
Sebuah mobil sedan yang dikawal oleh satu truk militer melintas di jembatan Siwak.
“Perjalanan ini sungguh sebuah pemborosan. Anda tahu, jika kita lebih baik menggunakan bahan bakar yang digunakan selama perjalanan ini untuk menghidupkan generator listrik.”
Seorang prajurit berpangkat letnan memperlihatkan wajah kesal, sepertinya ia tidak begitu senang dengan perjalannya menuju kota Sawi.
“Aku rasa tidak begitu letnan. Perjalanan ini sangat penting untuk negara ini.”
Balas pria dengan jas hitam dengan dasi merah. Erik Trolge seorang anggota Dewan tingkat satu yang mewakili seluruh provinsi tengah.
Sedangkan prajurit militer yang bersamanya di dalam mobil adalah Lukman Luke dengan jabatan Letnan Satu, dialah pemimpin semua prajurit yang mengamankan perjalanan mereka.
“Akibat tindakan gegabah Jenderal Bambang dan anak buahnya, kini kota Sawi terancam melakukan pemberontakan seperti yang terjadi pada sebagian kota di provinsi lainnya.”
Mendengar perkataan Erik sontak membuat Luke marah, tangannya mengepal saat mengingat apa yang sedang terjadi pada kedaulatan negara.
Di saat keadaan sangat berbahaya. Pemberontakan tumbuh begitu subur.
Tetapi letnan Luke segera bersikap tenang ketika ia mengingat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ini bukanlah ketegangan politik yang sengaja di sulut oleh pihak luar, namun semua terjadi karena ketidak puasa masyarakat yang merasa telah di abaikan.
Kedatangan Erik ke kota Sawi bertujuan untuk perdamaian. Dia akan berusaha untuk membujuk pemimpin kota agar tidak melakukan hal yang sama seperti daerah lainnya.
“Bagaimana jika mereka menolak?.” tanya Luke.
Erik tidak segera menjawab, wajahnya memperlihatkan kesulitan seakan sedang berpikir keras.
“Itu akan lebih mudah? Kita bisa membuat kotak itu sebagai contoh untuk daerah lain yang memberontak.” ucap seorang prajurit yang duduk di samping sopir.
Fikri Kecekal, salah satu anak buah Jendral Bambang. Dia ikut dalam perjalanan menuju kota Sawi mewakili pasukan sebelumnya untuk meminta maaf.
Namun sepertinya dia tidak begitu menyesali perbuatannya, sehingga permintaan maaf itu hanya sebuah formalitas belaka.
Mendengar perkataan Fikri, dua reaksi berbeda ditunjukkan oleh Erik dan Luke.
Sang anggota dewan berpikir tindakan itu akan sangat beresiko, sedang si letnan berpikir mungkin itu memang akan berdampak pada para pemberontak.
Berbeda dengan darah lainnya yang terhalang oleh lautan luas sehingga pemerintah tidak dapat mengerahkan pasukan untuk melawan pemberontakan.
Kota Sawi berada di pulau yang sama dimana pusat pemerintahan berada. Mereka bisa mengerahkan pasukan kapanpun dari markas militer yang berada di kota Toge.
Tetapi masalahnya adalah para penduduk kota Sawi itu sendiri yang tidak bisa diremehkan.
“Aku sudah menyaksikan pertempuran pasukan Jendral Bambang melawan kelompok Hunter dari kota Sawi, jika tidak salah nama kelompok itu guild Pasukan Poci bukan?.”
“Pasukan Poci? Nama yang sungguh konyol.” Luke seakan meremehkan pasukan dengan nama aneh itu.
__ADS_1
“Tetapi jangan salah, pasukan Poci itu begitu kuat hingga bisa mengalahkan pasukan Jendral dengan sangat mudah.”
“Heh... sungguhan?.” Luke mengaggap itu hanya sebuah lelucon.
Namun melihat wajah Fikri yang begitu gelap membuat Luke berpikir ulang.
“Sangat konyol, bagaimana bisa kelompok dengan nama konyol seperti itu bisa menjatuhkan pasukan Jendral dengan senjata lengkap?.”
Dengan kata lain Luke sedang mempertanyakan kekuatan dari pasukan Jendral yang bisa dikalahkan dengan mudah oleh kelompok rakyat biasa.
Dia semakin tidak dapat menahan dirinya untuk tertawa saat mendengar jika pasukan Poci hanya menggunakan senjata primitif seperti tombak dan pedang untuk menyerang.
“Jangan bertingkah bodoh letnan, kau pun sama seperti mereka yang disebut Hunter bukan?.”
Tawa Luke seketika berhenti saat mendengar perkataan Dewan Erik. Lirikan mata Fikri tertuju padanya.
“Bagaimana anda mengetahui Itu?.” tanya Luke dengan penuh intimidasi.
“Itu sangat mudah, aku mendengar jika anda memerintahkan pasukan anda agar tidak menggunakan senjata api saat melawan monster.”
