
“Baiklah, aku harap kalian mengerti apa yang aku bicarakan.”
Semua hewan hanya menatapku dengan lugu. Aku hanya bisa menghela nafas melihat mereka seperti itu.
“Kalian sama sekali tidak mengerti apa yang aku katakan, bukan?”
Benar, tidak ada satupun dari para bintang yang mengerti tentang strategi penyerangan yang aku sampaikan.
‘Bodohnya aku karena berharap terlalu banyak.’
Roxy menggonggong ke arahku, seakan mengatakan jika dia mengerti apa yang aku katakan, begitu juga Akita yang seakan tidak ingin kalah dengan seniornya.
“Ahaha... kalian para anjing memang pintar.” aku segera mengusap kepala kedua anjing itu. Apa yang aku lakukan pada ke dua anjing tampaknya menimbulkan kecemburuan pada binatang lainnya.
Aku pun menggunakan perasaan mereka untuk memotivasi. “Kaluan juga harus berusaha keras untuk lebih kuat dan cerdas,” mendengar itu semua bintang pun segera menanggapi perkataanku dengan bahasa mereka sendiri.
“Baiklah, semuanya sudah siap, mari kita mulai.” mengambil belati kelinci dan sabit belalang dari item box, aku bersiap untuk memulai pertarungan.
“Courage!.”
Teriakan keras yang aku lakukan membuat para monster mengetahui keberadaan kami. Seharusnya aku menggunakan skill ini saat pertarungan sedang terjadi, tapi karena rencana berubah aku pun terpaksa menggunakan skill buff lebih awal.
Semua pasukan hewan mendapatkan tambahan kekuatan begitu aku menggunakan skill (Courage). Melihat para monster datang aku pun segera mengerahkan mereka untuk maju.
“Roxy ambil komando!.”
Guk! Roxy segera mengambil alih posisi sebagai pemimpin pasukan. Anjing itu mampu berkomunikasi dengan semua binatang, menjadikannya pemimpin yang cocok untuk memimpin pasukan.
Roxy mengerahkan pasukan pada sisi di mana monster lemah berkumpul. Sementara aku akan menghadapi monster yang lebih kuat.
Gerombolan tikus besar dan kelinci monster menyerang, Cika, Ciki, Ciku Ciko kelompok empat ayam menghadapi pasukan tikus. Kelabang raksasa mulai memasuki medan perang, namun sayangnya sebelum melakukan apapun nyonya Goty menabrak kelabang itu hingga menembus beberapa tembok rumah.
Roxy melawan tiga belalang sembah dengan Akita yang menjadi partnernya. Sementara aku mengendarai Pushrank bertindak sebagai support. Aku akan membantu jika ada pelihara yang sedang dalam bahaya.
“Lalu bagaimana dengan mu, tuan Oyen? Apa kau tidak ingin membantu?.” aku berbicara pada kucing yang sejak tadi tidur di dalam atas.
Mendengar perkataanku, kucing itu memperlihatkan kepalanya lalu mengeong kecil.
\[Kelincahan Up\]
“Apa, bagaimana bisa?.”
Aku sangat terkejut melihat kucing pemalas itu mampu memberikan buff pada seluruh anggota. “Bagaima kau bisa menggunakan sihir?.” tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu, tetapi tanpa menjawab kucing itu segera kembali masuk kedalam ransel.
Tidak lama kemudian suara dengkuran khas dari kucing pun terdengar. Aku hanya menghela nafas pasrah melihat sikap kucing pemalas itu. Kemudian aku kembali fokus pada pertempuran.
__ADS_1
Pertempuran berjalan sangat baik. Setelah mengalahkan kelabang raksasa, nyonya Goty segera membantu para ayam melawan gerombolan tikus dan kelinci.
Dia seperti kambing gila saat menerobos puluhan monster itu dan menerbangkan beberapa. Keempat ayam mengambil kesempatan menyerang saat kawanan moster yang tercerai berai akibat perburuan nyonya Goty.
Kekompakan keempat ayam membuatku sangat kagum. Mereka hanya memiliki dua jenis serangan yaitu mematuk dan mencakar, tapi teknik menghindar mereka sangat mengagumkan.
Walaupun walaupun mendapatkan serangan dari segala arah, mereka selalu memiliki cara untuk lolos kemudian melakukan serangan balik.
“Itu menginginkan aku bagaimana sulitnya menangkap seekor ayam yang terlepas dari kandang.”
Perhatianku kemudian beralih pada Roxy dan Akita, keduanya begitu kompak melawan belalang sembah. Empat sabit belalang tidak mampu menyentuh Roxy yang begitu lincah, terkaman Akita mampu mematahkan leher Belalang yang begitu rapuh.
“Sepertinya bekalang pun bukan lagi masalah untuk kami.” Melihat mereka yang bertambah kuat membuatku senang.
Pertarungan itu berakhir hanya dalam dua puluh menit, semu binatang tidak mengalami luka, kecuali untuk nyonya Goty yang sepertinya mengalami beberapa serangan saat melakukan tubrukan pada kawanan tikus besar dan monster kelinci.
