata tajam seakan menyuruh Budi untuk segera memberikan maafnya.


“Pertama kali mengunjungi guild yang aku dukung dengan alat ciptaan ku tapi malah diperlukan sebagai gelandangan. Sungguh sebuah pengalaman buruk”


Ucapan Budi terdengar begitu sinis pada Raya, Dimas dan anggota guild Legion marah saat mendengarnya.


Keributan mulai terjadi, banyak orang yang berkata kasar ditujukan pada Budi, namun pemuda itu tidak sedikitpun menunjukkan kepeduliannya.


“Apa aku sudah mengambil keputusan yang salah?.”


“Tidak, ku mohon. Ini memang sebuah kesalahan besar karena aku tidak mendidik anggota guild dengan benar. Tetapi setidaknya beri aku kesempatan sekali lagi, aku pasti tidak akan mengecewakan anda!.”


Perkataan Budi sontak membuat Raya begitu kesulitan. Dia tidak ingin kerja sama antara guild miliknya dan toko Asongan milik Budi berhenti.


Selain karena tidak ingin kehilangan penyuplai senjata dan potions untuk guild nya, Raya juga tidak ingin Budi membencinya.

__ADS_1


“Ya, kita bicarakan ini lagi nanti. Sekarang mari kita pergi, aku tidak ingin membuat tuan Rango menunggu lebih lama.”


Budi berkata dengan begitu sombong seakan menunjukkan derajatnya yang lebih tinggi dari pemimpin Guild terbaik di negara ini.


Kesombongan itu membuat banyak orang tidak menyukainya, terutama anggota guild dan fans Raya.


Walaupun keadaan di sekitar begitu mencekam karena tatapan tajam dan nafsu membunuh.


Tetapi Budi tetap tidak bergeming seakan sama sekali tidak merasakan tekanan Itu.


Budi kembali memanggil tunggangannya Pushrank, lalu segera menaikinya. Dia kemudian menjulurkan tangannya pada Raya untuk membantu gadis itu menaiki kuda bersamanya.


Raya menggapai uluran tangan itu lalu duduk di belakang Budi. Keduanya meninggalkan kota bersama dengan menunggangi seekor kuda.


Meninggalkan para penonton yang begitu iri dengan keberuntungan Budi. Kecuali Dimas yang masih saja menatap dengan kemarahan.


“Sialan si brengsek itu, beraninya dia membuat guild kami malu seperti ini.”


Dimas tidak terima melihat kenyataan jika Raya lebih menghargai pria cacat dari padanya.


Dia berpikir dirinya puluhan kali lebih baik dari Budi, namun ucapnya sama sekali tidak Raya dengar.


Sementara itu Budi begitu berkuasa, Raya seakan takut jika membuat Budi marah karena tidak ingin kerjasama antara guild dan toko Asongan berakhir.


“Apakah sehebat itu seorang pembuat senjata?.”


Dimas menatap pedang miliknya. Dia mulai merasakan amarah saat sadar jika pedang yang ia gunakan adalah buatan dari pria yang sangat ia pandang rendah.


“Dasar sampah!.”


Dimas berniat membuang pedang itu, namun dia mengurungkan niatnya karena tidak ada senjata lain yang dia miliki.


“Tck, lihat saja nanti. Aku akan carikan penempa pedang yang lebih baik dari di bangsat itu untuk berkerja pada Guild, dengan itu Raya tidak perlu lagi menundukan kepalanya. Lalu setelah itu dia pasti akan sangat berterimakasih padaku hingga aku pun bisa mendekatinya.”


Dimas merasa dirinya begitu cerdas. Dia pun mulai mencari orang yang bisa menempa pedang.


Sementara itu semua orang di kota saat ini tengah membicarakan tentang kepergian Raya.


“Pemuda itu mengatakan jika Rango menunggu Raya.”


“Apa mereka akan bertarung atau semacamnya?.”


“Bertarung! Apa kau gila untuk apa mereka melakukan itu?.”


“Aku pikir mereka akan menjelajahi Dungeon bersama.”


“Apa pun itu, aku berharap mereka menyiarkannya secara langsung.”


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2