Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
68. Rencana untuk Budi


__ADS_3

Para orang kaya dan pengusaha berpikir jika mereka akan mendapatkan dukungan dari Liliana karena dia adalah anak dari mantan Wali Kota Gofar. Sosok yang sangat mengerti pola pikir politik kotor.


Tetapi justru sebaliknya, bukannya berpihak pada orang kaya, Liliana justru lebih mementingkan para Hunter yang hanyalah warga biasa.


“Nona Lili, Anda terlalu naif. Apakah anda begitu ingin dianggap sebagai pahlawan hingga berbuat sejauh ini?.” kata salah satu pengusaha dengan begitu sinis.


“Tentu, akan sangat menyenangkan jika para warga menganggap aku sebagai pahlawan, itu akan membuatku berbeda dengan ayahku yang merupakan seorang diktator korup. Asal kau tahu saja aku sangat membenci ayahku sendiri...”


Liliana berhenti saat ia menyesap kopi panas di cangkirnya. Gerakannya begitu anggun, semua mata pria tertuju pada bibirnya yang menawan.


“Tetapi tentunya bukan hanya itu tujuan saya membagikan tanah untuk para Hunter. Apakah para ahli seperti kalian benar-benar tidak menyadari betapa besar manfaatnya berinvestasi pada par Hunter?.”


Setiap orang saling menatap. Lalu Ridwan tiba-tiba berkata


“Jika Nona Liliana memikirkan tentang keamanan kota. Tidak perlu khawatir aku sebagai kepala kepolisian akan menjamin seluruh warga kota akan hidup dengan aman, ahahaha.”


Setiap orang yang ikut dalam penyerbuan merasa tidak yakin, mengingat Ridwan dan bawahannya hampir terbunuh oleh Rakun assassin dan setelah sembuh mereka tidak mau kembali bertarung di garis depan, tapi justru bermalas-malasan di barisan belakang.


“Aku percaya dengan kemampuan tuan Ridwan dan bawahannya.” Liliana tersenyum manis, membuat kesombongan tumbuh lebih besar dari kemampuan yang ia miliki.


“Tetapi ini bukan hanya tentang keamanan kota, tetapi juga bagian dari pengelolaan penjara bawah tanah.”


Saat ini dimana dunia sedang mengalami kekacauan akibat kemunculan monster. Masalah keamanan dan pangan adalah fokus utama yang harus segera di perbaiki.


“Polisi tidak mungkin kita suruh untuk masuk kedalam Dungeon atau berburu monster bukan? Tugas mereka adalah melindungi warga kota. Karena itulah kita membutuhkan Hunter untuk melakukan pekerjaan seperti itu.”


Semua orang mengangguk mengerti.


“Banyak Hunter berbakat yang saat ini tidak memiliki tempat tinggal. Seperti misalnya Nona Raya yang menjadi faktor penting kemenangan Hunter dalam pertempuran. Dan juga Tuan budi....”


Perhatian kembali tertuju pada pemuda yang sebelumnya menarik perhatian karena karakternya yang begitu tidak sopan. Mereka melihat pemuda itu saat ini sedang tidur pulas.


“Aku yakin banyak dari kalian yang mempertanyakan keberadaannya di tempat ini. Aku tidak bisa memberitahu sekarang, tatapi aku bisa menjamin jika dua adalah kunci untuk membuat kota Sawi menjadi pusat dari seluruh negeri, bahkan mungkin Dunia.”


***


Pertemuan akhirnya berakhir, semua orang kaya dan pengusaha pergi meninggalkan ruangan perjamuan dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Pusat dunia katanya, apa-apaan ini.”


“Aku pikir dia secerdas ayahnya, tetapi sama saja seperti bocah naif lainnya.”


“Dia mengandalkan pemuda cacat dan udik itu? Ahahaha dia pasti sudah gila.”


Mereka meninggalkan ruang jamuan dengan beragam cemoohan. Sekarang hanya tersisa tiga gadis dan Budi yang masih tertidur pulas.


“Hoamp, apa Semuanya sudah pergi?.”. Tanya Budi yang baru saja bangun tidur.


“Tidak, ini baru saja dimulai.” balas Yuki.


Mereka pun pindah ke tempat yang lebih aman hingga tidak ada orang lain yang mendengar percakapan keempatnya. Budi diantar ke sebuah ruang rapat kecil yang mungkin hanya diperuntukkan untuk enam hingga delapan orang jika dilihat dari kursi yang tersedia.


