
Sebuah video tengah diperbincangkan oleh pengguna sosial media. Walaupun tidak begitu menarik perhatian tetapi isi dalam video cukup menggelitik pemikiran setiap penonton yang melihat video itu.
Apakah keberadaan Hunter memang diperlukan?.
Saat ini perdebatan itu tentu tidak relevan dikarenakan monster masih menguasai dunia.
Walaupun sudah ada Dungeon yang berhasil ditaklukkan, tetapi jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan yang masih aktif.
Jumlah monster sebabnya itu tentu tidak bisa dilawan hanya dengan kekutan militer yang ada saat ini.
Karena itulah para warga pun diharapkan memberikan bantuan, karena itulah Hunter muncul.
Namun lain halnya jika suatu saat monster sudah musnah. Keberadaan Hunter pun tidak lagi dibutuhkan, sehingga perdebatan tentang keberadaan mereka menjadi layak untuk diperdebatkan.
Bambang melihat video itu melalui ponselnya. Sementara di laptop dia memiliki video yang sama, namun dari sudut pandang yang berbeda dan memiliki durasi lebih pendek.
Dua video yang memperlihatkan kejadian yang sama, namun salah satunya telah diubah sedemikian rupa.
Bambang berniat menggunakan video dengan durasi lebih pendek untuk keuntungan ‘Negara’.
Namun melihat jika video yang lebih panjang beredar lebih dulu membuatnya mengurungkan niat untuk meng-upload video yang lebih pendek.
Keputusan itu membuat pekerjaan bawahnya yang telah membuat video menjadi sia-sia.
“Dia mengatakan tidak peduli senjata-senjata yang dia jual akan digunakan untuk apa...”
Bambang membicarakan video yang baru dia tonton.
“Sungguh orang yang sangat berbahaya. Kita harus segera menahan Pemuda pemilik Toko Asongan. Jika tidak kita tidak tahu bencana seperti apa yang akan timbul saat semakin banyak warga biasa memiliki senjata.”
Komentar bawahan Bambang, Hanum Carewt. Pria bermata biru itu begitu emosi saat membicarakan tentang Budi sang pemilik toko.
“Bukankah pria itu yang menjaga gerbang area terlarang?.”
Perkataan Fikri yang tiba-tiba, membuat perhatian Bambang dan Hanum menatapnya.
“Kau pernah bertemu orang itu di area terlarang?.” Hanum bertanya.
Fikri pun mengiyakan dan menceritakan pada rekannya tentang apa yang terjadi padanya saat melakukan investigasi mengenai penyebab guncangan siang tadi.
“Ah guncangan itu. Lalu apa yang kau temukan.”
“Guncangan itu berasal dari area terlarang. Aku bertemu dengan pria yang di video sedang bekerja gerbang depan sebagai penjaga, dia adalah pria yang sangat arogan.”
Fikri mengingat kembali saat Budi melarangnya masuk. Walaupun Fikri adalah pihak militer yang sedang menjalankan tugas. Tetapi Budi tidak peduli dan tetap tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk kedalam area terlarang.
“Hingga dia pun berani menghalangi militer sampai seperti itu!.”
Mendengar cerita dari Fikri membuat Hanum semakin marah.
__ADS_1
“Dia pikir siapa dirinya hingga berani menahan kita?.”
Ketika pasukan Bambang berada di kota lain, mereka selalu mendapatkan sambutan meriah. Kehadiran mereka bagaikan pahlawan yang memberikan pertolongan tanpa pamrih.
Memberikan keamanan pada para warga dari para monster, menyelamatkan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Namun di kota ini para warga hanya menganggap mereka sebagai para pelancong lewat saja. Tidak ada yang sepesial dengan kedatangan mereka ke kota.
‘Mungkin semua akan berbeda jika monster bernama Rango itu tidak pernah mengalahkan Genk the Daki.’
Dalam hati Bambang sendiri merasa kecewa dengan sikap acuh para warga kota Sawi.
Dia merasa mungkin lebih baik jika kota ini merasakan penderitaan lebih dahulu, agar belajar menghargai para pahlawan sepertinya.
“Untuk sekarang singkirkan kemarahan kalian. Sudah waktunya untuk membahas rencana malam ini.”
Mendengar perintah Bambang, kedua anak buahnya pun merubah sikap menjadi serius. Mereka kemudian merencanakan sesuatu pada kota Sawi.
***
Jam tujuh malam, toko tutup lebih awal dari biasanya karena memang sudah waktunya untuk Siti kembali ke Mansion.
Setelah membereskan toko dan memastikan pintu terkunci, Siti pergi ke ruang penempa untuk bertemu Bos nya.
