
Hujan deras perlahan memadamkan api, udara sejuk bertiup memberikan kehidupan untuk Jek dan dan para bintang. Goblin itu tersadar saat suara Oyen terdengar, kucing itu seakan meminta pada Jek untuk segera bangun.
Jek segera bangkit saat mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya kehilangan kesadaran. Dia segera mencari keberadaan Budi, namun tidak kunjung menemukannya.
Dua berpikir mungkin saja manusia itu sudah meninggalkannya, namun mengingat bagaimana Budi berusaha keras membawanya ke tempat aman saat ledakan besar terjadi, membuat Jek percaya jika Budi tidak akan meninggalkannya.
Tetapi dimana dia sekarang?
Pertanyaan itu segera terjawab setelah Roxy yang baru sadar segera keluar dari kolong jembatan, anjing itu menggonggong ke arah luar. Merasa penasaran Jek pun mengikuti Roxy.
Walaupun hujan turun begitu deras, di luar masih banyak titik api yang belum padam. Jek begitu terkejut melihat sosok putih yang dia lihat sebelumnya tengah berdiri di tengah hujan, dibawahnya tergeletak sosok manusia dengan luka bakar parah.
Jek tidak yakin jika manusia itu masih selamat karena luka yang dia miliki membuatnya tampak seperti arang. Awalnya Jek tidak peduli pada sodok yang tidak dia kenali, namu Roxy terus menggonggong kearahnya membuat Jek merasa penasaran.
“Ga....”
Jek begitu terkejut setelah memperhatikan dengan teliti ternyata sosok yang terkapar di tanah itu adalah seseorang yang dia kenali.
Walaupun rupanya sudah begitu sulit untuk dikenali jika itu merupakan Budi Manusia yang dia kenal. Namun berkat tangan palsu di tangan kirinya membuat Jek yakin jika itu memang Budi Man.
Menyadari jika temannya dalam bahaya, Jek ingin menolong. Namun dia tentu sadar jika tidak memiliki kekuatan untuk melawan makhluk abu putih itu.
“Kudu apa kiye nyong....”
Jek merasa begitu dilema. Dia ingin menyelamatkan Budi, namun takut mati. Dia sadar jika itu adalah sifat alaminya sebagai seorang goblin yang takut dengan makhluk yang dianggap lebih kuat.
Terlebih lagi jika goblin hanya seorang diri maka tidak akan ada yang bisa mereka lakukan. Jumlah adalah satu-satunya kelebihan yang dimiliki para goblin, namun demikian para goblin tidak begitu peduli dengan nasib kawanannya.
Mereka cenderung tidak akan memikirkan nasib goblin lain, dan hanya memikirkan diri sendiri. Memikirkan goblin lain hanya akan mempersulit diri sendiri.
Kelahiran goblin yang begitu mudah membuat mereka berpikir kematian keluarga maupun teman adalah hal yang sepele, selama kematian itu bukan pada diri sendiri.
Begitu anggapan Jek.
Tetapi kali ini berbeda, apapun yang terjadi Jek harus berusaha menyelamatkan temannya. Entah kenapa dia berpikir seperti itu. Mungkin karena dia takut mendapatkan amarah dari Tohir karena membiarkan Budi mati.
Atau mungkin karena dua tidak ingin kehilangan seorang teman.
__ADS_1
Jek tidak tahu apakah di dunia ini ada goblin lain selain dirinya. Jek pun tidak tahu apakah ada orang lain selain Budi, Tohir dan para bintang yang mau menjadi temannya.
“Jerene ning dunya kene ari pan olih batir kudu godloking.” Jek mengingat kembali wajahnya saat bercermin, “Kayane emang kudu dibantu.” dia hanya takut kehilangan teman yang bisa menerimanya apa adanya.
***
Pushrank berlari bersama Roxy dan Akita, keduanya dengan cepat menuju ke arah Budy. Melihat itu Wong Pute pun mengatakan tangannya kearah mereka untuk menyerang.
Namun Roxy dan aku segera berpencar ke arah yang berbeda, membuat kini hanya Pushrank yang menuju kearahnya. Wong Pute sadar jika Pushrank hanyalah jebakan, dia berpendapat jika dua anjing pasti akan menyerangnya jika dua menyerang Pushrank.
Mengetahui berencana itu, Wong Pute tersenyum lebar. Senyum yang sangat mengerikan, dia mengaggap para binatang bodoh itu tidak akan bisa menyentuhnya karena tubuhnya terbuat dari abu.
Tidak ada yang bisa menghancurkan abu, itu artinya tidak akan ada yang bisa melukainya. Namun kenapa manusia yang ada dihadapannya bisa melakukan itu?.
