Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
119. Rencana Brilian


__ADS_3

Dari balik jendela mobil Erik melihat keadaan kota Sawi.


“Kota ini memang terlihat lebih damai dari kota lain yang aku kunjungi.” ucap Erik.


Luke pun demikian, dia terlihat sangat senang melihat kota yang begitu damai di masa seperti ini.


“Sebaiknya anda jangan terkecoh dengan apa yang anda lihat.”


Perkataan Fikri sontak membuat pertanyaan besar muncul di benak Erik dan Luke. Fikri pun lantas menceritakan apa yang dia ketahui saat berada di kota ini bersama pasukan Jendral Bambang.


“Ada suatu tempat yang terlarang untuk dimasuki walau pihak militer sekalipun. Aku curiga tempat itu adalah sebuah pabrik dimana para warga diperbudak.”


Keduanya tidak bisa mengatakan apa pun setelah mendengar cerita Fikri.


Melakukan perbudakan adalah sesuatu yang wajar saat ini, sehingga tuduhan yang Fikri berikan tentang tempat terlarang tidak terlalu mengejutkan.


Rombongan mobil itu akhirnya sampai di depan gedung wali kota. Jika sebelumnya kegiatan pemerintahan kota Sawi dilakukan di Mansion Yuki.


Kini semuanya sudah di pindahkan ke gedung lain tidak jauh dari Mansion.


Walaupun gedung itu masih terlihat berantakan karena serbuan monster, namun Yuki tetap bersikeras untuk memindahkan semua urusan pemerintahan dari rumahnya.


Kedatangan rombongan itu disambut langsung oleh Yuki dan Yuniar yang menjadi penasehatnya.


Erik sudah pernah bertemu dengan Yuki sebelumnya saat melakukan bisnis dengan ayah Yuki.


Sedangkan untuk Yuniar, Erik seakan baru saja bertemu dengan wanita berambut kemerahan itu.


‘Apa wanita itu saudara dari ketua guild Legion Teapot?.’


Erik bertanya dengan nada pelan pada Fikri.


‘Lebih tepatnya beliau adalah ibu dari guild master, gadis yang baru saja kita temui di depan gerbang.’ balas Fikri.


Mendengar itu Erik begitu terkejut karena tidak menyangka wanita yang terlihat masih begitu muda ternyata sudah memiliki seorang anak.


‘Pantas keduanya sangat mirip.’


Tatapan Erik tidak dapat lepas dari Yuniar, entah apa yang dia pikirkan saat melihat wanita itu dari atas hingga bawah.


Yuki menyambut kedatangan rombongan Erik dengan tangan terbuka.


Selain ingin meminta maaf pada seluruh warga kota Sawi, Erik tentunya memiliki agendanya sendiri selama berada di kota.


***


Perjalanan ke kota Jati tidak begitu lama, namun karena monster sering muncul menghadang di tengah jalan membuat waktu perjalanan lebih lama dari yang seharusnya.


Monster menangis begitu tombak Raya menembus dadanya hingga membuatnya terbunuh seketika.

__ADS_1


Sedangkan Budi telah membakar habis monster yang menjadi lawannya menjadi abu


Keduanya telah melawan puluhan monster semenjak meninggalkan wilayah kota Sawi.


“Aku pikir kita menang perlu menggunakan bubuk pengusir monster.”


Budi mulai bosan karena terus melawan monster lemah yang menghadang perjalanannya.


“Aku tidak keberatan jika kak Budi menginginkan demikian.”


Karena Raya juga setuju, Budi pun mengambil sebuah kantung kecil dari kotak item miliknya. Dia kemudian menabur bubuk putih dari kantung kecil pada dirinya dan Raya.


Bubuk penangkal monster dapat melindungi pengguna selama dua jam. Salah satu item paling laku dijual oleh perusahaan Liliana.


Setelah memastikan efek bubuk penangkal monster bekerja, keduanya pun melanjutkan perjalanan.


Sisa perjalanan itu begitu tenang, monster tidak lagi berdatangan.


Budi menikmati suasana tenang ketika berkuda bersama Raya. Dimuka pula Raya, dia memeluk pinggang Budi dari belakang dengan wajah yang memerah.


Keduanya sempat berhenti sejenak saat melihat pemandangan alam dari atas tebing. Dari tempat itu mereka dapat melihat kota Jati yang sudah hancur dan kini menjadi kota mati.


“Kota itu dipenuhi tumbuhan dan pohon, seakan telah ditinggalkan manusia selama puluhan tahun.” ucap Raya.


“Benar, itu karena efek dari energi sihir yang berasal dari Dungeon membuat tabah menjadi sangat subur.” Budi menjelaskan.


Raya menganggu kecil seakan memahami penjelasan dari Budi. Dia pun melempar beberapa pertanyaan tentang Dungeon yang akan mereka hadapi.


