Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
76. Mansion Gofar


__ADS_3

Setelah memperbaiki truk milik organisasi Gamprit, Budi segera mengambil alih kursi pengemudi. Disampingnya Liliana sudah menunggu.


“Maaf menunggu lama.”


“Tidak masalah.”


Truk kembali bisa dijalankan, Budi segera memutar balik tujuan kembali ke kota Sawi.


“Apa yang ingin kau lakukan pada mereka?.”


Liliana membicarakan tentang Jiecie dan komplotannya yang sekarang berada di dalam box kontainer dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Mereka saat ini dijaga ketat oleh Pushrank. Budi tidak berniat menyerahkan mereka pada pihak kepolisian karena Ridwan pasti bisa berkelit dan membuat dirinya dalam masalah.


“Aku ingin melakukan beberapa eksperimen dengan mereka.” jawab Budi sambil terus menyetir.


Kembali Liliana dibuat terkejut oleh pernyataan pemuda itu. Dia tidak menyangka jika pemuda yang dari luar terlihat polos karena kejujurannya, tetapi justru sangat mengerikan di dalam.


Liliana penasaran eksperimen apa yang akan pemuda itu lakukan dengan para tawanan.


Budi membutuhkan tempat untuk mengurung dua belas anggota Gamprit yang dia tangkap. Liliana dengan senang hati menawarkan sebuah gudang tidak terpakai di ruang bawah tanah Mansion mendiang ayahnya.


Mendengar jika Mansion mantan Wali kota berada di perkebunan yang jauh dari keramaian kota Sawi, Budi pun merasa jika itu adalah tempat yang cocok untuk membuat sebuah laboratorium rahasia.


***


Mansion milik mantan Wali Kota terletak di luar tembok kota sehingga masih banyak monster yang berkeliaran di arena itu. Tetapi berkat bubuk pengusir monster membuat perjalanan mereka aman tanpa gangguan.


“Ini sempurna.”


Ucap Budi ketika melihat mansion ditengah kebun teh seluas ratusan hektar, tempat itu sesuai dengan yang Liliana katakan padanya. Budi berpikir untuk menjadikan ladang itu sebagai perkebunan herbal sihir.


Awalnya Liliana tidak yakin dengan rencana Budi, karena seperti yang dia ketahui jika herbal sihir hanya tumbuh di wilayah sekitar Penjara Bawah Tanah.


Liliana belum pernah mendengar jika herbal sihir bisa dibudidayakan.


“Kau sungguh bisa melakukannya?.”


Liliana bertanya dengan sangat penasaran. Melihat kemampuan Budi sebelumnya, dia merasa pemuda itu masih menyimpan banyak keahlian yang belum ditunjukkan.


Itu membuat Liliana semakin penasaran padanya.

__ADS_1


“Kau akan melihatnya nanti.”


Jika perkataan Budi benar, Liliana tidak dapat membayangkan sebanyak apa keuntungan yang bisa dia dapat.


Herbal sihir yang tumbuh secara alami di sekitar Dungeon hanya memiliki jumlah terbatas. Itu mengakibatkan harga potions terus melambung tinggi.


Jika mereka bisa membudidayakan herbal sihir dan menjualnya sebagai ramuan penyembuh yang sangat dibutuhkan oleh para Hunter. Sudah dapat dipastikan keuntungannya tidak bisa dihitung dengan jari.


“Itu juga bisa menarik banyak orang untuk datang ke kota ini.” Liliana selalu memikirkan tentang perkembangan kota.


Dia ingin agar kota Sawi menjadi pusat dari kota Jawa menggantikan ibukota yang saat ini sedang dalam kondisi darurat.


Selain sepuluh Dungeon yang berhasil ditemukan di ibukota, ada pula tiga entitas yang tidak terjelaskan menghuni area tertentu. Sebagian besar warga kota yang masih selamat memilih untuk pindah ke kota yang lebih aman.


Budi memarkirkan truk di belakang Mansion. Dia kemudian memindahkan para tawanan ke gudang bawah tanah. Mengejutkannya tempat itu ternyata memiliki sel besi mirip sebuah penjara.


“Sebenarnya tempat ini digunakan untuk apa?.” Budi bertanya karena sangat penasaran.


“Kau bisa menyangkalnya sendiri.” Liliana membalas seadanya.


Budi melihat banyak bercak darah yang mengering di ruangan itu. Empat sel penjara dibuat cukup besar sehingga setiap ruangan dapur menampung selulit hingga lima belas tahanan.


Kemudian satu ruangan yang dipenuhi oleh benda-benda mengerikan seperti ruang penyiksaan buatan seorang psikopat.