Bagaimana dua bisa melakukannya?.
Memikirkan luka di dadanya membuat Wong Pute marah. Dia pun hendak membakar habis semua bintang yang merupakan pengikut dari manusia itu lebih dahulu sebelum membunuh orang yang berhasil melukainya.
{Bakar....}
Namun tiba-tiba beberapa anak panah jatuh dari langit menghujani Wong Pute yang membuatnya batal menyerang. Sebagian besar anak panah tidak mengenai targetnya, tetap ada jumlah kecil yang mengarah tubuh makhluk itu namun segera terbakar sebelum menyentuhnya.
Karena tidak mengancam, wong Pute pun tidak peduli dengan anak panah yang terus berdatangan. Tanpa dua sadari itu adalah pilihan buruk, karena target sebenarnya dari anak panah bukankah Wong Pute, memainkan Budy.
Di ujung anak panah terdapat sebuah suntikan kecil yang dibuat oleh Tohir. Suntikan itu bisa digunakan untuk menyimpan cairan, Jek sering menggunakan untuk menambahkan racun, namun kali ini justru sebaliknya dia menambahkan potions kedalam ujung panahnya.
Mendapatkan potions dari Jek, membuat Budi merasakan tubuhnya secara perlahan mulai dipulihkan. Walaupun begitu dia sadar jika tidak mungkin potions tingkat rendah bisa mengembalikan lengan kanan dan kaki kirinya.
Tetapi itu semua sudah cukup, kekuatan Budi sudah mulai kembali. Dia hanya butuh sebuah momentum untuk melakukan serangan terakhir.
Pushrank, Roxy dan Akita mendekat keduanya hendak menyerang. Wong Pute tidak peduli, para hewan itu hanya mengantar aja saat mendatanginya. Mereka semua akan terpanggang saat mencari jarak sepuluh meter.
Karena itu dia tidak perlu melakukan apa pun.
Tetapi sayangnya Wong Pute lupa jika keadaan saat ini tengah hujan deras yang membuat kekuatan apinya menurun. Jarak panas yang dia pikir adalah sepuluh meter, kini berkurang menjadi Lina meter.
Wong Pute yang tidak mengetahui fakta biru masih menunjukan senyuman lebar, perhatiannya terus tertuju pada ketiga hewan yang berlarian kearahnya
__ADS_1
Semakin dekat maka kecepatan hewan semakin menurun. Melihat itu Wong Pute semakin senang karena berpikir jika para hewan ketakutan melihatnya.
Tanpa dia sadari dari belakang Jek yang mengendarai nyonya Goty datang dengan kecepatan penuh.
“Bom angin!.”
Akhirnya setelah digunakan sebagai pemukul, tongkat sihir itu digunakan dengan semestinya. Satu mantra sihir yang mengakibatkan ledakan angin mengenai tubuh wong Pute membuatnya terpental kedepan, melihat itu tentu saja Budi tidak akan tinggal diam.
Kesempatan yang sudah dia tunggu-tunggu akhirnya datang. Mengambil pedang sihir dari item box, Budi segera melompat dengan satu kakinya, menyambut Wong Pute yang terpental kearahnya.
“Aura,” seluruh tubuh Budi diselimuti oleh cahaya biru.
“Krigyus, bunuh iblis ini!.”
Pedang itu bersinar sangat terang, dalam satu tikaman pedang buatan Tohir menembus dada Wong Pute tepat di jantungnya. Monster itu terdiam merasa rasa sakit yang luar biasa.
Tetapi tanpa memberikan kesempatan, Budi mencengkram erat leher manusia abu dengan lengan palsunya.
“Bagaimana rasanya menjadi korban?.” Tatapan mata naga begitu mengintimidasi. Wong Pute tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ketakutan, dia berpikir tidak akan ada yang bisa membuatnya ketakutan di dunia ini. Tetapi dia justru bertemu dengan sosok yang mampu membuatnya merinding seolah jiwanya meninggalkan tubuhnya.
“Siapa kau!.”
Wong Pute berusaha berkomunikasi, walaupun dengan suara serak karena lehernya tercekik. Budi sangat terkejut melihat monster didepannya bisa berkomunikasi.
“Seseorang yang akan membunuhmu.” balas Budi dengan dingin.
“Tidak aku mohon.”
“Aku yakin kau juga mendengar permintaan seperti itu dari mereka yang kau bakar.”
Cengkraman lengan Budi semakin menguat.
“Ji... jika kau membunuhku maka ....”
Crack! Budi mematahkan leher wong Pute tanpa ampun.
“Justru jika aku mendengarkan mu, maka semuanya akan menjadi semakin berbahaya.”
__ADS_1