Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
107. Jalur Energi


__ADS_3

Mayat dengan pedang menancap di dadanya, tubuhnya terbakar oleh api berwarna putih. Wong Pute, sejak kematian monster tingkat bencana itu api yang membakar tubuhnya tidak kunjung padam.


Saat ini karena aku tidak memiliki Inti Dungeon yang menjadi pengolah energi sihir menjadi sumber listrik. Aku pun terpaksa menggunakan mayat wong Pute untuk menjadi bahan bakar sementara.


Aku memasukkan mayat wong Pute kedalam Reaktor. Karena suhu dari api putih sangat panas, membuat para perempuan hanya melihat dari ruang kontrol.


[Sistem pembangkit listrik berjalan dengan normal]


[Energi sihir mulai dihasilkan]


Lampu-lampu mulai menyala. Sistem berjalan dengan lancar. Aku bersyukur tidak ada masalah yang terjadi.


Setelah memasukkan wong Pute ke dalam reaktor, aku kembali lagi pada empat perempuan yang menunggu.


Mereka terlihat khawatir padaku karena dari ruang kontrol terlihat jika aku terbakar oleh api putih.


Tetapi setelah mendengar jika aku memilih kekebalan api level maksimum, mereka pun akhirnya berhenti menghawatirkan aku.


“Lalu sekarang apa?.” tanya Yuki.


“Hanya tersisa membangun saluran listrik menuju kota dan semuanya akan berakhir.” jawabku.


Yuki pun mengangguk mengerti.


Mengerjakan pembuatan saluran kabel adalah hal yang mudah. Omega sendiri biasa melakukannya dengan menggunakan para Goliath dan worker.


Karena masalah keamanan dan kerahasiaan, aku tidak akan menggunakan kabel gantung untuk mengalirkan listrik, melainkan kabel tanam.


“Mungkin sekalian saja aku membuat jalur bawah tanah dari kota menuju ke mari.”


Terkadang pekerjaan menumpuk yang aku miliki bukan karena pemberian dari orang lain, melainkan aku sendiri yang terlalu berinisiatif.


Baru selesai satu pekerjaan, tapi pekerjaan lainnya segera datang. Ada juga pekerjaan yang masih tertunda, aku tidak tahu sampai kapan pekerjaan ini akan berakhir.


Setelah pembangkit listrik diaktifkan, kami kembali ke permukaan.


“Abang! Aku minta maaf karena sebelumnya meragukan Abang!.”


Yuki meminta maaf sambil menundukan kepalanya.


“Oke, tidak ada masalah untukku.” balasku singkat.


Acara itu diakhiri dengan pertarungan antara aku dengan Liliana dan Raya. Pertarungan berlangsung secara bergiliran.


Setelah pertarungan selesai, mereka pun kembali ke kota, hanya tersisa aku seorang diri bersama para Goliath yang Omega kendalikan.


“Baiklah, mari kita akhiri proyek ini.”


[Siap master!]


Bersama dengan Omega, aku mulai menggali terowongan menuju kota. kembali terjadi getaran seperti saat pertama kali aku menggali terowongan.

__ADS_1


Namun tidak ada satupun warga yang peduli dengan getaran di bawah kaki mereka. Trowulan yang aku buat cukup lebar untuk dilewati tiga kreta sekaligus.


Aku memangsa sengaja membuat terowongan sebesar itu karena ingin membuat jalur rahasia yang akan digunakan untuk memobilisasi para robot dari area pabrik ke kota.


Hingga sampai petang tiba, pekerjaan memasang saluran listrik pun selesai.


Pekerjaan yang tersisa hanya membangun gedung yang akan difungsikan sebagai pusat pelayanan energi.


Walaupun menggunakan nama perusahaan Ceplik milik milik Liliana, namun semua kegiatan di perusahaan itu dikendalikan Omega.


Menggunakan jalur terowongan bawah tanah aku membawa lima belas Goliat, 20 Runwork dan 10 Flywork untuk membantu pembangunan gedung perusahaan.


Tempat pembangunan berada di luar tembok pertama, area yang masih sangat sepi, hanya ada rumah-rumah terbengkalai disekitar.


Berada ditengah antara kota dan Rumah Liliana, itu membuat jalur menuju pabrik sangat mudah di akses


Banyak monster malam yang menghuni area itu karena berdekatan dengan area pemakaman sehingga para warga menjauhinya saat malam hari.


Tetapi itu memberikan keuntungan tersendiri.


Kemunculan monster malam membuatku bisa dengan leluasa membuat gedung tanpa khawatir dengan gangguan dari orang lain.


Pembangunan gedung berlangsung selama sepuluh jam. Monster berjenis Undead sering datang mengganggu sehingga pekerjaan menjadi berjalan lebih lama dari yang seharusnya.


