Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
54. Menatap Shower


__ADS_3

[Author: Terdapat adegan dewasa, jadi mohon sikapi dengan bijak]


***


Suara alarm membangunkan Budi, saat melihat jam pada ponselnya masih menunjukan tiga pagi. Masih terlalu dini untuk bangun. Namun dia tidak bisa menundanya, atau lebih tepatnya wanita yang saat ini tidur di sampingnya lah yang harus segera bangun.


Budi menatap Yuniar yang masih tertidur pulas. Melihat wanita itu begitu damai dalam tidurnya membuat Budi enggan untuk membangunkannya, namun dia harus melakukannya karena tidak ingin menimbulkan masalah.


“Emmm?.”


Yuniar perlahan membuka matanya saat merasakan sesuatu yang bergerak di dalam mulutnya. Dia begitu terkejut saat melihat Budi saat ini mencium bibirnya, lidah pemuda itu terus bergerak di dalam mulutnya.


Yuniar tidak menolak itu, dia membalas ciuman Budi dan mulai menyerang balik lidah Budi, pertarungan pun terjadi sesaat hingga akhirnya Budi melepaskan bibi Yuniar.


“Pagi.” ucap Budi dengan senyum di bibirnya yang begitu basah. Yuniar hanya membalasnya dengan senyuman membawa.


“Bukannya aku bermaksud untuk mengusap, tetapi sepertinya sudah saatnya kau kembali ke mansion.”


“Aku mengerti.”


Yuniar segera beranjak dari tempat tidur, dia berjalan menuju kamar mandi yang berada dalam kamar. Budi terus memperhatikan Yuniar, pemuda itu tidak henti-hentinya mengagumi Yuniar saat melihat bagian belakangnya yang tidak tertutup apapun.


“Aku masih tidak percaya bisa mengajaknya berkencan.” tatapannya masih tidak bisa lepas dari punggung Yuniar.


Di dalam kamar mandi Yuniar membersihkan yang lengket oleh keringat. Air dingin yang mengalir dari shower membuatnya merasa begitu segar, membuat pikirannya terbang kembali mengingat apa yang baru saja dia lakukan bersama Budi.


“Aku membiarkannya menyentuhku lagi, namun kali ini dengan kesadaran penuh.”


Yuniar menengadah ke atas merasakan derasnya aliran air yang langsung menyirami wajahnya. Pikirannya begitu tenang, tidak ada beban yang dia rasakan.


Dia sudah memikirkannya berulang kali. Kematian suaminya seperti seorang pahlawan, jika bukan karena pengorbanan yang dia lakukan mungkin Yuniar dan kedua anaknya tidak akan selamat.


Namun sebesar apa pun kekaguman dan rasa cinta yang diberikan oleh suaminya, semua itu perlahan akan hilang terkubur bersama jasad yang dikubur Budi.


“Aaaa... itu benar, aku harus melupakan kenangan lama dan memulai hidup yang baru.” Yuniar merasa tercerahkan setelah meyakinkan diri untuk melepas masa lalunya.


Dia begitu menikmati mandi pagi ini karena pikirannya terbuka. Namun kesenangan itu terusik ketik telinganya mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dengan sigap Yuniar menutup bagian pentingnya dengan tangan lalu melihat siapa yang baru saja masuk.


“Budi!.” Yuniar sangat terkejut melihat pemuda yang baru saja tidur bersamanya, saat ini berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tubuh polosnya.

__ADS_1


“Aku pikir air pagi saat ini terlalu dingin, jadi aku datang untuk menghangatkan nya.” ujar Budi yang kemudian mulai mendekat. Senyum kecil itu kembali, Yuniar tidak menolak, dia sekali lagi membiarkan pemuda itu menyentuhnya.


Budi memutar tubuh Yuniar membuat dia membelakangi sehingga Budi dapat melihat dengan jelas punggung wanita itu yang sudah menarik perhatiannya. Jemarinya menyentuh punggung itu membuat Yuniar merasa tergelitik.


“Agggh!.”


Yuniar tidak dapat menahan suaranya saat Budi terus mendorongnya dari belakang, hingga tubuh Yuniar tergencet pada kaca buram pembatasan area shower. Dia menoleh ke belakang melihat pemuda itu sedang menatap ke atas menikmati guyuran air dari shower.


Satu tangan Yuniar merangkul leher Budi membuatnya kembali fokus pada Yuniar. Dorong menjadi lebih cepat dan dalam, suara Yuniar semakin tidak terkendali. Kedua tangan Budi merambah ke dada Yuniar, bermain dengan kedua gunung daging.


Salah satu tangan Budi yang terbuat dari tulang monster memperlakukannya begitu kasar, namun justru Yuniar lebih menikmatinya dari yang lain.


“Mmmh!.”


Tubuh Yuniar mengejang begitu juga dengan Budi. Keduanya akhirnya melepaskan hasrat masing-masing, namun ditengah pelepasan itu secara tiba-tiba suara tamparan terdengar keras diikuti rasa sakit yang langsung menjalar dari bagian belakang Yuniar mengalir langsung ke otaknya.