“Itu karena aku ingin menghemat persediaan amunisi.” Luke berusaha untuk mengelak.
Tetapi Erik tidak membiarkannya begitu saja.
“Namun setelah update sistem anda semakin giat melakukan pelatihan tanpa senjata api. Beberapa kali juga anggota pasukan anda kedapatan memiliki senjata dari bagian tubuh monster.”
Luke tidak dapat lagi mengelak, Dewan di depannya telah mengetahui apa yang selama ini telah ia lakukan bersama pasukannya.
Dia pernah mengatakan hal itu pada Jendral Bambang, namun yang dia dapatkan hanya hujatan keras.
Luke dianggap telah membahayakan pasukannya karena memberikan perintah tidak masuk akal dengan menyuruh mereka melawan monster menggunakan senjata jarak dekat.
“Setelah merasakan sendiri bagaimana menjadi kuat seperti para Hunter, anda pasti sadar jika kekalahan Pasukan Jendral adalah sesuatu yang sangat wajar bukan?.”
Luke hanya terdiam mendengar perkataan Erik. Walaupun memang melawan monster sangatlah berbahaya jika menggunakan senjata biasa.
Namun pengalaman yang didapatkan jauh lebih besar dari pada menggunakan senjata api.
Setiap orang tahu itu, tetapi disaat seluruh negara di dunia sedang berlomba meningkatkan prajurit mereka dengan perburuan Dungeon.
Para pemimpin negara ini justru masih bersikeras untuk mengutamakan keselamatan dengan mengharuskan para prajurit untuk menggunakan senjata api yang tidak begitu berguna saat melawan monster tingkat tinggi.
Tetapi alasan sebenarnya kenapa pemerintah mewajibkan penggunaan senjata bukanlah demi keamanan prajurit.
Alasan sesungguhnya adalah akibat dari menurunnya harga senjata api di pasar dunia. Senjata api dipandang telah usang karena terbukti kurang efektif untuk melawan monster.
Mereka beralih dari senjata api lalu sekarang lebih fokus pada pengembangan teknik tempur jarak dekat maupun teknologi sihir.
__ADS_1
Akibatnya harga senjata api semakin turun karena kehilangan peminat. Tidak ingin merugi, para penjual senjata yang berasal dari negara besar pun terpaksa mengadakan cuci gudang dengan diskon besar.
Banyak negara yang tergiur dengan harga persenjataan yang begitu murah. Namun bukan hanya sekedar untuk keamanan negara yang menjadi tujuan mereka membeli senjata.
Mereka membeli senjata dengan harga penuh walaupun jelas ada diskon. Mereka mengambil dana lebih untuk diri mereka sendiri.
Itu jelas lebih menguntungkan daripada mengeluarkan biaya untuk melatih para tentara menaikkan level.
‘Walaupun negara ini sedang dalam keadaan darurat, namun para tikus itu masih saja mencari kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.’
Luke sangat marah dalam hatinya ketika mengetahui fakta itu.
Sebagai seorang prajurit yang didoktrin untuk mencintai negerinya, Luke reka melakukan apapun untuk menyingkirkan para Dewan korup itu.
Karena itulah dia secara diam-diam memperkuat pasukannya dengan melakukan perburuan tanpa senjata api, agar suatu saat nanti dia bisa membersihkan para parasit yang menggerogoti negara yang sangat ia cintai.
Setelah melewati jembatan Siwak, mereka akan segera melihat kota Sawi.
Namun kali ini berbeda.
Mereka tidak melihat kota Sawi yang hancur akibat serangan monster.
Bukannya mata mereka rabin atau semacamnya hingga tidak dapat melihat kota Sawi.
Tetapi karena adanya tembok besar yang menghalangi pandangan mereka.
“Tembok apa itu?.” ucap Erik penasaran.
Letnan Luke juga tidak kalah terperangah oleh tembok yang terlihat kokoh setinggi dua puluh meter itu.
Erik lantas menanyakan tentang tembok itu pada Kolonel Fikri, namun pria itu mengatakan ketidak tahuannya.
“Bukankah baru kemarin pasukan Jendral Bambang meninggalkan kota Sawi?.”
Dewan Erik jelas tidak percaya jika Fikri tidak pernah melihat tembok itu sebelumnya. Tetapi tentu saja Fikri masih mengatakan hal yang sama.
“Jika anda tidak percaya dengan kesaksian saya, anda bisa bertanya pada semua prajurit yang ikut bersama kami, bahkan jika perlu anda bisa bertanya pada Jendral sendiri.”
Fikri agak emosi karena Erik tidak percaya pada perkataannya.
Dewan Erik pun melakukan itu, menghubungi Jendral Bambang untuk menanyakan tentang tembok besar di kota Sawi, dan hasilnya pun sama saja dengan kesaksian Fikri.
“Tetapi bagaimana mungkin?.”
Erik sangat kebingungan dengan tembok besar yang muncul dalam satu malam di kota Sawi.
__ADS_1
***
Bersambung