
Sebelum kembali meninggalkan toko, aku menyerahkan seragam toko pada pegawai baru. Seragam itu berbeda dari yang sebelumnya aku berikan pada Siti.
Mengacu pada desai seragam maid yang Siti kenakan, aku merubah beberapa hal seperti warnanya menjadi merah dan hitam yang mendominasi, lalu bagian dada lebih tertutup, dan terakhir stoking Penjaga menutupi bagian paha menambah daya tarik.
“Bagaimana pendapat mu tentang seragam baru itu?.”
“Ini jauh lebih nyaman dan mudah untuk bergerak.”
Aku pun menyadari jika seragam lama menang tidak begitu nyaman karena celana jeans yang terlalu ketat.
Karena itulah aku menyingkirkan celana jenis itu dan menggantinya dengan rok pendek pada seragam baru.
Bukan hanya Siti, keempat pelayan toko baru pun terlihat menyukai desain seragam baru yang aku buat.
“Baiklah sudah saatnya aku pergi, jaga toko ini dengan baik!.”
““““Selamat jalan tuan!””””
Siti dan keempat pelayan baru memberikan ucapan selamat jalan padaku saat meninggalkan toko.
Melihat aku diantar oleh lima gadis cantik membuat banyak orang yang melihatnya meras iri.
Banyak ucapan makian terdengar dengan nada kecil, mereka hanya bergumam, meratapi hidup yang tidak adil.
Aku tidak sedikitpun peduli pada para pecundang yang hanya bisa bicara dari belakang.
Jika mereka menggunakan rasa iri hati itu sebagai bahan bakar, maka bukan tidak mungkin mereka menjadi orang-orang yang sukses.
Namun mereka tidak melakukan apapun selain menjelekan orang yang mereka benci tanpa usaha untuk bersaing.
“Aku pikir mereka akan menjadi masalah dikemudian hari.”
Bagi para warga khususnya Hunter, keberadaan ku hanyalah sebuah kotoran tidak berguna yang seharusnya tidak ada.
Mereka sangat suka berkunjung ke toko Asongan untuk berbelanja maupun melihat para pelayan cantik.
Dalam imajinasi mereka seandainya menjadi lebih terkenal setelah mengalahkan monster ganas dan menyelam kota.
Lalu berharap memiliki kesempatan untuk mendekati salah satu dari para pelayan hingga akhirnya menjalin hubungan.
Terasa seperti Simp.
Terdapat antrian sangat panjang para lelaki yang ingin mengajak para pelayan untuk berkencan, namun mereka semua ditolak.
Para gadis itu selalu menolak ajakan kencan tidak peduli siapa itu, walaupun bangsawan atau Hunter kuat dari guild Legion Teapot sekalipun.
__ADS_1
Semuanya tidak pernah berhasil menggaet satupun pelayan.
Mata mereka seakan tidak tertarik dengan para pelamar, setiap gadis seakan tidak melihat ada sesuatu yang spesial dari para lelaki yang datang.
Tetapi tatapan itu sangat berbeda saat melihatku. Mereka seakan menatap sebagai giga chard terbaik tepat di depan mereka.
Itu tentu membuat setiap lelaki yang melihatnya merasa iri luar biasa.
‘Aku pikir kekuatan keahlian Charmer sangat luar biasa.’
Yap, perlakuan yang berbeda dari para pelayan dikarenakan keahlian baru dari job Pervert yang telah mencapai level maksimum.
Efek pesona membuat gadis di sekitar menjadi tertarik padaku. Mereka seakan terkena hipnotis yang menyebabkan perasaan nyaman ketika di dekatku.
Walaupun keahlian itu sangat luar biasa digunakan untuk mendekati perempuan, tetapi sayangnya Keahlian itu sama sekali tidak berdampak pada pria.
Justru aku merasa pandangan para pria padaku semakin memburuk setelah job Pervert mencapai maksimum.
“Yah lagi pula aku juga tidak memiliki kelainan untuk mendekati sesama jenis.”
Aku pun memanggil Pushrank yang akan membawaku ke lokasi awal pembangunan tembok kota.
***
Di atas punggung Pushrank yang berjalan perlahan, aku menikmati pemandangan kota yang ramai oleh warga.