Liliana mengangguk kecil yang menandakan jika tebakan Budi benar.


Ruangan ini digunakan Wali Kota Gofar untuk bersenang-senang menyiksa orang-orang yang dia beli dari pasar gelap.


Liliana menambah jika ayahnya sudah melakukan hal seperti itu bahkan sebelum gadis itu dilahirkan. Itu membuat Budi bertanya-tanya bagaimana tindakan biadab seperti itu tidak terendus oleh polisi selama puluhan tahun.


“Tentang itu kau bisa menanyakannya pada orang ini.”


Ucap Liliana sambil menendang tubuh Ridwan yang masih pingsan.Melihat itu Budi langsung paham apa yang terjadi. Wali kota Gofar pasti sudah menyuap Ridwan yang merupakan kepala kepolisian kota Sawi.


Budi melihat tubuh Liliana bergetar dengan wajah yang sendu. Dia pasti merasa tertekan karena terus menyimpan apa yang dia ketahui tentang tindakan kejam ayahnya.


Dia merasa bersalah karena tetap tutup mulut yang menyebabkan banyak orang harus menderita hingga kehilangan nyawa di tangan ayahnya.


Tangan Budi menyentuh pundak Liliana, membuat gadis berambut keemasan itu terkejut.


“Apa kau butuh pelukan?.” tanya Budi.

__ADS_1


Liliana hanya tertawa kecil. Dia menghapus air mata yang menggenang di kelopak matanya lalu pergi meninggalkan ruangan bawah tanah yang kemudian di susul oleh Budi yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


Di luar Budi termenung menatap Mansion mewah itu. Dia memikirkan bagaimana mungkin rumah yang sangat megah layaknya sebuah istana justru menyimpan rahasia kelam di bawahnya.


Sebenarnya apa yang membuat wali kota Gofar seperti itu?.


Apakah itu karena jabatan dan kekayaan yang dia miliki sehingga membuatnya lebih tinggi dari manusia lain?.


Memikirkan itu membuat Budi kembali berpikir ulang apakah yang akan dia lakukan pada Jiecie dan rekan-rekannya adalah sesuatu yang benar.


Budi mulia merasa bimbang, bagaimana jika nanti dia menjadi manusia tanpa empati dengan sesama manusia lain seperti Wali Kota Gofar.


“Kenapa harus repot-repot berpikir, toh aku juga sudah bukan lagi seorang manusia.”


Budi menatap lengan kanan yang secara perlahan ditumbuhi oleh sisik berwarna putih. Itu adalah efek dari perubahan wujud ras manusia kadal.


Liliana keluar dari dalam Mansion, membuat Budi segera mengembalikan lengan kanannya seperti semula, dia mencoba bersikap biasa tetapi di mata gadis itu justru terlihat sama sekali tidak biasa.


Liliana seperti seorang ibu yang melihat anaknya menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya, dia terus mencari tahu apa yang Budi sembunyikan.


Budi tidak pandai berbohong jadi dia berusaha menghindar dari pertanyaan, namun Liliana adalah seorang investigator handal.


Selama perjalanan mereka ke wilayah dalam tembok dengan berjalan kaki, Liliana terus mengoreksi informasi hingga akhirnya Budi terpojok.


Pemuda itu pun menunjukkan perubahan tubuhnya yang mirip seperti kadal, tetapi bukan sebagai Ras melainkan hanya berupa kemampuan. Sehingga Liliana masih mengaggap Budi sebagai seorang manusia.


Pesta telah berakhir saat keduanya kembali ke kota. Mereka berpisah setelah memasuki Mansion Yuki.


Tetapi Budi tidak akan kembali ke tokonya malam ini. Dia justru menuju kamar Yuniar dan masuk setelah menggunakan kunci duplikat yang wanita itu berikan padanya.


Melihat Budi masuk ke dalam kamar ibu Raya, sontak membuat Liliana sekali lagi dibuat terkejut.


“Yaampun, berapa selir yang ingin dia miliki.”


Liliana tidak dapat membayangkan jika melihat pemuda yang di taksi justru berselingkuh dengan ibunya sendiri.


Tetapi Liliana tidak ingin ambil pusing tentang itu.


Dia kembali mengambil sikap seperti yang dia lakukan saat mengetahui ayahnya adalah seorang psikopat kejam suka menyiksa dan telah membunuh puluhan orang diruang bawah tanah rumah mereka.


Liliana akan mengabaikan dan tidak akan peduli pada orang lain atau masalah yang menurutnya tidak memberikan keuntungan untuknya.

__ADS_1



__ADS_2