Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
44. Sebuah Pesta


__ADS_3

Malam itu kota Sawi terasa agak meriah dari biasanya dikarenakan ada pesta kecil-kecilan yang dilakukan di dalam Mansion mewah yang menjadi pusat pengungsian.


Pesta itu ditujukan untuk merayakan kebangkitan kota Sawi setelah dianggap berhasil pulih dari bencana monster.


Bukan hanya para orang kaya yang merayakan pesta, tetapi penduduk biasa pun ikut merasakan kemeriahan pesta karena pihak berwenang telah menggratiskan makanan hari ini.


Setiap orang bisa mengisi perut mereka di hari berbahagia ini tanpa adanya kekhawatiran.


Di atas balkon lantai tiga mansion, dua orang menatap jalanan yang cukup ramai dan diterangi oleh lampu yang bercahaya begitu terang.


“Walaupun masih banyak orang yang takut untuk keluar malam, tetapi setidaknya ini cukup ramai bukan?.” kata Raya saat menatap keadaan kota yang menjadi lebih ramai dari malam-malam biasanya


“Kau benar, ini adalah langkah yang bagus untuk sebuah awal yang baru.” ucap Yuki. Dia tersenyum saat melihat kota Sawi kembali dihidupkan.


Walaupun Yuki adalah seorang blasteran dimana ibunya merupakan warga negara Jepang, namun gadis itu terlahir di negara ayahnya, tepatnya di kota Sawi. Itulah mengapa dia sangat terharu saat melihat kota ini kembali dihidupkan.


Di saat Yuki melihat kota dengan perasaan haru, berbeda dengan Raya yang tatapannya terus memperhatikan para penjaga Mansion. Raya merasakan perasaan tidak menyenangkan ketika melihat para penjaga yang berasal dari kepolisian itu berjaga.


‘Mereka terlihat seperti para amatir.’ pikir Raya.


Gadis itu tahu sedikit tentang perawakan para polisi saat sedang menjalankan tugas dikarenakan mendiang ayahnya adalah seorang anggota kepolisian dengan pangkat yang bisa dikatakan tinggi.


Semakin lama Raya memperhatikan para polisi itu, mereka semakin memperlihatkan gelagat yang mencurigakan. “Mereka justru terlihat seperti sekelompok preman berseragam.” pikir Raya.


karena penasaran Raya ingin turun untuk memastikan, namun tiba-tiba seorang pembantu masuk ke dalam kamar untuk memberitahu pada kedua gadis jika pesta sebentar lagi akan dimulai.


“Mungkin hanya perasaanku saja.” Raya mengabaikan rasa penasarannya.


***


Di aula utama Mansion sudah dipenuhi oleh orang-orang kaya yang diundang untuk merayakan hari ini. Mereka yang sudah berbulan-bulan hidup dalam keterbatasan jauh dalam kesan kemewahan, akhirnya bisa merayakan pesta kembali setelah sekian lama.


“Ide untuk memberikan bantuan pada warga sebagai bentuk investasi pada kota sangatlah brilian.”


“Ini semua ada ide nona Yuki, dia sama pintarnya seperti ayahnya bukan?.”


“Nona Yuki lebih menjanjikan daripada wali kota.”

__ADS_1


“Tentu saja, aku masih merasa kesal pada pria gemuk itu yang sudah memeras ku hanya untuk sekantung beras.”


Semua orang yang datang ke pesta memuji Yuki yang telah memberikan kehidupan nyaman untuk mereka di masa yang sangat kacau ini.


Sementara itu Budi yang kini mengenakan pakaian rapi berupa tuksedo hanya menatap para orang kaya itu dengan bosan.


Bukannya dia tidak menyukai para sosialita kaya, hanya saja Budi tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan orang-orang yang hidup di dunia yang berbeda darinya.


‘Aku yang hidup sebagai seorang buruh, tidak akan mengerti apa yang dibicarakan oleh orang seperti mereka.’ pikir Budi.


Tidak ingin menarik perhatian, pemuda itu sendirian di pojokan menyatu dengan dinding dan berbicara satu arah pada gelas minuman berisik air jus.


Kroncong!


Budi merasakan perutnya mulai keroncong karena lapar. “Hem... sepertinya author lupa jika aku belum makan.”


