
Setelah pembicaraan tentang keamanan kota dan sikap yang harus diambil utuk Pasukan Militer. Kami pun memulai pembahasan masal kedua yakni tentang para pengungsi.
Kedatangan empat ribu warga kota Jati membuat penduduk asli merasa khawatir jika pengungsi menyebabkan berbagai masalah pada kota.
Masalah utamanya adalah tempat tinggal dan pekerjaan. Para pengungsi masih ditempatkan di gedung sebagai tempat tinggal sementara.
Tetapi tentu saja, yang namanya sementara mereka tidak mungkin akan tinggal terus fi tempat itu. Dalam waktu enam bulan mereka akan dikeluarkan dari gedung.
Sebelu waktu itu pengusiran, mereka harus segera mendapatkan tempat tinggal jika tidak ingin hidup di jalanan.
“Aku berpikir untuk membuat apartemen untuk disewakan pada mereka.” ucap Liliana, dia sangat pandai melihat peluang bisnis.
“Benar, aku setuju dengan gagasan membuat apartemen untuk empat ribu 'budak'.” sebagai Wali Kota Yuki mendukung ide Liliana.
Sementara aku merasa aneh saat Yuki menekankan kata budak.
“Karena yang meminta para budak itu datang ke kota ini adalah Rango, bukankah itu artinya mereka sekarang menjadi kewajibannya?.”
Senyum lebar Liliana saat mengatakan itu.
Ah aku tahu perasaanku tidak akan pernah melesat. Aku merasa akan ada proyek lain yang harus aku selesaikan.
“Yap itu benar, karena Rango yang mengundang para ‘Budak’ itu maka dialah yang seharusnya bertanggung jawab.”
Yuki berbicara dengan wajah yang sangat cerah.
Tidak salah lagi, mereka ingin aku membuat sebuah apartemen.
Tetapi aku sama sekali tidak keberatan. Coba pikirkan sisi positifnya, menjadi pemilik bangunan apartemen yang dihuni oleh empat ribu orang.
Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak yang akan aku hasilkan setiap bulannya.
“Ya.... itu terdengar sangat menguntungkan.”
Merasa jika proyek ini akan sangat menguntungkan aku pun mengambilnya tanpa ragu.
Yuki dan Liliana merasa puas saat aku setuju untuk membuat sebuah apartemen pada proyek berikutnya.
Kemudian kami pun memasuki pembahasan terakhir yakni tentang pembangkit listrik. Kajian yang menjadi inti pertemuan ini.
Membangun kota ini dari awal, satu persatu pondasi kami susun. Hingga akhirnya kami dapat melihat gambaran besar dari apa yang sedang kami bangun.
Sebuah kota yang akan menjadi pusat negara, bahkan mungkin dunia.
Anggap saja jika itu hanyalah sebuah mimpi, tetapi dunia sudah berubah, tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini.
***
__ADS_1
“““Selamat siang bos!.”””
Empat pembantu baru diberikan oleh Yuki untuk membantu pekerjaan di toko.
Itu akan sangat membantuku dan Siti karena kedatangan empat ribu warga kota Jati membuat kami sangat kerepotan melayani bisnis perdagangan herbal dan penjualan senjata secara bersamaan.
“Mungkin akan lebih baik jika kau memindahkan tempat perdagangan herbal.” Yuniar memberikan saran.
“Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi dimana?.” balasku.
“Kau bisa menggunakan restoran.” Yuki menimpali.
“Heh sungguhan?.”
“Ya, sebelumnya banyak pelayan yang mengeluh karena terus ditawari herbal. Orang-orang itu berpikir jika tempat penjualannya adalah restoran itu sendiri.”
Penyebab dari semua itu pasti karena selebaran yang aku pasang pada papan pengumuman di restoran.
Aku akan mengatakan permintaan maaf nanti pada para pelayan restoran karena membuat mereka kesulitan.
Siti kembali ke toko bersama empat rekan barunya. Sedangkan aku bersama yang lain akan pergi ke area terlarang untuk menunjukkan pembangkit listrik yang sudah aku selesaikan.
“Baiklah, kita akan berangkat.”
Mengendarai kereta kuda, aku mengarahkan langsung menuju area terlarang. Yuki dan yang lainnya masih tidak percaya jika aku sudah menyelesaikan pembangunan tempat itu.
Namun mereka segera merubah pendapat mereka setelah melihat apa yang ada di balik tembok besar.
