Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
74. Pencegatan


__ADS_3

Sebuah truk kargo melintas di malam hari. Beberapa orang bersenjata lengkap berdiri di atas truk untuk melindungi kendaraan Itu.


Beberapa kali mereka menaburi atap truk dengan bubuk yang merupakan ramuan pengusir monster malam.


Sementara di dalam box kontainer yang di bawa truk, Jiecie sedang berbicara dengan dua orang yang membuatnya lolos dari jeruji penjara.


Ferdinand dan Ridwan, dua penghianat kota Sawi.


“Tuan Ridwan dari mana anda mendapatkan obat ini?.” Jiecie menunjukkan botol kecil dengan kapasitas 20 mililiter.


Sebelumnya Jiecie sangat menderita karena tulang punggungnya patah akibat insiden saat dia berusaha melarikan diri dari kejaran anak kecil aneh.


Cidera yang dia derita mengakibatkan Jiecie tidak mempu menggerakkan seluruh tubuhnya, setiap detik selalu terasa sangat menyakitkan dan begitu menyiksa.


Jiecie saat itu merasa jika kematian bahkan lebih baik daripada terus hidup seperti itu.


Namu saat Ferdinand memberikan potions berwarna merah itu, rasa sakit yang Jiecie alami langsung menghilang. Tubuhnya kembali bisa digerakan, seakan cindera di punggungnya telah sembuh total.


“Aku mendapatkan itu dari seorang Hunter yang ikut dalam pembersihan.” jawab Ferdinand.


Mendengar tentang pembersihan penjara bawah tanah, membuat Jiecie sangat tertarik.


“Aku mendengar jika penyerangan itu hanya berlangsung selama dua belas jam. Bukankah itu sangat mengagumkan karena memecah rekor dari guild asal Amerika?.”


“Anda benar, tidak ada yang menyangka jika kota kecil ini memiliki Hunter yang luar biasa.”


Dungeon yang menjadi sumber bencana telah banyak yang berhasil di bersihkan. Guild Reloader dari Amerika adalah pemegang rekor pembersih tercepat setelah mencatat waktu dua hari tiga puluh empat menit untuk menerobos dan mengalahkan bos monster.


Walaupun hasil itu tidak benar-benar bisa dipercaya karena guild Reloader tidak pernah memberikan informasi tentang jenis bos monster yang mereka hadapi dan jumlah korban tewas.


“Sangat mengagumkan,” puji Jiecie yang agak merasa bangga karena mendengar guild asal Indonesia bisa bersaing dengan guild terbaik dunia.


“Bukankah tuan Ridwan juga ikut dalam pembersihan?.” setelah Jiecie mengatakan itu semua tatapan beralih pada pria yang merupakan mantan polisi.


Ridwan tidak tahu harus berkata apa karena saat pembersihan dirinya menyebabkan masalah fatal yang membuat banyak netizen membully nya di media sosial. Setelah kejadian itu Ridwan memilih bertarung di garis belakang dengan malas.


Tetapi karena tidak ingin dianggap tidak berguna oleh rekan barunya, Ridwan pun membuat cerita karangan yang sangat tidak masuk akal.


Ferdinand yang melihatnya hanya tersenyum sinis, dia memang sudah tahu watak asli dari mantan pimpinan polri itu. Ferdinand kemudian melanjutkan ceritanya tentang potions yang dia berikan pada Jiecie.


“Potion itu dibagikan secara gratis pada para Hunter.”

__ADS_1


“Gratis?”


“Ya, penempa besi cacat nan barbar yang membuat potions itu memang bodoh, dia tidak tahu nilai sebenarnya dari ramuan sihir yang dia buat.”


Jiecie dapat merasakan kebencian dari setiap perkataan Ferdinand ketika membicarakan seorang pandai besi.


Selama melakukan survei Jiecie hanya mengetahui satu pandai besi dengan ciri-ciri yang Ferdinand sebutkan.


“Apa itu si pemilik toko?.”


“Benar, Potions itu berasal dari pemuda itu.”


Mendengar jika tebakannya benar, Jiecie semakin penasaran dengan pemuda cacat yang beberapa hari lalu dia temui.


Dari luar pemilik toko senjata itu terlihat biasa saja, cacat di mata kiri dan lengan kirinya membuat pemuda biru terlihat begitu lemah dan mudah untuk di intimidasi.


Tetapi siapa yang menduga jika pemuda itu memiliki banyak bakat yang luar biasa. Mengingat jika salah satu misi nya gagal oleh si penjaga toko, membuat Jiecie semakin tertarik pada pemuda itu.


