Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
30. Gelombang Panas


__ADS_3

Dari atas aku melihat api putih berkobar begitu dahsyat, membakar semua monster yang sebelumnya mengejarku. Melihat itu aku begitu panik, khawatir dengan keadaan Jek dan yang lainnya.


Tetapi beruntung aku melihat mereka berhasil selamat dari serangan tersebut. Walaupun demikian luka bakar yang cukup parah membuat mereka tidak sadarkan diri.


Wong Pute, begitu Orang-orang memanggilnya. Monster yang telah menghanguskan sebuah kota beserta puluhan ribu penduduknya. Pihak militer telah melakukan segala cara untuk mengalahkan monster itu, namun semuanya berujung pada kegagalan.


Lalu tiba-tiba monster berbahaya seperti itu ada di depanku, apa yang harus aku lakukan?.


Lompatan yang aku lakukan saat berusaha menghindar, membuatku terbang tinggi hingga melompati jalan layang setting 15 meter. Namun kini tubuhku mulai jatuh akibat tarikan gravitasi.


Tetapi aku tidak khawatir jatuh dari ketinggian karena efek cincin bulu membuatku lebih ringan, sehingga setinggi apapun aku jatuh masih bisa selamat.


Setelah membakar semua yang ada didepannya, Wong Pute mengarahkan perhatiannya pada jek dan Nyonya Goty yang masih tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Kucing Oyen yang masih sadar berusaha membangunkan Jek dengan menjilati luka bakar di sebagian wajah goblin itu.


Di sisi lain telapak tangan Wong Pute mulai bercahaya, pemandangan sama seperti yang aku lihat sebelumnya. Monster berbentuk manusia berkulit putih abu itu hendak membakar Jek.


“Tidak akan aku biarkan!.” ucapku dengan penuh tekad melindungi teman.


Sabit besi buatan Tohir aku ambil dari kotak item, setelah sebelumnya aku tidak menggunakannya karena takut dicuri oleh para Tuyul. Kemampuan sabit besar aku aktifkan membuat bilahnya kini menjadi tiga seperti cakar binatang buas.


“Aura!”


Aura yang sudah mencapai level lima kini membuat energi yang menyelimuti ku sekarang berwarna agak kebiruan. Kekuatan besar aku rasakan mengalir di seluruh tubuh, lalu dengan sekuat tenaga aku mengayunkan sabit besar kearah Wong Pute yang hendak membakar Jek.


“(Airwaves)!”


Gelombang angin meluncur dari sabetan sabit besar, menyadari serangan datang Wong Pute segera mengalihkan tangannya dari Jek dan sekarang mengarah padaku.


Keringat dingin membasahi punggung saat aku melihat telapak tangan bercahaya itu mengarah padaku. Namun sebelum Wong Pute melemparkan apinya, tebasan angin lebih dahulu mengenai tubuhnya.


Zraat! Tiga tebasan angin melukai tubuh manusia abu itu, membuatnya mulai berdarah.


Setelah serangan itu aku mendarat di tanah, tatapanku melirik ke arah Jek yang masih tidak sadarkan diri, lalu kembali lagi menatap Wong Pute yang masih tidak bergerak.

__ADS_1


Wong Pute menatap luka di dadanya akibat serangan yang aku lakukan, dia seolah tidak percaya jika tubuhnya bisa terluka. Selanjutnya monster itu berteriak marah seakan merasakan rasa sakit yang luar biasa, gelombang panas menyebar saat emosinya meledak.


Dengan penuh kemarahan, Wong Pute mengarahkan dua telapak tangannya kearah ku, cahaya biru terlihat lebih terang dari biasanya.


Energi panas terkumpul di telapak tangan Wong Pute, dan terus dipadatkan hingga menjadi sebuah matahari kecil yang membuat malam menjadi terang benderang.


Aku yakin tubuhku akan lenyap tanpa bekas jika serangan itu mengenai ku. Tetapi sebelum itu terjadi, Roxy dan Akita yang sebelumnya berpencar kini datang dari dua arah yang berbeda. Di belakang mereka para monster dan hantu masih mengejar.


Wong Pute yang terlalu fokus memadatkan energi sihir membuatnya tidak sadar jika kedua anjing sedang menuju kearahnya.


Cahaya terang membuat para hantu kabur, sementara monster masih mengejar. Tetapi para monster segera mengalihkan perhatian mereka dari para anjing, kemudian beralih pada Wong Pute karena hawa panas yang membakar membuat moster terluka dan menganggapnya sebagai penyerangan.