Liliana merasa takjub melihat lubang besar sedalam ratusan meter. Sedangkan Yuki membuat kegaduhan saat melihat robot Goliath yang menjaga area terlarang.
Sepertinya gadis itu sangat senang dengan robot. Mengingat jika Yuki berasal dari negara gundam, akan sangat wajar jika dia menyukai hal semacam itu.
“Bisakah aku membuat robot ku sendiri. Bisa yah please...”
Yuki terus merengek padaku seperti seorang anak yang minta dibelikan mainan pada orang tuannya. Namun tentu saja aku tidak akan mengabulkan apa yang dia inginkan.
“Heeee.....”
Yuki terlihat sangat terkejut saat aku menolak permintaannya. Namun air mata yang hampir jatuh dan sanksi sosial dari tiga perempuan lainnya membuatku agak memberikan keringanan.
“Jika kau menginginkan sesuatu, kau harus berusaha. Jika semua didapatkan dengan mudah maka kau tidak tahu nilai dari apa yang kau dapatkan.”
Yuki memikirkan apa yang aku katakan, dia segera mengerti maksud dari perkataanku.
“Jadi Abang mau mengajariku merakit robot.” matanya berbinar penuh harapan.
“Kau mengatakan itu dengan begitu mudah seakan menciptakan robot semudah merakit mainan.”
__ADS_1
Dengan itu rutinitas ku pun akan bertambah. Walaupun Liliana sudah bisa masuk ke area terlarang, tapi dia tetap ingin berduel setiap hari denganku.
Dia mengatakan jika sejak melakukan pertarungan melawanku. Liliana merasa kemampuannya semakin baik.
Raya yang mendengar jika aku sering melakukan duel dengan Liliana, menjadi marah padaku. Dia merasa menjadi satu-satunya yang di abadikan.
Yang dia tahu jika ibunya sering belajar sihir bersamaku, lalu Liliana mengajakku duel dan sekarang Yuki ingin aku mengajarinya tentang robotik.
Jika dipikir-pikir aku memang sangat sibuk. Tetapi bukan itu masalahnya.
“Pokoknya kau harus ikut bersamaku untuk menaklukkan Dungeon!.” pinta Raya dengan penuh paksaan.
“O... oke.”
Sekali lagi aku hanya bisa mengiyakan permintaan para gadis.
Aku memang terlihat seperti pecundang yang tidak bisa mengatakan tidak ketika dimintai tolong oleh perempuan.
Tetapi lihatlah sisi positifnya, aku menjadi sibuk hingga mengurangi waktu istirahatku. Mungkin aku akan lebih cepat mati karena terlalu banyak bekerja.
Bukankah ini tidak berbeda dari kehidupan ku yang sebelumnya saat masih bekerja di pabrik?.
Tidak, jelas bukan itu yang aku maksud dengan ‘Sisi positif’.
Lalu apa?.
Coba bayangkan, pernahkah kalian bermain sebuah game tentang simulasi?.
Sebuah game dimana pemain hanya memainkan Avatar untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti menahan di kebun, menyirami tanaman dan memanen.
Terdengar seperti game yang sangat membosankan bukan?.
Tetapi tentu saja game simulasi seperti itu tidak akan memberikan permainan yang terlalu realistis karena akan sangat hambar.
Akan ada 'warna' untuk dimainkan, salah satunya adalah simulasi percintaan dengan karakter sampingan yang bisa didekati oleh karakter utama.
Usaha untuk mendekati karakter yang pemain sukai merupakan tantangan tersendiri. Perlu usaha keras untuk menaklukkan hati pasangan yang diinginkan,
Karena setiap karakter sangat unik, cara yang digunakan untuk mendapatkan hati satu karakter, tidak akan bekerja untuk karakter lainnya.
Seperti itulah yang saat ini terjadi padaku. Ada empat perempuan yang aku dekati, satu telah berhasil aku dapatkan hatinya. Dia akan melakukan apapun yang aku inginkan.
Tersisa tiga gadis yang belum bisa aku sentuh, tetapi itu tidak akan bertahan lama karena aku sudah mengetahui cara untuk mendekati mereka.
‘Aku penasaran akan butuh waktu berapa lama hingga aku bisa membawa mereka semua ke tempat tidur.’
Senyumku melebar saat membayangkan hal-hal mesum yang akan aku lakukan pada keempatnya.
__ADS_1
***
Bersambung.