
“Pushrank, syukurlah kau masih hidup teman.” Budi memeluk kudanya yang masih berada di dalam kandang. Dia bersyukur perkataan para penjaga gerbang mengenai Pushrank yang dipotong ternyata tidak benar.
“Kau terlihat begitu menyayangi para binatang.”
“Tentu saja, selama ini mereka menjadi teman yang penting bagiku. Aku mungkin tidak akan bisa bertahan sejauh ini jika bukan karena mereka.”
Raya hanya bisa membayangkan kesulitan yang Budi jalani selama ini. Setelah meyakinkan pemuda itu jika kudanya akan aman, Budi pun menerima tawaran Raya untuk sarapan bersama.
“Apa kau sudah memastikan jika tidak ada perusuh lainnya yang akan datang merusak acara pagi.”
Raya hanya tertawa kecil mendengar perkataan Budi.
“Tentu tidak, kau pikir kota ini penuh dengan para penjahat seperti Genk Belati Merah?.”
“Ya, siapa yang tahu. Mungkin seseorang tiba-tiba datang dan membuat kerusuhan.”
Budi tidak ingin kejadian tadi malam kembali terulang dimana dirinya terpaksa harus menahan lapar karena terjadi kerusuhan saat pesta. Namun seperti yang Raya katakan, pagi itu tidak ada yang terjadi. Budi dapat sarapan dengan tenang bersama yang lainnya.
Walaupun dia agak canggung saat bertemu dengan Yuniar karena apa yang terjadi tadi malam. Tetapi melihat wanita itu seakan sudah melupakan kejadian itu membuat Budi merasa lebih tenang.
“Kak Budi bisakah aku meminta kau membuatkan aku sesuatu?.” tanya Yuki yang mulai membuka percakapan.
“Usia kita hanya berbeda beberapa tahun, jadi panggil saja Budi.” pinta pemuda itu.
“Okey Budy.... my Budy.” namun Yuki justru membuatnya sebagai candaan.
“Jadi kau ingin aku membuat apa?.” Budi menikmati nasi uduk buatan Raya.
“Aku ingin mempelajari teknik pertarungan yang lain selain pedang dan perisai.”
Selama ini gaya pertarungan Yuki adalah fokus pada pertahanan, karena dia selalu mengandalkan Raya yang menjadi penyerang.
Tetapi setelah cukup banyak anggota Tim yang memiliki gaya pertarungan bertahan seperti dirinya, Yuki pun berpikir untuk mencoba gaya pertempuran lainnya.
Yuki yang tahu jika Budi adalah seorang pembuat senjata, dia pun ingin dibuatkan sebuah senjata dengan gaya bertarung menyerang.
__ADS_1
“Apa itu sebuah katana?.” tebak Budi membuat Yuki sangat terkejut.
“Ba... bagaimana kau tahu!.” Yuki sangat kagum pada Budi yang bisa menebak keinginannya sebelum dia mengatakannya.
“Em... karena kau memiliki darah orang Jepang?.”
Sebuah alasan yang sangat sederhana, semua orang pun tertawa kecil. Sedangkan Yuki sendiri wajahnya menjadi begitu merah.
“Jadi apa Budi bisa membuatnya?.”
“Yeah, aku sudah mencoba membuat pedang seperti itu sebelumnya. Mungkin untuk saat ini kau bisa menggunakan pedang ini.” Budi mengeluarkan sebuah pedang dari kotak item.
“Oh itu keahlian item box yang asli.” Rohid bersemangat saat melihat Budi mengambil sesuatu dari lubang hitam.
“Kemampuan yang sangat praktis bukan?.” komentar Yuniar.
“Apa jika aku pergi ke Dungeon bisa mendapatkan keahlian itu?.” tanya Raya.
Semua orang sepertinya tertarik dengan keahlian penyimpanan dimensi yang hanya dimiliki oleh seorang Petualang.
Gadis itu ingin segera pergi untuk mencoba senjata barunya, namun Raya menghentikan Yuki karena akan sangat berbahaya jika mencoba senjata dan teknik bertarung baru langsung pada monster.
“Setidaknya kau harus melatih gerakan mu dahulu.” saran Raya.
Setelah memberikan pedang baru untuk Yuki, Budi kembali memasukkan tangannya pada kotak barang. Kali ini yang dia ambil adalah sebuah busur panah.