“Akan sangat gawat jika kau terkena infeksi.” aku kembali teringat saat luka yang hampir merenggut nyawaku disebabkan oleh tikus besar. Aku tidak ingin nyonya Goty mengalami hal yang sama.
Tetapi kambing itu mengembik seakan memberitahuku jika semua baik-baik saja. “Meskipun kau mengatakan begitu.”, aku memeluk nyonya Goty, tetapi aku segera berhenti saat melihat binatang lainnya pun ingin mendapatkan pujian setelah pertarungan.
“Kerja bagus semuanya, kalian telah berlatih dengan baik hingga menjadi sangat kuat!.”
Seketika lolongan anjing dan suara setiap hewan terdengar keras, mereka sangat senang mendapatkan pujian dariku.
Ding!.
Lalu Job lainnya pun terbuka, “Waha.... aku tidak menyangka bisa semudah ini mendapatkan job.”
Kawanan monster lainnya mulai menyerang. Sepertinya suara berisik para bintang menarik perhatian mereka.
Melihat kawan monster lainnya datang menyerang, para hewan segera bersiap untuk pertarungan lainnya. Tapi kali ini aku juga ikut langsung membantu mereka, karena pertarungan pertama jelas telah menguras energi para hewan.
Karena aku juga ikut pertarungan secara langsung, akibatnya pertarungan itu berlangsung lebih cepat dari yang pertama.
Walaupun jumlahnya lebih banyak dan juga ada beberapa serigala, tapi itu tidak menjadi masalah utuk pasukan Hunter terkuat sekomplek perumahan ini.
\*\*\*
Kami pulang saat matahari tengah hampir tenggelam. Semua bintang yang kelelahan setelah petualang kecil kami pun segera beristirahat di dalam basemen rumah tetangga.
Sementara aku segera mandi dengan Roxy dan Akita, lalu bergabung dengan di meja makan bersama Jek dan Tohir untuk makan malam.
“Sup kelinci ini sangat lezat, terimakasih Jek.”
{Apa dia menyukai masakan ku?. Sepertinya begitu, aku merasa senang}
__ADS_1
Jek senang mendapatkan pujian karena masakannya. Aku sempat bertanya bagaimana Jek bisa memasak dan darimana dia mengetahui resep masakannya.
Lalu Jek mengatakan jika dua mengetahui itu semua begitu saja, dia sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Seakan keahlian memasak Jek didapat sejak dia dilahirkan.
{Lalu bagaimana dengan keadaan sekitar?.}
Giliran Tohir berbicara.
“Seperti yang kau katakan,.... Banyak monster muncul.” Sangat sulit untuk berkomunikasi dengan Tohir, aku perlu melakukan beberapa gerakan aneh agar Dwarf itu mengerti apa yang aku bicarakan.
{Kau ingin mengatakan beberapa kelompok monster muncul?.}
“Yaaah...” setelah menggerakkan tangan kesana-kemari seperti penari Pendet, akhirnya dia mengerti apa yang aku bicarakan.
{Sepertinya waktunya semakin sedikit}
Wajah Tohir berubah begitu serius, dia pun melirik ke arahku, tetapi itu hanya sesaat hingga akhirnya dia melanjutkan makan.
Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, seolah dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak jadi mengatakannya. Itu membuatku sangat penasaran.
Setelah makan aku tidak langsung pergi masuk ke dalam kamar. Tetapi masih di ruang tamu karena ingin melakukan sesuatu.
“Aku harap ini berfungsi.” ucapku saat mencoba menghidupkan alat yang sangat antik.
Sebuah alat yang dulu berguna untuk komunikasi dan hiburan yang tidak kalah dari televisi. Sebuah Rdio.
“Aku tidak pernah sekalipun menggunakan radio secara langsung sebelumnya. Aku hanya pernah menggunakan radio yang terdapat pada smartphone.”
Radio menggunakan baterai sebagai energi. Setelah baterai terpasang, aku segera mencoba menghidupkan dan berharap alat itu masih bisa berfungsi.
Terdengar suara statis dari alat tersebut, mendengarnya membuat kedua anjing yang dari tadi terus menemaniku menjadi begitu senang.
Apa mereka berharap mendengar sesuatu dari radio?.
Hanya ada suara statis, walaupun aku sudah berusaha untuk mengganti saluran tapi tetap saja yang aku dengar hanya berisik dan mengganggu.
“Mungkinkah tidak ada sinyal yang mencapai sini?.”
Beberapa pemancar sinyal mungkin telah rusak akibat perbuatan monster, mungkin itu yang membuat sinyal menjadi begitu lemah.
“Mungkin jika aku ditempat yang lebih tinggi...”
Aku seketika teringat dengan menara sutet di dekat Minimarket, jika aku menyalakan radio di atas menara itu mungkin saja akan ada sesuatu yang aku temukan.
“Baiklah sudah cukup untuk hari ini.” Aku segera mematikan radio, melihat itu membuat Roxy dan Akita sedih.
__ADS_1
Seperti biasa aku mencatat semua yang terjadi hari ini dalam buku diary, lalu tidur setelahnya.