Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
121 : Penyelamatan


__ADS_3

Penglihatan pemuda itu semakin buram lantaran darah yang mengalir di kepalanya. Melihat itu Raya pun segera menuangkan cairan pemulihan.


"Kau tidak apa?." Raya bertanya.


“Apa kau bidadari.” pemuda itu justru membalas dendam gombalan.


“Sepertinya kepalamu baik-baik saja hingga bisa mengatakan lelucon seperti itu.”


Raya menawarkan tangannya, pemuda itu pun segera mengambilnya dan kemudian ditarik untuk berdiri.


“Raya, guild master Legion Teapot.” Gadi itu memperkenalkan diri.


“Um.... ” pemuda seakan ragu mengatakan identitasnya. “Gibran, seorang budak.” ucap Gibran dengan memalingkan wajahnya.


Saat memalingkan wajah dari Raya, Gibran tanpa sengaja melihat pertarungan antara Genk Gamprit dan Rango.


Dari pada pertemuan itu lebih seperti sebuah pembantaian. Ratusan anggota Genk Gamprit terbantai begitu mereka mendekati pria bertopeng merah itu.


“Aku pikir mereka tidak akan datang lagi.” ucap Rango.


Setelah menyelamatkan Gibran, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju Dungeon. Tetapi keduanya merasa risih saat Gibran terus mengikutinya.


“Apa kau tersesat?.” tanya Rango.


Gibran segera melompat mundur setelah merasa intimidasi dari pria bertopeng itu. Tetapi Gibran berhasil memberanikan dirinya lalu berkata.


“Ma... maaf tuan dan nona, ku.. kumohon biarkan aku ikut dengan anda.”


Raya dan Rango saling menatap.


“Aku tidak suka melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya.” ucapan Raya membuat Gibran berpikir jika dirinya telah ditolak untuk bergabung menjelajahi Dungeon.


Tetapi...


“Karena itu lebih baik mengajaknya bersama kita agar anggota geng Daki tidak membunuhnya.”


Ternyata yang dimaksud Raya dengan sesuatu tanpa manfaat adalah usahanya menyelamatkan Gibran. Jika pemuda itu mati dibunuh maka usaha penyelamatannya yang gadis itu lakukan menjadi tanpa hasil.


“Kau benar, dia harus membayar obat penyembuh yang kau gunakan.” terapi Rango justru berpikir tentang keuntungan.


Gibran merasa bersyukur karena diperbolehkan mengikuti mereka untuk penjelajahan Dungeon. Dia berpikir pengalamanya bisa membantu keduanya menjelajah hingga lantai lima tempat dimana ayahnya diserang Ogre.


Tetapi nyatanya keahlian Rango dalam mendeteksi musuh dan mencari jalan terbaik di dalam Dungeon jauh lebih baik dari kemampuan Gibran.

__ADS_1


Karena tidak ingin menjadi beban, Gibran berusaha melakukan apa yang ia bisa. Pemuda itu membantu mengambil monster core dari mayat monster.


‘Hanya ini yang bisa aku lakukan?.’ pemuda itu ingin bertarung bersama dua orang itu.


Gibran terus menyayat tubuh monster untuk mengambil core di dalamnya.


“Kerja bagus anak muda, dengan ini kau bisa membayar potions yang Raya berikan itu dengan kerja keras.”


“Te... terimakasih tuan Rango.”


Mencapai lantai tiga, Gibran mendapatkan masalah karena pisau yang dia gunakan telah patah. Melihat itu Rango memberinya pisau miliknya.


“Apa tidak apa-apa tuan Rango. Pisau ini terlihat begitu kuat....” Gibran merasa bisa mengalahkan Ogre dengan menggunakan pisau itu.


“Itu hanya pisau taring serigala biasa. Meskipun dirimu merasa lebih kuat saat menggunakannya tapi jangan gegabah karena kemampuanmu yang sebenarnya masih dibawah standar.”


Rango menjelaskan jika pisau taring serigala membuat penggunanya merasa percaya diri karena buff yang dimiliki pisau itu. Mendengar itu Gibran pun mengatakan ajan berhati-hati.


Ketika memasuki lantai keempat ketiganya dihadang oleh satu Ogre, Gibran mengira pertarungan kali ini akan menyulitkan untuk keduanya.


Tetapi tanpa diduga Raya menghabisi nyawa ogre itu dengan satu serangan. Gibran terdiam melihat kekuatan gadis itu.


Semakin dekat dengan lantai lima, rasa cemas Gibran semakin tumbuh besar. Dia khawatir jika ayahnya sudah dimakan oleh monster.


“Hentikan tindakan konyol mu, atau kau akan menimbulkan masalah untuk kami.”