Serangan puluhan monster membuat Wong Pute terganggu, sehingga mata hari kecil buatannya tidak stabil dan semuanya berakhir dengan ledakan besar. Awan api dengan sangat cepat menyebar ke sekitar, jika tidak melakukan apapun aku akan terbakar olehnya.


Namun apa yang bisa aku lakukan untuk menghindari terjangan hawa panas yang bergerak begitu cepat?.


Ding!


[Job Hero level up]


‘Itu berarti.....’


[Membuka skill (Mind Acceleration)]


Perlahan aku melihat semuanya bergerak begitu lambat, seakan seseorang telah menekan tombol slow motion.


Aku melihat Roxy dan Akita berlari ke arahku, dibelakang mereka ada awan api mengejar. Aku sadar keduanya tidak akan lolos dari gelombang panas, lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuat kedua temanku itu selamat?.


Aku mencoba berpikir, kemudian berbagai gambaran simulasi penyelamatan terlintas di kepalaku. Proses berpikir berjalan begitu cepat hingga membuat kepalaku mulai terasa sakit, walaupun aku sudah memiliki resistansi rasa sakit lever tujuh, namun itu masih terasa sakit.


‘Aku harus bertahan dan terus mencari pilihan terbaik’ batinku saat merasakan sakit kepala luar biasa.


Diantara ratusan simulasi penyelamatan yang aku pikirkan dalam sepersekian detik, hanya ada sepuluh yang berhasil menyelamatkan semua temanku.

__ADS_1


“Aku akan menggunakan cara yang termudah.” ucapku.


Sabit besar aku kembalikan pada wujud aslinya yang hanya memiliki satu bilah melengkung. lalu menggunakan aura melapisi senjata agar membuatnya lebih kuat.


Kemudian aku mulai menyerang dengan dua kali tebasan kuat hingga gelombang angin tercipta.


Gelombang angin dari serangan ku melewati Roxy dan Akita, mengarah pada jalan layang yang berada di belakang mereka. Tiang jalan layang terpotong terkena serangan dariku, membuatnya roboh menghalangi gelombang panas dari ledakan matahari kecil.


Hawa panas membakar seluruh area, semuanya berubah menjadi bara api. Di bawah kolong jembatan yang hancur aku berlindung dengan semua temanku, hawa panas terasa begitu membakar, namun kami masih bisa bertahan.


[Pain Resist level up]


[Membuka skill Heat Resistant]


Rasa sakit kepala berangsur-angsur berkurang setelah level ketahanan rasa sakit meningkatkan. Lalu skill baru yang terbuka membuat hawa panas di sekitar mulai berkurang.


Tetapi berbeda dengan teman-temanku yang masih mengalami penderitaan akibat suhu panas.


Dua anjing mengeluarkan suara yang menyedihkan, sementara Jek yang masih tidak sadarkan diri, sebagian wajahnya terbakar menunjukkan ekspresi kesakitan. Nyonya kambing dan kucing oranye pun tidak berbeda jauh nasibnya.


Berusaha mengurangi hawa panas, aku mengambil beberapa botol air untuk membasahi tubuh semua temanku. Setelah itu meminumkan Potions pada Jek dan nyonya Goty.


“Membuat persediaan potions memang sebuah pilihan yang tepat.”


Aku merasa senang saat luka Jek dan nyonya Goty mulai membaik. Keduanya pun mulai sadarkan diri, namun dengan kondisi yang sangat lemah.


Udara panas yang mengakibatkan kurangnya oksigen, membuat kami seakan tercekik. Jek kembali kehilangan kesadaran karena otaknya kekurangan oksigen. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka tertidur lelap terlihat begitu tenang.


Sementara aku terus berusaha untuk mempertahankan sadar, jika aku kehilangan kesadaran maka ini akan menjadi akhir bagi kita semua. Namun akibat dari menahan kesadaran disaat kekurangan oksigen membuatku mulai merasa rasa sakit itu kembali.


“Sangat menjengkelkan....”


Gigiku mengerat kuat hingga darah mulai mengalir dari gusi. Tidak tahan dengan hawa panas yang menyengat dan sakit kepala akibat kekurangan oksigen.

__ADS_1


Akhirnya aku pun nekat untuk keluar dari kolong jembatan, berniat menghadapi sumber masalah.


__ADS_2