Keadaan menjadi begitu tenang setelah pihak Militer akhirnya meninggalkan kota Sawi. Banyak hal buruk yang dikatakan oleh media setelahnya.
Namun itu tidak begitu berpengaruh karena sudah sejak lama bahkan sebelum Outbreak terjadi orang-orang telah kehilangan kepercayaan mereka pada media massa.
Mereka hanya alat propaganda pihak atas, setiap hal yang mereka berikan hanyalah sesuatu yang menguntungkan para pemilik kepentingan saja.
“Tetapi aku rasa mereka tidak akan membiarkan semuanya berakhir seperti ini.”
Aku yakin pihak militer maupun pemerintah akan melakukan sesuatu nanti.
Untuk saat ini kami bisa tenang karena tidak akan ada serangan dari pusat yang berada di ibu kota.
“Walaupun terasa salah, namun kami sangat berterima kasih pada monster tingkat bencana yang membuat sarang di tengah jalur antar provinsi.”
Yap, penyebab kenapa tidak ada bantuan dari pusat karena ada monster yang tidak bisa dikalahkan menghalangi jalan mereka.
Berjalan sejauh 60 kilometer dari pusat kota Sawi, akhirnya aku sampai di tempat pembangunan tembok baru.
Sebelumnya itu area itu dikerjakan oleh para pekerja yang tidak lain adalah warga kota sendiri.
__ADS_1
Tetapi setelah melihat kemampuanku, Yuki segera mengalihkan para pekerja untuk meninggalkan pembangunan tembok lalu fokus untuk membuat ladang.
“Sungguh dia ingin aku membuat tembok itu seorang diri.”
Aku menatap tembok batu selebar seratus meter yang masih belum jadi. Direncanakan tinggi dari tembok itu adalah dua puluh meter, namun yang aku lihat tembok itu baru berdiri setinggi lima meter.
“Ya terserahlah, lebih baik aku segera mulai.”
Besok aku memiliki rencana dengan Raya, kami akan berburu bersama di Dungeon kota Jati.
Karena itu aku harus menyelesaikan proyek ini secepat mungkin agar rencana besok tidak tertunda.
“Omega, keluarkan para Goliat dan robot pekerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek ini dalam satu hari.”
[Baik tuan!]
Lubang hitam muncul di depanku, dia meternya begitu besar hingga aku harus mengangkat kepala untuk melihat atasnya.
Lalu ribuan Goliath keluar bersama Flywork yang berterbangan, lalu Runwork mengikuti di belakangnya.
Puluhan ribu robot di kerahkan untuk bekerja membangun tembok. Itu adalah jumlah terbanyak yang pernah aku buat.
Karena proyek ini begitu besar aku pun membutuhkan bahan seperti besi, semen maupun material lainnya dalam jumlah yang sangat banyak.
Selama ini aku hanya menggunakan material yang aku dapatkan dari melakukan penggalian saat membuat area pembangkit listrik.
Seluruh bahan mentah yang aku dapatkan dari penggalian itu diolah di pabrik seperti bijih besi diolah menjadi besi serba guna, sementara berbagai meterial lainnya diolah menjadi semen.
Bahan yang aku miliki masih tersisa banyak walaupun telah digunakan untuk membangun tiga gedung. Tetapi semua yang tersisa jelas tidak akan mencukupi kebutuhan material proyek tembok kota.
“Aku membutuhkan tambahan material.” ucapku saat melihat para Goliat dan worker mulai merobohkan tembok yang telah dibangun oleh pekerja sebelumnya.
[Apa Tuan berniat membuat para Minner?]
Omega segera mengerti apa yang sedang aku pikirkan. Aku mulai merasa jika dia telah membaca pikiranku secara diam-diam.
Tetapi aku mencoba berpikir positif, mungkin dia juga merasakan hal sama seperti yang aku rasakan.
Mengetahui jika material tidak mencukupi dan wajahku yang menunjukkan kesulitan, semua itu melahirkan kesimpulan jika aku sedang butuh para Penambang untuk menyediakan material.
“Mulai survei lokasi untuk pertambangan dan buat seratus unit Robot Minner!.”
[Siap laksanakan]
Beberapa Flywork terbang meninggalkan lokasi pembangunan tembok. Mereka akan meneliti area sekitar yang memiliki cadangan material berlimpah untuk dijadikan arena tambang.
__ADS_1
***
Bersambung.