Raya masih ragu saat Budi mengatakan jika ia akan mengajaknya memusnahkan sebuah Dungeon di kota Jati.


“Memang kenapa? Apa mungkin kau tidak yakin jika kita berdua dapat melakukannya?.”


“Bukan seperti itu. Aku yakin jika kak Budi bisa menuangkan Dungeon itu seorang diri tanpa ku.”


Raya merasa sangat yakin atas ucapannya, walaupun dia sendiri tahu jika menembus lantai Dungeon sangatlah sulit meskipun dibantu oleh ratusan orang.


“Bukankah kau terlalu memandangku begitu tinggi?.”


“Ya tapi itu kenyataanya bukan?.”


Raya mengingatkan kembali atas apa yang terjadi saat turnamen sistem sebelumnya.


“Seorang diri, kak Budi membantai ribuan Hunter terbaik dunia termasuk aku bukankah itu sudah menjelaskan betapa kuatnya kakak?.”


Budi tidak bisa mengelak lagi setelah Raya menghujaninya dengan fakta.


“Pendapatmu bisa saja benar tetapi bisa saja salah.”


Budi menjelaskan jika sebuah Dungeon memiliki tingkatan kekuatan. Semakin banyak lantainya maka akan semakin kuat monster yang melindungi penjara bawah tanah itu.

__ADS_1


“Jadi apa maksud kakak, Dungeon yang akan kita kunjungi memiliki banyak lantai sehingga kak Budi pun tidak bisa memusnahkannya seorang diri?.”


Raya menjadi waspada, sebelumnya dia cukup santai. Namun mengetahui jika Dungeon yang akan dia kunjungi lebih kuat dari Dungeon kota Sawi, dia pun mulai khawatir.


Budi menjelaskan jika Dungeob berkembang dengan menyerap mana (energi sihir), baik secara alami atau dengan menyerap melalui jiwa makhluk hidup yang mati di dalam Dungeon.


“Aku mendengar dari para pengungsi kita Jati jika Genk Daki sering memperkerjakan secara paksa para warga untuk memburu monster di dalam Dungeon, akibatnya sudah banyak warga meninggal di dalam sana.”


Raya yang terus mendengarkan penjelasan Budi pun mulai mengerti bahaya tersembunyi dari Dungeon kota Jati.


“Apakah mungkin jika Dungeon itu terus dibiarkan berkembang akan menjadi masalah besar nantinya?.”


“Itu pasti akan terjadi. Lautan monster akan keluar dari Dungeon, menyebabkan bencana itu kembali terulang.”


Wajah Raya menjadi pucat setelah mendengar perkataan Budi.


“Aku berpikir jika Dungeon itu mungkin sangat dibutuhkan oleh penduduk kota jati.”


Raya mengingat Dungeon di kota Sawi yang sangat membantu kehidupan kota itu. Dia berpikir jika keadaan sama juga terjadi di kota Jati.


Namun Budi memutar balikkan anggapan gadis itu.


“Dungeon itu justru menjadi sumber masalah untuk penduduk kota, dari semenjak kemunculannya hingga sekarang. Apa kau ingat jika aku sudah mengatakan Genk Daki memperkerjakan warga secara paksa?.”


Mulut raya terbuka lebar seakan mendapatkan pencerahan dalam pikirannya.


“Jika tidak ada Dungeon maka para warga tidak ada yang dipaksa untuk memasuki penjara bawah tanah.”


“Benar.”


“Tetapi, bagaimana mereka akan bertahan setelah Dungeon menghilang? Kelaparan dan ancaman dari monster ganas alam liar pasti akan sulit dihadapi.”


Dungeon adalah tempat para manusia untuk menaikan level karena bisa dengan sesuka hati berburu monster tanpa takut kepunahan pada monster di dalamnya.


Terlebih di dalam Dungeon juga seseorang bisa memilih menghadapi monster yang lebih lemah dan aman untuk diburu.


Sedangkan alam liar tidak demikian. Seorang Hunter sulit untuk mengetahui kekuatan monster yang terdapat di alam liar, karena itu berburu di alam liar menjadi tidak begitu populer.


“Jangan khawatir tentang keamanan mereka. Karena kota kita masih begitu luas untuk dihuni oleh mereka yang ingin hidup dengan aman.”


Raya tersenyum lebar saat mengerti apa yang menjadi tujuan utama Budi memusnahkan Dungeon di kota Jati.


Jika tanpa adanya Dungeon maka geng Daki pun akan melepas kota itu, kemudian warga kota yang tersisa bisa mengungsi ke kota Sawi.


Dengan lebih banyak warga, kota Sawi pun akan lebih cepat berkembang.


“Itu rencana yang sangat jenius.” ucap Raya dengan penuh kekaguman.


“Hahaha, tentu saja.” Budi mulia sombong dengan kemampuannya sendiri.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2