Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
24. Singkong dan Kopi


__ADS_3

___________________________________________


[Job Setting 0/4]


Rank: Unique


Keterangan: sebuah keahlian unik yang memungkinkan pemilik kemampuan untuk menggunakan lebih dari satu Job. Skill Unique dapat di naikkan levelnya dengan menggunakan Statistik poin.


Efek skill:


(1) Triple Job: memungkinkan menggunakan tiga job berbeda.


(2) Terbuka setelah level skill meningkat.


___________________________________________


___________________________________________


[Dragon Eye 0/2]


Rank: Unique


Keterangan: Mata yang menyimpan prbgetahu seekor naga bijaksana. Semakin berpengetahuan pemilik kemampuan maka Level skill ini akan semakin meningkat. Skill Unique dapat di naikkan levelnya dengan menggunakan Statistik poin.


Efek Skill:


(1) Dragon Wisdom 1: mengetahui semua bahasa.


(2) Terbuka setelah level skill meningkat.


___________________________________________


Di perjalanan pulang aku melihat rincian skill yang belum aku sentuh satu kali pun. Efek dari kedua skill sangat luar biasa hingga aku tidak berani melakukan apapun karena takut kehilangan diriku sendiri.


Beberapa hari terakhir aku menjadi semakin kuat, dan itu mempengaruhi sikap dan perilaku yang kumiliki. Walaupun tidak terlalu berdampak besar, tapi aku merasa semakin kuat diriku maka aku semakin tidak mengenali diri sendiri.


“Pada akhirnya aku kembali bertanya-tanya untuk apa aku terus bertahan hidup dan untuk apa aku terus bertambah kuat.”


Aku menatap langit, entah sejak kapan aku begitu menyukai menatap atap bumi itu. Seakan tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan ketika sedang berpikir.


Selama perjalanan kembali, aku terus berbicara pada diriku sendiri. Walaupun di depanku ada Tohir dan Jek, tetapi aku tidak memperdulikan keberadaan mereka dan terus berusaha untuk introspeksi diri.


“Yang aku butuhkan adalah sebuah tujuan." Mataku berbinar penuh kegembiraan setelah mendapat kesimpulan dari usaha untuk memperbaiki diri.


“Benar hidup itu harus memiliki tujuan!. Jika kita menjalani hari demi hari hanya untuk dihabiskan cuma makan tidur demi menyambung hidup, maka tidak ada bedanya cara hidup ini dengan para hewan. Sebuah kehidupan yang tidak berarti.”


Dwarf dan goblin menatap dengan aneh saat aku mengatakan untuk mulai berubah. Tetapi aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan.

__ADS_1


Keinginanku untuk berubah sudah bulat, aku tidak akan takut lagi untuk mengeksplorasi kekuatan yang kumiliki.


“Lagipula menahan sesuatu bukanlah gayaku. Jadi mari menjadi lebih kuat dan kita jungkir balikkan dunia!.”


Semangat yang menggebu-gebu membuatku menghabiskan energi cukup banyak, hingga akhirnya perutku mulai kelaparan. Akibatnya rencana revolusi mental pun hanya sebuah omong kosong belaka, itu semua pasti karena efek samping dari skill Unik yang aku miliki.


“Jek, bisakah kau menandakan sesuatu untukku? Aku sangat lapar.”


{Heee.... Kenapa aku harus peduli?}


“Ugh, aku akan membuatkan sebuah ladang jika kau mau memasak sesuatu untuk ku.”


Jek seketika terperanjat kaget, dia mulai membayangkan kebun luas di pekarangan belakang yang bisa ditanami berbagai macam sayuran.


{Apa kau sedang mencoba melakukan trik?}


“Jek, kau gila mana pernah aku berbohong!.”


{Para penipu selalu mengatakan hal yang sama}


Goblin ini menjadi begitu cerdas. Sepertinya dia terlalu banyak membaca buku.


“Baiklah, itu terserah padamu.” aku menyerah. Tetapi itu justru membuat Jek yang panik.


{Kau sungguh tidak akan membuat sebuah ladang?}


Aku mencoba menunjukkan sikap tidak peduli, walaupun sebenarnya aku sendiri juga sangat ingin menciptakan ladang untuk menanam berbagai tanaman yang berguna.


