
Kota Jati.
Dahulunya kota itu berkembang pesat menjadi wilayah industri, banyak pabrik di bangun di kota itu. Warga dari daerah lain banyak yang merantau ke kota Jati untuk bekerja sebagai buruh pabrik, alhasil bisnis hiburan tumbuh subur di kota.
Namun kini sudah tidak terlihat lagi gemerlapnya wilayah hiburan yang selalu ramai di malam hari.
Saat malam kota itu benar-benar seperti kota mati, tidak ada satupun penerangan yang menyala di rumah-rumah warga.Semua orang yang masih bertahan tidak ingin menarik perhatian.
Bukan hanya karena takut dengan monster malam, tetapi juga karena ketakutan mereka pada organisasi yang saat ini menguasai kota tersebut.
The Daki, sebuah Genk kriminal yang saat ini menguasai kota Jati. Mereka adalah teror yang lebih berbahaya dari monster di kota Jati.
Setiap anggota sangat anarkis hingga tidak segan melakukan tindakan kekerasan dan pembunuhan.
Setiap warga kota dikurang dalam tembok seperti tahanan, mereka diperbudak dan diperlukan lebih buruk dari binatang.
Para warga dipaksa bekerja dipabrik senjata dan obat terlarang yang dikelola oleh organisasi Gamprit.
Setiap kali ada patroli militer, Genk kriminal itu selalu berhasil menyembuhkan kebusukan mereka di kota Jati.
Entah bagaimana mereka melakukannya, tetapi rumor dari para anggota Geng The Daki mengatakan jika adanya praktek penyuapan.
Tidak diketahui apakah rumor itu benar atau tidak, yang pasti rumor itu berhasil membuat warga kota Jati kehilangan harapan untuk terbebas dari perbudakan.
Suara tawa terdengar keras di area pabrik, berbeda dengan kota yang gelap gulita. Area pabrik justru terang benderang seakan pesta sedang diadakan.
Beberapa orang dengan penampilan ala punk rock memenuhi wilayah pabrik seakan mereka sedang melindungi tempat itu.
“Tolong, aku mohon ampuni aku, aku... aku akan bekerja lebih keras...”
“Akhirnya aku bisa mati juga....”
Di wilayah parkiran, sepuluh warga terikat secara terbalik, mereka menggunakan baju dengan nomor berbeda.
Sedangkan di luar pabrik ratusan monster Undead seperti zombie, Jerangkong dan pocong menatap para warga dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Hanya gerbang besi yang memisahkan para warga dengan para monster. Jika gerbang dibuka maka nyawa para warga akan terancam.
“Ahihihi.... permainan akan segera dimulai, segera pasang taruhan kalian!” seorang dengan banyak tindik di wajahnya berteriak keras menggunakan pengeras suara.
Beberapa wanita dengan penampilan terbuka ditugaskan menarik uang taruhan para penonton.
Di atas podium sepuluh orang dengan sniper mengarahkan senjata mereka pada sepuluh warga yang digantung terbalik.
Tidak lama kemudian suara klakson truk berbunyi menandakan permainan telah dimulai. Sepuluh sniper menembak secara bersamaan, target tembakan bukanlah warga melainkan tali yang mengikat kaki mereka secara terbalik.
Namun karena kurangnya keahlian membuat tembakan para sniper abal-abal itu banyak yang melesat.
Ada yang melenceng jauh dari target, ada pula yang justru melukai warga. Tetapi setengah diantara berhasil mengenai tali dan membuat para warga terjatuh.
Posisi jatuh membuat beberapa warga tewas karena luka benturan di kepala atau patah leher.Sedangkan yang masih selamat segera berlari menuju pabrik karena pintu gerbang yang menahan para monster baru saja dibuka.
Para sniper yang gagal menembak tali terus mencoba membidik, beberapa berhasil namun sudah terlambat karena monster sudah masuk ke are parkiran.
Luka yang diakibatkan benturan saat jatuh dan tembakan peluru nyasar membuat para warga sulit untuk berjalan, nasib mereka pun sudah ditentukan yakni terbunuh oleh monster.
Teriakan kembali terdengar di tengah malam disertai dengan gelak tawa anggota geng The Daki.
