Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
47. Lebih dari Raya


__ADS_3

Suara kaca pecah terdengar dari atas, sepuluh anggota geng Belati Merah menerobos melalui atap kaca menuju kebahagiaan adalah Mansion. Target mereka adalah keluarga Raya yang saat ini tidak di jaga.


“Oh tidak ini gawat!.” Ridwan khawatir dengan ibu dan adik Raya.


“Ahahaha, mencoba menyelamatkan mereka sekarang pun akan terlambat. Mereka adalah anggota terbaik Genk Belati Merah, kalian tidak akan bisa menyelamatkan mereka.”


Rencana cadangan yang Handry pikirkan adalah menggunakan ibu dan adik Raya sebagai sandaran untuk mengendalikan gadis itu.


Hendry tahu Raya sangat menyayangi keluarganya, itu terlihat jelas ketika Raya dengan gigih mencari obat untuk ibunya yang terkena infeksi.


Pria itu yakin jika anggotanya bisa menjadikan dua orang yang disayangi oleh Raya sebagai sandera, maka gadis terkuat di kota Sawi itu bisa ia taklukan.


“Ini adalah Skakmat, kau kalah Raya....”


Jraasss!.


“AAAA...!.”


Teriakan kesakitan Hendry bergema ketika serangan Raya berhasil mengenai wajah pria itu hingga membuatnya terluka parah, anggota Geng Belati Merah segera melindungi Hendry yang terluka.


‘Kenapa justru menjadi seperti ini?.’ Pemimpin geng Belati Merah itu sangat terkejut saat Raya seperti tidak terganggu sedikitpun.


‘Bukankah seharusnya gadis brengsek ini panik melihat keluarganya dalam bahaya?.’


Melihat Raya yang tidak bereaksi seperti yang dia pikirkan, membuat rasa sakit pada luka di wajah Hendry semakin berlipat ganda.


“Apa kau penasaran kenapa aku tidak panik?.” Raya seakan bisa membaca pikiran Hendry. “Itu karena seseorang yang lebih kuat dariku tengah melindungi keluargaku.”


Mendengar perkataan Raya membuat orang-orang penasaran dengan sosok mana yang lebih kuat dari gadis itu di kota ini. Hingga saat mereka melihat keluarga Raya yang saat ini di kepung anggota Belati Merah, hanya pemuda cacat bernama Budi yang menjaga mereka.


“Ahahaha...” Hendry tertawa terbahak-bahak. “Apa kau serius menyerahkan keamanan kedua orang yang kau sayangi pada pemuda cacat dan tidak berguna seperti dia?.”


Bukan hanya Hendry, bahkan setiap orang yang mendengarnya pun mulai mempertanyakan kewarasan Raya yang mengandalkan pemuda seperti Budi.


“Jangan sembarangan melabeli seseorang yang tidak kau kenal dengan sebutan tidak berguna.” Tatapan raya begitu tajam dan dingin, membuat semua orang yang melihatnya merasa ngeri.

__ADS_1


“Dunia ini telah berubah, setiap orang bisa menjadi kuat. Seharusnya kau menjaga ucapan mu jika tidak ingin menyesalinya.”


***


Di lantai dua, sepuluh anggota geng Belati Merah mengelilingi Budi, Yuniar dan Rohid. Bermaksud melindungi ibunya, Rohid menempatkan Yuniar di tengah-tengah antara dirinya dan Budi.


“Aku tidak mengerti kenapa menjadi seperti ini.” Budi terlihat kesal saat tiba-tiba pesta menjadi begitu kacau, “Apa itu artinya pesta telah usai atau justru diperpanjang?.”


Tidak tahu yang mana.


Yang Budi inginkan hanyalah Nasi Goreng yang telah Raya janjikan untuknya.


“Ahahaha... lihat si kecil itu sangat ketakutan.” salah satu anggota Genk Belati Merah menunjuk Rohid. Diantara anggota yang lain pria itu terlihat lebih mencolok, yang membuatnya mudah dikenali sebagai pemimpin pasukan ini.


“Pramono, aku tidak akan membiarkan mu menyakiti ibuku!.” Rohid mencoba menggertak, namun justru membuat semua anggota geng tertawa terbahak-bahak.


“Anak kecil sepertimu apa yang bisa kau lakukan?.” ucap Pramono dengan wajah penuh intimidasi.


Sebuah wajah dengan mata membesar dan melotot, serta senyum seperti orang gila. Pria bernama Pramono ini seperti sangat ahli membuat lawannya terintimidasi.


Pramono bersiap melakukan serangan yang terarah pada Rohid. Dia berencana akan membuat bocah itu babak belur untuk membuat Raya menderita, setelah itu...