Para Undead tidak menyerang benda mati seperti robot, namun mereka sangat menggangguku.


Pekerjaan itu akhirnya selesai saat tepat jam sepuluh malam. Aku sangat bangga dengan gedung perusahaan yang baru aku bangun.


Mengingat sudah beberapa hari tidak mengunjungi Jiecie, ini akan menjadi waktu yang tepat untuk melepaskan semua stress setelah bekerja dengan bermain bersama peliharaan ku yang sangat menggemaskan.


[Master mungkin anda lupa jika nona Yuki meminta anda untuk membuat hunian untuk 4000 budak dari kota Jati]


Tiba-tiba Omega mengingatkan aku tentang itu.


“Saat ini aku terlalu lelah, mungkin akan aku bangun besok.” jawabku dengan malas.


[Apa anda yakin ini semua karena anda lelah?]


“Hah? Apa maksudmu?.”


Aku sama sekali tidak menyangka jika Omega akan meragukan perkataanku.


[Menurut data yang aku miliki tentang job dan keahlian Master. Aku menyimpulkan jika anda tidak mungkin kelelahan walaupun bekerja selama tiga bulan tanpa istirahat maupun tidur]


“Apa apaan, kau bisa melihat status milikku!.”


[Benar, karena aku sudah menjadi sistem (Industri) yang merupakan salah satu keahlian master, dengan itu secara otomatis aku terhubung dengan sistem status yang master miliki]


Terhubung langganan dengan sistem status. Itu berarti bukan hanya dapat melihat seluruh status yang aku miliki, tetapi Omega juga bisa mengawasi ku kapan saja seperti sistem dunia.


“Ini sangat menakutkan...”

__ADS_1


[Apa itu salah?]


Suara Omega terdengar sedih seperti seorang gadis yang baru saja ditolak cintanya.


“Ya walaupun aku mengatakan itu salah tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi.”


Aku sadar semua ini buka hanya salah Omega, dari awal aku sendirilah yang menyebabkan semua ini bisa terjadi.


Anda saja aku tidak menggunakan factory saat masih di dalam item box, pasti kesadaran Omega tidak akan pernah berevolusi menjadi skill (industri).


Memanggil Pushrank, aku berkendara menuju rumah Liliana. Di jalan aku menjelaskan pada Omega tentang beragam rasa lelah yang dialami oleh manusia.


“Berbeda dengan robot yang akan lelah sast kehabisan energi. Manusia bukan hanya akan lelah saat kehabisan stamina, namun mereka juga akan menjadi lelah jika terus melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang.”


[Dengan kata lain master hanya bosan karena terus menerus pembangunan?]


“Ya begitulah?.”


Omega bahkan bisa memahami penjelasan dariku dengan sangat mudah, walaupun aku sendiri tidak terlalu memahami apa yang baru saja aku katakan.


Kecerdasan buatan memang sangatlah pintar. Tetapi aku sendiri merasa takut akan hal itu.


Bagaimana jika dia mempelajari tentang ‘Manusia’ dan sadar jika manusia adalah makhluk yang sangat merusak.


Itu akan menjadi masalah besar jika Omega memilih untuk menjadi seperti manusia. Sebagai salah satu orang yang menciptakannya, aku merasa bertanggung jawab untuk mendidiknya.


Tetapi masalahnya aku tidak memiliki pengalaman sedikitpun tentang ini.


[Master, bagaimana jika aku saja yang membuat gedung perumahan untuk para pengungsi?]


Tiba-tiba saja Omega ingin membantuku menyelesaikan pekerjaan pembangunan Rumah susun.


Sebenarnya aku ingin menolak, tetapi takut jika Omega berpikir bahwa aku tidak mempercayainya.


Aku pun tidak memiliki pilihan lain selain mengijinkannya melakukan pembangunan tanpaku.


“Tetapi ingat untuk berhati-hati dan juga sampai seseorang melihat para robot.”


[Siap master. Aku tidak akan mengecewakan mu. Akan aku rudal siapa pun yang mendekat dalam jarak lima ratus meter!]


“Wat the heck! rudal apaan tadi?.”


[Ahahaha... Aku hanya bercanda Master. Aku hanya akan menakut-nakuti mereka dengan para robot yang didandani seperti hantu]


Mendengar Omega tertawa membuat aku berpikir dia sudah menipuku dari awal. Omega menggunakan rasa simpati yang aku miliki agar mengizinkannya membangun Rusun tanpa campur tangan ku.


Entah apa yang akan dia rencanakan dengan rusun itu. Aku tidak dapat berpikir jernih karena stress yang menumpuk, aku harus segera menyalurkannya.


***


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2