Perkataan Rango menghentikan Gibran yang hendak berlari menuju tempat ayahnya. Pria bertopeng itu benar, jika dia melakukan kesalahan bisa berakibat fatal nantinya.


Seperti sebelumnya, keduanya berjalan dengan tenang sambil membabat semua monster yang mereka tenu di jalan. Hingga akhir ketiga sampai ditempat Rango merasa ada seorang manusia.


Tempat itu dipenuhi oleh mayat, sepertinya para Ogre mengumpulkan semua buruannya ditempat itu.


“Ayah ayah ini aku ayah!.”


Gibran dengan panik mencari ayahnya diantara tumpukan mayat.


“Aku rasa ayahmu tepat dibawah kakimu.” ucap Rango.


“Eh!.” Dengan panik Gibran segera melompat.


Dengan bekas tapak kaki di wajahnya, keadaan ayah Gibran begitu mengkhawatirkan. Raya segera menggunakan potions penyembuhan pada orang tua itu.


Keadaan ayah Gibran segera membaik, tetapi masih begitu lemah karena luka yang dia derita sebelumnya telah membuatnya kehilangan banyak darah.

__ADS_1


Meskipun begitu Raya dan Rango tidak akan menunggu mereka, bahkan sampai mengantar keduanya kembali ke permukaan. Alhasil Gibran dan ayahnya tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keduanya masuk lebih dalam.


Kecepatan eksplorasi tidak melambat sedikitpun, meskipun kekuatan monster semakin bertambah di tiap levelnya. Gibran terus memperhatikan cara bertarung keduanya, terutama Raya.


Gibran berpikir cara bertarung menggunakan tombak yang Raya praktekkan lebih masuk akal ketimbang bagaimana Rangon menggunakan sabit besarnya.


Lima belas menit kemudian mereka akhirnya mencapai lantai 10, pintu ruang bos berada didepan mereka.


Gibran dan ayahnya terlihat begitu takut untuk masuk, namun keduanya mendapatkan keberanian setelah Raya mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


Bos lantai 10 adalah Lice, Undead yang mahir dalam sihir kebangkitan dan dbuff.


Saat keempatnya masuk kedalam area bos, tengkorak berjubah penyihir itu langsung melantunkan mantra kebangkitan.


Dua puluh skeleton berbagai tipe langsung menyerang, Rango segera menghadapi pasukan monster sedangkan Raya berniat menghadapi lich.


Gibran terus waspada melindungi ayahnya yang sedang beristirahat.


“Aku berharap pertarungan lebih lama dari sebelumnya.” Gibran berharap sesuatu yang aneh, tapi itu bukan tanpa alasan. Dia berharap demikian agar ayahnya bisa beristirahat.


Tetapi sepertinya harapannya sangat sulit terwujud. Hanya dengan waktu sepuluh menit keduanya berhasil mengalahkan bos lantai 10.


“Aku mendengar jika Genk Gamprit saja tidak bisa menaklukkan bos lantai ini. Mereka benar-benar seperti monster.”


Setelah menaklukkan bos monster, Gibran berpikir jika keduanya akan kembali melanjutkan perjalanan. Tapi dia salah, ternyata Raya dan Rango berencana beristirahat setelah mengalahkan bos lantai 10.


“Apa kita mencatat rekor?.” tanya Raya.


“Tentu saja. kita menaklukkan lantai 10 lebih cepat 25 menit dari rektor sebelumnya.” balasan Rango membuat Raya begitu senang hingga gadis itu memeluknya.


Melihat Rango mendapatkan pelukan membuat Gibran begitu iri, begitu juga jutaan penonton pria yang saat ini sedang menonton lewat live streaming.


“Apa ayahmu masih bisa bertahan?.” tanya Rango. “Jika kau ingin kembali, ada sebuah lingkaran sihir yang bisa memindahkan kalian secara instan ke area luar Dungeon ”


Pertarungan di lantai-lantai selanjutnya akan lebih menyulitkan sehingga keduanya bahkan tidak dapat memastikan keselamatan Gibran dan ayahnya.


Gibran mengerti benar tentang hal itu, tetapi jika dia memilih untuk kembali sekarang takutnya Genk Gamprit akan membunuhnya.


“Jangan khawatir dengan mereka. Aku sudah meminta bantuan kepada anggota guild untuk menjaga area sekitar Dungeon.” ucap Raya.


Dengan itu Gibran tidak memiliki alasan lain untuk tetap bersama Rango dan Raya. Pemuda itu pun pada akhirnya membawa ayahnya kedalam lingkaran sihir yang akan mengantar mereka ke luar Dungeon.


***

__ADS_1


__ADS_2