‘Aku akan bermain-main dengan ibunya, ahihihi...’


Dalam kepala Pramono hanya ada kesenangan, dia tidak berpikir jika mungkin saja ada seseorang yang menggagalkan rencananya. Karena dia tidak melihat seseorang yang layak untuk menghadapinya.


‘Apa itu pemuda cacat yang berjalan dengan Raya, ahaha... mana mungkin kotoran seperti dia bisa melawanku.’ dia samasekali tidak mengaggap Budi sebagai ancaman.


Pramono pun melayangkan tinjunya. Kecepatan serangan pria itu begitu cepat hingga Rohid tidak mungkin bisa melihatnya. Yuniar segera memeluk putranya untuk melindungi, wanita itu siap menerima pukulan Pramono.


Namu ketika tinju Pramono akan memukul Yuniar, tiba-tiba.


Grour! Seekor anjing Doberman muncul dari bayangan Budi, menggigit lengan Pramono.


“Giyaaa!.” Pramono menjerit keras merasakan rasa sakit akibat gigitan anjing.

__ADS_1


“Roxy!.” ucap Rohid dan Yuniar yang sangat terkejut dengan kemunculan anjing peliharaan mereka.


Roxy menggigit kuat lengan Pramono hingga mengalirkan berdarah begitu deras. Tetapi Roxy segera melepas gigitannya ketika Pramono hendak menyerangnya dengan tangan lainnya.


“Anjing kurang ajar!.” maki Pramono. Karena marah Pramono segera memerintahkan pada anak buahnya untuk segera mengamankan Rohid dan Yuniar yang akan dijadikan sandaran. Namun tentu saja Roxy dan Budi tidak akan membiarkan itu terjadi.


Anggota geng Belati Merah masih tidak mengaggap Budi sebagai ancaman. Yang mereka khawatirkan hanya anjing Doberman, namun itu merupakan kesalahan besar.


Priiit! Budi memanggil Pushrank dan Akita yang menunggu di luar untuk membantu. Perkelahian antara tiga binatang melawan sepuluh anggota geng Belati Merah pun terjadi.


Rohid dan Yuniar hanya bisa menatap pertarungan, keduanya dilarang memberikan bantuan oleh Budi. “Tenang saja, mereka bisa melakukannya.” kata Budi penuh keyakinan.


Kemudian seperti yang Budi katakan, tidak ada satupun anggota Genk yang bisa mengimbangi serangan para bintang. Roxy melakukan serangan sedangkan Akita bertindak sebagai pengontrol masa, kemudian Pushrank akan menendang lawan-lawannya yang lengah.


Satu persatu anggota geng Belati Merah ditendang jatuh ke lantai dasar oleh Pushrank. Melihat Pramono dan yang lainnya gagal mendapatkan Rohid dan Yuniar sebagai tawanan, membuat Hendry sangat panik.


“Sekarang baru yang namanya Skakmat!” Kata Yuki yang melihat jika rencana Hendry telah gagal total.


“Dasar tidak berguna!.” umpat Hendry pada Pramono yang saat ini kehilangan kesadaran. Dia pun menatap semua orang di aula utama dengan penuh kebencian. Terutama Budi yang ada di lantai dua.


Handry berpikir jika bukan karena pemuda cacat itu beserta hewan-hewan peliharaannya, maka rencananya pasti tidak akan gagal. Karena itulah saat ini Hendry menyalah Budi atas kegagalan revolusi yang dia coba lakukan.


“Aku tidak akan pernah melupakan ini, aku akan kembali dan membalas...”


Wusss!


Jleb!


“Ghaaak!.”


Sebelum Hendry menyelesaikan sumpah serapahnya, sebuah Belati Kelinci menusuk lehernya yang membuat pria itu tidak bisa bernafas karena darah memenuhi tenggorokannya.


Semua orang sangat terkejut mendapati Hendry saat ini tengah dalam kondisi sekarat dan hampir kehilangan nyawanya. Tidak diketahui dari mana asal belati yang gampang merenggut nyawa pemimpin Genk Belati Merah itu.


“Gawat, jangan biarkan dia mati!.” Ridwan segera meminta seseorang untuk menolong Hendry. Raya dan Yuki segera melakukan pertolongan, anggota geng Belati Merah tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak mungkin menghalangi orang yang ingin menyelamatkan Hendry.

__ADS_1


“Aku tidak mengerti, kenapa mereka justru menyelamatkan seseorang yang ingin membunuh dan memberikan mereka penderitaan.” gumam Budi.


__ADS_2