“Brengsek!.” Salah satu sniper memakai sambil membanting senjatanya.
Diantara sepuluh warga yang digantung, masih ada satu yang tersisa. Dan itu adalah target dari sniper itu. Itu berarti dari sepuluh sniper, keahlian dialah yang paling buruk.
“Ahahaha... sudah aku duga. Tangji, kau sangat buruk dalam bidang menembak.” pria dengan wajah penuh tindik berbicara keras dengan speaker.
Mendengar itu membuat pria bernama Tangji marah besar. Pria bertubuh kekar itu segera melompat dari podium, mengejar pria penuh tindik lalu menghajarnya begitu keras.
Namun seakan tidak merasakan sakit sedikitpun, pria tindik justru tertawa terbahak-bahak setiap kali mendapatkan pukulan.
Merasa percuma memukul seseorang yang justru mendapatkan kesenangan saat merasakan sakit. Tangji pun melempar jauh-jauh samsak tinjunya.
Suara tawa Pria tindik masih terdengar membuat Tangji tidak nyaman berada di tempat itu. Tangji pun masuk kedalam markasnya yakni sebuah pabrik senjata.
__ADS_1
“Wink, selesaikan permainannya.” teriak pria tindik pada salah sat sniper yang masih berada di atas podium.
Wanita berambut hitam bernama Wink pun menatap warga yang masih tergantung. Dia masih hidup namun luka tembak dari Tangji akan segera membunuhnya, sedangkan lautan monster di bawahnya cepat atau lambang akan menggapai warga yang tergantung.
Merasa warga itu tidak ada harapan untuk hidup, Wink pun menembak dua kali sniper nya tanpa menggunakan teropong.
Tembakkan pertama mengenai kepala yang langsung membunuh warga naas itu, lalu tembakkan kedua mengenai tali yang membuat mayatnya jatuh menjadi santapan para monster.
“Yeaaah, permainan pertama berakhir. Mari kita bersihkan!.”
Setelah teriakan keras pria bertindik, lantai parkiran tiba-tiba terbuka membuat semua monster yang ada diatasnya masuk ke dalam lubang yang mengarah pada kolam besi panas.
Ratusan monster seketika terbakar dan larut kedalam bahan pembuatan senjata. Di lantai bawah tanah itu ratusan warga tengah bekerja siang dan malam tidak peduli pria maupun wanita atau berapapun usia mereka.
Perlahan lantai parkiran yang terbuka kembali tertutup. Seperti sebelumnya sepuluh warga digantung terbalik dan sepuluh sniper bersiap membidik.
Permainan ke dua akan segera dimulai.
Tangji berjalan tenang menuju kantornya, hingga tiba-tiba dahinya mengkerut ketika merasakan seseorang berlari dari arah sebaliknya.
“Nike, ada apa?.” tanya Tangji pada wanita dengan penampilan rapi seperti seorang sekertaris perusahaan maju.
Kehadiran wanita itu begitu kontras dengan tempatnya berada. Seolah sesuatu seakan tidak pada tempatnya.
“Tuan muda, ada telepon dari Tuan Besar.”
Mendengar itu Tangji segera mengerti kenapa Nike berlari dengan terburu-buru untuk menemuinya. Mengikuti asisten pribadinya, Tangji segera pergi ke ruang kerjanya.
Telepon diangkat, Tangji mendapatkan kabar dari organisasi Gamprit jika misi untuk menyabotase kota Sawi telah gagal. Sementara keberadaan para agen tidak diketahui.
Mendengar itu sontak membuat Tangji marah, tangannya terkepal erat, dalam satu pukulan meja di depannya meledak.
Kemarahan pria itu tidak tanpa alasan, itu dikarenakan adiknya adalah salah satu agen yang ditugaskan untuk melakukan sabotase di kota Sawi.
{Kami sudah mendapatkan kesepakatan dengan pihak berwajib, adikmu akan segera kembali. Kemudian setelah itu kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?.}
__ADS_1
“Tentu kakek, aku akan merayakan kota itu dengan tanah.”
Sorot mata Tangji dipenuhi oleh kegilaan.