“Apa itu untukku?.” tanya Raya, matanya berbinar seperti anak-anak yang melihat kotak hadiah.
“Bukan!.” namun jawaban singkat Budi menghancurkan kebahagiaan Raya.
“Ini untuk Rohid.” Budi menyerahkan busur pada adik Raya.
Sekarang giliran anak lelaki itu yang menunjukkan mata berbinar yang seperti ditunjukkan oleh Raya sebelumnya.
“Sungguh, ini terlihat keren!.” Rohid sangat senang dengan busur yang Budi berikan. “Terimakasih kak Budi, aku pasti akan belajar dengan giat untuk menggunakan busur ini.” Rohid tersenyum begitu cerah.
__ADS_1
Begitu cerah hingga seolah ada sebuah matahari kecil yang bersinar di belakang bocah itu.
Bukan hanya Rohid yang senang karena mendapatkan sebuah busur. Yuniar yang khawatir dengan putranya pun ikut senang, karena dengan menggunakan busur Rohid tidak perlu berada di garis depan saat berburu monster. Dengan begitu keselamatan Rohid akan lebih terjamin.
“Lalu bagaimana dengan ku!.” Raya mencengkram lengan Budi dengan begitu kuat. Membuat Budi merasa akan mendapatkan masalah jika dia tidak memberikan sesuatu untuk gadis itu.
“Tenanglah, khusus untuk mu, aku sudah menyediakan beberapa senjata.” Budi kemudian mengeluarkan beragam jenis senjata, hingga membuat meja makan itu begitu penuh.
“Ini... ini semua untukku?.” Raya merasa senang dengan senjata yang diberikan oleh Budi, namun dia bingung akan menggunakan yang mana.
“Itu hanya senjata prototipe dengan kekuatan rendah. Aku hanya ingin kau menggunakannya sebagai latihan, Jika kau sudah menentukan senjata jenis apa yang cocok maka nanti aku akan membuatkan mu senjata khusus.”
“Oh benarkah!.”
Raya begitu senang karena Budi akan membuatkan senjata khusus untuknya. Karena begitu senang Raya bahkan sampai memeluknya.
Sebenarnya Budi sudah menyiapkan senjata yang akan dia berikan pada Raya dan Yuki. Yaitu senjata berupa tombak untuk Raya, sementara Yuki akan mendapatkan Pedang dan Perisai.
Namun karena kedua gadis ingin merubah gaya bertarung membuat Budi mengurungkan niatnya untuk memberikan senjata itu sekarang.
“Um... maaf untuk Bibi Yun, karena aku tidak tahu harus memberikan apa padamu.” ucap Budi dengan wajah tertunduk. Dia tidak bisa menatap wajah wanita itu karena kejadian semalam.
“Ah... ahaha.” wanita itu hanya tertawa dengan terpaksa.
Yuniar sendiri masih tidak bisa berbicara dengan Budi, namun demi menghindari kecurigaan Raya dan yang lainnya, dia terpaksa melakukannya.
“Jangan dipikirkan, lagi pula aku bisa menggunakan pemukul pipa yang aku gunakan sebelumnya.”
“Tidak Bu, kau harus menggunakan senjata yang lebih kuat agar semakin mudah melawan monster.”
Semua orang dituntut menjadi lebih kuat karena rencana mereka adalah membangun kembali kota dan menaklukkan Dungeon. Karena itulah Yuniar yang sudah sembuh pun diikuti sertakan dalam Tim, sehingga dia juga harus memiliki sebuah senjata yang memadai.
“Tentu aku juga pasti akan mencobanya.” Yuniar akan mencoba satu persatu semua jenis senjata dan berharap bisa menemukan satu yang cocok untuknya
Acara sarapan itu entah bagaimana berubah menjadi diskusi mengenai rencana masa depan kota. Budi mengutarakan keinginannya untuk memiliki sebuah toko di kota, mendengar itu Yuki sangat senang karena kehadiran Budi bisa membuat perekonomian kota kembali berjalan.
__ADS_1
Yuki pun segera menawarkan kerja sama dengan Budi, dan dia memberikan sebuah wilayah yang cukup strategis untuk digunakan membangun sebuah toko.