{Dasar manusia kejam. Para bintang tidur kedinginan tanpa alas jerami yang empuk, dan kau justru membiarkan mereka begitu saja}


Seketika aku batuk darah karena mengalami serangan emosional yang begitu besar.


‘Si bajingan ini menggunakan para bintang untuk kepentingannya sendiri.’


Tetapi aku pun tidak akan mengalah.


“Itu adalah pelatih untuk mereka, para bintang akan menjadi lebih kuat jika berada dilingkungan yang ekstrim.”


Sebuah Counter yang sangat Epik, Jek sampai tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya goblin itu pun menyerah dan berjanji akan memasak sesuatu saat kami pulang.


Tetapi sebagian gantinya aku harus membuat lima hektar lahan pertanian sebelum pagi datang.


“Yo, Jek. Kamu nggak sekalian minta saya bikin seribu candi dalam satu malam?.”


Aku sangat kesal pada permintaan goblin itu yang terkesan begitu mustahil.


{Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tetapi aku melakukan ini juga bukan tanpa alasan. Bumbu dapur yang kita miliki tinggal sedikit, jadi kita harus berhemat jika ingin makan enak}

__ADS_1


Tidak ada lagi yang bisa aku katakan untuk membalas perkataan Jek, sepenuhnya ini kekalahan ku. Aku memahami kesulitan Jek yang sampai sekarang bertugas di bagian dapur, karena baik Tohir dan aku tentunya tidak bisa memasak.


Saat masa awal Outbreak, kehidupanku sangat menyiksa dimana aku harus bertahan dengan memakan daging panggang buatan sendiri yang sangat menjijikkan.


Namun sejak bertemu dengan Jek dan merasakan makannya setiap hari, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyediakan apa yang dia butuhkan untuk terus menghidangkan masakan enak untukku.


***


Setelah sampai di rumah, Tohir segera meminta perlengkapan yang aku miliki untuk diperbaiki. Dengan menurut aku segera menyerahkan semua yang sebelumnya dia berikan padaku.


Sementara itu Jek mulai memasak di dapur dan aku menunggu di teras belakang sambil menatap lahan luas penuh semak belukar. Dalam otakku terus memikirkan cara untuk mengolah lahan sebesar itu dengan cepat.


{Havelapetiz....}


Tiba-tiba Jek sudah menyelesaikan masakannya. Itu adalah sebuah singkong goreng dengan keju dan secangkir kopi.


“Oh, baunya enak.”


Aku segera mengambil satu yang masih begitu panas, tapi resistansi rasa sakit yang aku miliki mampu menahan panas jadi aku tidak perlu khawatir.


Rasa dari singkong goreng begitu luar biasa hingga aku hampir meneteskan air mata. Rasa manis asin dari keju yang luner berpadu dengan gurihnya singkong goreng, ditambah dengan kopi pahit membuat semuanya terasa begitu sempurna.


“Aku ingin hidup kembali menjadi king kong.” ucapku dengan derai air mata.


{King kong?}


Jek tidak akan mengerti.


“King kong obat nyamuk.”


{Hah?.}


Dia semakin tidak mengerti.


Singkong goreng dan kopi hitam, mengingat aku saat dahulu ayahku masih hidup. Setiap malam kami sering habiskan waktu bersama duduk di teras rumah atau di pos ronda sambil menikmati makanan seperti ini.


“Sungguh kenangan indah. Terimakasih jek untuk makanannya.”


Tanpa sadar aku sudah memakan semua singkong goreng. Aku pikir Jek tidak akan memasak lagi sebelum aku membuat ladang yang telah dijanjikan.


Aku pun segera meminum habis kopi yang tersisa, lalu segera turun ke basemen tempat Tohir menempa peralatan untuk mengambil cangkul dan skop.


{Kau tidak sebaiknya pergi istirahat?.} tanya Tohir yang seperti khawatir padaku.


“Tidak, hari sudah mulai terang, aku harus segera menyelesaikan tugas untuk membuat 1000 candi sebelum ayam berkokok.”


Aku berkata dengan penuh rasa percaya diri, tapi sama seperti Jek, Tohir pun tidak mengerti apa yang sedang aku bicarakan.

__ADS_1


“Baiklah, saatnya untuk bertani.”


__ADS_2