Namun saat ini membuka pintu besi yang mengarah pada tangga ke bawah, tiba-tiba pintu itu dibuka oleh Budi dari dalam. Itu membuat Siti terkejut hingga hampir terjatuh.
“Bahaya!.”
“Siti bisakah kau membantuku pagi?.”
Mata Siti terbelalak saat mendengar perkataan Budi. Dia kembali teringat pada kejadian saat pesta yang menjadi awal pertemuan mereka.
Namun setelah mendengar permintaan Budi kali ini arah mata Siti berubah. Melihat itu Budi sudah tahu jawabannya.
Keduanya kemudian memperbaiki posisi.
“Maaf bos hari ini aku begitu lelah, tidak aku sangka pengunjung yang datang begitu banyak. Melayani mereka menguras banyak tenaga”
Mendengar penolakan Siti membuat Budi kecewa. Walaupun dia bisa saja menggunakan keahlian [Bujukan] dari pekerjaan Orang Mesum.
Namun Budi memilih tidak menggunakannya karena merasa Siti memang butuh istirahat setelah bekerja keras menggantikannya menjaga toko.
“Baiklah mungkin lain kali.”
Budi membalas dengan santai. Tetapi itu justru membuat Siti terkejut. Gadis itu berpikir jika Budi akan melakukan pemaksaan padanya, tetapi ternyata dugaannya salah besar.
‘Dia tidak seperti para orang kaya itu yang merasa keinginan nya adalah mutlak dan harus segera di laksanakan.’
Siti teringat dengan majikan lamanya. Majikan yang Siti layani sebelum dia bekerja sebagai pembantu di Mansion Yuki.
__ADS_1
Seperti Siti, banyak pembantu yang kehilangan pekerjaan karena majikan mereka terbunuh oleh monster.
Karena tidak memiliki pekerjaan lagi, mereka pun menjadi sukarelawan untuk membantu di mansion.
Bekerja di Mansion, mereka mendapatkan tempat tinggal dan makanan yang layak. Hingga akhirnya Siti bekerja di Mansion hingga hari ini.
Siti takut jika suatu saat Yuki tidak lagi membutuhkan sukarelawan lalu memilih memecat para pembantu. Seandainya itu terjadi maka dia tidak tahu akan pergi ke mana.
Karena itulah ketika Yuki mengatakan jika ada sebuah Toko yang membutuhkan pekerja, Siti pun segera mencalonkan diri untuk mengambil pekerjaan itu.
Siti berjalan di malam hari menuju Mansion. Di dalam pikirannya terus mengingat tentang permintaan Budi, bos di toko tempat dia bekerja.
Jika saja Budi memaksa kehendaknya seperti yang dilakukan para orang kaya, Siti pasti akan memberikannya pelayan.
Walaupun dia tidak menginginkan itu karena lelah, tapi Siti harus melakukannya karena dia tidak ingin kehilangan pekerjaan.
Setelah Siti meninggalkan toko, Budi pun kembali bekerja. Dia menghubungi seseorang lewat video call.
{Ada masalah apa bocah, kenapa kau tiba-tiba menelfon? Bukankah kau sedang menjalankan proyek pembangkit listrik di kota?.}
Di layar terlihat seorang pria tua dengan wajah di penuh rambut. Tohir sang kurcaci yang menjadi guru pandai besi Budi.
{Dari wajahmu, aku bisa menebak jika kau dalam masalah bukan?}
“Ya seperti itulah....”
Budi pun menceritakan tentang program pembangunan pembangkit listrik.
Dia mengatakan jika ukuran lubang yang terlalu besar karena kesalahan teknis saat menggali, membuat dirinya harus merubah Blue print rancangannya.
{Seberapa jauh kau menggali?}
“Ya itu sekitar 500 hingga 600 meter.”
{Apa! Bagaimana bisa melenceng sejauh itu?.}
“Itu karena drill yang digunakan oleh Goliath sangat luar bisa.”
Budi sangat bangga ketika mengatakannya, itu karena drill untuk digunakan oleh Goliath adalah buatannya sendiri.
{Tck, dasar bodoh. Lalu bagaimana sekarang, Blue print itu hanya dibuat untuk kedalam 100 meter}
“Aku sudah memikirkannya, yang aku butuhkan adalah lebih banyak tenaga kerja.”
Mendengar perkataan Budi, sorot mata Tohir semakin tajam.
{Jangan katakan kau akan menggunakan 'itu'}
“Ya, aku butuh menggunakan 'itu'.”
__ADS_1
Percakapan keduanya pun berlangsung semalam. Tohir menentang keras Budi menjalankan rencana yang dia pikirkan, namun karena merasa itu perlu, Budi pun bersikukuh akan menggunakannya.
Hingga akhirnya mereka pun mencapai kesepakatan setelah bertarung dengan ideologi selama hampir dua jam.