“Mungkin aku harus meminta pada Kakek agar menyuruh Kakak Tangji untuk tidak melakukan pemusnahan, karena kota itu memiliki banyak hal unik di dalamnya.”


Jiecie berniat untuk menghubungi Kakeknya yang tidak lain adalah pendiri Organisasi Gamprit.


Dua penjaga yang berdiri di atas atap truk hampir saja terlempar karena guncangan mendadak, namun mereka berhasil bertahan karena tali pengaman.


Di depan jalan yang akan truk lalui, berdiri seekor kuda yang ditunggangi oleh dua orang lelaki dan perempuan. Keduanya menatap truk yang berjalan cepat tidak terkendali.


Suara benturan terdengar menandakan telah terjadi kecelakaan. Truk yang tidak bisa dikendalikan menabrak pembatas jalan, terlihat kepulan asap dari bagian depan truk.


“Apa yang terjadi!.” Jiecie langsung keluar dari kontainer untuk memarahi supir truk. Kepalanya terasa pening akibat guncangan yang membuat kepalanya membentur dinding.


“Maaf nona, sepertinya salah satu ban depan mengalami kebocoran.” ucap supir truk dengan ketakutan.


“Cih, dasar bodoh. Lain kali periksa kondisi mobil sebelum digunakan.”


Jiecie marah besar hingga dia hampir saja membunuh supir truk Itu, tapi mengingat jika diantara bawahnya yang lain tidak tahu cara memperbaiki kendaraan, dia pun mengurungkan niatnya.


Supri truk melihat ban mobil yang pecah, namun yang dia dapati adalah pelek dari ban itu hanya tersisa setengah, seakan sesuatu telah membelah pelek baja itu menjadi dua bagian.


Ada sebuah pisau yang bersangkut pada setengah pelek yang tersisa, karena penasaran Jiecie pun mengambilnya.


“Belati kelinci?.” Jiecie sangat bingung bagaimana belati kelinci yang begitu rapuh bisa menancap pada baja.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kuda dari belakangnya. Jiecie pun seketika waspada, sementara anak buahnya tidak merasakan apapun.


“Selamat malam Tuan-tuan dan Nyonya sekalian.”


Suara seorang pemuda tiba-tiba terdengar dari ujung jalan yang gelap gulita, seketika semua penjaga meningkatkan kewaspadaan mereka, setiap senjata terarah pada sumber suara.


Langkah kaki kuda semakin mendekati, hingga semua orang melihat sosok itu saat lampu truk yang berkedip menerangi jalanan.


“Kau!.” Jiecie terkejut melihat sosok di atas kuda ternyata adalah penjaga toko yang ia temui di kota Sawi.


“Liliana!.” sementara Ferdinand sangat terkejut melihat gadis di belakang pemuda itu.


“Bagaimana mereka bisa ada di sini!.” Ridwan khawatir jika penghianatan yang ia lakukan ketahuan.


Budi mengendarai kudanya dengan begitu santai, dia berhenti saat jarak dengan truk sekitar sepuluh meter.


“Aku pikir belum saatnya anda keluar dari penjara Nona Jijik.... Nama seperti apa itu, kau pasti sering mendapatkan bullying dari teman sekolahmu karena nama itu bukan?.”


Wajah Budi menunjukkan rasa kasihan pada wanita dengan nama yang menurutnya sangat aneh. Tetapi itu justru membuat Jiecie semakin marah.


“Bedebah! Bunuh mereka!.”


“Tidak tunggu!.”


Karena emosi Jiecie memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Budi dan Liliana. Ferdinand berniat menghentikan tetapi perintahnya tidak didengar.


Kuda dan penunggangnya dihujani peluru dari senjata mesin yang menempel pada atap truk. Peluru melubangi aspal jalan namun keanehan terjadi ketika kuda itu masih berdiri seakan tidak ada satupun peluru yang mengenainya.


“Well, bisakah kalian kembali bersama kami ke kota Sawi?.” tanya Budi ditengah tenteram senjata yang mencoba membunuhnya.


Jiecie yang sadar ada keanehan pun segera meminta bawahnya untuk berhenti.


“Aku hanya akan kembali ke kota itu bersama pasukan Gamprit, kami akan menaklukkan kota itu dan menguasainya.” balas Jiecie.


“Jika itu yang terjadi maka akan sangat membosankan.”


Suara Budi terdengar begitu dekat dari Jiecie, seakan pemuda itu berbicara tepat di sampingnya.


“Hey Nona, bisakah aku mengajakmu berkencan?.”


Keringat dingin mengalir manakala Jiecie sadar jika itu bukan hanya perasannya saja, tetapi memang kenyataannya Budi sudah ada disampingnya mengarahkan belati kelinci pada leher wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2