Sebelumnya Raya mengatakan akan memasak untuknya, terapi karena kesibukan saat pembagian makanan untuk warga, membuat mereka lupa tentang makan malam.


Akhirnya mereka memutuskan untuk akan malam bersama Ketika pesta. Namun sudah dua jam Budi menunggu, yang dia dapatkan hanya minuman ringan.


“Mungkin sekarang dia sedang mengerjai ku.” Budi mulai kesal karena merasa Raya sengaja melakukan semua ini agar dua kelaparan.


Dia merasa beberapa orang memperhatikan dirinya. Budi dapat dengan jelas mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka tentang dirinya.


“Dia adalah pemuda yang datang bersama nona Yuki dan Raya bukan?.”


“Aku mendengar kedua gadis itu menjemputnya dari kantor Polisi.”


“Siapa dia?, Terlihat menjijikkan dan tidak berguna.”


Semua tatapan dan percakapan tidak menyenangkan yang ditujukan padanya, membuat Budi merasa semakin kesal. Tetapi dia tidak marah sedikitpun karena merasa memang sudah sewajarnya seperti itu,


‘Tempat ku memang bukan bersama mereka.’


Budi hendak pergi meninggalkan pesta, namun tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Budi. Pria itu mengenakan pakaian dinas dengan belasan tanda jasa menghiasi bajunya.


Terlihat dengan jelas jika pria itu bangga dengan semua lencana yang tergantung di bajunya. Budi terganggu dengan kedatangan pria itu. ‘Semua sinar yang memantul dari lencana itu menyinari mataku.’

__ADS_1


“Anda tuan Budi bukan?, Saya hanya ingin meminta maaf karena kesalahpahaman yang terjadi siang tadi.”


Ridwan yang merupakan kepala kepolisian di kota Sawi datang untuk meminta maaf karena anak buahnya telah melakukan kesalahan setelah menjebloskan Budi dalam penjara.


“Tidak masalah, lagipula tidak ada yang terjadi setelahnya.”


“Tidak ada yang terjadi, yah.”


Sama seperti yang lainnya. Ridwan pun menatap Budi dengan seksama dengan mata menyelidiki. Walaupun dia sudah menilai pemuda itu ketika pertama kali bertemu di dalam penjara, tetapi dia masih belum yakin.


‘Aku harap dia hanya orang lewat.’ Ridwan merasa khawatir jika Budi akan merusak rencananya.


Budi berpamitan secara sopan pada Ridwan saat dia hendak pergi. Namun tiba-tiba Raya datang menghampirinya, itu membuat semua orang kembali menatap pemuda itu.


Tetapi senyum cantik dari Raya yang saat ini mengenakan gaun merah menawan dan sangat mempesona, tatapan semua orang tertuju padanya. Namun Budi justru membalas dengan wajah tidak menyenangkan.


“Apa ada yang salah?.”


“Tidak, hanya saja aku mengingat belum ada apa pun yang mengisi perutku selain air jus.”


“Ah, maaf untuk itu.” Raya berusaha menahan tawanya, senyum yang dia perlihatkan membuat semua orang merasa diberkahi.


“Tunggulah sebentar lagi. Acara akan segera di mulai.” pinta raya sambil memeluk lengan lengan kanan Budi dengan erat seolah tidak akan membiarkan pemuda itu meninggal pesta.


Melihat itu membuat semua lelaki di aula utama merasa iri dan mulai mengutuk Budi. Mereka merasa lebih baik jika berada di posisi Budi saat ini daripada pemuda cacat sepertinya.


“Lebih baik kau menolaknya brengsek!.”


suara makian terdengar begitu pelan hingga tidak mungkin ada yang mendengarnya kecuali Budi yang memiliki Indra pendengar kuat akibat keahlian (Hero Sense).


“Hem?.”


Budi mencoba melihat arah suara itu, namun yang dia temukan hanya kerumunan lelaki yang menatapnya penuh kedengkian.


“Aku dan ibu masak nasi goreng loh.” seketika perkataan Raya membuat perhatian Budi teralihkan.


“Nasi goreng!.”

__ADS_1


Pada akhirnya Budi setuju untuk tinggal lebih lama demi nasi goreng.


__ADS_2