“Jangan kasar begitu.” ucap Yuniar menatap Budi dibelakangnya dengan wajah begitu merah. “Tapi kau menyukainya bukan?.” Yuniar hanya bisa mengigit bibirnya sendiri tidak dapat membalas perkataan Budi. Keduanya pun kembali berciuman ketika hendak mengakhiri sesi olahraga panas.


Setelah berhasil menyalurkan hasrat masing-masing, keduanya pun saling membersihkan diri satu sama lain.


“Jadi bagaimana menurutmu?.” tanya Budi yang saat ini mengantar Yuniar kembali ke Mansion.


“Jadi bisakah aku mengajakmu lagi lain kali?.”


Yuniar tidak langsung menjawab membuat Budi sedikit khawatir. Hingga keduanya sampai di pintu belakang Mansion. Karena keahlian (Hero sense) membuat Budi merasa yakin jika tidak ada seorangpun yang melihat mereka berjalan bersama di pagi buta.


Ketika Yuniar hendak masuk kedalam mansion tiba-tiba kedua tangannya merangkul leher Budi, bibirnya kembali mencium Budi yang membalasnya dengan menekuk erat Yuniar.


“Ajak aku kapan pun kau mau.” setelah mengatakan itu Yuniar segera masuk ke dalam Mansion.


“Kapan pun, huh. Kau mendengarnya kawan?.” ucap Budi sambil melihat ke bawah.


***


Pagi harinya akhirnya pembukaan toko, semua orang datang. Raya, Yuki, Rohid bahkan Yuniar yang semalam sedikit tidur pun datang untuk melihat Budi meresmikan pembukaan tokonya.


Para binatang pun ikut menemani majikan mereka, Roxy dan Akita terus menggonggong kearah Budi seakan mengajaknya untuk bermain. Budi mengusap kepala keduanya karena cukup rindu setelah kemarin tidak sempat bertemu keduanya.


“Hoam yeah... akhirnya toko akan segera dibuka.” Budi mengusap karena masih mengantuk, walaupun setelah mengantar Yuniar pulang, dia kembali tidur namun itu masih belum cukup untuknya.

__ADS_1


“Kakak terlihat lelah, apa tadi malam tidak cukup tidur?.” tanya Raya yang terlihat khawatir. Mendengar itu Yuniar juga ikut khawatir, namun dengan alasan yang berbeda.


“Oh yeah aku sibuk memikirkan nama yang akan aku gunakan untuk toko ini.” Budi segera membuat alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi semalam.


“Nama? Ah benar kemari kita tidak menyinggung sedikitpun tentang nama.” Yuni seakan mengingat hal penting.


“Jadi apa kakak sudah menemukan nama untuk toko ini?.” pertanyaan Raya kembali membuat Budi jatuh dalam keheningan. Melihat itu membuat mereka yakin jika Budi masih belum menemukan nama yang cocok untuk tokonya.


“Jika boleh memberi saran, bagaimana dengan Tokoh Pedang dan Sihir.” Raya memberikan sarannya. Namun saran itu langsung ditolak karena nama yang terlalu pasaran sehingga takutnya akan melanggar hak cipta.


“Kalau begitu bagaimana jika Faitāshoppu!.” giliran Yuki memberikan saran. Budi tidak tahu apa arti dari nama yang Yuki berikan, tetapi karena terdengar begitu asing Budi pun menolaknya.


“Toko Cakar.” Budi menatap Rido yang memberikan nama aneh barusan.


“Kenapa harus cakar?.” tanya Budi.


“Itu karena kakak memiliki bekas cakar bukan?.” Rohid menunjuk pada mata kiri Budi yang masih diperban untuk menyembunyikan mata naga yang dia miliki.


“Itu nama yang bagus, tapi tidak.” Budi menolak kerena mungkin orang-orang akan menamai toko dengan nama yang berbeda sesuai kondisi tubuh Budi yang tidak memiliki lengan.


“Mungkin mereka yang tidak suka dengan ku akan menamai toko ini dengan sebutan Toko Cacat.”


Hanya tersisa Yuniar yang belum memberikan masukannya. “Toko Budi?.” ucapnya dengan polos, membuat semua orang terdiam.


“Oh yeah toko Budi. Terdengar singkat dan jelas.” kata Raya.


“Nama yang sangat menggambarkan pemilik toko.” Yuki menimpali.


“Sangat sederhana dan mudah diingat.” Rohid pun ikut berkomentar.


Semuanya setuju jika nama toko Budi sangat cocok dengan toko yang Budi dirikan. Namun Budi sendiri menganggap itu sebagai lelucon yang keterlaluan.


“Tidak, semua orang pasti akan mengaggap aku menderita sindrom narsistik jika menggunakan nama sendiri sebagai nama toko.” ucap Budi memberikan alasannya.


Beberapa saat pun berlalu, acara peresmian toko menjadi tertunda karena mereka tidak kunjung mendapatkan nama yang sesuai.


Hingga akhirnya Budi pun memutuskan untuk menggunakan sebuah nama yang sangat terkenal dan mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia.


“Asongan, yah terlihat bagus bukan?.” Budi menatap papan nama tokonya dengan penuh kebanggaan.

__ADS_1


__ADS_2