“Nona Liliana, apa anda yakin tidak ingin saya temani.”


“Ya.”


“Apa anda tidak percaya saya karena...”


“Ya.”


Pelayanan Ferdinand ingin ikut dalam rapat, namun ditolak oleh majikannya.


“Tetapi saya tidak akan mengizinkan anda bersama dengan lelaki mencurigakan di dalam ruangan tertutup.”


Ferdinand berkata dengan tegas, dia tidak akan menyerah hingga di izinkan untuk bergabung dalam rapat, atau jika tidak maka Liliana tidak diperbolehkan untuk ikut.


“Woah, Pelayan kau pikir siapa dirimu?.” ucap Budi di belakang Liliana. Kemunculan Budi membuat tekanan darah Ferdinand semakin tinggi.


BRAK! Tanpa mengatakan apa pun Liliana menutup pintu ruang rapat. Ferdinand mencoba untuk membuka pintu namun itu terkunci, tidak kehilangan akal, Ferdinand mencoba untuk menguping tetapi tidak ada suara yang berhasil dia dengar.


Sementara itu di dalam ruang rapat, Budi ditunjukkan sebuah proyek besar untuk membangun tembok kedua yang akan mencakup wilayah lebih luas. Ketiganya ingin Budi membantu dalam proyek itu.


“Jika hanya itu makan kalian tidak perlu bertindak begitu rahasia bukan?.”


Budi heran karena hanya untuk mengajaknya bergabung dalam proyek pembangunan tembok saja mereka sampai merahasiakan pada para orang kaya dan pengusaha.

__ADS_1


“Tentu saja itu perlu, karena aku melihat sendiri bagaimana kau bekerja.”


Yuki mengingat kembali gedung yang dibangun Budi dalam waktu beberapa jam yang kini menjadi Toko Asongan.


“Yeah, kau bekerja seperti orang kesetanan.” tandas Raya.


“Hey itu kasar.”


Karena melihat bagaimana dia bekerja, mereka pun memutuskan untuk meminta Budi mengerjakan proyek itu seorang diri. Tetapi tentu saja Budi menolak.


“WONGEDAN!.” pekik Budi.


“Kalian ingin aku membuat tembok Cina seorang diri begitu?.”


Ketiganya menganggu serempak. Budi hanya bisa menepuk keningnya melihat keabsurdtan tiga wanita di depannya.


“Memangnya kalian pikir aku ini apa? Jin dalam botol yang bisa mengabulkan semua permintaan dalam sekejap?.”


Jika dipikir lagi menang sangat keterlaluan menyuruh satu orang untuk membangun tembok setinggi puluhan meter yang akan mengelilingi kota seluas lima puluh kilometer persegi.


Tetapi Budi salah paham dalam beberapa hal, ketiganya juga tahu walaupun kemampuan aneh Budi sangat praktis, tetapi dua masihlah manusia yang memiliki keterbatasan.


Karena itu mereka akan membuat tim lain yang bekerja membangun tembok, sementara Budi seorang diri mengerjakan bagiannya.


“Lalu rencana kedua adalah membangun pembangkit listrik tenaga batu monster. Karena ini adalah proyek yang sangat rahasia, maka kali ini tuan Budi akan benar-benar bekerja seorang diri.”


Budi hanya bisa menatap ketiga yang tersenyum kearahnya.


“Entah kenapa aku mulai melihat wajah kalian mirip dengan senior dan bos di tempat kerjaku yang dulu.”


Budi teringat dengan beberapa rekan kerja dengan sifat seperti setan dan bos iblis yang selalu memberikan pekerjaan yang tidak masuk akal.


“Seorang diri membuat sebuah pembangkit listrik yang dapat menyediakan energi untuk seluruh kota? Baiklah apakah ada yang lainnya?.”


Ketiganya pun menggelengkan kepala. Untuk saat ini membuat tembok dan pembangkit listrik adalah fokus utama.


Setelah rapat itu keempatnya pun keluar ruangan. Ferdinand yang menunggu terlihat kesal tetapi dia tidak mengatakan apa pun.

__ADS_1


Di luar semua orang yang selesai sarapan sudah menunggu kedatangan Raya dan yang lainnya, karena hari ini adalah hari diresmikannya pembentukan Guild pertama di kota Sawi.


__ADS_2